Indonesia
NovelToon NovelToon
Memendam Perasaanku Padanya

Memendam Perasaanku Padanya

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: my queen

Aurel adalah wanita yang kuat, pintar, ceria dan humoris
Dia berteman dengan siapa aja
Tapi dia gagal dalam percintaan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my queen , isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29

Tiba-tiba

"Pagi, wahai para elite dinasti persahabatan nasional!"

Shirin refleks menoleh, dan dalam hitungan detik, seluruh tubuhnya membeku kaku bagai patung. Folder paspor di tangannya hampir saja merosot ke lantai. Di hadapannya, Gino melangkah dengan sangat percaya diri mengenakan kemeja pantai bercorak kelapa, kacamata hitam yang bertengger di hidung, sembari mendorong sebuah koper besar berwarna merah menyala. Di belakang Gino, berjalan dengan sangat anggun dan berwibawa, Om Alvin dan Tante Sarah—kedua orang tua Gino!

"G-Gino?! Lo... lo ngapain di sini bawa koper besar?!" pekik Shirin dengan volume suara yang naik drastis akibat syok dan salah tingkah tingkat tinggi melihat tersangka utama pembuat memo di kelas tiba-tiba muncul di bandara bandara.

Gino langsung menurunkan kacamata hitamnya ke ujung hidung, menyengir lebar tanpa dosa penuh kemenangan taktis. "Gue kan maba berprestasi, Rin. Masa perayaan syukuran keluarga lo di Bali, gue ditinggal sendirian di Jakarta meratapi nasib."

Namun, drama kejutan di bandara pagi itu ternyata belum mencapai puncaknya.

Om Tom—papa Shirin—yang baru saja selesai mengobrol dengan Daddy Wira, mendadak berbalik badan. Begitu sepasang matanya menangkap sosok Om Alvin yang berdiri di belakang Gino, wajah pria paruh baya itu langsung membelalak sempurna penuh keterkejutan yang teramat sangat.

"Alvin?! Lo... lo Alvin kan?!" seru Om Tom lantang, melangkah cepat menghampiri Om Alvin dengan gurat wajah yang luar biasa kaget.

Om Alvin pun tidak kalah terkejut, langsung menjabat tangan sahabat lamanya itu dengan erat. "Tom! Astaga, ternyata benar tebakan gue! Wira semalam cuma bilang papanya Shirin itu mitra properti lama, gue nggak tahu kalau ternyata itu lo!"

Om Tom menoleh patah-patah ke arah Gino, lalu beralih menatap Shirin dengan ekspresi melongo yang luar biasa kocak. "Bentar, Wir, Crish... jadi si Gino ini anak kandung lo, Vin? Anak laki-laki lo yang waktu kita kumpul bisnis di luar negeri tahun lalu, mau kita tunangkan sama Shirin?!

"JEDARRR!

Kalimat blak-blakan yang meluncur bebas dari mulut Om Tom seketika bagai hantaman badai petir di siang bolong. Shirin yang mendengar kata "ditunangkan" langsung membelalakkan matanya sempurna, wajahnya dalam hitungan detik langsung berubah menjadi merah padam sempurna hingga ke hulu telinga karena salah tingkah gila-gilaan. Gino yang biasanya bermulut lemes pun seketika membeku kaku dengan mulut setengah terbuka akibat syok massal dengan fakta perjodohan purba orang tua mereka.

Aurel yang berdiri tepat di samping Shirin, sempat tertegun selama dua detik mencerna situasi gila ini. Begitu logikanya menangkap bahwa sahabat karibnya ternyata sudah dijodohkan dengan cowok buaya maba di depan mereka, pertahanan Aurel runtuh total.

"BHUHAHAHAHAHA! ADUH! SUMPAH DEMI APA PUN! HAHAHAHA!"

Tawa cempreng nan lantang dari Aurel langsung meledak hebat memenuhi area terminal keberangkatan bandara. Aurel tertawa terbahak-bahak sampai harus memegangi perutnya yang kram, badannya terpingkal-pingkal dan bersandar lemas pada pundak Shirin karena terlalu banyak tertawa. Pemandangan itu benar-benar sangat langka dan luar biasa kocak.

"Aduh... hahahaha! Rin! Gino! Sumpah, dunia berasa sempit banget gila!" seru Aurel di sela-sela ledakan tawanya yang memicu perhatian ratusan calon penumpang lain. "Gue... gue niatnya cuma mau ngejebak lo berdua biar Shirin salah tingkah ngelihat Gino ikut liburan, kok malah dapet plot twist perjodohan dinasti korporasi begini! Hahaha, ampun, Papi Wira, ini lucu banget!"

Bang Edward yang baru kembali dari loket check-in bersama Kak Anita langsung ikut melongo heran melihat adiknya tertawa sampai menangis di lantai bandara. Di sebelahnya, Reyhan yang berdiri tenang mengenakan jaket denim andalannya hanya bisa menyunggingkan sebuah senyuman tipis yang sangat teduh, menatap kehebohan dinasti keluarga besar mereka dengan samudera kesabaran dan keikhlasan yang besar.

Di tengah riuhnya ledakan tawa Aurel yang menggema dan kepanikan salah tingkah tingkat tinggi antara Shirin dan Gino pagi itu, atmosfer bandara internasional resmi berubah menjadi panggung komedi keluarga yang teramat seru. Sembari menyeka air mata akibat terlalu banyak tertawa, Aurel meremas pelan tali tasnya dengan debaran dada yang menghangat. Di bawah langit pagi bandara, ia sadar; liburan ke Bali kali ini tidak akan pernah berjalan biasa saja, melainkan akan dipenuhi oleh warna-warni lembaran hidup baru mereka yang teramat indah dan tak terlupakan.

Di tengah ledakan tawa cempreng Aurel yang masih menggema hebat dan membuat heboh seisi terminal keberangkatan, Mama Ellen—mama dari Shirin—hanya bisa berdiri tegak sembari menggeleng-gelengkan kepalanya perlahan. Wanita paruh baya yang selalu tampil anggun itu mengembuskan napas pendek, lalu melirik ke arah suaminya, Om Tom, dan Tante Sarah yang juga mulai ikut terkekeh geli melihat efek domino dari pengumuman perjodohan purba tersebut.

"Astaga... anak-anak zaman sekarang ya, Sarah," gumam Mama Ellen pasrah sembari membetulkan letak tas jinjingnya, menatap Shirin yang wajahnya sudah merah padam seperti kepiting rebus dan Gino yang mendadak kaku bak patung manekin pameran. "Baru juga dibisikin soal rencana perjodohan tahun lalu, reaksinya sudah kayak dapet berita bencana nasional. Belum lagi si Aurel, ketawanya sampai mau jatuh begitu ke lantai."

"Ih, Mama!" protes Shirin dengan suara tertahan penuh salah tingkah, langsung menyembunyikan wajah panasnya di balik pundak Mama Ellen demi menghindari tatapan jahil dari Gino. "Jangan ikut-ikutan kompor dong, Ma! Shirin kan ke Bali mau liburan syukuran, bukan mau simulasi jadi pengantin dinasti korporasi!"

Gino yang akhirnya berhasil menguasai urat syoknya, langsung membetulkan letak kacamata hitamnya dengan cengiran buaya andalannya yang mendadak kembali ke permukaan. "Tenang, Tante Ellen, Om Tom... Gino yang berbakti ini selalu siap kok menjalankan fungsi sosial sebagai calon menantu spek dewa. Tapi tolong ya, tolong banget... di Bali nanti radius cubitan maut Shirin dijaga jarak aman satu meter dulu, biar lengan Gino nggak membiru kuadrat."

"Ginooo! Diem nggak lo!" semprot Shirin gemas, refleks mengacungkan paspornya ke udara, memicu tawa Aurel kembali meledak untuk kesekian kalinya karena dunia terasa begitu sempit dan lucu pagi ini.

Mama Ellen hanya kembali menggelengkan kepala sembari tersenyum penuh arti, bertukar pandang dengan Mommy Zeline seolah-olah mereka berdua sudah tidak sabar untuk menyusun taktik perjodohan yang jauh lebih seru selama di Bali nanti.

Di dekat barisan antrean check-in, Bang Edward dan Kak Anita masih sibuk ikut menertawakan wajah terzalimi Gino, sementara Reyhan tetap berdiri kokoh dengan tas denimnya. Sepasang mata teduh milik cowok denim itu menatap Aurel yang masih tertawa lepas memegangi perutnya. Di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, Reyhan mengulas sebuah senyuman tipis yang teramat hangat dan tulus. Luasnya samudera kesabaran dan keikhlasan di dadanya membuat Reyhan ikut merasa lega; melihat tawa paling lepas dari Aurel hari ini—meskipun bukan karena kehadirannya—adalah bentuk kebahagiaan sunyi terbaik yang bisa ia nikmati di awal perjalanan liburan dinasti keluarga besar mereka.

Begitu melangkah masuk ke dalam kabin pesawat berbadan lebar yang akan membawa mereka ke Bali, Shirin sudah tersenyum penuh kemenangan. Ia buru-buru mencocokkan nomor kursi di tiketnya, berharap bisa duduk tenang di samping Aurel atau Mama Ellen sepanjang penerbangan dua jam ini.

Namun, begitu sampai di barisan kursi nomor dua belas, langkah Shirin langsung terhenti. Sepasang matanya membelalak kaku.

Di sana, Mama Ellen dan Tante Sarah sudah berdiri berhadapan dengan senyuman yang teramat manis, seolah-olah mereka baru saja memenangkan tender proyek raksasa.

"Nah, Shirin, posisi duduk kamu di situ ya, di dekat jendela nomor 12A," ujar Mama Ellen dengan nada suara yang teramat lembut namun tidak menerima bantahan, seraya menunjuk kursi baris tiga tersebut.

Shirin mengernyitkan dahi gembira, namun sedetik kemudian senyumnya runtuh saat Tante Sarah menepuk pundak anak bujangnya yang berjalan di belakang. "Dan kamu, Gino, kursi kamu di 12B, tepat di sebelah Shirin. Biar kalian berdua bisa lanjut diskusi... apa tadi namanya? Oalah, sosiologi pendekatan maba, ya?" goda Tante Sarah penuh arti, bertukar pandang jenaka dengan Mama Ellen.

"Hah?! Tapi, Ma! Shirin kan mau duduk bareng Aurel!" protes Shirin panik setengah mati. Wajahnya dalam hitungan detik langsung kembali berubah menjadi merah padam akibat salah tingkah gila-gilaan karena jebakan para ibu.

"Nggak bisa, Sayang. Aurel sudah Mommy booking duduk di depan bareng Edward dan Anita biar aman dari gangguan luar," sela Mommy Zeline yang baru lewat membawa tas jinjingnya, menyiram bensin ke kobaran api salah tingkah putrinya.

Gino yang biasanya memiliki mental baja nan lempeng, kali ini juga ikut membeku kaku dengan koper kabin yang masih dipegangnya. Cowok buaya premium itu menatap kursi 12B dengan pandangan seolah kursi itu dilapisi paku tajam. "Waduh, Papi, Mami... ini namanya intimidasi penerbangan tingkat tinggi. Nyawa Gino terancam radius cubitan maut sedekat ini!"

"Udah, jangan banyak alasan. Buruan duduk, pesawatnya sudah mau lepas landas," potong Om Alvin dari barisan belakang sembari terkekeh renyah melihat wajah terzalimi anaknya.

Mau tidak mau, dengan langkah patah-patah dan wajah yang ditekuk habis-habisan, Shirin masuk dan duduk di pojok dekat jendela. Gino menyusul mendaratkan bokongnya di kursi tengah nomor 12B dengan gerakan super hati-hati, sengaja melipat kedua tangannya rapat-rapat di dada agar tidak terjadi kontak fisik tidak sengaja.

Suasana di baris dua belas itu seketika berubah menjadi sangat canggung dan kaku. Dua maba yang biasanya hobi berdebat heboh di kelas perkuliahan, kini mendadak kompak bungkam seribu bahasa. Shirin memilih menatap lurus-lurus ke luar jendela kaca dengan posisi tubuh condong ke kiri, sementara Gino menatap kaku ke arah layar hiburan di depannya dengan pandangan kosong.

Aurel yang duduk di barisan nomor sepuluh, sengaja memutar kepalanya ke belakang dari celah kursi. Begitu melihat bagaimana kaku dan sengsaranya posisi duduk dua sahabat karibnya itu, pertahanan Aurel kembali runtuh total.

"BHUHAHAHAHA! Aduh, Rin, Gin! Mukanya dikondisikan dong, tegang banget kayak mau simulasi ujian skripsi!" seru Aurel dengan tawa cemprengnya yang khas, kembali terpingkal-pingkal memegangi perutnya.

Bang Edward yang duduk di sebelahnya ikut melongokkan kepala, lalu meledak dalam tawa renyah bersama Kak Anita. "Hahaha! Bener, Rel! Si Gino biasanya bermulut lemes, sekarang udah kayak patung manekin toko baju! Kapten restu dinasti keluarga emang nggak pernah gagal!"

Di tengah keriuhan tawa yang menggema di kabin pesawat pagi itu, Reyhan yang duduk di baris seberang hanya bisa menyunggingkan sebuah senyuman tipis yang sangat teduh. Sepasang mata teduh miliknya menatap Aurel yang sedang tertawa lepas menunjuk sahabatnya. Samudera kesabaran dan keikhlasan di dalam dada cowok denim itu membuatnya ikut merasakan kehangatan yang murni. Baginya, awal perjalanan menuju Bali ini sudah resmi dipenuhi oleh warna-warni komedi keluarga besar mereka yang teramat indah dan tak terlupakan.

Setelah pesawat mencapai ketinggian jelajah dan lampu tanda sabuk pengaman dipadamkan dengan bunyi ting yang khas, suasana di dalam kabin berubah menjadi lebih tenang. Gemuruh mesin pesawat terdengar konstan, mengantar sebagian besar penumpang dinasti keluarga mereka untuk mulai bersandar nyaman.

Di barisan nomor sepuluh, Aurel yang sejak pagi di bandara kelelahan karena terlalu banyak tertawa, kini mulai merasakan kantuk yang luar biasa berat. Sepasang matanya perlahan terpejam, dan kepalanya mulai terkulai tidak beraturan ke arah sisi kanan kursi. Bantal leher beludru berwarna merah muda yang dipakainya bahkan sudah bergeser miring, membuat posisi tidurnya terlihat sangat tidak nyaman.

Bang Edward yang duduk di sebelahnya, menyadari hal itu. Senior yang biasanya hobi bertingkah jail dan posesif itu seketika mengubah ekspresinya menjadi begitu lembut. Tatapan mata elangnya melembut drastis, memancarkan perhatian manis seorang kakak yang teramat tulus.

Tanpa suara agar tidak mengejutkan adiknya, tangan kekar Bang Edward terulur dengan sangat hati-hati. Dengan gerakan yang teramat telaten dan perlahan, ia membetulkan posisi bantal leher Aurel, memastikannya menopang leher gadis itu dengan pas agar tidak pegal saat bangun nanti.

Kak Anita yang duduk di sisi sebelah luar, memperhatikan tindakan penuh kasih kekasihnya itu dengan senyuman termanis. Alih-alih cemburu, senior perempuan itu justru merasa sangat tersentuh melihat betapa Edward selalu menjaga adik kecilnya sejak balita.

Kak Anita perlahan mencondongkan tubuhnya ke arah Aurel. Dengan sentuhan tangan yang sangat lembut dan penuh kasih sayang, ia menuntun kepala Aurel yang tadinya terkulai miring untuk bersandar nyaman di atas bahunya sendiri. Kak Anita membiarkan bahunya menjadi tempat peristirahatan yang kokoh bagi adik tingkat kesayangannya itu, sembari sesekali mengusap pelan pelipis Aurel yang sudah tertidur pulas.

Dada Aurel, meskipun dalam keadaan terlelap, sempat berdesir halus. Aroma parfum Kak Anita yang menenangkan berpadu dengan kehangatan saku jaket kulit Bang Edward yang masih terasa di memorinya, menciptakan debaran keras nan familier yang bertalu-talu samar di alam bawah sadarnya. Rasa deg-degan itu tetap ada di sana, mendekap erat rahasia cinta sepihaknya yang teramat indah.

Di barisan kursi seberang lorong, Reyhan yang sejak tadi menyimak buku materi perkuliahannya, perlahan menurunkan tabletnya. Sepasang mata teduh milik cowok berjaket denim itu menangkap seluruh pemandangan manis tersebut dengan sangat jelas. Namun malam ini, samudera kesabaran dan keikhlasan di dalam dada Reyhan membuatnya tidak lagi merasa perih. Ia hanya menyunggingkan sebuah senyuman tipis yang teramat hangat dan tulus dari kejauhan, ikut bersyukur melihat Aurel bisa tertidur dengan sangat aman dan dilindungi dengan begitu baik di dalam kabin pesawat.

Dua jam perjalanan udara akhirnya terlewati saat roda pesawat berbadan lebar itu menyentuh landasan pacu Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Bali, dengan entakan halus. Begitu pintu kabin terbuka, rombongan dinasti keluarga besar melangkah keluar disambut oleh embusan angin pesisir yang hangat dan aroma khas pulau dewata yang begitu menyegarkan.

Namun, kedamaian bandara seketika terusik begitu mereka tiba di area pengambilan bagasi (conveyor belt). Suasana mendadak riuh dan heboh akibat ulah dua maba yang sejak di pesawat tadi dipaksa duduk bersebelahan oleh para ibu.

Shirin berdiri dengan jarak sekitar dua meter dari sabuk berjalan, melipat kedua tangannya di dada dengan wajah yang masih merah padam menahan salah tingkah gila-gilaan. Sementara itu, Gino berdiri di sebelahnya, berpura-pura sangat sibuk menatap tajam ke arah koper-koper yang mulai bermunculan, padahal kacamata hitamnya sengaja diturunkan ke ujung hidung demi melirik reaksi salah tingkah sang "calon tunangan".

"Rin, itu koper lo yang warna pink pastel dengan gantungan boneka kelinci bukan, sih?" celetuk Gino tiba-tiba dengan nada suara yang sengaja dibuat sok berwibawa, mencoba mencairkan suasana canggung di antara mereka. "Sini, biar calon menantu spek dewa kesayangan Tante Ellen ini yang ambilkan dari conveyor. Tugas berat begini biar tenaga kepiting raksasa lo diistirahatkan dulu."

"Gino! Nggak usah bawa-bawa kata calon menantu lagi ya, denger nggak?!" semprot Shirin ketus, refleks membalikkan badan dengan wajah panas akibat jebakan perjodohan purba yang masih bergaung di telinganya. "Lagian itu bukan koper gue! Koper gue warna biru dongker, sori ya!"

Gino langsung menyengir lebar tanpa dosa, memamerkan senyuman buayanya yang sukses membuat Shirin makin salah tingkah tingkat tinggi. "Oalah, biru dongker ya. Oke, siap laksanakan, Calon Istri."

"GINOOO! Sumpah ya lo lama-lama gue hanyutin ke selat Bali!" pekik Shirin gemas, refleks mengacungkan paspornya siap memukul lengan Gino lagi, memicu ledakan tawa cempreng dari Aurel yang berdiri tidak jauh dari mereka.

"BHUHAHAHAHA! Aduh, Rin, Gin! Baru mendarat di Bali udah pamer drama rumah tangga maba perkuliahan!" seru Aurel terpingkal-pingkal sampai harus memegangi perutnya yang kram karena terlalu banyak tertawa sejak pagi. "Aduh... sumpah, muka lo berdua kalau lagi salah tingkah tuh epik banget gila!"

Bang Edward yang sedang menjinjing tas ransel Aurel ikut tertawa renyah bersama Kak Anita di sebelahnya. Senior siaga satu itu menepuk pundak Gino dengan cukup keras. "Hahaha! Bener, Rel! Si Gino biasanya bermulut lemes kayak mak-mak katering, sekarang modusnya taktis bener bawa-bawa urusan koper. Benteng pertahanan Shirin bentar lagi jebol itu, Gin!"

Di tengah keriuhan dan hebohnya godaan antarkeluarga besar di area bagasi siang itu, Mama Ellen dan Tante Sarah yang berdiri di dekat Daddy Wira hanya bisa geleng-geleng kepala sembari tersenyum penuh kemenangan melihat taktik perjodohan mereka berjalan sangat lancar sejak hari pertama.

Aurel yang masih tertawa puas secara refleks melirik ke arah sampingnya. Pandangannya bertumbukan dengan sepasang mata teduh milik Reyhan. Cowok berjaket denim itu berdiri tenang sembari memegang koper miliknya sendiri. Reyhan menatap Aurel dengan sebuah senyuman tipis yang teramat hangat dan tulus di bibirnya.

Melihat bagaimana Reyhan begitu sabar, berlapang dada, dan tidak menunjukkan binar cemburu sedikit pun meskipun tahu hati Aurel masih dipenuhi debaran manis untuk Bang Edward, membuat dada Aurel perlahan dihangatkan oleh rasa haru yang mendalam. Kesabaran Reyhan untuk tetap tinggal menjadi partner terbaik di lembaran hidup barunya terbukti menjadi pelindung sunyi yang teramat menenangkan. Di bawah langit Bali yang cerah siang itu, Aurel tahu petualangan liburan keluarga besar mereka baru saja resmi dimulai dengan penuh warna-warni kebahagiaan yang tak terlupakan.

Pintu kaca besar yang menghubungkan ruang tengah vila langsung menghadap ke hamparan luas Samudra Hindia. Sore itu, embusan angin pesisir bertiup jauh lebih kencang dari biasanya, membawa gulungan ombak besar dan aroma garam yang pekat. Begitu matahari perlahan turun mendekati garis cakrawala, hawa dingin khas pantai saat senja mulai menyeruak masuk, menusuk hingga ke tulang.

Aurel yang baru saja selesai meletakkan tas kecilnya di sofa luar dekat kolam renang, refleks mendekap kedua lengannya sendiri. Tubuhnya sedikit bergetar menahan gigil karena ia hanya mengenakan dress kasual tipis tanpa lengan siang tadi.

"Brrr... angin Bali kalau sore ternyata bisa sekencang ini, ya," gumam Aurel dengan gigi yang sedikit merapat menahan hawa dingin pantai.

Sebelum rasa dingin itu semakin menyiksanya, sebuah kehangatan yang tebal tiba-tiba mendarat dengan lembut di atas kedua pundaknya. Aurel tersentak kecil, lalu menoleh.

Kak Anita sudah berdiri di belakangnya dengan senyuman yang teramat manis dan penuh kasih sayang. Senior perempuan itu baru saja melepaskan jaket rajut tebal berbulu halus miliknya sendiri dan dengan telaten merapikan letak jaket tersebut di sekeliling tubuh Aurel agar dadanya terlindungi dari angin malam pantai.

"Nih, pakai jaket Kakak dulu, Rel," ucap Kak Anita dengan nada suara yang teramat lembut dan sarat akan perhatian murni seorang kakak perempuan. "Kulit kamu udah kaku begitu karena kedinginan. Kamu itu dari dulu kalau masalah baju santai selalu lupa bawa penghangat, padahal fisik kamu gampang drop kalau kena angin malam."

Mendengar perhatian manis nan tulus yang meluncur begitu dekat dari Kak Anita, hati Aurel seketika dipenuhi oleh letupan rasa haru yang mendalam. Alih-alih cemburu karena status Kak Anita sebagai kekasih Bang Edward, kebaikan tulus yang selalu ditunjukkan oleh senior di depannya ini justru membuat Aurel merasa sangat disayangi dengan porsi yang teramat besar dalam dinasti keluarga mereka.

Aurel buru-buru memasukkan kedua tangannya ke dalam lengan jaket tebal yang wangi parfum khas Kak Anita itu, lalu mengulas sebuah senyuman ceria yang paling tulus. "Aduh... hangat banget, Kak! Makasih banyak ya, Kak Anita emang paling peka dan pengertian sedunia!"

"Sama-sama, Adik Cantik. Makanya sekarang buruan masuk ke dalam ruang tengah, di sana hawa AC-nya udah dimatiin biar lebih hangat," sahut Kak Anita gemas, seraya merangkul hangat pundak Aurel dan menuntunnya berjalan masuk membelah pintu kaca.

Dari arah meja pantry dekat kolam renang, Bang Edward yang sedang menjinjing boks air mineral tampak tersenyum lebar menatap interaksi manis dua wanita kesayangannya itu. Senior siaga satu itu melirik ke arah Reyhan yang berdiri tenang di sampingnya mengenakan jaket denim andalannya.

Reyhan menatap Aurel yang sedang berjalan tertawa bersama Kak Anita dari kejauhan. Sepasang mata teduh milik cowok denim itu memancarkan samudera kesabaran dan keikhlasan yang teramat besar. Bukannya cemburu atau merasa asing, Reyhan justru menyunggingkan sebuah senyuman tipis yang sangat hangat dan tulus di bibirnya. Kesabarannya untuk tetap tinggal menjadi partner terbaik yang suportif terbukti menjadi pelindung sunyi yang menenangkan jiwanya sepanjang awal liburan dinasti keluarga besar mereka di Bali sore itu.

Begitu semua koper berhasil dikumpulkan di ruang tengah vila yang berlantai kayu jati, suasana mendadak kembali memanas. Vila mewah bergaya tropis ini memiliki dua lantai dengan koridor panjang yang menghubungkan deretan kamar mewah.

Mama Ellen dan Tante Sarah sudah berdiri di dekat meja konter utama dengan selembar kertas denah kunci di tangan mereka. Sepasang mata kedua ibu tersebut berkilat jenaka, memancarkan aura konspirasi perjodohan yang sangat taktis.

"Baik, anak-anak maba dan kating sekalian, harap tenang," buka Tante Sarah dengan suara lantang penuh wibawa selaku seksi sibuk logistik malam ini. "Karena jumlah kamar kita pas, pembagian wilayah istirahat harus dilakukan secara terstruktur demi kenyamanan bersama."

Shirin yang masih mengenakan jaketnya langsung memasang mode waspada tingkat tinggi. Firasatnya sebagai maba korban perjodohan purba mulai mendeteksi adanya jebakan baru.

Mama Ellen berdehem pelan, menahan senyum manisnya. "Untuk lantai satu, itu area khusus para orang tua agar tidak capek naik tangga. Nah, untuk lantai dua, koridor sebelah kiri khusus untuk Edward, Anita, dan Reyhan. Sedangkan koridor sebelah kanan..." Mama Ellen sengaja menggantung kalimatnya, bertukar pandang penuh arti dengan Tante Sarah.

"Koridor sebelah kanan ujung, kamar nomor 205 untuk Shirin," lanjut Mama Ellen taktis.

"Dan tepat di sebelahnya, kamar nomor 206 dengan balkon yang menyatu... khusus untuk Gino!" sela Tante Sarah bersemangat, menjatuhkan bom konspirasi ganda yang sukses memecah keheningan ruang tengah sore itu

Tiba-tiba

1
falea sezi
😒 heran liat Edward ini serakah
falea sezi
kenapa aurel di buat murahan sih😒 buat. move on donk🤣
falea sezi
aurel. move on pergi jauh lagh kuliah pindahan ja bodoh bgt km ini🤣
falea sezi
cewek gatel aurel🤣 kayak gka ada cwek. lain aja
falea sezi
aurel g tau malu🤣 di tolak lu ngarep move on neng maaf g suka cwek menye ngemis ngemis cinta😒
falea sezi
🤣🤣 Reyhan maju reyy q dukung jangan hiraukan Edward di vampir sok ngatur
falea sezi
🤣 Edward saudara bukan kok ngatur uda urus aja pcr tercinta lu ngapain. ngurus aurel😒 biar aurel pergi jauh aja minimal. keluar negri gt cwek. kok menye
falea sezi
kenapa malah bahas figuran peran utama siapa aneh author nya🤣
falea sezi
mending pindah tempat kuliah aja aurel yg jauh 😒 biar gk sakit hati
my queen 👸: makasih sarannya kk ❤️🙏
total 1 replies
falea sezi
move on donk
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!