Seumur hidupnya, Amira tidak pernah benar-benar dianggap sebagai bagian dari keluarganya. Sebagai anak yang lahir dari hubungan terlarang, ia selalu menjadi sasaran kebencian kakak tirinya. Bahkan lelaki yang dicintainya memilih kakaknya sendiri hanya karena Amira bukan anak sah keluarga itu. Ketika fitnah demi fitnah membuat ayahnya ikut membencinya, Amira akhirnya mendapat "hadiah" dari keluarganya—sebuah perjodohan dengan Kaizar, pewaris keluarga mafia paling ditakuti. Kaizar bukan pria biasa. Ia lumpuh, memiliki luka yang membekas di wajahnya, dingin, kejam, dan tidak mengenal belas kasihan. Bagi keluarga Amira, perjodohan itu adalah cara untuk menyingkirkan putri yang selama ini mereka anggap sebagai aib. Namun mereka tidak tahu satu hal. Di balik kekejaman Kaizar, tersimpan luka yang jauh lebih dalam. Dan ketika semua orang memilih takut kepadanya, Amira justru menjadi satu-satunya perempuan yang berani mendekat, memeluknya, lalu berkata, "Sabar... kamu tidak sendirian."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
Lorong rumah sakit masih dipenuhi ketegangan setelah dokter menyampaikan hasil pemeriksaan. Alika berdiri dengan wajah pucat. Matanya masih basah setelah mendengar pengakuan Ambar yang kemudian berusaha ditarik kembali. Sementara Amira duduk di samping Kaizar, mencoba memahami apa yang sebenarnya terjadi pada keluarganya.
Dokter membuka kembali berkas di tangannya.
"Saya rasa keluarga perlu mendengar penjelasan ini dengan tenang."
Ambar langsung menyela. "Saya sudah bilang, tidak perlu ada pemeriksaan lagi."
Dokter mengernyit. "Ibu Ambar, pemeriksaan sudah dilakukan."
"Saya tidak percaya hasilnya."
Suara Ambar terdengar tegas meskipun wajahnya tidak mampu menyembunyikan kepanikan.
Alika menatap ibunya. "Mami..."
Ambar mengalihkan wajah. "Ini pasti ada kesalahan."
Dokter menarik napas panjang. "Kami sudah memeriksa ulang sampel."
Ambar menggeleng. "Mungkin sampelnya tertukar."
"Tidak." Dokter menjawab dengan tenang. "Identitas sampel diperiksa beberapa kali sebelum pemeriksaan dilakukan. Kami juga sudah mengulang analisis untuk memastikan hasilnya."
Alika menggenggam kedua tangannya. "Jadi..."
Suaranya bergetar. "Benar aku bukan anak Papi?"
Dokter menatap Alika.
"Berdasarkan pemeriksaan hubungan biologis yang dilakukan, hasilnya menunjukkan bahwa Tuan Ganjar Wijaya bukan ayah biologis Anda."
Alika menutup mulutnya. Air mata kembali mengalir. Ambar langsung berdiri. "Tidak!"
Semua orang menoleh. "Hasil itu salah."
Dokter tetap tenang. "Ibu Ambar..."
"Saya yang melahirkan Alika. Saya tahu siapa ayahnya."
"Kalau begitu, hasil pemeriksaan ini justru bisa menjadi bahan untuk mencari tahu kebenarannya."
"Saya tidak membutuhkan tes apa pun!"
Ambar mulai kehilangan kendali. "Alika adalah anak Ganjar. Sejak dulu semua orang tahu itu."
Alika menatap ibunya dengan luka yang semakin dalam. "Kalau begitu kenapa hasilnya berbeda?"
Ambar terdiam.
"Jawab aku, Mi." Alika melangkah mendekat.
"Kenapa?"
Ambar tidak sanggup menatap putrinya. "Mungkin rumah sakit memang melakukan kesalahan."
Dokter menggeleng. "Seperti yang sudah saya jelaskan, pemeriksaan telah dilakukan ulang."
"Kalau begitu ulangi lagi!" Ambar membalas dengan suara tinggi. "Periksa sampai hasilnya sesuai!"
Suasana lorong kembali sunyi. Kaizar yang sejak tadi diam akhirnya bersuara. "Kalau hasilnya sudah dikonfirmasi, terus menyangkal tidak akan mengubah kenyataan."
Ambar menoleh kepadanya. "Tuan Kaizar, ini masalah keluarga saya."
"Aku tahu." Nada suara Kaizar tetap datar. "Tapi Amira juga bagian dari keluarga ini."
Ambar terdiam. Kaizar melanjutkan, "Dan selama ini dia yang paling banyak menerima akibat dari kebohongan keluarga kalian."
Amira menoleh kepada suaminya. Ia tidak mengatakan apa-apa. Ada terlalu banyak hal yang masih berputar di kepalanya. Alika bukan anak Ganjar. Kalau begitu... Mengapa dirinya yang selama ini justru dianggap sebagai kesalahan? Mengapa kakek dan neneknya dulu begitu menyayanginya? Mengapa mereka selalu berusaha memastikan Amira tetap memiliki tempat di keluarga Wijaya meskipun Ganjar sendiri menjauh?
Pertanyaan-pertanyaan itu perlahan membawa Amira pada kenangan masa kecilnya. Kenangan tentang dua orang tua Ganjar yang selalu memanggilnya dengan penuh kasih. Kenangan yang selama ini tidak pernah ia mengerti.
Bertahun-tahun sebelumnya... Rumah keluarga Wijaya pernah dipenuhi suasana berbeda, tentram dan aman. Namun pada hari itu, seorang perempuan muda datang bersama Ganjar.
Perempuan itu adalah ibu Amira. Wajahnya terlihat gugup. Ia berdiri di samping Ganjar dengan kedua tangan saling menggenggam.
"Ganjar..." Sang ayah menoleh.
"Apa?"
"Apakah mereka akan menerimaku?"
Ganjar tidak segera menjawab. Ia sendiri masih belum memahami bagaimana kehidupannya bisa sampai pada keadaan seperti itu.
Namun sebelum sempat berkata apa-apa, pintu rumah terbuka.
Ibu Ganjar muncul. Begitu melihat perempuan yang berdiri di samping putranya, ia justru tersenyum.
"Kalian sudah datang."
Perempuan itu menundukkan kepala. "Bu..."
Ibu Ganjar menghampirinya. "Kenapa berdiri di luar?"
Perempuan itu tampak kebingungan. "Saya..."
"Masuklah."
Ibu Ganjar meraih tangannya. "Kamu pasti lelah."
Perempuan itu menatapnya dengan mata berkaca-kaca. Ia mungkin sudah mempersiapkan diri untuk mendengar hinaan.
Mungkin ia mengira keluarga Ganjar akan menganggapnya sebagai perempuan yang telah merusak rumah tangga.
Tetapi yang diterimanya justru kehangatan.
Ayah Ganjar yang sejak tadi duduk di ruang keluarga ikut berdiri.
"Ini perempuan yang kau ceritakan?"
Ganjar mengangguk. "Iya, Yah."
Sang ayah menatap perempuan itu beberapa saat. Tidak ada kebencian dalam sorot matanya.
"Kemarilah."
Perempuan itu mendekat dengan langkah ragu.
"Jangan takut." Ayah Ganjar menepuk bahunya.
"Kalau memang ada sesuatu yang terjadi, kita selesaikan bersama."
Perempuan itu menundukkan kepala. "Saya tidak pernah berniat menghancurkan keluarga siapa pun."
"Ayah tahu."
Jawaban itu membuat perempuan tersebut mengangkat wajah.
"Kamu tidak perlu menjelaskan semuanya hari ini."
Ibu Ganjar ikut berbicara. "Yang penting sekarang adalah kesehatanmu."
Tangannya perlahan berpindah ke perut perempuan itu yang saat itu mulai membesar.
"Anak ini tidak bersalah."
Ganjar yang berdiri beberapa langkah dari mereka terdiam. Ia belum mampu menerima kehamilan itu. Baginya, semuanya terjadi terlalu cepat. Sebuah malam yang seharusnya tidak pernah terjadi telah mengubah begitu banyak hal. Tetapi kedua orang tuanya melihat sesuatu yang berbeda.
Mereka melihat seorang perempuan yang terjebak dalam keadaan yang tidak sederhana.
Dan seorang anak yang sama sekali tidak tahu apa-apa tentang kesalahan orang dewasa.
Beberapa bulan kemudian, tangisan bayi memenuhi rumah keluarga Wijaya. Seorang bayi perempuan lahir.
Amira.
Ibu Ganjar menggendong bayi mungil itu dengan mata berkaca-kaca.
"Cucu Nenek..."
Bayi itu bergerak kecil dalam pelukannya. Ayah Ganjar berdiri di samping istrinya.
"Namanya Amira?"
"Iya." Ia tersenyum."Nama yang indah."
Ganjar berdiri agak jauh. Tatapannya tertuju pada bayi itu.
Ibu Ganjar mendekat. "Ganjar."
"Apa?"
"Ini putrimu."
Ganjar mengalihkan pandangan. "Aku tahu."
"Tapi kau bahkan belum menyentuhnya."
Ganjar tidak menjawab. Ayahnya kemudian berkata, "Jangan menghukum anak karena sesuatu yang bukan kesalahannya."
Ganjar menatap ayahnya. "Ayah tidak mengerti, bahkan aku sudah punya Ambar dan Alika putri kecilku."
"Ayah justru sangat mengerti."
Ayah Ganjar berdiri di hadapannya. "Perempuan itu mungkin memiliki kesalahan. Kau mungkin memiliki kesalahan. Tetapi anak itu tidak."
Ganjar mengatupkan rahangnya. "Semua ini tidak seharusnya terjadi."
"Benar." Ayahnya mengangguk. "Tetapi sekarang dia sudah ada."
Tatapan ayah Ganjar beralih kepada bayi yang berada dalam pelukan istrinya.
"Dan dia darah dagingmu."
Kalimat itu membuat Ganjar terdiam. Ibu Ganjar memandang putranya.
"Kami sudah memastikan semuanya."
Ganjar mengerutkan kening. "Apa maksud Ibu?"
"Amira adalah anakmu."
Ganjar menatap bayi itu. Untuk beberapa saat, tidak ada suara yang keluar dari mulutnya. Ayahnya kemudian berkata, "Amira adalah anakmu, Ganjar. Apa pun yang terjadi sebelum kelahirannya, jangan pernah menyalahkan anak itu."
Ganjar hanya terdiam. Ia tahu Amira adalah putrinya. Tidak ada keraguan tentang itu. Tetapi di dalam hatinya, kelahiran Amira tetap mengingatkan dirinya pada hubungan yang selama ini ingin ia lupakan.
Sementara kedua orang tuanya justru semakin menyayangi Amira. Mereka tidak pernah memandang cucunya sebagai kesalahan.
Mereka melihat Amira sebagai anak yang lahir dari keadaan rumit, tetapi tetap berhak mendapatkan kasih sayang.
Setiap kali Amira datang ke rumah mereka, kedua orang tua Ganjar selalu menyambutnya dengan hangat.
Mereka membelikan pakaian. Membawakan mainan. Menggendongnya ketika menangis.
Bahkan ketika Amira masih kecil dan tertidur di pangkuan neneknya, perempuan tua itu sering mengusap rambut cucunya dengan penuh kasih.
"Anak ini tidak punya salah apa-apa," katanya suatu hari kepada Ganjar. "Jangan hukum dia karena kesalahan orang dewasa."
Ganjar tidak menjawab. Ia hanya memalingkan wajah. Ayahnya pun berkali-kali mengingatkan hal yang sama.
"Suatu hari nanti kau akan menyesal kalau terus menjauhi anakmu."
Tetapi Ganjar tetap memilih menjaga jarak. Saat itu, ia masih percaya bahwa keluarganya bersama Ambar adalah kehidupan yang akan ia jalani selamanya. Ia menganggap Alika sebagai putri yang lahir dari pernikahannya dengan Ambar dan tidak pernah sedikit pun mencurigai kenyataan lain di balik kelahiran anak itu.
☘️☘️☘️☘️
Kembali ke rumah sakit. Amira masih duduk dalam diam. Potongan-potongan masa lalu yang selama ini hanya ia ingat sebagai kenangan samar tiba-tiba terasa memiliki arti berbeda.
Kakek dan neneknya tidak pernah membencinya. Mereka justru satu-satunya orang yang sejak awal memperlakukannya sebagai bagian keluarga, apalagi saat usia Amira kecil ibunya sudah pergi ke surga.
Sementara Ganjar...
Amira menundukkan kepala.
"Jadi selama ini..." Suaranya lirih.
Kaizar menoleh. "Apa?"
Amira menatapnya dengan mata berkaca-kaca.
"Kakek dan Nenek tidak pernah membenciku."
"Tidak."
Kaizar menggenggam tangannya. "Mereka menyayangimu."
Amira mengusap air matanya. "Tapi Papi..."
Ia tidak sanggup menyelesaikan kalimat.
Di sisi lain lorong, Alika masih berhadapan dengan Ambar.
"Mami."
Ambar menatapnya. "Aku ingin tahu siapa ayahku."
Ambar menggeleng. "Alika, jangan sekarang."
"Kenapa?"
"Karena Papi sedang sakit."
Alika tertawa getir. "Justru karena Papi sedang sakit, aku ingin tahu sebelum semuanya terlambat."
Ambar terdiam. Alika mendekat. "Kalau hasil DNA itu salah, buktikan."
Ambar tidak menjawab. "Buktikan bahwa Papi adalah ayahku."
Alika menatap ibunya dengan mata penuh harap. Tetapi Ambar tetap diam. Dan dalam hidupnya, Alika mulai menyadari sesuatu yang jauh lebih menyakitkan daripada hasil tes DNA.
Ibunya mungkin memang mengetahui siapa ayah kandungnya. Hanya saja, sampai sekarang... Ambar memilih untuk tidak mengatakannya.
Sementara di balik pintu ruang perawatan, Ganjar yang masih terbaring perlahan menggerakkan jarinya. Kelopak matanya bergetar.
Kesadarannya mulai kembali. Dan tanpa seorang pun menyadarinya, pria yang selama ini menyimpan begitu banyak luka dari masa lalu itu sedang kembali membuka mata.
Bersambung...