Indonesia
NovelToon NovelToon
Transmigrasi:Aku Ingin Cerai,Suami Malah Bucin

Transmigrasi:Aku Ingin Cerai,Suami Malah Bucin

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Reinkarnasi / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:11.3k
Nilai: 5
Nama Author: sopiakim

Selesai membaca novel drama yang bikin emosi, Naya malah mengalami kecelakaan dan terbangun di dalam tubuh figuran bernasib sama. Tahu alur tragisnya, ia memanfaatkan kontrak nikah 6 bulan untuk hura-hura pakai uang Damar suami kaya nan dingin yang terpaksa menikahinya lalu berniat kabur membawa uang kompensasi cerai!

​Namun, sikapnya yang berubah 180 derajat jadi cuek savage dan menganggap Damar sekadar ATM berjalan justru membalikkan alur cerita. Saat masa kontrak usai dan Naya menagih perceraian, Damar malah ngamuk tak rela dan mendadak berubah jadi suami posesif yang bucin parah!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sopiakim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

25.Hampir saja

Sambungan telepon antara Damar dan Andre di ujung sana berlangsung singkat namun cukup menegangkan bagi sang CEO. Begitu panggilan itu ditutup, Damar menarik napas dalam-dalam untuk menetralisir aliran darahnya yang mendadak bergejolak akibat ulah sang istri. Pria itu berbalik badan, berniat kembali menegaskan wibawanya sebagai kepala rumah tangga sekaligus pimpinan tertinggi perusahaan.

Namun, setibanya ia di depan pulau dapur, tempat Naya tadi berdiri, sosok gadis itu sudah raib entah ke mana.

Kening Damar langsung mengernyit bingung. Ia melirik ke sekeliling area dapur terbuka yang terhubung langsung dengan taman belakang. Cangkir kopi hitamnya masih mengepulkan uap tipis, sementara sisa gigitan apel hijau tergeletak rapi di atas piring kecil.

"Naya?" panggil Damar dengan suara baritonnya yang berat, menyusuri sudut-sudut ruangan. "Jangan main-main ya. Mau kabur ke mana lagi kamu?"

Tidak ada jawaban. Yang terdengar hanya suara desiran angin pegunungan yang menyapu dedaunan hijau di luar jendela villa.

Damar melangkah pelan menuju ruang tamu, lalu mendengus geli saat matanya menangkap siluet tubuh Naya yang sedang jongkok bersembunyi di balik sofa beludru abu-abu berukuran besar, mengintip ke arahnya sambil menahan tawa.

"Hei, penjahat!" ledek Naya tanpa dosa, menyembulkan kepalanya dari balik sofa. "Udah selesai telponannya sama Pak Andre? Takut ya tadi ketahuan lagi mau ngapain di dekat meja dapur?"

Damar memutar bola matanya malas, namun sudut bibirnya sempat berkedut membentuk senyuman tipis yang langsung ia sembunyikan rapat-rapat. Pria itu melangkah mendekati sofa, lalu berdiri tegak berkacak pinggang di hadapan tempat persembunyian Naya, memasang wajah sedingin es batu.

"Keluar kamu dari situ, Naya," perintah Damar dengan nada tegas yang dibuat-buat. "Sejak kapan seorang Nyonya Diksara punya hobi baru jadi buronan yang ngumpet di balik sofa?"

"Sejak suami sirinya hobi ngancem mau ngurung orang di dinding!" balas Naya ngegas sambil bangkit berdiri, menepuk-nepuk kedua telapak tangannya seolah membersihkan debu khayalan. "Udah, ngaku aja deh, Mas. Tadi kamu deg-degan kan waktu saya tantangin balik? Ngaku!"

Damar mendengkus keras. Gengsinya yang setinggi langit langsung meronta-ronta mendengar tuduhan telak itu. Tanpa berpikir panjang, Damar kembali melangkah maju dengan aura mengintimidasi, berniat membungkam ocehan sang istri dengan gertakan maut jilid kedua.

Namun, Naya bukanlah tipikal gadis yang akan diam saja dikurung dua kali di tempat yang sama.

Melihat Damar mendekat dengan tatapan berbahaya, mata Naya membelalak lebar. "Eh, eh! Mau ngapain lagi?! Jangan coba-coba maju ya! Ini jalur evakuasi darurat saya!" teriak Naya panik bercampur geli.

Bukannya berhenti, Damar justru semakin mempercepat langkahnya. Dengan gerakan sigap ala agen rahasia film aksi, Damar mengurung Naya kembali—kali ini di sudut antara meja makan marmer dan dinding pembatas pantry. Kedua tangan kekarnya menopang kokoh di sisi kanan dan kiri tubuh Naya, membuat gadis itu benar-benar terkunci tanpa celah pelarian.

Jarak di antara mereka kini benar-benar sangat tipis. Bahkan deru napas hangat Damar beradu langsung dengan ujung hidung Naya. Aroma parfum maskulin berpadu dengan wangi kopi hitam menguar kuat, membuat isi kepala Naya mendadak kosong seketika.

Damar menundukkan sedikit wajahnya, menatap lurus ke dalam sepasang mata jernih Naya dengan seringai tipis yang sarat akan kemenangan mutlak.

"Mau lari ke mana lagi sekarang, hah?" bisik Damar tepat di dekat telinga Naya, suaranya yang rendah dan serak sukses membuat bulu kuduk gadis itu merinding seketika. "Tadi bilang saya deg-degan? Coba rasakan sendiri sekarang... siapa yang sebenarnya paling panik di sini."

Naya menelan ludah dengan susah payah. Jantungnya bergemuruh hebat, jauh lebih kencang dibanding insiden di ruang tamu tadi pagi. Ia bisa merasakan kehangatan tubuh Damar yang membentengi tubuhnya, membuat sekujur tubuhnya terasa kaku tak berkutik.

Namun, harga diri Naya sebagai ratu savage menolak untuk tunduk begitu saja. Meskipun pipinya sudah merona merah hingga menandingi warna udang rebus, Naya tetap memaksakan diri untuk mendongakkan dagunya, menatap tajam mata sang suami meski suaranya sedikit bergetar.

"I-ini... ini namanya pelanggaran hak asasi istri kontrak!" protes Naya terbata-bata, mencoba menutupi kegugupannya dengan omongan ngawur. "Di dalam klausul perjanjian bisnis kita, tidak ada poin yang membahas tentang 'ancaman beruntun di sudut pantry'!"

Damar terkekeh pelan, sebuah tawa rendah yang terdengar sangat seksi di pendengaran Naya. "Klausul itu bisa saya ubah kapan saja sesuai keinginan saya sebagai pemegang saham mayoritas," balas Damar dengan nada menggoda yang belum pernah ia tunjukkan kepada siapa pun seumur hidupnya. "Dan sepertinya, merevisi hukuman untuk istri yang suka membangkang adalah keputusan bisnis paling menarik hari ini."

Naya terkesiap. Jarak bibir mereka kini hanya tinggal beberapa sentimeter saja. Naya bisa melihat bulu mata lentik Damar dan ketegasan rahang suaminya yang luar biasa memukau dari jarak sedekat ini. Untuk sesaat, dunia di sekitar mereka seolah berhenti berputar. Tidak ada lagi Mamah Ratna yang judes, tidak ada lagi bayang-bayang Lea si kue pancong, dan tidak ada lagi aturan perusahaan yang mengekang. Yang tersisa hanya debaran dua hati yang berpacu dalam kecepatan abnormal.

Melihat Naya yang mendadak terdiam seribu bahasa—pemandangan yang sangat langka terjadi—Damar merasa di atas angin. Pria itu menyunggingkan senyuman miring penuh kemenangan, menikmati setiap detik ekspresi salah tingkah yang terpancar dari wajah cantik sang istri.

Namun, tepat saat Damar berniat menurunkan sedikit jarak di antara wajah mereka, sebuah suara dering ponsel yang sangat kencang tiba-tiba memecah keheningan dapur villa.

Drrrrt... Drrrrt... Drrrrt...!

Suara itu berasal dari saku celana Damar.

Keduanya mendadak tersentak hebat layaknya orang yang baru saja tersengat aliran listrik tegangan tinggi. Damar langsung menegakkan tubuhnya dalam gerakan kilat, mundur tiga langkah ke belakang sambil berdeham keras untuk menata kembali napasnya yang berantakan. Naya pun langsung merosot pelan menyandarkan punggungnya ke dinding, meraup oksigen sebanyak-banyaknya untuk menyelamatkan paru-parunya yang nyaris berhenti bekerja.

Damar merogoh saku celananya dengan tangan sedikit bergetar. Ia melihat layar ponselnya yang menyala terang, menampilkan nama 'Andre' untuk kesekian kalinya hari ini.

Sialan, asisten ini hobi banget merusak momen penting! maki Damar dalam hati dengan perasaan kesal bercampur lega yang luar biasa aneh.

"Halo," ucap Damar dengan suara bariton yang berusaha dinormalkan, meski nada bicaranya masih terdengar sedikit tercekat.

"Tuan Damar, mohon maaf mengganggu waktu istirahat Anda," suara Andre terdengar dari ujung seberang, bernada serius. "Dewan komisaris mendadak memajukan jadwal rapat evaluasi triwulan menjadi jam satu siang ini. Seluruh direksi sudah menunggu kehadiran Anda di ruang rapat utama kantor pusat."

Damar memejamkan matanya sejenak, mengembuskan napas panjang untuk meredakan gejolak di dadanya. "Baik. Saya segera kembali ke kantor. Siapkan semua berkasnya."

Setelah memutuskan sambungan telepon, Damar memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku. Ia menoleh ke arah Naya yang masih berdiri di sudut pantry, sibuk menata napasnya sendiri sambil merapikan letak blouse putihnya.

Suasana di antara mereka mendadak diliputi kecanggungan yang luar biasa pekat. Tidak ada lagi ejekan atau godaan; yang tersisa hanya sisa-sisa sengatan listrik tak kasat mata yang masih membekas di udara.

Damar berdeham kaku, menghindari tatapan langsung ke arah Naya. "Ehem... rapat evaluasi mendadak dimajukan. Saya harus segera kembali ke kantor pusat sekarang."

Naya mendongak, mencoba mengontrol ekspresi wajahnya agar kembali normal dan menyebalkan seperti sediakala. Ia memutar bola matanya malas, lalu melipat tangan di depan dada.

"Oh, silakan, Yang Mulia CEO yang sibuk," balas Naya dengan nada ketus yang dibuat-buat untuk menutupi rasa salah tingkahnya. "Sana buruan pergi rapat, daripada nanti para pemegang saham pada demo gara-gara bosnya kesurupan angin villa dan telat datang."

Damar menatap Naya lekat-lekat selama beberapa detik. Ada secercah keengganan yang tiba-tiba menyusup di benak pria itu untuk meninggalkan villa dan berpisah dari istrinya—sebuah perasaan asing yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya terhadap siapa pun.

Namun, tuntutan profesionalitas perusahaan tidak bisa ditawar.

"Kamu istirahatlah dulu di sini atau kalau bosan, supir pribadi akan mengantar kamu pulang ke mansion sore nanti," ujar Damar dengan suara yang melunak, jauh dari kesan kaku biasanya. "Dan... soal kejadian di sudut pantry tadi... anggap saja itu bagian dari latihan mental menghadapi dunia bisnis."

Naya sontak mendelik tajam, melemparkan tatapan sewot seketika. "Dih, bawa-bawa bisnis lagi! Bilang aja modus terselubung pengen bikin saya jantungan!"

Damar tidak membalas ucapan Naya. Pria itu justru menyunggingkan senyuman tipis—senyuman tulus yang sangat langka dan jarang sekali terekspos di hadapan orang lain. Tanpa berkata apa-apa lagi, Damar memutar badan dan melangkah pasti meninggalkan area dapur menuju pintu utama villa.

Suara deru mesin mobil sport hitam yang perlahan meninggalkan halaman villa menandakan kepergian sang CEO.

Di dalam dapur yang kembali sunyi, Naya memegang dadanya sendiri yang masih berdegup kencang. Ia menghela napas panjang, lalu tersenyum kecil sambil menggeleng-gelengkan kepalanya tak percaya.

"Aduh, Naya... lama-lama bisa gila juga lama berdekatan sama si Mas Kulkas itu," gumam Naya pelan pada dirinya sendiri, merutuki pesona tersembunyi sang suami yang ternyata jauh lebih berbahaya daripada ancaman guling pembatas di ranjang utama mereka.

_Bersambung

1
Runa fatia
rada ngakakkk ngebayangin wajah damar🤣🤣🤣 apa ga malu kali tuh
Luna
toh akhirnya si damar jadi ikutan stress juga kayak naya🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Luna
🤣🤣🤣aset dua milyar🤣🤣🤣🤣🤣bangke si Naya ini
Luna
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣njir baperan kali si damar
Luna
🤣🤣🤣🤣🤣
Luna
siap siap aja mama Ratna nyetok obat darah tinggi, stroke, jantung, asma🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Penulis kentang🍠: asli suka ngakak kebayang muka mama ratna🤣
total 1 replies
Luna
🤣🤣🤣🤣🤣awal yg bagus
Bambang Suanto
lanjut
Golda
😂😂😂
Diki Nd
🤣🤣🤣
Diki Nd
🤭🤭🤭
dinda aja
sukaaa kak
Pendi Gudung
sukaaa
Fadillah Langsa
ngakak terus
Ijal Messi
makanya tante diam aha🤣🤭🤣
Ijal Messi
pliss seru banget
li za
lucuuu🤭
li za
🤣🤣🤣
li za
seruuu yahh
Tugu Opak
seruuu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!