Cahaya tidak menerangi hidup seorang wanita yang terjebak dalam gelapnya kehidupan. Mati rasa mendeskripsikan kisah hidupnya.
Cahaya Jelita Jaharah harus hidup dipenuhi masalah demi masalah. Perjodohannya dengan putra bungsu keluarga Reynold menjadi satu-satunya jalan untuk mengungkapkan kematian sang ayah.
Berhari-hari ia harus hidup bersama jenazah ayahnya yang perlahan membusuk, memberikan bau menyengat.
"Ah~ inilah bau kematian." Itulah ucapan terakhir kali saat melihat ayahnya berada di dunia.
Sang ibu yang berselingkuh dengan tetua Raynold semakin menambah beban pada kehidupan Cahaya.
Zaydan Reynold seorang direktur di perusahaan Reynold adalah pria yang menjadi suaminya.
Mereka hidup bersama tanpa ada perasaan apa-apa, sampai kebenaran terungkap.
Keberadaan Fiona Ganezha yang merupakan tunangan Zaydan pun menjadi pelengkap cerita keduanya.
Bagaimana Cahaya mengungkapkan semuanya? Bisakah mereka jatuh cinta dan menghilangkan mati rasa itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agustine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAGIAN 30
Cahaya mematung dengan posisi merunduk, manik jelaganya masih memandang pada satu objek tergeletak di bawah meja. Rasa penasaran semakin merundung membuat ia turun dari kursi dan menggapai bulatan berwarna putih mengkilap bak porselen.
Ia amat sangat penasaran akan barang yang tiba-tiba saja keluar dari tas ranselnya.
Selepas berhasil menggapai benda itu, ia membawanya lalu kembali duduk di kursi. Kedua iris nya tidak pernah sedikitpun beranjak dari benda di tangan kanan. Ukuran bulatan tadi pas sekali di genggaman Cahaya.
Dahi lebarnya seketika mengernyit seraya membolak-balikkan benda yang tidak tahu apa itu.
"Apa ini? Seingat ku, sebelumnya benda ini ada di dalam saku celana ayah. Sejak kapan ayah mempunyai benda seperti ini? Aku tidak pernah ingat jika ayah memilikinya," racau Cahaya mencoba mengingat-ingat kenangan yang pernah dirinya habiskan bersama sang ayah.
Selama bertahun-tahun menjalani hari-hari sebagai ayah dan anak, hidup rukun bersama di satu atap, Cahaya tidak pernah melihat Arkana mempunyai benda mengkilap seperti bulatan dalam genggamannya saat ini.
Setelah dua bulan berada di tempat asing, Cahaya kembali ke ibu kota untuk melihat keadaan sang ayah. Ia nekad pulang sendirian tanpa memberitahu Naura. Apa yang menjadi kekhawatirannya benar-benar terjadi. Sebuah firasat tak mengenakan harus datang menerjang secepat anak panah melesat tepat sasaran.
Pada saat kepulangannya kembali ke rumah ia disuguhi pemandangan menggetarkan jiwa. Tepat di depan mata kepalanya sendiri ia menyaksikan jasad Arkana telah menggantung di langit-langit rumah.
Waktu itu ia dilanda shock hebat dan amat sangat terguncang atas apa yang melanda sang ayah. Baru beberapa hari kemudian, ia memutuskan mencari tahu apa benar Arkana mengakhiri hidupnya sendiri atau ada campur tangan orang lain? Cahaya mulai memperhatikan fisiknya dan mendapatkan beberapa luka memar.
Ia mengambil gambar lewat kamera ponsel dan selepas itu meraba-raba saku pakaian yang tengah dikenakan Arkana terakhir kali. Di bagian saku celana bagian kanan Cahaya mendapati bulatan berwarna putih.
Ia mengambilnya dan meletakkan di tas punggung yang jarang dirinya sentuh. Karena kesibukan kehidupan yang harus dijalani, Cahaya tidak lagi memperhatikan benda penemuannya dan mengabaikannya begitu saja.
Namun, kali ini setelah dua tahun lamanya ia kembali sadar jika mungkin saja benda itu adalah suatu petunjuk.
"Apa yang kamu temukan?"
Suara serak khas bangun tidur menyapa, menyadarkan ia dari lamunan panjang. Cahaya menoleh ke belakang mendapati Eve tengah menguap lebar, kemudian duduk di hadapan sang lawan bicara. Ia yang tengah membungkus dirinya dengan selimut terus memperhatikan wanita berhijab di depannya ini.
"Aku baru ingat, ada benda ini di saku celana ayah," jelas Cahaya menjulurkan benda bundar di tangannya pada Eve.
"Apa itu? Apa kamu belum membukanya?" tanya Eve semakin menambah kebingungan Cahaya.
"Membukanya? Apa menurutmu benda ini-" Cahaya menghentikan ucapannya sendiri saat melihat garis kecil di tengah-tengah badan bulatan yang seketika membuat ia sadar.
Tanpa mengatakan sepatah katapun lagi ia mencoba memutarnya menggunakan kedua tangan. Alhasil suara benda terbuka terdengar nyaring.
Cahaya mengalihkan pandangan pada Eve dan diam beberapa detik, lalu kembali pada benda di tangannya. Ia terkejut saat membuka salah satu bagian dari bulatan yang mirip seperti telur ayam itu.
Perlahan, tapi pasti ia menjauhkannya dan melihat isi di dalamnya. Kedua alis tegas Cahaya saling bertautan erat saat menangkap batu permata berbentuk enam sisi berwarna hitam dengan panjang dua sentimeter tergeletak di sana.
Cahaya buru-buru mengenakan sarung tangan lalu setelah itu menarik permata tadi keluar dan melihat ada kalung menjuntai di bawahnya.
"Jadi, ini bandul sebuah liontin?" gumamnya yang masih bisa didengar Eve.
"Punya siapa itu? Apa ayahmu memilikinya?" tanya Eve kemudian.
Kepala berhijab Cahaya menggeleng beberapa kali.
"Ayah tidak punya benda mahal seperti ini. Apa mungkin-"
"Apa mungkin itu punya seseorang yang berkuasa? Bisa saja orang itu bergulat dengan ayahmu sebelum beliau meninggal." Eve memotong perkataan Cahaya cepat membuatnya kembali beralih.
Cahaya diam tidak langsung menjawab perkataan Eve. Ia terus memperhatikan bandul kalung dalam genggaman.
"Permata ini bisa saja bernilai fantastis... siapa orang yang mempunyai benda seperti ini? Pasti seseorang yang memiliki kekayaan luar biasa," kata Cahaya dijawab anggukan oleh Eve.
Ia kembali menurunkan tangannya dan melihat pada sang lawan bicara lagi.
"Kamu tahu... sebenarnya aku sudah menikah dengan orang yang kamu lihat di restoran tempo hari. Dia-"
"Yes, i know." Kembali, Eve memotong ucapan Cahaya.
"Benar, aku tidak terkejut lagi kalau kamu tahu. Aku lebih terkejut jika kamu tidak tahu apa-apa. Orang seperti mu pasti sudah mencari tahu tentangku," kata Cahaya acuh tak acuh.
"Tapi, aku tidak menebak kalian sudah menikah. Aku hanya berpikir jika hubungan kalian tidak hanya sebatas kenalan biasa saja, mengingat pria itu pengunjung VIP di restoran tempat kita bekerja, kan?" Cahaya hanya mengiyakan.
"Sungguh, aku tidak peduli ada hubungan apa di antara kalian... aku hanya ingin mencari tahu kebenaran mengenai Tuan Arkana. Jujur, ayahmu memang orang yang baik, bahkan tidak segan membantu keluargaku."
"Di saat kami kekurangan, beliau tidak segan mengulurkan tangan. Terlebih ayahku telah lama meninggal... melihat beliau seperti menyaksikan ayahku sendiri, meskipun mereka berdua memang berbeda." Eve menjelaskan kekaguman pada Arkana.
Cahaya tercengang, ikut senang jika sang ayah berpengaruh dan bermanfaat bagi orang-orang sekitar.
"Karena itu, aku tidak percaya jika ayah meninggal dengan cara gantung diri. Aku tahu seperti apa kebiasaan ayah... dia tidak pernah melewatkan kewajibannya bahkan yang sunnah saja beliau kerjakan. Jadi, aku pikir akan sangat tidak mungkin jika ayah mengakhiri hidupnya sendiri," celoteh Cahaya lagi.
Eve tersenyum gamang, dirinya bisa membayangkan bagaimana baiknya sosok Arkana.
"Aku juga sempat tidak percaya ketika para tetangga mengatakan jika ayahmu mengakhiri dirinya sendiri. Karena aku tahu bagaimana baiknya beliau."
Cahaya kembali mengangguk singkat. Kematian sang ayah bagaikan luka terhebat yang pernah dirinya alami. Bahkan sampai detik ini ia belum bisa terima Arkana telah tiada. Karena rasa penasaran menuntut ia untuk membuka kebenaran apa yang sebenarnya terjadi pada saat itu.
"Empat hari lagi di kediaman Naufal Reynold, yaitu ayah mertuaku akan diadakan pertunangan Naura Reynold. Beliau adalah wanita yang selama ini membantuku," jelas Cahaya kemudian.
Eve terkesiap dan menemukan ide lain.
"Kamu harus pergi. Aku punya firasat jika ada sesuatu di sana. Pergilah! Lakukan yang terbaik," titah Eve.
Cahaya tercengang, tidak percaya.
"Kenapa kita bisa memikirkan hal yang sama? Aku juga punya firasat seperti itu. Baiklah, aku akan datang ke sana." Final Cahaya sembari mencengkram erat liontin tadi.
...***...
Waktu begitu cepat berlalu, hari yang ditunggu-tunggu pun datang. Namun, itu bagi mereka yang memiliki momen spesial, tidak bagi seorang Zaydan.
Selama enam hari ini ia begitu kelimpungan. Bagaimana tidak? Sosok sang istri tidak diharapkannya benar-benar tidak pulang ke rumah. Bahkan Cahaya tidak pernah menghubunginya sekalipun.
Zaydan gusar, tidak mempedulikan apa pun. Bahkan kini ia datang ke pesta setelah dipaksa oleh kakak pertamanya. Mau tidak mau, suka tidak suka, ia akhirnya harus hadir juga.
Ia berdiri sendirian di pojokan sambil menggenggam gelas ramping berisi minuman berwarna emas. Ia memandangi satu persatu tamu yang datang malam ini.
Semuanya nampak bergaya dan menonjolkan kecantikan serta ketampanan masing-masing.
Entah sudah ke berapa kali Zaydan menghela napas kasar, bosan pada situasi tidak menyenangkan tersebut. Ada hal yang masih bersembunyi apik di dalam diri dan hanya ia saja memahami kegelisahan itu.
lanjut thor /Ok//Ok//Good//Good/