Apakah kembali ke rimba bersama perempuan masa laluku menyenangkan ?
Jika bukan karena uang yang sedang kubutuhkan, Aku memilih untuk tak akan kembali ....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon A.T. Setiawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
30. Pulang Lagi Ke Geselma
Hampir dua hari bertahan di ceruk tak pelak membuat Aku harus mengambil keputusan jika tak mau mati konyol di kedalaman rimba.
Tak ada lagi yang bisa dimakan, ditambah luka prajurit aliansi yang kami tolong itu semakin memburuk membuat kami sepakat untuk kembali ke Geselma.
"Kita buat tandu untuk membawanya ke Geselma," kataku setelah kami sepakat untuk kembali lagi kesana sebagai jalan terakhir untuk tetap membuat prajurit itu tetap hidup.
"Apapun resikonya Yos ?" John menegaskan lagi kesepakatan kami.
"Itu pilihan yang terbaik. Sekalian kita antar Siri ke keluarganya. Tak mungkin kita terus-terusan begini," kataku tegas.
Untungnya si kecil Siri sudah pulih dari luka-lukanya. Rey pintar merawatnya dengan daun-daunan obat yang ditemukan di sekitar ceruk. Hanya bocah itu sekarang lebih pendiam. Mungkin karena terus-terusan memikirkan nasib kedua orangtuanya.
"Baik. Sebentar kusiapkan tandu untuk membawa prajurit itu," bisik Joh ke arahku.
Tak lama dia meninggalkan ceruk bersama Rey dengan parang milik prajurit tadi.
Aku beringsut ke perapian. Tinggal satu keladi kecil yang tersisa dekat perapian. Rencanaku akan kuberikan ke Siri dan prajurit yang terluka itu sebelum kami meninggalkan ceruk.
Untuk kembali ke Geselma, Aku mengandalkan insting Rey dan John. Pikiranku benar-benar tak bisa diandalkan saat ini. Kelaparan dan malaria ku yang sepertinya kumat membuatku tak bisa berpikir jernih.
"Siri ... Sini dekat kakak," Aku memanggil bocah perempuan yang terus memperhatikanku sedari tadi. Sepertinya dia merasa lapar.
"Kapan kita pulang kakak Yos ?" tanya Siri pelan setelah merapat dekatku.
"Sebentar sayang. Tunggu kakak John dan kakak Rey selesai buat tandu supaya mudah bawa bapa prajurit pulang," Aku berusaha menghiburnya sebisaku.
Jujur saja, kepanikan saat meninggalkan Geselma membuat kami kehilangan arah. Membawa tubuhku saja Aku merasa kepayahan, apalagi kini ada prajurit aliansi yang terluka dan si kecil Siri bersamaku. Tak ada yang bisa ku perbuat lebih jauh saat itu.
"Nanti bapa dan mama pasti kasih wam buat obat kakak." Siri balas menghiburku.
"Pasti Siri. Kita makan enak di sana. Sekarang Siri makan keladi ini dulu biar kuat kita pulang," kataku lirih.
Sungguh mendengar ucapan bocah itu, perasaan hatiku semakin tak karu-karuan. Tak bisa membayangkan bagaimana hancurnya bocah itu nanti setelah mengetahui keadaan Geselma.
"Uuugh .... Uuugh ...."
Prajurit yang terbatuk mengalihkan perhatianku. Bergegas menghampirinya, Aku mengelap lagi luka di kakinya yang semakin memburuk. Beberapa belatung terlihat di lukanya. Menunjukkan infeksi yang jika tak secepatnya ditangani akan membuat luka itu membusuk dan melebar ke atas.
"Minum bapak." Tanganku mengusapkan kain basah ke bibirnya.
Membuka matanya sebentar, dia menyesap kain yang ku usapkan tadi.
Sengaja Aku membatasi air yang diminumnya. Takut jika ada pendarahan dalam yang bisa saja membuatnya lebih menderita jika dia meminum air berlebihan.
"Makan sudah !" Aku menyuruh Siri meneruskan melahap keladi yang tadi ku bakar. Tak mau bocah itu mendekat dan membuatnya terganggu dengan pemandangan luka prajurit yang sedang ku bersihkan.
Kali ini teori survival yang ku ikuti di Menwa dan Wanadri dulu benar-benar diuji.
Memastikan luka di kakinya sedikit bersih, Aku membungkusnya dengan dedaunan yang disiapkan Rey untuk menutupi luka menganga itu. Setidaknya daun pengganti perban itu mencegah lalat yang entah bagaimana mulai mendatangi ceruk.
"Makan dulu bapak, sebentar kita jalan."
Selesai mengikatkan dedaunan tadi, Aku menyuapkan dua kepal keladi yang tersisa ke prajurit itu.
Sedikit kepayahan, dia tak menolak menerima suapan keladi yang sudah ku remas dan ku lembutkan dengan sedikit air.
Tak berapa lama suara kayu diseret terdengar mendekat. Aku memastikan suapan terakhirku ditelan prajurit itu sebelum menengok ke luar ceruk.
Dari bahasa Paniai yang kudengar, Aku memastikan John dan Rey sudah selesai membuat tandu dan bersiap meninggalkan ceruk.
***
Perjalanan kembali ke arah kedatangan kami tak kalah sulitnya. Hujan angin tiba-tiba saja turun dengan lebatnya setelah satu jam berputar-putar berjalan mencari arah.
Siri menggigil kedinginan di gendongan John. Aku dan Rey merasakan hal yang sama sambil menarik keras tandu yang membawa prajurit aliansi.
"Lihat Yos .... Geselma !" teriak Rey saat kami hampir menyerah dengan cobaan alam yang benar-benar.
Melihat kampung yang kami tuju mulai terlihat, Aku mempercepat langkahku dengan tenaga yang tersisa.
"Aku duluan Yos. Semoga ada yang menolong kita." John berlari mendahului kami. Dia tak mau Siri tersiksa lebih lama di tengah derasnya hujan.
Membiarkan John yang semakin jauh meninggalkan kami, Aku berharap prajurit aliansi yang ada di atas tandu mampu bertahan sampai ke sana.
"Masih kuat kah Yos ?" Rey mulai mengkuatirkan kondisiku.
"Semoga !" Aku berteriak membalasnya.
Berpacu dengan cuaca, kami berdua terus melaju menyeret tandu yang kami tarik.
Mengatur ritme tarikan tentu saja tak mudah ketika semakin mendekati Geselma. Entah bagaimana, Rey berhasil melacak jejak kembali ke Geselma. Hanya saja jalur kami kembali ini lebih mudah mengikuti aliran air hujan yang melewati semak.
Muka Rey yang sedikit di depanku mulai berdarah tergores semak dan ranting tajam yang menghantam keras wajahnya.
Lalu kudengar teriakan John yang memanggil kami saat hujan mulai mereda.
"Yos ... Rey !"
Suara itu semakin jelas terdengar mendekat.
"Jooohn ...!" Aku membalas panggilan yang terus berulang.
Lega saat akhirnya John terlihat dari semak di depan kami. Ada dua orang warga setempat yang mengikutinya.
Tak menunggu lama, dua orang itu menggantikan posisiku dan Rey yang sudah mulai kepayahan menarik tandu.
"Mari sudah kita jalan dulu," ajak John setelah Aku melepaskan ikatan tali yang menarik tandu.
Memastikan prajurit aliansi yang ada di tandu masih hidup, Aku dan Rey bergegas mengikuti John ke arah Geselma.
Seperempat jam menerobos belukar, akhirnya kami sampai ke hunian pertama Geselma.
Sekilas Aku melihat kerusakan di sana sini yang sangat parah. Menunjukkan betapa hebatnya serbuan yang terjadi.
"Hanya bangunan Gereja itu yang masih baik." John menyeret ku ke arah bangunan Gereja setelah kami sampai di pusat Geselma.
Betapa kerusakan Geselma yang sangat parah membuatku tak bisa berkata-kata saat memasuki Gereja.
Hanya ada sekitar enam laki-laki di dalam Gereja itu. Siri kulihat menangis keras di sudut Gereja dengan dua orang laki-laki yang kuduga kerabatnya sedang memeluknya. Keduanya juga kulihat menangis.
Tak mau mengganggu mereka, Aku mulai melepas seluruh bajuku yang basah kuyup, dan mendekat ke arah perapian dekat pintu Gereja sambil menunggu ranselku yang ada di atas tandu.
Aku berharap ransel itu masih kuat menahan pakaian gantiku dan Rey dari guyuran air hujan.
"Kemana yang lain ?" tanyaku ke arah John.
"Entahlah, aku belum sempat menanyakannya," jawab John datar. "Makanlah dulu." Dia menyodorkan ubi bakar dan dua kerat daging asap ke arahku dan Rey.
"Darimana kamu dapat ini ?" tanya Rey sambil mulai melahap ubi di tangannya.
"Ada menumpuk dekat bangunan puskesmas yang roboh," jawab John.
Setelah menyerahkan Siri, John teringat kami yang belum makan dari kemarin. Untungnya warga yang juga baru kembali dari hutan menemukan makanan yang lebih dari cukup di bangunan yang dikatakan John.
"Aku sengaja siapkan makan dulu sebentar sebelum kembali mencari kalian," kata John lagi. Kali ini dia juga ikut makan bersama Aku dan Rey.
Belum habis separuh makanan yang kami santap, suara tandu yang diseret terdengar mendekat.
"Biar sudah Yos. Aku dan mereka saja yang urus." John mencegahku beranjak ke luar Gereja. Sepertinya dia tahu keadaanku dan Rey yang masih kepayahan.
Aku dan Rey hanya menatap John dan empat orang ke luar dari Gereja.
Sedikit ubi yang sempat ku makan meredakan perutku yang sejak semalam hanya berisi air. Sambil menunggu John dan orang-orang masuk ke Gereja lagi, Aku merapat ke perapian.
"Malaria ku sepertinya kumat Rey," kataku. Rasa dingin masih terasa, membuatku mulai menggigil lagi.
"Berbaringlah dulu Yos, Aku cari obat dulu di luar." Rey menyuruhku berbaring. Entah darimana dia mendapatkan kain dan karung kering untuk menyelimuti tubuhku.
Memastikan Aku sedikit nyaman, dia beranjak meninggalkanku.
***
setangkai mawar untuk mu thor.. 🥹❤️❤️