Di dalam kamar kosnya yang sunyi, ia membuka kitab kuno peninggalan buyutnya, Ki Sarowang Prawangsa, seorang dukun legendaris yang konon menguasai ilmu-ilmu pengasihan paling berbahaya. Demi membuat Irawan kembali kepadanya sekaligus merasakan penderitaan yang sama, Lusi menjalani ritual Semar Mesem, dilanjutkan dengan puasa mutih dan Pati Geni—ritual yang dipercaya mampu mengikat hati seseorang, tetapi juga menjadikannya budak
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dhatu Lukita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29
Keesokan harinya. Jalan menuju Gunung Kawi. Pukul 10.00.
Sedan hitam Hartono melaju di jalan tol menuju Jawa Timur. Perjalanan ke Gunung Kawi memakan waktu hampir tiga jam dari Surabaya, melewati Malang, lalu naik ke arah pegunungan.
Di kursi penumpang, Ratna duduk dengan tangan menggenggam tasnya. Di kursi belakang, Tante Yuli duduk dengan sabar.
"Rumahnya di lereng gunung, Mam. Jauh dari mana-mana. Dulu aku butuh waktu dua jam dari jalan raya. Jalannya sempit, berliku, dan nggak ada penerangan. Pokoknya harus sampai sebelum gelap."
"Serem ya, Yul?"
"Serem sih. Tapi demi anak, mau gimana lagi?" Tante Yuli menatap ke luar jendela. "Dulu aku juga nggak percaya. Tapi setelah liat sendiri... aku percaya."
Ratna menggenggam erat tangan suaminya. "Semoga ini nggak sia-sia, Pa."
Hartono tidak menjawab. Ia hanya fokus menatap jalan, pikirannya berputar-putar.
Lereng Gunung Kawi. Pukul 13.30.
Jalan menuju kediaman Ki Banespati benar-benar seperti yang dikatakan Tante Yuli. Sempit. Berliku. Dan semakin menanjak. Di kiri-kanan, hutan pinus dan bambu tumbuh lebat, menciptakan bayangan gelap di sepanjang jalan. Kabut mulai turun, membuat jarak pandang terbatas.
"Pelan-pelan, Pa," bisik Ratna. "Aku nggak mau kenapa-kenapa."
Hartono mengurangi kecepatan. "Rumahnya di mana lagi?"
"Itu, di atas. Deket pohon beringin besar." Tante Yuli menunjuk ke arah puncak bukit.
Mereka akhirnya tiba. Rumah itu berdiri di tengah hutan kecil, dikelilingi pohon-pohon beringin yang menjulang tinggi. Bangunannya dari kayu jati tua, atapnya dari sirap hitam. Asap tipis mengepul dari dalam. Bau kemenyan langsung menyambut begitu mereka turun dari mobil.
"Hmm... aromanya kuat," gumam Hartono sambil menutup hidung.
"Udah biasa, Pa. Dukun pasti begini."
Mereka berjalan menuju pintu. Di halaman, puluhan patung batu berdiri berjajar. Ada yang berbentuk manusia, ada yang berbentuk binatang, ada yang... tidak bisa dikenali.
Pintu terbuka sebelum mereka sempat mengetuk.
"Masuk."
Sebuah suara dalam. Berat. Bukan suara orang tua, tapi bukan juga suara orang muda. Suara yang sulit ditebak usianya.
Mereka masuk ke dalam. Ruangannya luas, tapi gelap. Hanya diterangi lilin-lilin merah yang diletakkan di berbagai sudut. Di tengah, seorang laki-laki duduk bersila di atas tikar pandan. Usianya mungkin sekitar lima puluhan. Badannya kurus, rambutnya panjang tergerai sampai bahu, matanya sayu tapi tajam.
"Ki Banespati," sapa Tante Yuli sambil membungkuk hormat. "Saya datang lagi. Bawa kenalan."
Ki Banespati membuka matanya. Tatapannya menusuk. "Duduk."
Hartono dan Ratna duduk di depan laki-laki itu. Canggung. Tegang.
"Apa masalahnya?"
Ratna menatap suaminya, lalu ke Tante Yuli, lalu ke Ki Banespati. "Anak saya... kena guna-guna, Ki."
"Ciri-cirinya?"
"Kayak orang mabuk cinta. Nggak bisa tidur. Nggak bisa makan. Selalu nyebut nama perempuan yang sama. Awalnya dia mutusin perempuan itu. Terus perempuan itu balik ke kampus. Setelah itu... anak saya jadi kayak kesurupan."
Ki Banespati menatap Ratna dengan mata menyipit. "Bawa fotonya."
Ratna mengeluarkan ponselnya. Menunjukkan foto Lusi. Ki Banespati menatap foto itu lama.
Lalu, tiba-tiba, ia tertawa.
Bukan tawa biasa. Tawa yang panjang. Tawa yang dingin. Tawa yang membuat bulu kuduk berdiri.
"Menarik," katanya setelah tawanya reda. "Anak ini... anak ini bukan perempuan biasa."
"Maksud Ki?"
"Ada energi kuno di dia. Energi warisan. Dia bukan sembarang pengirim pelet." Ki Banespati menyenderkan punggungnya. "Tapi... makin kuat lawan, makin tertantang aku."
"Jadi Ki bisa nanganin?" tanya Hartono, untuk pertama kalinya bersuara.
Ki Banespati tersenyum. Senyumnya lebar, memperlihatkan deretan gigi yang sudah menguning. "Bisa. Tapi ada harganya."
"Berapa pun. Saya bayar."
"Uang nggak cukup, Pak." Ki Banespati menatap Hartono tajam. "Aku butuh sesuatu dari anak ini. Dari gadis ini. Sesuatu yang bisa menyambungkan energiku ke energinya."
"Apa itu?"
"Sebenang rambutnya. Sekuku jarinya. Atau... setetes darahnya."
Hartono dan Ratna saling berpandangan. Ini mulai terasa menyeramkan.
"Bagaimana caranya kami bisa dapat itu semua?" tanya Ratna.
"Anakmu kan masih deket sama dia? Masih jadi budaknya? Manfaatkan itu. Minta dia ambil rambutnya, kukunya, atau apalah. Kalau perlu, jebak dia. Undang ke rumah. Biar aku bisa... meraba energinya dari sini."
Ratna menelan ludah. "Dan setelah itu?"
"Setelah itu..." Ki Banespati tersenyum lagi. "...tinggal tunggu hasilnya."
Sore harinya. Dalam perjalanan pulang.
Mobil Hartono melaju turun dari lereng Gunung Kawi. Di dalam, ketiganya diam.
Ratna menatap layar ponselnya. Foto Lusi masih terbuka. Gadis biasa dengan jilbab cokelat susu. Senyum malu-malu.
Tapi di balik senyum itu... ada sesuatu yang membuat nyawanya dipertaruhkan.
"Aku nggak akan biarin dia hancurin anakku," bisik Ratna pada dirinya sendiri. "Apapun harganya."
Hartono menatap istrinya sekilas, lalu kembali ke jalan. "Kita lakuin apa kata dukun itu?"
"Kita lakuin."
"Dan kalau nggak berhasil?"
Ratna menatap ke depan, ke arah jalan pegunungan yang berliku. "Kalau nggak berhasil... kita cari cara lain."
Malam harinya. Kamar Irawan.
Irawan sedang berbaring di kasurnya. Matanya terbuka, menatap langit-langit. Ponselnya di sampingnya, menampilkan percakapan terakhir dengan Lusi.
"Lus, kok lo nggak bales? Lo marah sama gue? Gue salah apa? Maafin gue dong. Gue rindu."
"Lus... please..."
"Lus, gue nangis. Gue nggak bisa tidur. Tolong."
"Gue sayang lo."
"Lus..."
Tidak ada balasan.
Irawan meremas ponselnya. Air matanya mengalir lagi. "Kenapa... kenapa lo diem aja... apa gue salah... apa gue..."
Pintu kamarnya terbuka. Ratna masuk, membawa secangkir teh hangat. "Awan... minum, Nak."
"Nggak usah, Ma."
"Minum dikit aja. Biar tenang."
Irawan menatap ibunya. Lalu, perlahan, ia duduk dan mengambil cangkir itu. Ia menyesapnya pelan.
"Ma..."
"Iya, Nak?"
"Kenapa rasanya hidup aku kayak... kosong? Setiap Lusi nggak bales, aku ngerasa... mati. Setiap Lusi jauh dari aku, aku ngerasa... nggak bisa napas." Ia menatap ibunya dengan mata yang basah. "Apa ini emang cinta, Ma? Atau aku memang udah gila?"
Ratna menahan tangis. "Ini bukan cinta, Nak. Ini... ini ujian."
"Ujian?"
"Ujian. Dan Mama bakal bantu kamu lewatin. Papa juga. Kami bakal bantu."
Irawan menunduk. "Aku cuma mau Lusi, Ma. Cuma Lusi."
Ratna menggigit bibirnya. Di dalam hatinya, ia berteriak. Tidak, Nak. Kamu tidak mau Lusi. Kamu dipaksa untuk mau Lusi. Dan Mama akan hancurkan perempuan itu. Sampai dia nggak bisa apa-apa lagi.
\[BERSAMBUNG…\]
oh ya si Lusi ngeri ya TDK memanusiakan orang
Maaf ya, akhir-akhir ini author sedang kurang fit dan lagi drop, jadi belum bisa mengunggah bab selanjutnya. Mohon maaf sebesar-besarnya karena sudah membuat kalian menunggu. 🙏
Terima kasih banyak untuk teman-teman yang masih setia membaca, memberikan dukungan, dan sabar menunggu kelanjutannya. Semoga author bisa segera pulih dan kembali update secepatnya.
Terima kasih atas pengertian dan doa kalian. Semoga selalu sehat dan bahagia. ❤️