Seorang pelayan yang dihina dan dikhianati bangkit sebagai CEO konglomerat misterius demi membalas dendam, namun takdir penyesalan dan pengorbanan mengubah rasa benci tersebut menjadi perjuangan cinta sejati yang mendewasakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kacang atoom, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30: Surat Rahasia SMA
Sore itu, awan mendung menggelayut rendah di atas perumahan lama tempat Siska menghabiskan masa kecilnya. Rumah berarsitektur era 2000-an itu tampak sepi dan terbengkalai.
Setelah aset-aset besar keluarganya disita, Siska terpaksa kembali ke rumah tersebut hanya untuk merapikan dan mengepak barang-barang pribadinya sebelum bangunan tua itu disegel sepenuhnya oleh pihak bank.
Langkah kakinya menyusuri lorong berdebu bergema pelan, memanggil kenangan masa lalu yang kini terasa amat asing.
Siska melangkah masuk ke dalam kamar tidurnya semasa sekolah. Di dalam ruangan bersudut sempit itu, aroma kayu lapuk dan kertas tua menyambut hidungnya.
Dengan jemari yang dibalut perban tipis, Siska perlahan membuka laci meja belajar kayunya yang telah berderit. Ia mengeluarkan kotak kayu kecil tempat ia menyimpan kenang-kenangan masa remaja yang sudah bertahun-tahun tak pernah tersentuh.
Saat memindahkan tumpukan album foto dan gantungan kunci lama, perhatian Siska teralih pada sebuah amplop putih kusam yang terselip di celah terdalam bagian bawah laci. Amplop itu tampak sedikit robek di sudutnya, berdebu, dan tertulis namanya dengan tinta hitam yang mulai memudar.
Dengan dada berdebar cemas, Siska menarik amplop tersebut. Begitu melihat guratan tulisan tangan di bagian depan, matanya seketika membelalak. Itu adalah tulisan tangan Rendy.
Siska teringat kejadian sepuluh tahun lalu—hari di mana sahabat karibnya dulu memberitahu bahwa Rendy tidak pernah mengirimkan surat apa pun saat Siska mempertanyakan keseriusannya.
Ternyata, surat ini sengaja disembunyikan dan dibuang ke celah laci oleh sahabatnya yang iri, membuat Siska dulu percaya bahwa Rendy adalah pria yang tak berpendirian dan tak peduli padanya.
Dengan jemari yang gemetar hebat, Siska membuka lipatan kertas di dalam amplop kusam itu.
"Untuk Siska,
Mungkin saat kamu membaca ini, aku hanya seorang cowok miskin yang tidak punya apa-apa untuk dibanggakan di depan teman-temanmu. Aku tahu aku sering membuatmu malu karena tidak bisa membelikanmu hal-hal mewah seperti yang orang lain berikan. Tapi aku ingin kamu tahu satu hal, Siska.
Aku berjanji pada diriku sendiri, suatu hari nanti aku akan bekerja keras sampai sukses. Aku ingin menjadi pria yang berdiri paling depan untuk melindungimu dari apa pun di dunia ini. Aku ingin menjadi tempatmu pulang dan berteduh saat kamu lelah. Cita-cita terbesarku bukan hanya menjadi orang kaya, tapi menjadi pria yang pantas untuk membahagiakanmu selamanya.
— Rendy"
Tetesan air mata yang sangat hangat dan deras seketika jatuh membasahi lembaran kertas kusam tersebut, memudarkan sebagian tulisan tangan Rendy. Dada Siska serasa dihantam gelombang kesedihan dan penyesalan yang teramat dahsyat. Pria yang dulu sangat ia hina, pria yang ia tinggalkan demi kemewahan semu Danang, ternyata adalah satu-satunya manusia yang pernah mencintainya dengan begitu tulus dan murni—bahkan mendedikasikan seluruh masa depannya demi dirinya.
"Rendy... maafkan aku..." bisik Siska terisak-isak, memeluk surat tua itu erat-erat di dadanya di tengah kesendirian kamar yang sepi.
Namun, di tengah ratapan kepahitannya, Siska tidak menyadari bahwa daun pintu kamarnya yang sedikit terbuka perlahan bergerak tanpa suara. Sebuah bayangan tinggi dan kurus merayap masuk dari balik kegelapan lorong rumah yang dingin.
Siska baru saja hendak berdiri seraya mengusap air matanya saat sebuah lengan kekar dan kasar mendadak mendekap tubuhnya dari belakang dengan sangat kuat.
Sret!
Sebelum Siska sempat menjerit, selembar kain sapu tangan tebal yang sudah dibasahi cairan kimia berbau menyengat dan aneh langsung dibekapkan dengan sangat erat menutup hidung dan mulutnya.
"Mmphhh! Mmphhh!" Siska memberontak histeris. Matanya membelalak penuh horor saat aroma kloroform yang tajam langsung membakar saluran pernapasan dan memenuhi paru-parunya. Surat rahasia SMA di tangannya terlepas, melayang jatuh ke atas lantai berdebu.
"Selamat tidur, Putri Siska..." sebuah bisikan serak yang gila dan sangat terikat dendam berdesis tepat di samping telinganya Danang.
Siska berusaha menyikut dan melepaskan cengkeraman maut itu dengan sisa keratan tenaganya, namun kesadarannya merosot dengan sangat cepat.
Pandangan matanya mendadak kabur dan berbayang, kegelapan pekat mulai menguasai otaknya, hingga akhirnya tubuh Siska terkulai lemas tak berdaya di dalam dekapan iblis dari masa lalunya.