Indonesia
NovelToon NovelToon
Memendam Perasaanku Padanya

Memendam Perasaanku Padanya

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: my queen

Aurel adalah wanita yang kuat, pintar, ceria dan humoris
Dia berteman dengan siapa aja
Tapi dia gagal dalam percintaan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my queen , isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30

"HAH?! Tapi, Mi! Kok kamar Gino harus persis di sebelah Shirin, sih?!" pekik Shirin langsung melonjak protes dengan wajah yang dalam hitungan detik langsung kembali berubah menjadi merah padam sempurna akibat salah tingkah gila-gilaan. "Balkonnya menyatu lagi! Ini namanya pelanggaran hak privasi maba, Ma!"

Gino yang sedang menenggak air mineralnya sampai tersedak pelan. Cowok buaya premium itu melotot kaku menatap kunci kamar nomor 206 di tangan ibunya. "Waduh, Mami... ini namanya penjara asmara berskala dinasti. Nyawa Gino terancam kuadrat kalau tiap pagi buka gorden langsung disambut muka galaknya Shirin!"

"Nggak ada bantahan. Ini sudah fiks berdasarkan efisiensi tata ruang vila," potong Om Alvin dari sofa ruang tengah sembari terkekeh renyah bersama Om Tom, sangat menikmati kepanikan anak-anak mereka.

Aurel yang berdiri di dekat Kak Anita dengan masih memakai jaket tebal pemberian seniornya itu, tidak bisa menahan diri lagi. Pertahanan urat tenangnya kembali runtuh total untuk kesekian kalinya hari ini.

"BHUHAHAHAHA! ADUH! AMPUN, NYOKAP BANYAK TAKTIK BANGET! HAHAHAHA!"

Tawa cempreng nan lantang dari Aurel langsung meledak hebat memenuhi langit-langit ruang tengah vila. Aurel tertawa terbahak-bahak sampai terpingkal-pingkal, memegangi perutnya yang kram karena terlalu banyak tertawa sejak dari bandara tadi. Pemandangan wajah frustrasi Gino dan Shirin yang kaku berdampingan benar-benar menjadi komedi gratis terbaik di awal liburan Bali ini.

"Aduh... hahahaha! Rin! Gin! Sumpah, muka lo berdua tegang banget kayak mau simulasi sidang komprehensif!" seru Aurel di sela-sela ledakan tawanya, bersandar lemas pada lengan Kak Anita yang ikut terkekeh geli.

Bang Edward yang sedang memindahkan boks logistik langsung ikut tertawa renyah, menepuk pundak Gino dengan keras. "Hahaha! Selamat menikmati zona gravitasi ilegal ya, Gin! Pagar pembatas jarak satu meter gue resmi pindah buat jagain area balkon lo!"

Di tengah riuhnya ledakan tawa yang memenuhi ruang tengah, Aurel yang masih memegangi perutnya yang kram mendadak menghentikan tawa cemprengnya. Ia mengerjapkan mata, menyadari ada sesuatu yang janggal dalam pembagian denah kamar yang baru saja dibacakan oleh Tante Sarah dan Mama Ellen.

Aurel menoleh cepat ke arah konter utama, menatap kedua ibu yang masih memegang kertas denah. "Bentar, bentar, Mom! Tante Sarah! Kalau koridor kiri buat Bang Edward, Kak Anita, sama Reyhan, terus koridor kanan kamar ujung buat Shirin dan Gino... lah, terus Aurel tidur bersama siapa?!" tanya Aurel polos dengan volume suara yang naik satu oktav.

Mendengar pertanyaan mendadak dari sang putri bungsu, Mommy Zeline langsung mengulas senyuman yang teramat manis dan penuh arti, seolah-olah pertanyaan itu memang sudah dinanti-nantikan sejak tadi.

"Oh, anak gadis Mommy bingung?" sahut Mommy Zeline lembut dengan kedipan mata yang sangat jenaka, bertukar pandang dengan Mama Olivia di sofa seberang. "Kamu tentu saja tidur di koridor kanan juga, Sayang. Kamar kamu nomor 204, tepat di sebelah kamar Shirin."

Shirin yang tadinya berwajah lecek akibat jebakan kamar nomor 205 bersama Gino, seketika langsung menegakkan punggungnya dengan mata berbinar cerah penuh kelegaan. "Wah, puji Tuhan! Berarti gue aman dari zona gravitasi ilegal si buaya kompleks karena ada pembatas kamar Aurel!" seru Shirin gembira.

Namun, sebelum Shirin dan Aurel sempat merayakan kemenangan taktis mereka, Tante Sarah menyembul dari balik konter dengan cengiran konspirasi yang jauh lebih taktis. "Eits, jangan senang dulu, Shirin, Aurel. Kamar nomor 204 itu posisinya memang di sebelah nomor 205 punya Shirin, tapi pintu penghubung connecting door-nya sengaja dikunci dari luar oleh Mommy Zeline!"

Tante Sarah menjeda kalimatnya, sengaja melirik lambat ke arah koridor lantai dua dengan senyum penuh arti. "Jadi kalau kalian berdua mau mengobrol atau saling pinjam baju malam-malam, jalurnya harus lewat balkon luar yang menyatu dengan kamar nomor 206 punya Gino!"

JEDARRR!

Plot konspirasi lanjutan dari para ibu seketika kembali meledakkan bom salah tingkah di ruang tengah vila. Shirin yang baru saja bernapas lega langsung membelalakkan matanya sempurna, wajahnya dalam hitungan detik kembali berubah menjadi merah padam seperti kepiting rebus kuadrat. Gino yang sedang bersandar santai di koper bahkan hampir terjungkal karena syok massal dengan strategi tata ruang para orang tua yang sangat di luar nalar maba perkuliahan ini.

"Mommy! Tante Sarah! Ini namanya konspirasi ganda berskala internasional!" pekik Aurel ikut salah tingkah, menyembunyikan wajahnya yang menghangat di balik lengan jaket tebal pemberian Kak Anita demi menutupi rasa gugupnya yang mendadak meroket.

Bang Edward yang sedang menata boks air mineral langsung meledak kembali dalam tawa renyah, menepuk pundak Gino dengan sangat keras hingga cowok itu meringis. "BHUHAHAHA! Mampus lo, Gin! Jalur evakuasi anak-anak gadis resmi melewati wilayah teritorial lo! Pagar pembatas jarak satu meter gue benar-benar harus gue pasang permanen di balkon malam ini!"

Langkah kaki Aurel, Shirin, dan Gino berderap lambat menaiki anak tangga kayu menuju koridor lantai dua bagian kanan. Di tangan masing-masing, koper-koper besar terseret dengan bunyi seretan yang cukup bising. Shirin masih berjalan dengan bibir yang dikerucutkan gemas, sementara Gino sengaja berjalan di belakang dengan siulan santai, seolah-olah ia baru saja memenangkan lotre akomodasi vila.

Begitu sampai di depan pintu kamar masing-masing yang berderet rapi—nomor 204, 205, dan 206—Shirin langsung menghentikan langkahnya. Ia menatap nanar ke arah pintu kamar nomor 205 miliknya, lalu melirik pintu nomor 206 milik Gino yang hanya berjarak kurang dari dua meter.

"Awas ya lo, Gin," ancam Shirin ketus, membalikkan badannya dengan wajah yang sebenarnya masih menyisakan semburat merah padam akibat jebakan para ibu di lantai bawah. "Jangan berani-berani lo buka pintu gorden balkon malam-malam. Kalau sampai muka buaya lo nongol di pembatas balkon gue, gue getok pakai paspor beneran!"

Gino langsung meletakkan kopernya dengan bunyi deb yang disengaja, lalu mencondongkan tubuhnya ke depan dengan cengiran buayanya yang paling menyebalkan. "Yaelah, Rin. Agresif amat sih calon istri dinasti korporasi gue ini. Lagian kalau dipikir-pikir, taktik Mami Sarah sama Tante Ellen itu visioner banget. Kamar kita sebelahan, balkonnya menyatu, ini namanya takdir akademis yang tidak bisa diganggu gugat oleh silabus mana pun."

"GINOOO! Mulut lo bener-bener minta dijewer Kak Anita ya?!" semprot Shirin salah tingkah tingkat tinggi, mukanya kembali matang layaknya kepiting rebus kuadrat karena tidak kuat menahan godaan blak-blakan dari cowok di depannya.

Gino justru tertawa puas sembari membetulkan letak kemeja pantainya yang bercorak kelapa. "Hahaha! Santai, Rin, santai. Tapi bentar, itu koper biru dongker lo kelihatannya berat banget. Sini, biar calon menantu spek dewa kesayangan Tante Ellen ini yang angkat masuk ke dalam kamar. Tugas berat begini biar tenaga kepiting raksasa lo diistirahatkan dulu."

Tanpa menunggu persetujuan, Gino langsung menyambar paksa gagang koper milik Shirin. Namun, karena tarikan Gino yang terlalu bersemangat dan posisi Shirin yang belum siap melepaskan genggamannya, mereka berdua malah refleks ketarik maju secara bersamaan.

Duk!

Dada bidang Gino menabrak pelan dahi Shirin, membuat jarak di antara kedua wajah mereka mendadak terkikis habis hanya tersisa beberapa senti saja. Sepasang mata mereka saling bertumbukan dalam jarak sedekat itu. Shirin seketika membeku kaku bagai patung dengan mata membelalak sempurna, sementara Gino yang biasanya bermulut lemes pun mendadak kehilangan kata-katanya, ikut terpaku menatap manik mata gadis di depannya dengan jantung yang mendadak bergeser ritme menjadi sangat cepat.

Aurel yang baru saja hendak membuka pintu kamar nomor 204 miliknya, langsung memutar kepala. Begitu menangkap basah momen kaku, dekat, dan super salah tingkah dari dua sahabat karibnya itu, pertahanan urat tenang Aurel runtuh total untuk kesekian kalinya hari ini.

"BHUHAHAHAHA! ADUH! AMPUN, LIVE ACTION DRAMA RUMAH TANGGA MABA KAMPUS! HAHAHAHA!"

Tawa cempreng nan lantang dari Aurel langsung meledak hebat memenuhi sepanjang koridor lantai dua tersebut. Aurel tertawa terbahak-bahak sampai terpingkal-pingkal, bersandar lemas pada daun pintu kamarnya sembari memegangi perutnya yang kram karena terlalu banyak tertawa sejak dari bandara tadi. Pemandangan wajah Gino dan Shirin yang mendadak linglung dan langsung kompak melompat mundur sejauh satu meter bener-bener menjadi komedi gratis terbaik di sore hari ini.

"Aduh... hahahaha! Rin! Gin! Mukanya dikondisikan dong, tegang banget kayak habis ketangkap basah intel sayurnya Bang Edward!" seru Aurel di sela-sela ledakan tawanya, menyeka air mata yang keluar di sudut kelopak matanya karena terlalu geli.

Shirin langsung menyambar kopernya dengan gerakan secepat kilat, membuka pintu kamar 205, dan langsung menyembul masuk ke dalam sembari membanting pintu dengan bunyi BLAM! yang teramat nyaring demi menyembunyikan wajahnya yang sudah merah padam sempurna sampai ke hulu telinga. Sementara itu, Gino hanya bisa menggaruk tengkuknya yang tidak gatal dengan cengiran kaku, buru-buru menyeret kopers sendiri masuk ke kamar 206 dengan salah tingkah yang tak kalah kentara.

Aurel masih terkekeh geli sembari menggeleng-gelengkan kepalanya melihat akhir dari drama koridor tersebut. Di tengah riuhnya komedi persahabatan mereka sore itu, ia secara refleks melirik ke arah koridor sebelah kiri yang menghubungkan deretan kamar kating. Dari kejauhan, sosok Reyhan tampak baru saja keluar dari kamarnya sembari melipat kedua tangan di dada. Cowok berjaket denim itu menatap Aurel yang masih tertawa lepas dengan sebuah senyuman tipis yang teramat teduh, hangat, dan penuh kesabaran yang besar di bibirnya.

Matahari senja di Seminyak, Bali, perlahan mulai tenggelam di balik garis cakrawala. Langit berubah warna menjadi gradasi jingga keunguan yang teramat indah, memantulkan pendar keemasan di atas permukaan air laut yang berombak tenang. Di lantai dua vila, Aurel baru saja selesai merapikan isi kopernya dan masih mengenakan jaket rajut tebal berbulu halus pemberian Kak Anita demi menghalau embusan angin pesisir yang semakin dingin.

Saat ia sedang merapikan anak rambutnya di depan cermin, sebuah teriakan lantang yang sangat familier tiba-tiba memecah keheningan dari arah halaman bawah luar dekat kolam renang.

"Aureeeel! Oiii, Bocil! Turun dulu lo!"

Panggilan cempreng nan berwibawa dari Bang Edward itu sukses membuat gerakan tangan Aurel membeku di tempat. Jantungnya seketika melompat dari ritme normalnya, berdegup dengan sangat keras bertalu-talu di dalam rongga dadanya. Rasa deg-degan gila-gilaan yang luar biasa manis langsung membuncah, membuat wajahnya dalam hitungan detik merona merah padam.

Aurel melangkah cepat menuju pintu balkon kaca dan melongokkan kepalanya ke bawah. Di sana, di atas hamparan rumput hijau dekat pasir pantai, Bang Edward sudah berdiri tegap dengan kaus hitam santainya yang dibalut celana pendek, melambaikan tangan ke atas dengan cengiran jahil khasnya.

"Kenapa sih, Bang?! Teriak-teriak mulu dari orok kayak mak-mak katering!" balas Aurel setengah berteriak dari atas balkoni demi menutupi salah tingkahnya yang sudah di level maksimal.

"Nggak usah banyak protes! Buruan turun, ikut gue jalan-jalan keliling pantai berdua saja sore ini!" seru Bang Edward lagi sembari menunjuk ke arah garis pantai yang eksotis. "Mumpung senjanya lagi bagus banget, nih. Sekalian lo nemenin abang lo yang ganteng ini cari angin sebelum jam makan malam dimulai."

Mendengar ajakan spontan untuk pergi berjalan-jalan berdua saja menyusuri pantai dari mulut cowok yang dicintainya dalam diam itu, pertahanan dada Aurel runtuh dalam sekejap. Tanpa berpikir dua kali, ia langsung menjawab, "Iya, iya! Tunggu bentar, gue turun sekarang!"

Aurel berbalik badan dengan senyum cerianya yang merekah sempurna lebar tanpa bisa ditahan lagi. Ia melesat cepat keluar kamar, menuruni anak tangga kayu dengan hati yang berbunga-bunga, melupakan sejenak bahwa di kamar sebelah kiri, Kak Anita—kekasih resmi Bang Edward—mungkin sedang merapikan pakaian.

Begitu Aurel sampai di halaman bawah, Bang Edward langsung menyambutnya dengan tawa renyah, lalu dengan gerakan alami yang teramat manis, ia merangkul gemas pundak Aurel dengan lengan kekarnya. Rasa deg-degan parah kembali merajai dada Aurel saat aroma maskulin Bang Edward mengepung indra penciumannya dari jarak sedekat ini. Di bawah pendar langit senja Bali yang meredup dengan sangat indah, Aurel memilih untuk bersikap egois sejenak; membiarkan dirinya hanyut dalam debaran gila yang indah, mendekap erat rahasia cinta sepihaknya di lembaran hidupnya yang terdalam.

Deburan ombak Seminyak memecah lembut di atas hamparan pasir basah, meninggalkan buih-buih putih yang menyapu permukaan kaki mereka. Langit Bali benar-benar sedang memamerkan magisnya; warna jingga yang pekat perlahan meleleh menjadi ungu keunguan yang megah di ufuk barat.

Di bawah pendar senja yang dramatis itu, Aurel berjalan dengan langkah pelan di samping Bang Edward. Jaket rajut tebal pemberian Kak Anita terbukti sangat berguna menghalau angin pesisir yang kian menderu dingin.

"Rel, bentar! Jangan gerak!"

Langkah Aurel terhenti seketika saat Bang Edward tiba-tiba melompat mundur dua langkah. Kating siaga satu itu sudah menodongkan kamera ponselnya dengan posisi jongkok yang sangat niat, persis seperti fotografer profesional.

"Aduh, Bang, apa lagi sih? Capek tahu dari tadi disuruh berhenti mulu," keluh Aurel manja, namun sudut bibirnya sama sekali tidak bisa berbohong untuk menyembunyikan senyum cerianya.

"Yee, dibilangin jangan gerak! Ini senjanya lagi golden hour parah, Rel. Muka lo pas bener kena pantulan cahaya," seru Bang Edward heboh sembari jarinya menekan tombol shutter berkali-kali. Cekrek! Cekrek! "Nah, sekarang lo coba agak nengok ke kiri, terus pura-pura benerin kerah jaketnya Anita. Tatapannya agak dilempar ke arah ombak, ya!"

Aurel tidak punya pilihan lain selain menuruti perintah abangnya. Momen sore itu mendadak berubah menjadi sesi pemotretan dadakan, di mana Aurel resmi menjadi model dadakan karena Bang Edward terus-terusan memotret dirinya tanpa henti. Setiap kali kamera itu membidik wajahnya, jantung Aurel melompat dari ritme normalnya, memicu sensasi deg-degan yang teramat keras dan bertalu-talu di dalam rongga dadanya. Ditertawakan, dipuji cantik, dan diperhatikan sedalam itu oleh cowok yang dicintainya dalam diam benar-benar membuatnya salah tingkah gila-gilaan hingga pipinya merona merah padam sempurna.

Setelah puas mengambil puluhan foto, Bang Edward akhirnya menurunkan ponselnya. Ia berjalan mendekati Aurel, lalu dengan gerakan alami yang teramat manis, ia merangkul gemas pundak Aurel dengan lengan kekarnya, membawa langkah mereka kembali menyusuri garis pantai.

"Nanti foto-fotonya gue kirim ke WhatsApp lo. Sumpah, adek gue cakep bener kalau difoto pas senja begini," puji Bang Edward tulus, menyunggingkan senyuman tampannya yang selalu sukses membuat pertahanan hati Aurel runtuh berkeping-keping.

Suasana di antara mereka perlahan berubah menjadi lebih tenang dan mendalam saat pendar matahari hampir tenggelam seutuhnya. Suara deburan ombak menjadi latar belakang keheningan yang hangat.

Bang Edward mengembuskan napas panjang, menatap lurus ke arah samudra luas. "Rel... dipikir-pikir, waktu cepat banget berlalu, ya. Rasanya baru kemarin gue nyuapin lo pakai sendok plastik karena lo nggak mau makan, sekarang lo udah jadi maba, udah bisa ngerjain draf Pak Baskoro yang susah itu."

Aurel menoleh dari balik rangkulan, menatap profil samping wajah abangnya yang tampak begitu dewasa sore itu.

"Gue cuma mau lo tahu satu hal, Rel," lanjut Bang Edward, nada suara baritonnya melembut drastis—sebuah nada penuh kasih sayang terjujur yang seketika membuat dada Aurel berdesir perih. "Buat gue, lo itu berharga banget. Lo itu adik kecil yang paling gue sayang di dunia ini, Rel. Makanya, dari dulu sampai kapan pun, tugas utama gue adalah mastiin lo selalu aman, nggak ada yang sakitin, dan selalu bahagia. Bahkan nanti kalau lo udah punya pacar atau dinikahin orang, gue tetep bakal jadi abang siaga satu yang berdiri paling depan buat jagain lo.

"Deg.

Untaian kalimat manis, tulus, sekaligus menjadi penegasan batas tak kasatmata yang kejam itu seketika menghantam hulu hati Aurel dengan telak. Langkah kakinya sempat terasa goyah. Di satu sisi, jiwanya diterbangkan ke langit tertinggi karena tahu betapa besarnya ruang yang ia miliki di hidup Bang Edward. Namun di sisi lain, pusaran getir cinta sepihak kembali mengiris perih dadanya; kata "adik" yang diucapkan Edward malam ini menjadi segel permanen bahwa ruang asmara senior itu selamanya telah dikunci rapat dan hanya milik Kak Anita.

Aurel menelan ludahnya yang terasa tercekat di tenggorokan. Ia memaksa sepasang matanya yang mendadak berkaca-kaca untuk tetap menatap lurus ke depan, menyembunyikan luka hatinya di balik senyuman manis terbaik yang ia punya.

"Iya, Bang Edward. Makasih ya... lo juga abang terbaik yang pernah gue punya," sahut Aurel lirih dengan debaran dada yang bergemuruh begitu kencang.

Di bawah langit senja Bali yang perlahan meredup menuju kegelapan malam, Aurel meremas pelan ujung kain jaket pemberian Kak Anita. Di balik rahasia getir hatinya yang terkunci rapat di dalam labirin buntu, ia memilih untuk tetap bersyukur. Biarlah kebahagiaan semu ini menjadi lembaran hidup terindah yang ia dekap erat malam ini di tepi pantai Seminyak.

Langkah kaki Aurel dan Bang Edward kembali melangkah masuk melewati pintu kaca besar ruang tengah vila tepat saat pendar langit senja berganti gulita malam. Di dalam vila, pendar lampu gantung kekuningan yang hangat menyambut kedatangan mereka, lengkap dengan aroma bakaran hidangan laut yang mulai menyeruak dari arah halaman belakang.

Mommy Zeline dan Mama Olivia yang sedang asyik menata piring-piring buah di dekat meja makan utama, langsung menoleh kompak.

"Nah, ini dia dua anak kecil kita baru pulang keliling pantai," seru Mama Olivia riang, melambaikan tangan agar mereka mendekat.

Bang Edward dengan cengiran khasnya langsung berjalan mendekati ibunya dan Mommy Zeline. Tanpa beban, kating siaga satu itu langsung menyodorkan layar ponselnya yang menyala terang. "Mami, Mom, lihat nih! Edward habis jadi fotografer dadakan di pantai tadi. Hasil foto si Bocil benar-benar spek model, golden hour-nya dapet parah!"

Mendengar hal itu, Mommy Zeline dan Mama Olivia langsung merapatkan kepala mereka, berebut melihat deretan hasil foto Aurel di layar ponsel. Sepasang mata kedua ibu itu seketika membelalak kagum melihat foto-foto Aurel yang tampak begitu cantik, berseri-seri, dan anggun berbalut jaket tebal pemberian Kak Anita dengan latar belakang ombak senja Bali.

"Ya ampun, Aurel! Ini cantik sekali, Sayang!" pekik Mommy Zeline heboh, menatap putrinya dengan binar mata seorang ibu yang teramat bangga. "Edward, kamu pintar juga ya ambil sudut fotonya. Anak gadis Mommy kelihatan dewasa banget di sini."

"Iya, Zel! Bagus-bagus semua kelihatannya," timpal Mama Olivia setuju. Namun, begitu jemari Mama Olivia menggeser layar untuk melihat puluhan foto berikutnya, senyumnya mendadak berubah menjadi cengiran geli. Keningnya berkerut menatap detail-detail foto yang terasa sangat tidak biasa.

Mama Olivia seketika meledak dalam tawa renyah, diikuti oleh Mommy Zeline yang ikut tertawa terbahak-bahak sampai menepuk pundak suaminya, Daddy Wira, yang kebetulan baru lewat.

"Hahaha! Edward, Edward! Kamu ini bener-bener ya!" seru Mama Olivia sembari tertawa puas, menunjuk-nunjuk layar ponsel anaknya. "Olivia, coba kamu lihat deh foto yang ini! Si Aurel mau foto estetik hadap ombak, tapi di belakangnya sengaja kamu pasangin tas ransel kamu biar cowok pantai lain nggak bisa lihat punggungnya? Terus ini lagi, kenapa hampir semua fotonya Aurel posisinya tertutup rapat banget sampai dagu?"

Mommy Zeline ikut tertawa cempreng, menggeleng-gelengkan kepalanya melihat bukti nyata di depan mata. "Hahaha! Posesifnya nggak ilang-ilang dari orok ini mah! Edward, kamu itu niatnya fotoin adik kamu biar estetik atau mau bikin simulasi pengawasan intel jarak satu meter sih? Sampai bayangan kaki kamu aja ikut kefoto di sebelah Aurel karena kamu nempel terus jagain dia!"

Mendengar rentetan kalimat tawa dan sindiran manis yang membongkar keposesifan kuadrat abangnya, wajah Aurel dalam hitungan detik langsung kembali berubah menjadi merah padam sempurna akibat salah tingkah gila-gilaan. Rasa deg-degan parah kembali merajai dadanya, membuat seluruh tubuhnya menghangat sampai ke hulu telinga.

Bang Edward sendiri langsung menyengir kuda tanpa dosa, menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sembari melirik Aurel. "Yee, namanya juga abang siaga satu, Mom! Di pantai Bali kan banyak turis, ya wajib Edward pasang pagar pembatas biar Bocil ini nggak diculik orang!"

"Alasan kamu saja, Edward! Bilang saja kamu yang terlalu protektif sama Aurel dari dulu," goda Mama Olivia lagi, membuat Daddy Wira dan Papa Crish yang ikut mengintip dari belakang ikut terkekeh riuh melihat drama keposesifan anak mereka malam itu.

Aurel terpaksa menundukkan kepalanya dalam-dalam, berpura-pura merapikan kerah jaket tebalnya demi menyembunyikan rona merah dan debaran jantungnya yang masih bertalu-talu keras di dalam dada. Di tengah riuhnya ledakan tawa kedua orang tua mereka malam itu, rasa bahagia yang manis sekaligus getir yang mendalam kembali bergolak di hulu hati Aurel.

Di tengah riuhnya ledakan tawa Mommy Zeline dan Mama Olivia yang sedang mengolok-olok keposesifan Bang Edward, Kak Anita melangkah anggun keluar dari koridor kamar lantai dua. Senior perempuan itu sudah berganti pakaian santai, rambutnya yang harum dibiarkan terurai bebas. Begitu melihat kehebohan di dekat meja makan utama, ia berjalan mendekat dengan senyum manis yang terpatri di bibir.

"Ada apa sih ini? Heboh banget sampai ke lantai atas kedengaran suaranya," tanya Kak Anita lembut, ikut merapatkan kepalanya di antara Mommy Zeline dan Mama Olivia untuk melirik layar ponsel kekasihnya.

"Ini lho, Nita! Lihat kelakuan pacar kamu," adu Mama Olivia sembari tertawa geli, menunjuk layar ponsel Bang Edward. "Dia fotoin Aurel di pantai, tapi saking posesifnya, posisi fotonya diatur ketat banget sampai bayangan badannya Edward ikut menutupi jalur angin!"

Kak Anita tertegun sejenak menatap deretan foto Aurel yang terpampang di layar. Alih-alih ikut tertawa terbahak-bahak atau merasa cemburu, sepasang mata senior perempuan itu justru memancarkan binar kasih sayang yang teramat tulus. Tatapannya melembut drastis.

Kak Anita perlahan mengalihkan pandangannya, menatap lekat-lekat pada sosok Aurel yang saat itu sedang menunduk kaku menahan salah tingkah gila-gilaan. Dengan gerakan yang teramat anggun dan penuh kelembutan murni seorang kakak perempuan, Kak Anita melangkah maju, lalu mengelus lembut rambut panjang Aurel berulang kali.

"Ih, tapi ini beneran bagus banget lho, Tante, Mom," puji Kak Anita tulus, suaranya yang lembut seketika mengalirkan rasa hangat yang instan ke dalam dada Aurel. "Aurel di sini kelihatan cantik dan berseri-seri banget. Anggun sekali berbalut jaket rajut tebal ini. Edward emang posesif, tapi dia tahu sudut terbaik yang bisa bikin aura adik tingkat kesayangan aku ini keluar sempurna."

Mendengar pujian yang begitu tulus sekaligus merasakan usapan tangan Kak Anita yang teramat lembut di rambut panjangnya, seluruh tubuh Aurel seketika membeku kaku. Jantungnya mendadak bergeser ritme menjadi jauh lebih cepat, membawa letupan rasa haru yang berbaur tipis dengan rasa bersalah yang teramat besar.

Aurel perlahan mendongak, menatap wajah Kak Anita yang tersenyum begitu tulus di depannya tanpa ada riak kecurigaan sedikit pun. Di dalam hulu hatinya yang terdalam, pusaran getir cinta sepihak kepada Bang Edward kembali menyengat pelan, namun kali ini rasa itu melunak drastis. Kebaikan murni yang selalu ditunjukkan oleh Kak Anita—mulai dari meminjamkan jaket tebal di pantai tadi hingga usapan lembut di rambutnya malam ini—membuat Aurel sadar sepenuhnya mengapa Bang Edward begitu mencintai wanita di depannya ini. Kak Anita adalah sosok yang luar biasa, dan ia tidak akan pernah tega merusak kebahagiaan mereka demi ego perasaannya sendiri.

Bang Edward yang melihat rambut adiknya diusap lembut oleh kekasihnya, langsung menyengir lebar penuh kemenangan. "Tuh, denger kan, Mom? Anita aja dukung hasil jepretan intel siaga satu!"

Aurel terpaksa menyembunyikan rona merah padam di pipinya di balik kerah jaket tebal milik Kak Anita, lalu mengulas sebuah senyuman ceria yang paling manis. "Udah ah, Bang Edward! Malu-maluin bener ditertawakan seisi rumah. Makasih ya, Kak Anita, udah dibelain."Di dekat pilar koridor tengah yang terhubung ke halaman belakang, Reyhan yang berdiri tenang dengan kemeja kasualnya menyimak seluruh interaksi manis tersebut dari kejauhan. Sepasang mata teduh milik cowok berjaket denim itu memancarkan samudera kesabaran dan keikhlasan yang begitu luas. Reyhan menyunggingkan sebuah senyuman tipis yang teramat hangat dan tulus di bibirnya, ikut merasa lega melihat Aurel dikelilingi oleh limpahan kasih sayang yang begitu besar dari dinasti keluarga mereka malam ini, siap menjadi benteng pelindung sunyi yang menjaga utuhnya senyum ceria gadis itu sepanjang liburan di Bali.

1
falea sezi
😒 heran liat Edward ini serakah
falea sezi
kenapa aurel di buat murahan sih😒 buat. move on donk🤣
falea sezi
aurel. move on pergi jauh lagh kuliah pindahan ja bodoh bgt km ini🤣
falea sezi
cewek gatel aurel🤣 kayak gka ada cwek. lain aja
falea sezi
aurel g tau malu🤣 di tolak lu ngarep move on neng maaf g suka cwek menye ngemis ngemis cinta😒
falea sezi
🤣🤣 Reyhan maju reyy q dukung jangan hiraukan Edward di vampir sok ngatur
falea sezi
🤣 Edward saudara bukan kok ngatur uda urus aja pcr tercinta lu ngapain. ngurus aurel😒 biar aurel pergi jauh aja minimal. keluar negri gt cwek. kok menye
falea sezi
kenapa malah bahas figuran peran utama siapa aneh author nya🤣
falea sezi
mending pindah tempat kuliah aja aurel yg jauh 😒 biar gk sakit hati
my queen 👸: makasih sarannya kk ❤️🙏
total 1 replies
falea sezi
move on donk
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!