"Lo pasti juga nggak mau terima perjodohan ini, kan?!"
"Mau."
Jawaban singkat pria itu sukses membuat mata Kara membelalak sempurna.
Hanya karena ingin menjadi pengangguran yang kaya raya, Lengkara Anasera nekat menerima perjodohan yang di buat oleh orang tuanya, tanpa mencari tahu terlebih dahulu siapa calon suaminya itu.
Sialnya, pria itu adalah Erlangga Bumi Maheswara, musuh bebuyutannya sejak kecil.
Bagaimana kisah mereka selanjutnya?
Akankah Kara nekat membatalkan perjodohan ini? Atau ia justru bertahan demi mewujudkan cita-citanya menjadi pengangguran yang kaya raya? Mengingat Erlangga adalah sosok pria tajir melintir yang selama ini ia cari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rii_Risa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
Mobil hitam itu melesat cepat membelah jalanan kota yang mulai temaram oleh lambaian senja.
Di balik kemudi, terlihat Erlangga sedang mencengkeram erat setir hingga buku-buku jarinya memutih. Pandangannya menatap lurus kedepan, sementara rahangnya terlihat semakin mengeras.
Erlangga melepaskan satu tangannya dari setir. Lalu dengan gerakan cepat, ia langsung merogoh ponsel dari balik saku dalam jasnya. Jarinya bergerak lincah mencari nomor Martha. Lalu menekan tombol memanggil.
"Halo, Tuan Muda," sapa Martha dari seberang telepon.
"Kara ada di rumah?" tanya Erlangga langsung tanpa basa-basi.
"Tidak ada, Tuan. Bukankah Nyonya Muda sedang pergi ke kantor Anda? Pak Basuki sendiri yang mengantarkannya tadi siang."
Tut.
Erlangga langsung mematikan sambungan telepon itu secara sepihak. Ia mendengus kasar, lalu melemparkan ponselnya ke arah kursi penumpang.
"Sialan! Lo ke mana sih, Ra?!" umpat Erlangga.
Tak berselang lama, ponselnya kembali berdering. Erlangga langsung menoleh, matanya menyipit tajam saat nama sang mama terpampang jelas di layar ponsel.
Tanpa ragu, ia langsung menyambar benda pipih itu dan menggeser tombol terima, lalu menempelkannya ke telinga.
"Halo, Ma..."
"Ke rumah Kara sekarang!" potong Lisa dari balik telepon. "Mama benar-benar tidak habis pikir, kenapa kamu bisa melakukan hal serendah itu, Erlangga!"
"Ma, dengerin Erlangga dulu..."
"Sudah! Jelaskan semuanya di sini!" bentak Lisa. "Walaupun kamu anak kandung Mama, Mama tidak akan pernah membenarkan perselingkuhan! Kamu mengerti, Erlangga!"
Tut!
Sambungan telepon itu langsung diputus secara sepihak oleh Lisa.
"Sial!" umpat Erlangga sambil memukul setir dengan kepalan tangannya. Ia langsung menginjak pedal gas lebih dalam, dan mengubah arah tujuannya menuju rumah Kara.
**
Sementara itu, suasana di kediaman orang tua Kara tampak begitu tegang. Dua pasang suami istri yang sudah lama bersahabat itu kini tengah berkumpul di ruang tengah.
"Aku rasa Kara hanya salah paham. Aku tahu betul bagaimana sifat Erlangga sejak kecil. Sifat Anak itu sangat dingin sekali, jadi dia tidak mungkin bermain serong," ucap Lesmana yang mencoba untuk menenangkan situasi.
"Aku setuju denganmu, Les. Bisa jadi ini cuma masalah komunikasi," timpal Ridwan yang ikut membela anak laki-lakinya.
Mendengar kalimat itu, Lisa langsung mendengus tidak terima. Ia memutar bola matanya malas, lalu menatap suaminya dengan pandangan tajam.
"Dari cerita Kara saja sudah bisa disimpulkan kalau Erlangga itu selingkuh! Kamu pernah lihat anakmu itu membukakan pintu mobil untuk perempuan lain, hah?!" tanya Lisa dengan nada tinggi.
Sonya langsung menghela nafas panjang. Ia mencoba menahan diri agar tidak semakin memperkeruh suasana.
"Sudahlah, Lis. Kita tunggu aja penjelasan dari Erlangga. Dia sedang perjalanan ke sini, kan?"
"Nah, benar! Kita tidak bisa langsung menghakimi Erlangga. Saat ini kita baru mendengar cerita sepihak dari Kara, belum dari pihak Erlangga," pungkas Lesmana, yang langsung diangguki oleh Ridwan.
Sementara itu, Kara yang tengah duduk di ujung sofa hanya bisa merutuki kebodohannya sendiri.
"Tau gini gue nggak cerita sama Mama tadi. Apalagi gara-gara gue, nih para orang tua jadi berantem," batin Kara menyesal. Wajahnya ditekuk dalam-dalam dan matanya menatap kosong ke arah bawah.
Melihat Kara yang terus menundukkan kepalanya, Ridwan langsung berdehem pelan untuk memecah kecanggungan.
"Kara," panggil Ridwan lembut.
Kara langsung tersentak kecil, lalu ia mendongak dengan mata yang mengerjap pelan. "Ah, iya, Om?"
"Aish, kok panggil Om sih? Mama kan sudah bilang, kita ini juga orang tua kamu, Kara," sela Lisa dengan raut wajah yang mulai melunak.
Kara langsung tersenyum canggung. "Iya... Maksud Kara... ada apa, Pa?"
Ridwan langsung tersenyum tipis, mencoba memberikan ketenangan melalui sorot matanya. "Erlangga tidak mungkin selingkuh. Dia itu sangat mencintai kamu."
Deg!
Tubuh Kara langsung menegang seketika. Jantungnya berdegup dua kali lebih cepat mendengar pernyataan itu.
Sementara Lisa langsung terperanjat kaget. Dengan gerakan cepat, ia langsung mencubit pelan paha suaminya, sehingga membuat Ridwan sedikit meringis kesakitan.
"Kok kamu bocorkan rahasia Erlangga sih, pa?!" bisik Lisa dengan mata yang melotot tajam ke arah suaminya.
"Biar saja Kara tahu, ma" jawab Ridwan santai, lalu kembali melemparkan senyum penuh arti ke arah Kara. "Erlangga itu gengsinya setinggi langit. Dia saja bisa menyembunyikan perasaannya pada Kara selama hampir 28 tahun."
"Hah? Masa sih Erlangga udah suka gue dari kecil?" batin Kara menjerit heboh. Jiwanya langsung terguncang seketika. "Atau jangan-jangan ini cuma alibi Papa Ridwan aja biar gue nggak marah dan minta cerai?"
"Kara," panggil Lisa lembut.
Kara yang sedang bergulat dengan isi hatinya itu langsung terperanjat. "Iya, ma?"
Lisa langsung meraih tangan Kara. "Tapi Mama mohon, ya, jangan tanyakan hal ini langsung sama Erlangga. Biarkan anak itu sendiri yang mengungkapkan semuanya kepadamu kalau dia sudah siap."
Kara langsung menelan ludahnya dengan susah payah, lalu mengangguk kaku dengan senyum yang dipaksakan. "Iya, Ma... Kara nggak mungkin bertanya soal hal ini kok."
Ajaibnya, rasa kesal Kara akibat kejadian di kantor Erlangga tadi siang mendadak menghilang begitu saja. Rasa itu kini digantikan dengan rasa penasaran yang menggebu-gebu.
"Ada bagusnya juga sih kalau Erlangga udah suka gue dari kecil. Jadinya posisi gue sebagai Nyonya muda di rumah Erlangga tidak akan pernah bisa tergantikan," batin Kara sambil terkikik geli.
Namun, di saat Kara masih asyik melamun, pintu depan tiba-tiba terbuka dengan sentakan keras.
Brak!
Erlangga muncul di ambang pintu dengan nafas yang masih memburu. Jasnya sedikit berantakan, dan tatapan matanya langsung mengunci ke arah Kara.
"Kalian semua salah paham!" ucap Erlangga lantang, suaranya langsung menggema di seluruh ruang tengah.
Lisa yang masih menggenggam tangan Kara itu langsung mendongak tajam. Ia langsung bangkit dari sofa dan menantang mata putranya.
"Kalau semuanya hanya salah paham, jelaskan sekarang juga, Erlangga! Siapa wanita yang ada di dalam mobil kamu itu?!"
Erlangga langsung menghela nafas panjang. "Dia Kimberly."
Mendengar nama itu, Ridwan dan Lisa langsung tersentak kaget.
"Hah? Kimberly? Kok bisa?!" tanya Ridwan.
Sementara Lesmana, Sonya, dan Kara hanya bisa saling pandang dengan kening yang berkerut dalam. Mereka memasang wajah bingung, sama sekali tidak mengerti siapa sebenarnya sosok wanita yang bernama Kimberly itu.
thor tolong kasih pelajaran ke kara🤣🤣🤣
yg ada kara takut kehilangan erlangga
lanjut double up kak
lanjut kak
lanjut kak
lanjut kak