Luo Chen tidak punya air mata untuk ditangisi saat ibunya meninggal; ia hanya punya ingatan sempurna yang merekam setiap detail wajah pembunuhnya. Berbekal satu foto tua, ia menyusup ke sarang Shen Mo, penguasa mafia paling ditakuti di Yucheng. Alih-alih dibunuh sebagai penyusup, kecerdasan brilian Chen justru memukau sang raja mafia. Bersama-sama, mereka membentuk aliansi maut melawan sindikat pengkhianat yang haus darah. Tanpa kekuatan fisik, Chen menjadi otak di balik setiap langkah balas dendam, membuktikan bahwa musuh paling berbahaya di dunia bukan lah orang yang memegang senjata, melainkan anak kecil yang tahu seluruh rahasia gelapmu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aksara Handini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 30 : KURSI KOSONG DI LANTAI EKSEKUTIF
Pintu lift eksekutif tertutup rapat. Sisa-sisa napas ketakutan Direktur Wang seolah masih mengambang di udara ruang kerja lantai enam puluh, bercampur dengan bau hujan yang menempel di kaca jendela raksasa.
Shen Mo masih duduk di kursi kebesarannya. Ia memutar-mutar cangkir keramik kosong di atas meja mahoni, matanya menatap lurus ke arah Chen yang berdiri dengan tangan di dalam saku jaket hoodie.
"Kursi itu kosong sekarang," ucap Shen Mo memecah sunyi. Suaranya datar, tetapi ada tantangan tersirat di balik manik matanya yang gelap. "Wang memegang kendali atas seluruh divisi keuangan, logistik, dan aliran dana bersih Crown Tower. Kalau aku menunjuk orang baru dari luar, butuh waktu bertahun-tahun buat mereka paham sistem kita dari nol."
Chen melangkah mendekati meja besar itu. Ia menarik kursi tepat di seberang Shen Mo, lalu mendudukkan dirinya tanpa izin—sebuah gestur kesetaraan yang tidak berani dilakukan oleh petinggi mana pun di sindikat ini selama bertahun-tahun.
"Maka jangan tunjuk orang luar," kata Chen dingin.
Alis tebal Shen Mo sedikit terangkat. "Maksudmu?"
"Aku mau posisi itu," jawab Chen to the point. Suaranya parau, tetapi tidak ada keraguan sedikit pun di setiap suku katanya.
Shen Mo terdiam. Ia mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap bocah sepuluh tahun di depannya lekat-lekat. "Kamu sadar apa yang kamu minta, Chen? Divisi keuangan bukan tempat main-main. Satu kesalahan hitung di sana bisa bikin seluruh sindikat kita dibekukan Interpol dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam."
"Aku tidak pernah salah hitung," balas Chen cepat, tatapannya tidak goyah sedikit pun. "Selama tujuh tahun, aku menghitung setiap sen uang yang seharusnya jadi hak ibuku, sementara orang-orangmu merampoknya lewat laporan fiktif. Kalau aku bisa membaca celah korupsi Wang dari balik tumpukan kwitansi apotek yang robek, mengelola keuangan Crown Tower bukan hal yang sulit."
Shen Mo terhenyak. Ia menatap jemari kecil Chen yang berada di atas meja—jari-jari yang sama yang semalam mengetik kode pembobolan sistem Crescent Group dalam hitungan menit tanpa ragu.
"Dewan direksi tidak akan setuju," ujar Shen Mo menyeringai tipis, mencoba menguji batasan mental bocah itu. "Mereka sekumpulan tua keladi serakah yang tidak akan pernah sudi dipimpin oleh anak kecil yang bahkan belum lulus sekolah dasar."
"Dewan direksi tidak butuh menyukaiku," jawab Chen sinis, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tajam predator muda. "Mereka cuma butuh rasa takut dan angka keuntungan yang terus naik. Dan aku bisa memberikan keduanya."
Shen Mo mendengus pelan—sebuah tawa pendek yang lolos dari tenggorokannya. Ia bersandar kembali ke kursi, melipat tangan di dada bidangnya.
"Bocah gila," desis Shen Mo, meski matanya menyiratkan rasa bangga yang teramat sangat. "Oke. Kita buat kesepakatan."
Chen menyipitkan mata. "Apa?"
"Mulai senin depan, kamu duduk di kursi itu," Shen Mo menunjuk meja kerja Direktur Wang lewat gestur dagunya. "Tapi jabatannya bukan Direktur Keuangan. Gelarmu adalah Special Advisor to the Chairman. Semua laporan keuangan harus lewat meja kamu sebelum sampai ke aku. Kalau ada satu saja kesalahan, aku sendiri yang bakal nyeret kamu keluar dari gedung ini."
Chen mengulurkan tangan kanannya melewati meja mahoni yang luas.
"Deal," ucap Chen singkat.
Shen Mo menyambut uluran tangan kecil itu. Genggaman mereka kuat, menandakan awal dari aliansi paling berbahaya di kota Yucheng.
Tring!
Ponsel satelit di saku Shen Mo tiba-tiba berdering nyaring. Pria itu melepaskan jabatannya, lalu mengangkat panggilan dari Tiga, kepala intelijen bayangan.
"Lapor, Tuan Shen," suara di seberang terdengar tergesa-gesa. "Kami baru saja memeriksa brankas pribadi Direktur Wang di distrik selatan. Ada satu dokumen fisik yang lolos dari sistem digital. Isinya... surat perjanjian kerja sama antara Wang dengan sindikat musuh kita di distrik barat."
Rahang Shen Mo mengeras seketika. "Sindikat barat? Siapa?"
"Bukan sekadar sindikat biasa, Tuan," suara Tiga menegang di ujung sambungan. "Dokumen itu ditandatangani atas nama... Black Dragon."
Mendengar nama itu, atmosfer di dalam ruangan berubah drastis menjadi dingin.
Chen menarik tangannya kembali. Matanya menyipit tajam. "Black Dragon?"
Shen Mo mematikan sambungan telepon. Ia mendongak menatap Chen dengan sorot mata membunuh. "Musuh lama kita yang hilang tiga tahun lalu. Rupanya mereka tidak benar-benar pergi... mereka menyusup lewat orang-orang kita di dalam."