Di hari kematian putrinya, Arini justru dituduh lalai oleh Bagas dan keluarga mertuanya yang toxic. Sebagai "penebus dosa", ia dipaksa bekerja keras dan dijadikan mesin pencari uang oleh mereka.
Takdir berubah saat Arini bertemu Dikta, seorang mafia kejam yang rela membayar mahal demi mendapatkan ASI eksklusif untuk putra semata wayangnya. Arini pun masuk ke dalam kehidupan Dikta sebagai ibu susuan.
Akankah Arini mampu bertahan di bawah tekanan keluarga Bagas yang terus memanfaatkannya? Dan bagaimana reaksi Dikta—sang mafia berdarah dingin—saat mengetahui wanita yang merawat putranya ternyata sedang dihancurkan oleh suaminya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Suhada Bintan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
Langkah kaki Dikta begitu berat ketika menyusuri lorong rumah sakit. Pikirannya masih tertinggal di dasar sungai tadi. Di dalam saku celananya itu masih mencengkeram erat potongan kain jilbab milik Arini.
Ketika ia mendorong pintu ruang perawatan intensif bayi, pemandangan di dalam sana langsung menghentikan detak jantungnya. Suara monitor jantung bayinya terdengar jelas.
"Pak Dikta," Dokter Gunawan yang baru saja selesai memeriksa inkubator langsung berbalik. Wajahnya dipenuhi kecemasan.
"Ada apa dengan anak saya, Dok? Kenapa monitor itu berisik sekali?!" tanya Dikta.
"Den Arkan mulai mengalami demam tinggi, Pak. Suhunya melonjak drastis. Tubuhnya mengalami syok," Dokter Gunawan menunjuk ke arah termometer digital yang menempel di dinding inkubator.
"Semalam Anda bilang dia baik-baik saja setelah meminum ASI donor! Kenapa sekarang suhunya naik?!" cecar Dikta, melangkah mendekati inkubator dengan rahang mengeras.
"ASI donor dari bank ASI memang mengisi perutnya secara medis, Pak Dikta. Tapi sistem imun bayi sekecil ini sangat sensitif terhadap stres emosional di sekitarnya. Dia bisa merasakan ketegangan," Dokter Gunawan menjelaskan dengan tenang namun tegas. "Dia merindukan dekapan langsung. Susu dari botol tidak bisa menggantikan kehangatan tubuh seorang ibu."
"Lalu saya harus bagaimana, Dok? Saya tidak bisa memproduksi susu untuk anak saya!" suara Dikta naik satu oktav, rasa putus asa mulai merasuki jiwanya yang mulai lelah.
"Tenang, Pak Dikta. Jangan biarkan kemarahan Anda memenuhi ruangan ini. Anak Anda butuh ketenangan," tegur perawat itu. "Buka lubang inkubator itu. Masukkan tangan Anda. Berbicaralah padanya. Suara ayahnya adalah satu-satunya pegangan yang dia miliki sekarang setelah Ibu Arini... tiada."
Dikta tertegun. Kata 'tiada' menghantam kesadarannya. Ia menatap telapak tangan besarnya yang gemetar hebat, menyadari kekuasaannya sebagai mafia tidak bisa menggantikan setetes pun air susu ibu untuk anaknya.
"Bagaimana dengan pasokan bank ASI darurat?" tanya Dikta dengan napas yang memburu. "Apakah tidak ada satu pun kantong donor yang bisa membuatnya tenang seperti semalam?"
"Kami sudah memberikan yang terbaik, Pak Dikta," sahut Dokter Gunawan sembari memeriksa grafik cairan infus. "Tetapi botol tetaplah benda mati. Tidak bisa memberikan kehangatan seperti seorang ibu."
"Ibu?" Dikta tertawa getir, sebuah tawa kering yang hampa. "Dia bahkan bukan ibunya, Dok. Dia hanya wanita yang dijual oleh suaminya yang bajingan itu. Aku memenjarakan suaminya, dengan harapan ia bisa hidup tenang. Tapi apa yang kudapatkan? Dia justru nekat melompat." Dikta sudah tidak tahan. Kepalanya ingin meledak.
"Sudahlah Pak Dikta. Sebaiknya Anda Fokus saja pada putramu!" tegas Dokter Gunawan, lalu memandang bayi mungil dalam inkubator itu.
Dikta menarik napas dalam-dalam, mencoba mengendalikan perasaannya yang hancur. Ia berjalan mendekati inkubator dengan langkah yang pelan disertai gemuruh yang menguncang jiwanya seorang Ayah.
Ruangan menghening setelah Dokter Gunawan dan para perawat keluar untuk memberikan waktu bagi ayah dan anak itu. Hanya ada bunyi monitor yang perlahan-lahan mulai melambat seiring dengan detak jantung Arkan yang mulai beradaptasi dengan kehangatan tangan Dikta.
Pintu ruangan tiba-tiba terketuk pelan. Marco melangkah masuk dengan kepala tertunduk, membawa sebuah map kulit berwarna hitam. "Pak... maaf mengganggu waktu Anda."
Dikta tidak menoleh sedikit pun, matanya tetap terpaku pada wajah Arkan melalui lubang inkubator. "Ada apa, Marco? Aku sudah bilang jangan ganggu aku jika tidak ada kabar tentang jasad Arini."
"Ini bukan tentang Ibu Arini, Pak," Marco melirik ke arah monitor jantung bayi terlebih dahulu sebelum melanjutkan. "Ini tentang distrik barat. Kelompok Red Dragon mengetahui bahwa kita menarik sebagian besar pasukan dari sana sejak semalam. Mereka mulai bergerak mengambil alih beberapa pelabuhan tikus milik kita."
"Biarkan saja mereka mengambilnya," jawab Dikta datar seolah bisnis bernilai miliaran rupiah itu tidak ada artinya lagi.
Marco terbelalak, tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya dari mulut sang singa dunia bawah tanah. "Tapi Pak! Jalur itu adalah sumber pendapatan terbesar kita. Jika kita menyerahkannya begitu saja tanpa perlawanan, harga diri kelompok kita akan hancur di mata dewan mafia pusat! Mereka akan mengira kita melemah!"
"Aku memang melemah, Marco!" Dikta mendadak berbalik, menatap tangan kanannya itu dengan mata merah menyala. "Lihat tanganku ini! Tangan ini bisa menembak kepala musuh dari jarak seratus meter tanpa meleset! Tapi tangan ini tidak bisa menurunkan demam anakku sendiri! Kekuasaan yang kamu banggakan itu justru membuat Arini memilih mati di dasar sungai karena ketakutan padaku! Untuk apa semua uang kotor itu jika pada akhirnya anakku harus tumbuh sebagai anak yatim tanpa ibu?!"
Marco terdiam, membeku di tempatnya mendengar curahan hati bosnya yang begitu rapuh. "Maaf, Pak... saya tidak bermaksud seperti itu. Tetapi dewan pusat sudah mulai mempertanyakan keberadaan Anda sejak insiden di jembatan semalam. Mereka takut Anda kehilangan kendali."
"Katakan pada dewan pusat, aku tidak peduli dengan takhta sialan itu lagi," sahut Dikta, suaranya kembali merendah namun penuh dengan ancaman yang mematikan. "Jika ada satu saja dari mereka yang berani melintasi batas wilayahku saat aku sedang mengurus anakku, aku sendiri yang akan mengantarkan kepala mereka ke rumah mereka masing-masing."
"Bagaimana dengan Arman di penjara, Pak?" tanya Marco ragu-ragu. "Anak buahnya di luar mulai bergerak karena mengira kita sedang goyah. Mereka ingin membalas dendam atas penangkapan bos mereka."
"Armam sudah berakhir di balik jeruji besi, Marco. Jangan biarkan sisa-sisa tikus tanah itu mengotori tanganku lagi," Dikta berjalan mendekati jendela besar yang menghadap ke arah kota yang diguyur gerimis. "Pindahkan semua aset kita dari distrik barat. Aku tidak mau lagi ada sepeser pun uang hasil selundupan masuk ke dalam rekening atas nama anakku."
"Anda serius ingin menutup jalur itu?" tanya Marco tak percaya. "Itu berarti kita menyatakan gencatan senjata secara sepihak kepada seluruh aliansi dunia bawah."
"Aku tidak sedang meminta pendapatmu, Marco. Aku sedang memberikan perintah," Dikta menatap tangan kanannya dengan pandangan dingin yang membuat Marco langsung menundukkan kepala. "Tarik semua anak buah dari distrik barat malam ini juga. Mulai besok, urus semua dokumen legal untuk pengalihan seluruh bisnis kita ke sektor perhotelan dan logistik resmi. Jika ada yang tidak suka dengan keputusan ini, biarkan mereka keluar dari kelompok."
"Baik, Pak. Saya mengerti. Perintah Anda akan segera saya eksekusi bersama tim inti," jawab Marco sambil membungkuk hormat, lalu melangkah keluar ruangan dengan langkah kaki yang terburu-buru. Sementara Dikta hanya menatap bayinya yang belum stabil dari layar itu. Rasa kehilangan tak ingin terjadi lagi. Ia berjanji akan menjadi Ayah yang baik untuk putranya.