cinta ? Adelia tidak pernah merasakan itu sejak menikah dengan suami yang dijodohkan nya.
jangankan mencintai nya, Dzaki sang suami bahkan tidak pernah menganggap nya ada, mereka bahkan sampai berpisah kamar karena Dzaki tidak mau menyentuh Adelia.
kata patuh dan menghormati suami sudah Adelia lakukan, tapi Dzaki tidak pernah melihat itu semua.
cinta Adelia seakan tidak berharga Dimata Dzaki.
"Kapan kamu bisa menghargai ku sebagai istrimu mas ? Apa setelah aku tiada di dunia ini ?"
_____
_____
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moms Al, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4
"masih tidak mau kemoterapi ?". Tanya Fahmi menatap Adelia yang sejak tadi terdiam.
saat ini keduanya tengah duduk berhadapan, Fahmi sudah menjelaskan bagaimana ganas nya penyakit Adelia saat ini.
salah satunya untuk memperpanjang hidup adalah dengan melakukan kemoterapi, walau resikonya sakit dan rambut rontok.
Fahmi menghela nafas panjang, diusapnya rambutnya secara pelan.
"apa aku kasih tau ibu saja ?". Adelia langsung Mendi gak menatap Fahmi. Kepalanya menggeleng, seketika itu juga air mata perempuan cantik itu keluar.
"jangan...aku tidak mau memberinya beban lagi. Mereka sudah tua". Jawab Adelia dengan cepat.
Fahmi dan Adelia memang satu kampung, keduanya juga sangat dekat karena mereka bertetanggaan.
"sebenarnya apa mau mu Adelia ? Tentu mereka harus tau kondisi mu saat ini. Maaf sebelumnya jika aku keras kepala tapi memang seperti ini maunya. Tidak mungkin kamu terus menyembunyikan penyakit mu ini terutama pada kedua orang tua mu. Kalau nanti terjadi apa-apa sama kamu, mungkin mereka akan teramat sedih. Tapi kalau diberi tau sejak dini sedih mereka tidak akan mendalam". Fahmi mulai menasehati teman nya itu.
"tolong jangan seperti ini Adelia, dengar kan aku sebagai teman mu, ah tidak tapi sebagai dokter yang menangani mu saat ini. Kanker otak itu sangat berbahaya, apalagi penyakit mu ini sudah memasuki stadium 4, jalan satu-satunya untuk memperlambat penyebaran nya adalah dengan melakukan kemoterapi". lanjut Fahmi lagi.
"nanti aku pikirkan lagi fam".
"memikirkan ? Heiiii... penyakit mu terus menyebar. Aku yakin pasti kamu mulai melupakan dimana kamu meletakkan barang-barang mu dan melupakan sesuatu hal yang penting maupun sepele". Fahmi seakan frustasi dibuat oleh Adelia.
"tidak...aku masih mengingat nya". Jawab Adelia dengan suara kecil. Fahmi terkekeh pelan mendengar jawaban Adelia.
"jangan mengelak Adelia, aku ini seorang dokter. sudah banyak pasien yang aku tangani dan banyak berbagai penyakit juga aku tangani. Tentu aku tau jika perkataan ku tadi benar". Balas Fahmi menatap Adelia.
"kamu memang dokter fam, tapi kamu bukan tuhan". Fahmi menghela nafas kasar, memang teman nya ini sangat keras kepala dari dulu.
"kita makan siang dulu. tolong pertimbangkan lagi ucapan ku tadi. Kemoterapi". Fahmi langsung berdiri meninggalkan Adelia. Seakan tersadar, Adelia langsung mengikuti Fahmi dari belakang.
Sepanjang jalan, terlihat beberapa perawat berbisik. Mengenai hubungan dokter Fahmi dan juga perempuan yang mereka belum tahu namanya itu.
"jangan dengarkan mereka, gosip murahan". Ujar Fahmi berhenti tepat disamping Adelia.
"kenapa kamu tidak meluruskan nya ? takutnya aku yang jadi sasaran mereka. Apalagi jika ada yang menyukai mu diantara para suster itu atau dokter yang lain. Bisa-bisa aku yang diserang".
"nanti saja, Aku lagi lapar". Fahmi kembali berjalan menuju parkiran.
"masuklah...". Fahmi membukakan pintu mobil pada Adelia, dengan cepat Adelia segera masuk. Apalagi melihat tatapan para suster yang sejak tadi terus mengintainya.
"kamu mau makan apa ? Hari ini aku yang terkatir. Apalagi ini pertama kali nya aku mengajakmu makan". Adelia terdiam memikirkan makanan apa yang ingin dimakan nya.
"terserah saja". Jawaban itu membuat Fahmi menepuk jidat.
"ternyata perempuan semu sama saja. Ditanya mau makan apa malah bilang terserah. Apa salah nya sih Del, kamu langsung pilih saja. Jangan bilang terserah". Keluh Fahmi.
"loh...aku ngikut aja fam, kamu kan ya g traktir aku..yah aku ngikut jadi aku bilangnya terserah". Balas Adelia yang tak mau kalah.
"aku juga bingung semua nya dilarang. Makanan aku sekarang itu rasanya hambar. Jadi yah aku bilang terserah aja, masa kamu mau ngikutin makanan aku". Fahmi mengangguk mengerti. Memang Adelia tidak boleh makan makanan sembarangan, apalagi makanan yang cepat saji sangat di hindari oleh penyakit kanker.
"jadi ?". Tanya Fahmi.
"tadi aku udah makan dirumah, aku juga belum lapar. palingan nanti makan buah aja atau minum mungkin". Jawab Adelia membuat Fahmi berfikir.
"ya sudah...kita maka di ditaman aja. Aku beliin buah sama minum terus aku beli makanan berat. Gimana ?".
"oke deh".
akhirnya mobil melaju menuju ke restoran, tak berselang lama akhirnya mereka sampai disebuah restoran. Fahmi segera keluar dari mobil sedangkan Adelia hanya menunggu dalam mobil.
Selang tiga puluh menit berlalu akhirnya Fahmi datang juga.
"aku lama ?". Tanya Fahmi yang mulai memakai setbeal nya.
"lumayan. Ngantri yah ?". Fahmi mengangguk kemudian melajukan mobilnya.
"banyak orang didalam, biasalah makan siang jadi rame". Adelia hanya menganggukkan kepalanya.
tak lama mobil Fahmi kembali berhenti didepan toko buah. "kamu tunggu sini aja, biar aku yang belikan".
"iya...jangan terlalu banyak, aku tidak makan buah banyak". Fahmi mengangguk kemudian keluar dari mobil.
Adelia memainkan ponsel nya, melihat apakah suaminya membalas chatnya, tapi tak ada sama sekali. Adelia terkekeh pelan memukul kepalanya pelan.
"aku memang bodoh yah". gumamnya pelan.
"kenapa kepala nya dipukul ?". Fahmi muncul begitu saja membuat Adelia terkejut.
"astaghfirullah...fam..kaget aku".
"salah sendiri melamun, malah mukul kepala segala". Fahmi meletakkan buah pada jok belakang mobil nya.
"biar otak ku bagus". Jawab Adelia asal.
....
Saat ini keduanya tengah berada ditaman, angin sepoi-sepoi mengenai hijab Adelia. Sesekali perempuan cantik itu tertawa akan candaan Fahmi seakan tidak ada beban dalam hidup nya.
"kalau bisa memilih, mungkin aku tidak mau dewasa". Ujar Adelia sambil melihat anak-anak berlarian di taman tertawa.
Fahmi mengarahkan matanya pada anak-anak itu itu juga. "kenapa ?".
"dewasa ternyata tidak semenyenangkan itu, banyak beban yang harus di pikul. Kalau anak-anak kan tidak memikirkan apapun". Jawab Adelia terus menatap anak-anak itu.
"itu memang sudah kodrat nya Del, dan juga anak-anak punya beban sendiri. Harus sekolah, harus kerja PR, harus nurut sama orang tuanya. tidak semua apa yang kita lihat baik, semua ada kekurangan nya". Adelia terdiam mendengar nasehat Fahmi, memang benar apa yang dikatakan oleh temannya itu.
"mau jadi hewan, jadi manusia, jadi hantu sekalipun pasti semuanya punya beban. Aku tau beban mu sekarang sangat berat tapi jangan sekali-kali memikirkan hal-hal yang tidak-tidak". lanjut Fahmi lagi sambil menepuk-nepuk pundak Adelia.
"ayo pulang, sebentar lagi akan hujan. Lihatlah awan diatas sudah mulai hitam".
Fahmi langsung berdiri setelah membersihkan bekas makanan nya dan juga Adelia.
minat Fahmi berdiri, Adelia pun mengikuti dan masuk kedalam mobil.
"aku antar". Adelia hanya mengangguk.
sepanjang jalan, Adelia termenung melihat luar kaca jendela mobil. Fahmi sesekali melirik teman nya itu kemudian menghembuskan nafas panjang.
Adelia terkenal dengan sosok yang sangat ceria dan ramah, tapi lihatlah sekarang teman nya saat ini bukan Adelia ya g dikenal nya. Bahkan Adelia sudah sangat jarang tertawa jika bukan Fahmi yang duluan membercandai nya.
"kita sudah sampai". Ujar Fahmi.
"terimakasih".
Adelia langsung saja keluar dari mobil Fahmi, entah apa yang dipikirkan nya sampai tidak melambaikan tangan pada teman nya itu.
Saat masuk dalam rumah, ternyata sudah ada Dzaki disana sedang duduk dengan kaki disilangkan dan juga tangan diatas dada.
Karena tidak mau berdebat, Adelia hanya melewati Dzaki saja.
"jalan dengan laki-laki yang bukan muhrim nya ? Ha... Menjijikkan". Langkah Adelia terhenti ketika mendengar Dzaki membuka suara.
perempuan cantik itu terdiam mengepalkan tangannya kuat. "setidak nya saya tidak bergelayut manja di sambil memeluk nya didepan umum. Bahkan menghiraukan istrinya demi menyenangkan kekasih yang bahkan tidak halal sama sekali". Balas Adelia menohok.
"minimal intropeksi dulu sebelum menilai apa yang tidak kamu lihat, jangan sok suci dan merasa paling baik apalagi merasa paling tersakiti. Semuanya tidak seperti yang kamu bayangkan, karena saya bukan perempuan murahan yang sudah tau laki-laki itu sudah bersuami tapi tetap saja menjalin hubungan dengan suami orang". lanjut Adelia berbalik menatap manik mata Dzaki.
"jangan pintar melihat noda di pakaian seseorang, sedangkan kamu tidak melihat sobekan yang ada di baju mu". Adelia langsung meninggalkan Dzaki yang terdiam akan perkataan nya.
Bersambung...