Nesya adalah seorang gadis berusia 23 tahun. Dia cantik, cerdas, ceria dan penuh semangat. Ketika sedang bekerja Part Time di sebuah kafe, tanpa sengaja dia menumpahkan teh panas pada tubuh seorang pemuda tampan yg bernama Arjun. Ketika Nesya diterima kerja sebagai staf bagian keuangan di PT. Yudha Fashion. Sebuah perusahaan terkemuka di kotanya yang berskala nasional dan internasional, dia bertemu kembali dengan Arjun. Ternyata Arjun adalah direktur perusahaan sekaligus pewaris tunggal Pandawa Group. Sebuah group perusahaan yang terdiri dari perusahaan garment, mall, hotel dan restaurant. PT. Yudha Fashion adalah salah satu perusahaan dalam grup tersebut. Arjun adalah seorang pemuda dingin yang pernah terluka pada hubungan cinta masa lalunya. Selama lima tahun dia menutup rapat ruang hatinya. Dengan latar belakang yang berbeda dan pengalaman cinta masa lalu Arjun yang menyakitkan, apa yang akan terjadi dengan hubungan mereka selanjutnya? Simak terus ceritanya ya… .
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Mutiara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
HASIL KERJA YANG KURANG MEMUASKAN
“Nesya coba cek lagi datamu, ada kesalahan tuh, yang teliti dong.“ kata Nia teman Nesya sesama staf bagian keuangan, sambil menaruh berkas dengan kasar di meja Nesya.
“Ada masalah apa ya mbak?“ tanya Nesya dengan sopan.
“Data kamu tidak klop dengan data ku. Coba kamu cek kembali. Menjadi staf keuangan itu harus teliti, jangan ceroboh. Fatal akibatnya tahu nggak? Gara-gara data kamu tadi aku dipanggil Pak Ferry.“ lanjut Nia dengan marah.
“Pokoknya aku nggak mau tahu ya. Segera perbaiki data kamu hari ini juga. Besok pagi aku minta kembali dan harus selesai.“ tambah Nia dengan sinis sambil meninggalkan meja Nesya.
Setelah Nia pergi, sambil mengelus dada, Nesya melanjutkan pekerjaanya yang tadi sempat tertunda.
Hari ini Nesya tidak dapat pulang tepat waktu seperti biasanya. Dia harus lembur mengecek kembali dan memperbaiki pekerjaanya yang bermasalah. Waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam. Suasana kantor sudah sepi. Hanya terlihat Nesya yang masih sibuk di depan komputernya. Sejenak dia menghentikan aktivitasnya dan menoleh karena mendengar langkah kaki mendekatinya. Tampak Ferry dengan tersenyum ramah berjalan menghampiri meja Nesya.
“kamu belum pulang ?” tanya Ferry dengan ramah kepada Nesya.
“Sebentar lagi selesai Pak.“ jawab Nesya dengan sopan.
“Masih berapa lama?“ tanya Ferry karena tidak tega meninggalkan Nesya sendiri.
Ferry terkenal sebagai manajer yang ramah, santun, dan baik hati kepada siapapun.
“Ini tinggal cetak pak.“ jawab Nesya.
“Ok, saya tunggu kamu dan sekalian saya antar pulang. Ini sudah malam, dan di luar hujan.“ kata Ferry.
“Terimakasih banyak Pak, saya pulang sendiri saja. Nanti malah merepotkan Pak Ferry.“ jawab Nesya.
“Tidak apa-apa, saya sedang tidak buru-buru kok.“ kata Ferry sambil duduk menunggu Nesya.
“Terimakasih banyak sebelumnya pak.“ kata Nesya.
“Sama-sama.“ jawab Ferry sambil menunjukkan senyum manisnya.
Nesya menaiki mobil Ferry yang melaju meninggalkan perusahaan. Selama di perjalanan Nesya dan Ferry berbincang-bincang dengan topik yang ringan seputar pekerjaan. Ferry adalah seorang pemuda yang supel dan berpengetahuan luas. Membuat Nesya nyaman berbincang dengan nya. Ditambah lagi Nesya menceritakan bahwa dia pernah diajar beberapa mata kuliah oleh Ferry saat di universitas. Nesya juga menceritakan pengalaman masa-masa kuliah. Pada saat itu Ferry pernah menjadi idola para mahasiswi di kampus. Mendengar cerita Nesya menjadikan Ferry tersenyum geli. Dia tidak pernah menyangka bahwa pada saat itu pernah menjadi idola para mahasiswi di kampus. Dari perbincangan itu membuat mereka semakin akrab, seolah sudah lama kenal. Karena asyiknya berbincang, tak terasa Nesya sudah sampai rumahnya. Setelah mengucapkan terimakasih kepada Ferry, Nesya pun turun dari mobil dan memasuki rumahnya.
Setelah pulang bersama malam itu, Nesya dan Ferry terlihat lebih akrab. Saat Nesya mengantar laporan ke ruang kerja Ferry, biasanya mereka menyempatkan diri untuk berbincang sebentar seputar pekerjaan. Nesya menyampaikan kesulitan pekerjaanya dan Ferry membantunya menjelaskan hal yang Nesya kurang fahami.
Suatu ketika saat Nesya ke ruang kerja Ferry untuk memberikan berkas, Anita, teman Nesya sesama staf bagian keuangan, melihat Ferry dan Nesya sedang berbincang dan terlihat sangat akrab. Anita adalah teman akrab Nia yang juga tidak suka kepada Nesya. Begitu melihat keakraban Ferry dan Nesya, Anita merasa iri hati. Anita menceritakan kepada Nia apa yang dia lihat. Tentang keakraban Nesya dan Ferry, yang sudah dibesar-besarkan beritanya. Hal tersebut tentunya akan memberikan kesan buruk terhadap Nesya. Akhirnya Mereka berdua menyebarkan gosip di perusahaan bahwa Nesya menggoda Ferry.
Sejak Nesya akrab dengan Ferry, kemampuan kerja Nesya semakin meningkat, karena Nesya sering mendapatkan bimbingan dari Ferry dalam pekerjaan nya. Dengan pengalaman Ferry menjadi asisten dosen, membuat Nesya mudah memahami segala penjelasan Ferry tentang pekerjaan. Sehingga menjadikan kemampuan Nesya dalam bekerja berkembang pesat yang membuat beberapa teman Nesya menjadi tidak suka.
Gosip yang Nia dan Anita sebarkan sudah terdengar hingga ke luar bagian keuangan. Tanpa sengaja Nesya mendengarkan para pegawai memperbincangkan nya saat dia berada di dalam toilet. Gosip yang beredar sungguh sangat menyakitkan di dengar. Nesya dikabarkan menggoda dan memanfaatkan Ferry untuk mengejar ambisinya. Dengan adanya gosip itu membuat Nesya semakin tidak disukai oleh rekan sekantornya dan tentunya membuat Nesya sangat sedih.
Siang itu setelah makan siang Nesya duduk menyendiri di taman lantai empat perusahaan. Karena sudah tidak tahan lagi dengan sedih di hatinya akhirnya air matanya pun menetes. Tak terasa isak tangis pun semakin menjadi-jadi. Nesya meluapkan seluruh emosinya lewat isak tangisnya di tempat itu. Dia pikir tempat itu sepi dan tidak ada yang melihatnya. Di tengah-tengah tangisannya Nesya sedikit kaget karena tiba-tiba seseorang berdiri tegak di depan nya.
“Air mata tidak dapat menyelesaikan masalah apapun, buat apa kamu membuang nya sia-sia.” suara seorang laki-laki yang tiba-tiba mengagetkan Nesya.
Di depan Nesya telah berdiri sosok pemuda tampan, dengan penampilan rapi mengenakan setelan jas berwarna hitam dengan hem putih di dalamnya. Nesya sangat kenal dengan sosok itu. Seorang Pemuda tampan yang pernah ditemui saat dia bekerja di kafe, melalui insiden teh yang tertumpah. Pertemuan yang sangat singkat tapi sangat membekas dihati Nesya. Pemuda tampan itu adalah Arjun Sang direktur perusahaan.
“Ini, hapus air matamu.“ kata laki-laki itu kepada Nesya sambil menyodorkan sehelai saputangan yang dia ambil dari saku jasnya.
Dengan ragu-ragu Nesya menatap Arjun. Wajah Arjun terlihat datar tanpa expresi, namun memberikan kesan cool. Tanganya masih mengulurkan saputangan.
“Terimakasih banyak pak.“ jawab Nesya sambil menerima saputangan dan segera mengusap air matanya.
Aroma parfum maskulin Arjun tercium dari saputangan lembut berwarna abu-abu ketika Nesya mengusap Air Matanya.
“menjadi pegawai di PT Yudha Fashion harus kuat, tidak boleh cengeng dalam menghadapi masalah. Seorang pegawai yang memiliki mental kuat barulah akan membawa kemajuan bagi perusahaan.” kata-kata Arjun berikutnya dengan nada dinginya dan berlalu meninggalkan Nesya.
“Dasar laki laki tidak punya perasaan, berhati batu, sudah tahu melihat perempuan menangis, tidak menghibur malah ngomong seenaknya.” kata Nesya dalam hati sambil menatap arjun yang berjalan meninggalkanya.
Kata-kata yang dilontarkan Arjun memang terdengar kejam, tapi Nesya merasa ada benarnya. Buat apa dia memikirkan hal-hal yang tidak penting, apalagi sampai terbawa arus. Hal itu hanya akan membuat orang yang sengaja menciptakan situasi keruh itu menjadi menang. Tiba-tiba semangat Nesya tumbuh. Keberanian nya dalam menghadapi masalah menjadi bertambah. Seolah dia mendapatkan semangat baru. Jam tangan Nesya sudah menunjukkan pukul satu kurang lima menit. Artinya waktu istirahat telah selesai. Segera Nesya membersihkan kembali wajahnya dengan saputangan pemberian Arjun serta menyimpan nya ke dalam saku bajunya. Kemudian dia kembali ke kantor untuk melanjutkan pekerjaan nya.
Beberapa hari telah berlalu, gosip tentang kedekatan Nesya dan Ferry belum juga mereda. Seiring berjalanya waktu membuat Nesya menjadi semakin tegar. Perlahan-lahan Nesya dapat mengabaikan berita negatif tentang dirinya. Meskipun banyak teman kantor yang menjauhinya, tapi setidaknya masih ada Sinta yang selalu menemaninya. Bagi Nesya, daripada tenaganya dihabiskan untuk mengurusi hal yang tidak penting, lebih baik dimanfaatkan untuk belajar dan meningkatkan kemampuan nya di dalam pekerjaan. Seperti biasa Nesya selalu menyempatkan waktu setelah makan siang untuk pergi ke taman lantai empat perusahaan. Sekedar melepas penat, mencari udara segar, merenung dan menghimpun semangat baru sehingga pikiran nya menjadi segar kembali untuk melanjutkan pekerjaanya. Dan selama itu pula tanpa dia sadari ada seorang pemuda yang duduk di ujung taman selalu memperhatikan nya. pemuda itu adalah Arjun. Arjun biasanya sudah berada di taman tersebut lebih awal dari Nesya. Jauh sebelum Nesya bekerja di perusahaan, Arjun selalu beristirahat di tempat tersebut, mencari ketenangan dan sesekali membaca buku. Berada di ruang direktur sendirian, terkadang membuat Arjun merasa jenuh. Taman tersebut adalah tempat alternatif favoritnya selama bekerja di perusahaan.
Sejak pertama kali Arjun melihat Nesya berada di taman lantai empat perusahaan, sebenarnya Arjun masih mengenali Nesya. Dia adalah gadis pekerja kafe yang pernah menumpahkan teh di bajunya. Selang kejadian itu dengan Nesya diterima diperusahaan tidaklah lama, sehingga Arjun masih mengingatnya. Sebenarnya waktu itu, ketika Nesya membersihkan tumpahan teh di bajunya, mereka sempat berpandangan dengan jarak yang cukup dekat. Kala itu sebenarnya Arjun merasa gugup. Baru kali ini hatinya tergerak kembali. Saat bertemu Nesya. Setelah lima tahun putus dengan mantan kekasihnya. Dimata Arjun Nesya adalah sosok gadis yang tegar, penuh semangat, dan juga berparas cantik.
Tiga bulan telah berlalu. Kini Nesya sudah lulus dari masa percobaanya dan diangkat menjadi pegawai tetap. Nesya sangat bersyukur. Disamping status kepegawaianya meningkat juga mendapatkan kenaikan gaji.
“Sya, setelah keluar dari ruang Pak Ferry aku lihat wajahmu ceria sekali, ada apa hayooo…?“ tanya Sinta menggoda Nesya.
“SK pengangkatan ku sebagai pegawai tetap sudah keluar.“ jawab Nesya dengan wajah berseri-seri.
“Selamat ya Sya.“ kata Sinta sambil memeluk Nesya.
“Terimakasih banyak Sinta, kamu memang teman terbaikku.“ jawab Nesya.
“Kirain kamu ditembak Pak Ferry.“ lanjut Sinta sambil menutup mulutnya menahan tawa setelah melepaskan pelukan Nesya.
“Sembarangan kamu.“ sahut Nesya sambil cemberut.
“Iya deh, maaf…, bercanda…” lanjut Sinta dengan muka memelas.
Nesya tersenyum kepada Sinta lalu melanjutkan pekerjaanya.