Indonesia
NovelToon NovelToon
Hutang Harta Berujung Cinta

Hutang Harta Berujung Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Perjodohan / Bad Boy
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Green_Rose

Ia dijodohkan dengan anak orang kaya di kampungnya. Pria lumpuh dengan latar belakang yang tak enak di dengar. Anak tunggal dari orang terkaya di kampung itu. Cap play boy yang suka mempermainkan wanita melekat sangat kuat di nama si cowok.

Namun, Aulia tetap menerima pernikahan itu karena hutang ayahnya yang besar. Iya. Singkatnya, pernikahan itu karena hutang keluarga yang besar, yang tidak bisa ayahnya kembalikan.

Namun, siapa sangka kalau hidup akan berubah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Green_Rose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode *4

"Ada apa, Lia?" Zihan berpura-pura tidak tahu padahal sebenarnya, dia sudah bangun beberapa menit sebelum Lia terjaga dari tidurnya.

"Itu ... Kak Zihan. Ah, tidak ada apa-apa kok. Aku hanya ... hanya .... " Lia menggantungkan kalimatnya. Dia seolah-olah sedang sangat bingung ingin mengatakan alasan apa. Karena guling yang menjadi pembatas antara dia dengan Zihan itu jatuh di bawah lantai di bagian dia tidur.

Sementara Zihan yang melihat wajah panik Lia, bukannya kasihan, tapi justru merasa semakin gemas melihat wajah wanitanya ini.

"Mm ... kenapa aku merasa tidak nyaman dengan lengan kiriku ya? Seperti ada yang menindihnya semalaman."

Ucapan itu membuat Lia langsung memalingkan wajah karena merasa malu juga tidak nyaman. Rasanya, dia ingin sekali menghilang dari pandangan Zihan secepat mungkin.

"Ee ... Kak Zihan. Aku harus pergi ke kamar mandi sekarang. Permisi." Lia berucap sambil berjalan dengan langkah besar.

Zihan yang melihat hal itu langsung tersenyum lebar. "Ada-ada saja. Dia lebih lucu jika dalam keadaan panik ternyata," ucap Zihan pada dirinya sendiri.

Beberapa waktu berlalu, Lia baru keluar dari kamar mandi. Saat keluar, dia masih dengan baju yang sebelumnya ia pakai. Hal itu karena Lia lupa membawa baju ganti. Maklum, karena terburu-buru untuk menghindar dari Zihan, baju ganti saja lupa ia bawa.

"Kamu ... sudah mandi, Lia?" Zihan berucap sambil mengalihkan pandangannya dari ponsel yang baru saja menyibukkan paginya.

"Sudah, Kak. Oh iya, aku juga sudah menyiapkan air mandi buat Kak Zihan. Kakak bisa minta tolong Mang Mamat buat bantuin Kak Zihan mandi." Lia berucap dengan suara pelan dan sangat hati-hati.

Zihan tidak langsung menjawab. Dia kini sedang menatap lekat wajah Lia. Hal itu langsung membuat Lia merasa tidak nyaman.

"Tidak perlu bantuan Mang Mamat kok, Lia. Karena aku bisa mandi sendiri. Kamu tenang saja. Aku tidak akan merepotkan kamu kok kalau mau mandi."

"Eh. Bukan gitu kok. Aku ... tidak mikir kalau kamu merepotkan aku, Kak. Tapi ... aku .... " Lia yang gugup, malah kehabisan kata-kata untuk diucapkan. Ia malah langsung menggantungkan kalimatnya karena tidak tahu mau bicara apa.

Zihan yang paham akan apa yang Lia rasakan, tentu tidak ingin merusak suasana pagi terlalu jauh. "Ah, ya sudah. Jangan pikirkan hal lain yang tidak penting. Karena siang ini, kita akan kembali ke kota. Kamu bersiap-siaplah."

"Apa? Siang ini, Kak? Kok cepat banget sih?"

"Cepat ya? Mm ... tidak punya pilihan lain. Ada hal mendesak yang mengharuskan aku pulang siang ini soalnya. Maaf jika bikin kamu tidak nyaman. Tapi, kita harus tetap kembali karena aku tidak bisa menunda kepulangan lagi."

"Ee ... tidak apa-apa deh. Mungkin, lebih cepat, akan lebih baik."

Setelah obrolan itu, mereka tidak lagi mengobrol. Karena keduanya sibuk dengan urusan juga pikiran masing-masing. Hingga akhirnya, siang menjelang dan mereka langsung kembali ke kota tempat di mana Zihan tumbuh besar tanpa dampingan orang tua.

Meninggalkan orang tua masing-masing, bukanlah hal yang menyedihkan buat Zihan dan Lia. Karena sebelumnya, mereka sudah terbiasa jauh dari orang tua mereka. Karena itu, berpisah lagi sekarang, tidak akan ada masalah buat mereka berdua.

"Baik-baik jadi istri ya, Nak. Jangan bikin ayah bunda malu dan kecewa sama kamu. Karena kami sudah sangat bangga sama kamu selama ini." Begitulah ucapan sang bunda yang melepaskan kepergian anaknya yang baru saja menikah kemarin.

Lia tidak menjawab dengan kata-kata. Hatinya tidak tahu harus merasakan rasa apa. Karena pernikahan ini tidak ia inginkan. Tapi dia juga tidak ingin menyalahkan orang tuanya. Karena selama ini, kedua orang tuanya sudah berusaha keras agar ia bisa menikmati setiap tahap pendidikan dengan mudah.

"Bunda tahu, ini pasti tidak mudah buat kamu, Lia. Tapi, ini adalah pilihan terbaik buat kita semua. Jalani hidup dengan bahagia ya, Nak. Hanya itu harapan terakhir bunda."

"Jangan ngomong gitu, Bunda. Lia tidak suka. Lia tidak mikir kalau hal ini berat kok, Bun. Lia akan melakukan apa yang Bunda katakan. Tapi, jangan bilang ini yang terakhir. Karena itu akan membuat hati Lia tidak tenang."

"Anak Bunda." Saat itu, tangisan tidak bisa bundanya bendung lagi. Dia pun merangkul Lia dengan erat selama beberapa saat.

"Pergilah, Nak. Bunda pasti akan merindukanmu." Bunda Lia berucap lagi setelah pelukannya ia lepaskan.

Dengan sedikit berat hati, Lia melangkah. Si ayah tidak berucap satu patah kata pun. Seperti biasa, orang tua itu terlihat tidak terlalu akrab dengan Lia. Entah apa alasannya, ayah Lia itu terasa selalu asing buat Lia.

Sejak kecil juga, mereka tidak saling bicara jika tidak ada hal yang begitu mendesak. Satu rumah, tapi jarang berkomunikasi. Itu rasanya sangat tidak enak.

Lia pun melakukan hal yang sama. Tidak berbicara dengan sang ayah barang sepatah kata pun. Setelah bersalaman, maka ia langsung melanjutkan langkah kakinya menuju mobil, tempat di mana Zihan sudah menunggu dirinya sejak beberapa menit yang lalu.

Namun, belum sampai ia ke mobil, ayah Zihan pula yang kini menahannya. Orang tua itu sepertinya ingin mengatakan sesuatu pada Lia. Karena itu, dia langsung menahan tangan Lia dengan cepat.

"Ada apa ... Ayah?" Lia berucap dengan nada ragu.

"Lia. Kamu sekarang adalah menantu Ayah. Mm ... Ayah minta tolong padamu ya, tolong jaga Zihan dengan baik. Sayangi dia sepenuh hati kamu. Yah, meskipun kata-kata itu terdengar sangat tidak nyaman buat kamu. Tapi, Ayah sangat berharap kamu bisa belajar menerima Zihan dengan semua kekurangan yang ia miliki."

"Lia. Ayah percaya kamu bisa menjaga anak Ayah dengan baik. Jadi, tolong jangan kecewakan Ayah ya, Nak."

"Oh ya. Ini." Ayah Zihan berucap sambil menyerahkan sebuah liontin dengan permata merah muda berbentuk hati ke tangan Lia.

"Apa ini, Ayah?" Lia melihat liontin tersebut dengan fokus.

"Ini adalah kalung almarhumah bunda Zihan. Ayah berikan padamu sekarang. Ayah yakin, kamu yang paling berhak memilikinya, Lia."

"Apa? Kalung bunda Kak Zihan? Tapi Ayah ... Lia merasa ... Lia tidak cocok untuk menjadi pemiliknya. Jadi .... "

"Lia. Ayah yang merasa kamu cocok. Karena itu, Ayah serahkan kalung ini padamu. Jadi, tolong terima ya."

Perasaan tidak nyaman langsung menyelimuti hati Lia. Ingin menolak, tapi tidak bisa. Karena itu, ia terpaksa menerima walau dengan hati yang sangat berat.

Setelah kalung ia terima, Lia pun segera pamit untuk masuk ke dalam mobil. Beberapa saat setelah Lia duduk, mobil berjalan meninggalkan rumah yang paling mewah di desa ini.

Dengan berjalannya mobil, maka berjalan pula kehidupan baru Lia. Meski ia tidak yakin dengan apa yang sedang menunggunya di depan saja, ia tetap melangkah dengan penuh semangat. Karena mundur pun tidak bisa. Maka hadapi saja dengan tenang. Begitulah pikiran Lia saat ini.

1
sunaryati jarum
Sadar diri namanya buruk,takut jika usahanya tidak dilirik masyarakatnya karena citramu buruk.Cerdik juga.
sunaryati jarum
Baru mampir
Green_Rose: yuhu... moga betah
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!