kisah seorang gadis yang seakan dipermainkan oleh takdir cinta, ia awalnya menyukai seseorang laki-laki yang ternyata anak ayahnya, lalu kemudian ia mencintai lelaki yang berbeda keyakinan dengannya sedangkan ia adalah seorang wanita yang menjunjung nilai-nilai agama Islam. kepada hati mana kah kelak ia akan berlabuh ??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zul Hijrah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
HB 2 Pertemuan
"Shifaaaa," Teriak sang Bunda..
"Ya ampun bun, kenapa mesti teriak2 sih?" ujar Fatih.
"Kalau tidak diteriaki Yah, dia pasti akan semakin lama," omel Cassandra.
"Bunda tiap pagi ngomel melulu sih, Shifa udah gede ya bun," ujar Shifa sambil berjalan menuju meja makan.
Ia mencium pipi sang bunda lalu beralih ke sang ayah. Ia memilih duduk di samping sang Ayah. Fatih hanya tersenyum melihat kegaduhan di meja makan. Ia telah terbiasa dengan suasana pagi seperti ini. Melihat sang istri dan putri satu-satunya selalu berdebat setiap pagi.
"Shifa hari ini, hari pertama kamu kuliah, bunda tidak ingin kamu telat," ujar Cassandra sambil meletakkan sepiring nasi goreng di depan Shifa.
"Tenang aja bun, Shifa tidak akan terlambat, hari ini kan hari pertama Shifa, Shifa juga nggak mau telat lah bun," Jawab Shifa sambil menyendokkan nasi goreng miliknya ke dalam mulutnya.
"Shifa nanti kamu Ayah antar ya,"
"Tidak usah Yah, Shifa lagi nunggu jemputan Putri, kami kan ambil jurusan yang sama, jadi ke kampusnya barengan," jawab Shifa.
"Ya udah, tapi hati-hati ya," ujar Fatih..
"Iya Yah. Kalau begitu, Shifa pamit Yah, Bun, Putri sudah ada di depan, ini baru aja ada chatnya, " ujar Shifa sambil menyalami kedua orang tuanya.
***
Di Kampus
Pagi ini matahari terlihat mempesona, ia menampakkan wajahnya dan bertengger di atas sana. Panasnya telah menyelimuti setiap insan yang berjalan di muka bumi ini.
Dari kejauhan di sebuah lorong kecil, terlihat dua orang gadis berlarian sambil menenteng sebuah tas yang terbuat dari kantong plastik. Peluh telah menghiasi wajah cantik mereka, rasa lelah karena berlarian tidak lagi dihiraukannya.
Karena macet, mereka harus telat di hari pertama mereka. Dengan perasaan khawatir, mereka berlarian menuju Aula kampus, tempat dilaksanakannya upacara penerimaan Mahasiswa baru di kampus tersebut.
Setelah berlarian cukup jauh, mereka pun sampai di Aula. Shifa dan Putri mengatur nafas mereka. Namun baru beberapa menit mereka bernafas legah, tiba-tiba mereka harus dikejutkan oleh 3 orang senior yang mereka tahu adalah panitia karena melihat tanda pengenal yang terpasang di baju mereka.
"Sudah selesai atur nafasnya?" Tanya Dika, ketua panitia penerimaan Mahasiswa baru.
"Iya kak,"jawab Shifa dan Putri secara bersama sambil menundukkan wajah mereka. Mereka tidak berani melihat wajah ketiga seniornya.
"Kenapa kalian menunduk? Lihat ke arah kami," teriak Robby. Yang malah membuat kedua gadis itu semakin takut.
"Kalian punya telinga nggak sih? Saya bilang, lihat ke arah kami," ujar Robby sambil menepuk bahu Shifa yang sedikit gemetar.
Dengan berat hati, kedua gadis itu pun mengangkat kepala mereka dan menatap tiga cowok yang berdiri di hadapan mereka. Semua mata memandang interaksi mereka. Semua orang bisa melihat dengan jelas wajah cantik Shifa yang terlihat basah karena peluh dan air mata.
Shifa tidak bisa menahan air mata yang telah berkumpul di kelopak matanya akibat bentakan Robby. Baru kali ini ada orang yang berbicara keras terhadapnya. Ayah dan Bundanya tidak pernah membentaknya.
Dika yang melihat Shifa hanya tersenyum meremehkan. Ia menghampiri Shifa dan Putri. Dia menatap keduanya secara bergantian. Dalam hati dia mengagumi wajah cantik Shifa, wajah yang meneduhkan ketika dipandang.
"Siapa nama kalian?" tanya Dika sambil menatap keduanya.
"Saya Putri kak," sambil tersenyum manis, dia mengagumi wajah tampan pria di hadapannya itu. seolah-olah wajah tampan itu membuatnya lupa akan masalah yang dihadapinya sekarang.
"Kalau kamu?" tanyanya sambil menatap Shifa.
"Shifa Al Humairah kak," jawab Shifa sambil menunduk, ia merasa risih ditatap oleh seorang laki-laki.
Shifa. Jadi namanya Shifa. Manis juga.
Ujar Dika dalam hati.
"Kalian tahu apa kesalahan kalian?" lanjut Dika
" Kami terlambat kak," jawab Putri.
" Karena kalian mengakui kesalahan kalian, sekarang kalian harus mendapat hukuman akibat keterlambatan kalian," ujar Dika.
"Iya kak," jawab keduanya.
"Sekarang kalian ke dapan fodium untuk bernyanyi dan berjoget menghibur kami di sini," lanjut Dika.
"Tapi kak...." Shifa mencoba menolak hukuman tersebut.
"Tapi apa Shifa? apa hukumannya terlalu sedikit? Kalian mau hukuman ditambah?" tanya Dika dengan nada tegas.
"Bukan begitu kak, tapi kami...," tolak Shifa
"Kalian pilih bernyanyi di depan sana atau menggombal panitia pria lalu mencium mereka?" tanya Dika dengan sinis.
"Baik kak, kami akan bernyanyi," jawab Shifa lalu menarik tangan Putri dan berlari ke podium.
Keduanya berlari menuju podium, semua mata menatap mereka. Ada yang kagum dengan kecantikan Shifa, ada juga yang menatap mereka dengan senyum mengejek.
Sesampainya di podium, mereka langsung melakukan apa yang disuruhkan Andika. Dengan wajah menunduk keduanya bernyanyi sambil bergoyang di atas podium. Semua orang menertawakan tingkah keduanya. Andika hanya tersenyum sinis menatap keduanya.
"Kenapa kalian berhenti?" teriak Andika.
"Lagunya sudah habis kak," jawab Putri.
"Ganti lagunya, dan laksanakan sekarang," teriaknya kembali.
" Tapi kak, kami sudah bernyanyi dan bergoyang, saya rasa hukumnya selesai, kenapa ditambah lagi?" protes Shifa. Ia muak dengan sikap Andika.
Andika sedikit geram dengan sikap Shifa yang selalu melawan perintahnya. Ia berjalan menuju podium menghampiri Shifa.
"Kamu kenapa selalu melawan perkataan saya?" tanya Andika setelah sampai di hadapan Shifa.
"Bukannya melawan kak, saya hanya mengutarakan apa yang saya pikirkan," jawab Shifa sambil menunduk.
"Kamu tahu etika berbicara dengan seseorang kah? Kamu harus melihat wajah lawan bicara kamu," ujar Andika.
"Maaf kak, saya hanya menjaga pandangan saya. Karena kakak terlalu dekat jadi saya lebih baik menunduk," jawab Shifa. Andika hanya tersenyum mendengar jawaban Shifa.
"Tapi biar bagaimana pun, seharusnya kamu...." ucapan Andika terpotong karena kedatangan seseorang.
"Sampai kapan kalian membuang waktu kita, sebentar lagi materi pertama akan dimulai, lebih baik hentikan hukuman ini," ujar Randy.
Seperti suara kak Randy. Gumang Shifa dalam hati
Shifa penasaran dengan seseorang yang baru datang, tetapi ia tidak bisa mengangkat wajahnya melihat orang tersebut. Andika berdiri tepat di hadapannya. Rasa penasaran Shifa terjawab setelah mendengar Putri menyapa orang tersebut.
"Assalamualaikum kak Randy," sapa Putri. Randy pun menoleh dan menatap gadis di sampingnya. Ia baru menyadari jika dua gadis itu ternyata adalah orang yang dikenalinya.
"Waalaikumsalam Putri, saya tidak menyadari keberadaan kalian tadi. Oya, Shifa bagaimana kabar kamu?" tanya Randy sambil menatap Shifa.
"Alhamdulillah sehat kak, kalau kakak bagaimana?" Shifa pun mengangkat wajahnya dan menatap Randy.
Dasar cewek sok alim, tadi sok-sok menjaga pandangan, sekarang malah menatap Randy sambil tersenyum gitu. Lagian ada hubungan apa sih mereka ?. Omel Andika dalam hati.
"Kakak baik juga Fa, kakak....." Andika langsung memotong ucapan Randy.
"Katanya tadi kita harus mulai materi, nah kenapa malah ngobrol gitu?" sindir Andika.
"Maaf Dik, " Ujar Randy sambil tersenyum kepada Andika.
"Kalian berdua sekarang siap-siap untuk menerima materi pertama hari ini." ujar Andika sambil menarik Randy.
"Kalian semua sekarang bubar dan siap-siap masuk ke ruangan masing-masing untuk menerima materi pertama," teriak Andika. Tanpa disuruh kedua kalinya, semua peserta Mahasiswa baru pun langsung bubar.
"Huh, dia itu tidak bisa berbicara baik-baik ya, kerjaannya cuman teriak-teriak saja," bisik Shifa.
"Iya, ganteng-ganteng tapi tukang ngomel," ujar Putri sambil tertawa.
Keduanya pun berlari ke ruangan mereka. Mereka tidak mau mendapat masalah kembali hari ini.
Ceritanya sudah mau tamat 🙏
lanjut cerita cinta mereka😍