Dua tahun sepeninggal Albert, Nadira Aneisha Putri yang kini berusia 26 tahun itu hidup dengan Abigail serta kedua anaknya, Galen dan Ciara.
Nadira terpaksa harus mengurus semuanya sendiri, mulai dari anak hingga perusahaan milik suaminya.
Awalnya semua berjalan lancar dan sukses, bahkan Nadira mampu membuat PT Galatama group naik dan berjaya.
Namun, tiba-tiba saja Devano yang selama ini membantunya mengurus perusahaan justru mengundurkan diri dan tidak mau bekerjasama lagi dengan Nadira. Itu semua dia lakukan semata-mata karena kecemburuan istrinya.
Disaat-saat kesulitannya, Nadira bertemu dengan sosok pria tampan yang akan membantunya, dialah Gavin Araya, ceo dari PT Araya sentosa.
Akan tetapi, Gavin mengajukan persyaratan aneh sebelum mau membantu Nadira. Ya pria itu meminta Nadira untuk menikah dengannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon patrickgansuwu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 30. The end
Setelah prosesi pernikahan selesai, kini Gavin membawa istrinya yakni Nadira ke dalam kamar hotel yang sudah ia siapkan jauh-jauh hari.
Nadira yang masih mengenakan gaun pengantin itu tampak ragu-ragu untuk melangkah masuk bersama suami barunya, entah mengapa ia belum bisa menerima semua ini.
"Nadira, kamu kenapa diam? Sekarang saya ini udah sah jadi suami kamu, harusnya kamu gak perlu malu-malu gitu dong sama saya!" ujar Gavin.
"Maaf pak Gavin! Bagi saya, kita tetap hanya sebatas rekan kerja. Saya belum bisa terima anda sebagai suami saya," ucap Nadira.
"Mengapa begitu? Bukannya kamu sudah mengucap janji di hadapan semua orang tadi bahwa kamu akan menjadi istri yang baik untuk saya?" tanya Gavin.
"Ya, itu benar. Tapi, saya masih merasa ini semua terlalu cepat. Bahkan kita saja belum terlalu mengenal satu sama lain," jawab Nadira.
"Kamu gak perlu risau istriku! Kita bisa jalani semuanya secara perlahan-lahan, dan saya yakin kamu pasti bisa menerima saya sebagai suami kamu!" ucap Gavin meyakinkan Nadira.
Pria itu mendekati Nadira, merengkuh pinggang sang istri lalu merapatkan tubuh keduanya.
"Saya menyukai kamu Nadira!" ucap Gavin sensual, ia mengusap wajah Nadira dan menaikkan sedikit dagunya serta memberi tatapan penuh arti.
"Apa yang mau kamu lakukan?" tanya Nadira.
"Tentu saja menikmati malam pertama kita sayang," jawab Gavin santai.
"Saya belum siap, tolong beri saya waktu untuk menyiapkan semuanya!" ucap Nadira.
"Saya tidak bisa menunggu untuk itu, karena saya sudah menantikan momen ini cukup lama!" ucap Gavin.
"Apa maksudnya? Kamu menikahiku hanya karena kamu terobsesi dengan tubuhku?" tanya Nadira.
"Tidak, kamu salah menangkap ucapanku sayang. Bukan begitu maksudku, aku hanya ingin merasakan bagaimana rasanya malam pertama," jawab Gavin.
"Itu sama saja, saya yakin anda pasti tidak benar-benar mencintai saya! Anda hanya terobsesi dengan tubuh saya," ujar Nadira.
"Jika iya kenapa? Gak mungkin kan kamu membatalkan pernikahan kita? Sudahlah, saya yakin kamu pasti juga merindukan sentuhan-sentuhan seperti ini bukan?" Gavin sengaja menggoda Nadira dengan memberikan sentuhan sensual di tubuhnya.
"Cukup! Saya tidak bisa melakukan ini dengan orang yang tidak saya cintai!" tegur Nadira.
Wanita itu langsung menjauhkan diri dari Gavin dan menatap pria tersebut penuh emosi.
"Ayolah, kamu tidak perlu malu-malu begitu! Kamu sudah menjadi istri saya, layani saya dengan baik Nadira! Kamu gak mau kan mengecewakan suami kamu ini?" ujar Gavin.
"Saya sudah bilang, saya belum siap! Kenapa kamu masih memaksa?" sentak Nadira.
"Baiklah, saya tidak akan memaksa kamu lagi. Silahkan kamu beristirahat disini, biar saya mengalah dan keluar dari kamar ini. Semoga kamu bisa segera siap ya sayang!" ucap Gavin.
Nadira merasa lega setelah Gavin mengatakan itu, namun entah mengapa tiba-tiba ia merasa bersalah karena telah mengecewakan suaminya.
Gavin pun pergi keluar dari kamar itu, keinginannya untuk mencapai kepuasan di malam pertama terpaksa tertunda karena Nadira belum siap.
Nadira yang bingung akhirnya terduduk di ranjang, dia mengusap wajahnya kasar seakan merasa bersalah telah melakukan hal tadi.
"Harusnya aku gak boleh kayak gitu sama pak Gavin! Dia kan udah jadi suami aku, aku bisa berdosa besar karena sudah membuat dia kecewa!" ucap Nadira.
"Nadira!" wanita itu tersentak mendengar suara berat memanggil namanya, dia bergegas bangkit untuk mencari tahu siapa yang datang.
"Ma-mas Albert??" sungguh ia sangat terkejut, yang dilihatnya di depan mata saat ini adalah sosok suami yang sangat ia rindukan.
"Apa yang mas Albert lakukan? Kenapa mas bisa disini?" tanya Nadira padanya.
Tak ada jawaban dari pria itu, dia hanya menatap tajam ke arah Nadira sembari mengepalkan kedua tangannya.
"Mas, kamu marah sama aku karena aku khianati kamu dan nikah dengan laki-laki lain?" tanya Nadira.
Pria itu menggeleng.
"Lalu?" Nadira kembali bertanya dan kalo ini coba mendekati Albert.
"Saya marah karena kamu sudah mengecewakan hati suami kamu itu, tidak seharusnya kamu begitu Nadira!" jawabnya singkat dan dingin.
"Ta-tapi mas, aku belum bisa buka hati aku buat orang lain. Aku sangat mencintai kamu mas!" ucap Nadira.
"Saya juga mencintai kamu Nadira, tapi sekarang dunia kita sudah berbeda. Kamu harus bisa melupakan saya dan mulai kehidupan kamu yang baru!" ucap Albert.
"Aku gak yakin aku bisa mas, ini terlalu sulit buat aku. Lebih baik aku ikut aja sama kamu mas," ucap Nadira.
"Tidak Nadira, kamu gak bisa begitu. Kamu harus tetap disini karena anak-anak membutuhkan kamu! Saya tahu ini berat, tapi saya yakin kamu pasti bisa melakukanya!" ujar Albert.
Nadira mulai terisak, perlahan Albert mendekatinya dan mendekap tubuh wanita itu erat.
"Don't cry! I don't like to see you cry Nadira!" bisik Albert seraya menyelipkan rambut wanitanya di cuping telinga.
Nadira manggut-manggut pelan sembari mendongak menatap wajah Albert.
"Tolong jangan pergi, aku mau kamu tetap disini mas! Aku benar-benar nyesel sudah mengabaikan kamu dulu, andai waktu bisa diputar pasti aku tidak akan begitu!" ucap Nadira.
"Sssttt ini sudah takdir Nadira, kamu gak bisa salahin diri kamu sendiri! Sekarang kamu keluar dan bujuk suami kamu itu!" ujar Albert.
"Suami aku itu cuma kamu, mas Albert!" tegas Nadira.
"Ya saya tahu, kita akan bersama lagi nanti. Tapi untuk sekarang, kamu harus bersikap baik pada suami kamu di dunia! Kamu gak mau kan kejadian yang sama pada kita terulang lagi?" ucap Albert.
Seketika Nadira terdiam, mengingat kembali momen terakhir sebelum Albert benar-benar pergi dahulu.
...~Selesai~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
ni fakta nadirah adalah perempuan paling egois dan penuh omong kosong, saat suami datang dalam keadaan sekarat dan butuh pertolongan segera, dia sama sekali tidak peduli dan biar kan suami sekarat dan mati di luar rumahnya, dan pada saat suami udah mati baru dia berkoar koar bilang dia cinta dan tidak bisa kehilangan agar dapat menguasai harta suaminya dan novel ini dia pasti dapat suaminlain lagi, dasar perempuan paling munafik
Sih lari dalam pelukannya ku saja Galen. 🤗
Mas kamu kemana sih, Kasihan Nadira.