"Aku tidak cacat, mas. Menikah denganmu juga bukan kehendakku." Kemala.
Peristiwa kebakaran yang dialami oleh Kemala akibat menyelamatkan seorang ibu-ibu membuat ia harus menelan pil pahit jika sebagian wajahnya rusak karena luka bakar.
Atas kebaikannya ini lah yang membuat Kemala mau tidak mau harus menikah dengan seorang pria yang tidak ia cintai apa lagi ia kenal. Pria tersebut bernama Devanio, anak laki-laki dari orang yang sudah Kemala tolong. Bagaimana kehidupan rumah tangga Mala dan Deva? Mampu kah Deva menerima kekurangan Mala? Atau justru pernikahan mereka harus berakhir?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ni R, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 31
Seharian sibuk belanja dan mengurus rumah mereka, akhirnya sekarang Deva dan Mala bisa beristirahat juga. Seharian tidak mendengar suara tangisan Ray membuat Mala merasa rindu. Ia pun melakukan panggilan video hanya saja Ray sedang tidur. Sedikit kecewa tapi tidak masalah karena Ray sama sekali tidak rewel hari ini.
"Malam ini kita menginap saja, biar Ray sama mama dulu." Ujar Deva.
"Tapi mas?"
"Kamu terlihat sangat lelah, mama pasti mengerti."
Mala pun mengiyakan, karena memang sekarang ia sudah sangat mengantuk sekali.
"Besok kita akan ketemu dengan orang yang sudah membuangmu!"
"Mau ngapain mas? Aku nggak mau!" Tolak Mala.
"Papamu sedang di kejar hutang, sore tadi dia sudah menghubungi mas untuk segera melakukan pembayaran."
"Usaha itu, apakah ada yang lain?" Tanya Mala penasaran.
"Tidak ada, cuma satu itu. Keluarga mereka cuma hidup mengandalkan usaha kuningan tersebut."
"Itu artinya jika kita membeli usaha itu, mereka akan jatuh miskin?"
"Iya, kudengar mereka juga akan menjual rumah untuk tambahan membayar hutang judi."Kata Deva yang begitu akurat mendapatkan informasi. "Mas bisa mengembangkan usaha kuningan itu, mereka hanya kekurangan modal kerena semua keuntungan sudah habis digunakan untuk berfoya-foya tante Yuni."
"Terserah kamu, aku lelah dan sangat mengantuk. Aku ingin tidur sekarang!"
"Apa masih palang merah?" Tanya Deva.
"Besok selesai," jawab Mala tanpa sadar.
"Asyik....!!" Seru Deva yang sudah tidak sabar untuk menggauli istrinya karena ia selalu terbayang-bayang nikmatnya malam pertama.
Deva mengintip Mala yang ternyata sudah tidur. Pria ini pun menyelimutinya lalu memeluk Mala.
Hingga tanpa tak terasa pagi menjalang, Deva dan Mala terbangun sebab teriakan dari bu Resti yang terus memanggil nama mereka berdua. Deva yang terkejut langsung pergi ke balkon kamar.
"Deva, buka pintunya!" Pinta bu Resti di bawah.
Sambil menguap Deva segara pergi ke bawah untuk membuka pintu. Mala juga ikut turun, ternyata anaknya datang menyusul.
"Ray nangis nyariin kamu tadi pas bangun tidur," ucap Bu Resti memberitahu Mala.
"Maafin aku, ma. Aku dan mas Deva kelelahan, makanya kami baru bangun." Jawab Mala yang langsung menggendong anaknya.
"Cuma nyariin emaknya? Ray nggak nyariin aku?" Tanya Deva yang sebenarnya protes.
"Kamu itu kenapa sih? Mandi sana!" Usir bu Resti.
Deva mendengus kesal, pria ini langsung mengambil alih gendongan anaknya kemudian membawanya pergi ke kamar.
"Mala, mama mau pergi ke luar kota hari ini. Mama pergi dulu ya, jangan ribut terus sama Deva."
"Iya ma, hati-hati di jalan." Ucap Mala lalu mengantar ibu mertuanya ke depan.
Setelah bu Resti pergi, baru lah Mala menyusul anak dan suaminya ke kamar. Sangat menjengkelkan karena ternyata Ray sedang menangis sebab diciumi oleh papanya sendiri.
"Mas, jangan seperti itu. Nanti Ray nggak mau sama kamu!" Tegur Mala.
"Dia telah mencuri ketampananku, jadi harus dihukum!" Ujar Deva yang tidak menghiraukan ucapan Mala. Meskipun begitu, tetap saja Ray tidak mau menghindar dari papa-nya.
"Kamu mandi dulu, setelah itu kita pergi cari sarapan." Ujar Deva.
"Nggak ah, aku kok ragu meninggalkan Ray sama kamu!"
"Aku ini bapaknya, masa tega menganiaya anakku sendiri. Cepat mandi sana!"
Dengan perasaan ragu, Mala masuk ke kamar mandi. Ia mandi dengan sangat cepat karena takut jika Deva berbuat yang macam-macam pada Ray.