Indonesia
NovelToon NovelToon
Sandiwara Dalam Perjodohan

Sandiwara Dalam Perjodohan

Status: tamat
Genre:Romansa / Dijodohkan Orang Tua / Tamat
Popularitas:20.3k
Nilai: 5
Nama Author: Fie F.s

Dijodohkan saat sudah punya kekasih, adalah kabar buruk bagi setiap orang. Seperti yang dialami gadis bernama Amanda.

Tidak ingin dijodohkan dengan pria bernama Justin, Amanda terpaksa membuat perjanjian dengan pria itu untuk bersandiwara menerima perjodohan itu di depan keluarga mereka sampai keduanya menemukan alasan yang tepat untuk membatalkannya.

Namun sayang, Justin justru benar-benar jatuh cinta pada Amanda. Justin melanggar perjanjian mereka. Pria itu tetap akan meneruskan perjodohan itu.

Di satu sisi, Azam-kekasih Amanda juga berusaha menggagalkan perjodohan itu. Ternyata semesta mendukungnya, Adam mulai mendapati bukti mengenai Justin.

Bagaimana kisah mereka? Apakah Justin dan Amanda akan tetap menikah?

Dan apakah Azam berhasil menggagalkan perjodohan mereka?

Ikuti kisahnya di Sandiwara Dalam Perjodohan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fie F.s, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31 Happy Wedding

Jajaran papan bunga berbaris rapi di depan rumah Amanda. Tak pernah ia sangka kalau akan sebanyak ini ucapan selamat yang ia terima. Hampir 70 persen kiriman papan bunga itu merupakan kiriman dari rekan-rekan Azam.

Azam memang hanya petani, tapi entah berapa banyak supermarket yang mendapatkan suplay sayuran dan buah berkualias baik dari hasil budi dayanya bersama masyarakat lainnya.

Masjid di dekat rumah Amanda yang merupakan tempat melakukan akad nikah sudah mulai ramai. Beberapa warga sengaja diundang untuk menyaksikan akad nikah tersebut dan mereka datang satu persatu.

Azam dan calon ayah mertuanya sudah berjabat tangan tanda proses akad nikah akan segera berlangsung. Amanda sudah berada di sampingnya. Gadis cantik itu tampak gugup saat acara akan dimulai. Azam melihat telapak tangan Amanda saling menggenggam.

Lalu bagaimana dengan dirinya? Jangan ditanya lagi. Jantungnya berdebar hebat dan tangannya mulai terasa dingin. Belum lagi, calon ayah mertuanya sama sekali tidak terlihat gugup. Mungkin karena profesinya yang membuat pria setangah abad itu terbiasa berhadapan dengan orang banyak.

"Saya nikahkan putri kandung saya, Amanda Saraswati kepadamu Azam Prasetyo dengan mahar seperangkat alat sholat dibayar tunai," ucap Faiz dengan suara jelas dan tegas.

Sementara itu, di luar masjid, Jenifer buru-buru turun dari dalam mobilnya. Kesulitan mencari tempat parkir membuatnya terpaksa berhenti di pinggir jalan yang jaraknya agak jauh dari gerbang masjid.

Ia sempat terkecoh karena mengira akad nikah akan dilakukan di rumah Amanda. Namun, ia segera bertanya pada warga sehingga ia datang ke masjid ini tepat waktu.

Selama ini, Jenifer sudah mengirim orang suruhannya untuk mencari tahu, tapi yang ia dapat malah informasi yang tidak seratus persen akurat.

Jenifer juga baru berhasil kabur dari rumah karena papanya selama ini mengurungnya. Ia akan dijodohkan dengan seorang pria yang tidak ia kenal sementara ia masih ingin menghancurkan pernikahan Azam dan Amanda.

Jenifer mendengar suara Faiz yang mengucapkan kalimat ijab saat ia turun dari mobil. Namun, saat baru berjalan beberapa langkah, seseorang menahan tangannya.

Ia melihat Justin memakai jas rapi dan kaca mata hitam. Pria itu mencegahnya untuk berlari ke dalam masjid.

"Justin, lepaskan!" geram Jenifer sambil berusaha untuk melepaskan tangannya. Ia merasakan sakit saat memutar lengannya karena cengkeraman Justin begitu erat.

"Jangan membuat kacau, Jen!" ucap Justin tegas. "Biarkan acara ini berjalan lancar."

"Saya terima nikah Amanda ...." suara Azam terdengar hingga ke luar masjid karena mereka memang menggunakan pengeras suara hanya saja volumenya tidak terlalu keras.

Jenifer membulatkan mata. Ia harus lebih. cepat lagi. "Justin, Azam hampir menyelesaikan..."

"Biarkan saja. Kamu tidak boleh membuat ulah, Jen!" Justin menarik Jenifer untuk masuk ke dalam mobil tapi gadis itu menolak sambil berteriak.

Dengan sekali kode, Bianca langsung menempelkan sapu tangan yang sudah diberi obat bius ke hidung Jenifer sehingga gadis pengacau itu tidak sadarkan diri.

"Selesai," ucap Bianca sambil tertawa senang dan ia menyimpan kembali sapu tangannya ke dalam tas.

Justin dan Bianca membawa Jenifer pergi dari tempat itu dan mengantarkan gadis itu pada seseorang.

Lalu, di dalam masjid, Arman dan Flower sedikit gelisah karena takut jika tiba-tiba ada serangan mendadak baik itu dari Jenifer atau Justin.

Flower mengedarkan pandangannya, tapi tidak ada yang terlihat mencurigakan. Ia duduk terpisah dari orang tuanya yang lebih memilih bergabung dengan teman lama mereka.

"Sah!" seru dua orang saksi yang selanjutnya diiringi doa.

Pernikahan ini berlangsung sederhana, khidmat, dan cepat. Beberapa orang yang mengikuti prosesi akad nikah ini memuji kecocokan Azam dan Amanda. Keduanya tampak serasi. Pengantin perempuannya sangat cantik dan pengantin prianya juga tampan.

Di rumah orang tua Amanda, tamu-tamu berdatangan silih berganti. Azam sampai meregangkan otot lehernya yang terasa kaku karena harus berdiri tegak untuk menyalami tamu yang mengucapkan selamat pada mereka.

"Ini sih lebih dari sederhana, Manda. Tamu ayah banyak sekali," bisik Azam yang mengeluh.

Amanda tersenyum geli. "Hanya teman ayah dan ibu, temanku dan juga murid-muridku. Tapi mereka belum datang, Mas!"

Azam membulatkan mata. "Murid-murid kamu akan datang?"

Amanda mengangguk. "Mungkin gak semua, ya sekitar 100 orang lah."

Azam menghela nafas panjang. "Perjalanan masih panjang ternyata."

Flower tersenyum menatap sepasang pengantin yang sepertinya sedang membicarakan suatu hal di atas pelaminan.

"Lihat apa?"

Flower terkesiap saat Arman datang dan menepuk bahunya. Ia melihat wajah Arman yang berdiri sangat dekat dengannya.

"Kak Manda terlihat bahagia," gumam Flower melihat kearah pelaminan lagi.

Jaraknya dan Arman begitu dekat dan itu tidak baik untuk kesehatan jantungnya. Aroma parfum maskulin yang pria itu pakai juga kurang bagus untuk indera penciumannya.

"Aku senang menjadi bagian dari kebahagiaan ini," lanjutnya.

"Tapi kamu harus menghadapi kemarahan Justin," balas Arman.

"Gak masalah. Toh, keadaan sepertinya sudah membaik."

"Pernikahan kak Manda berjalan lancar tanpa halangan apapun seperti dugaan kita."

Arman mengangguk. "Aku bersyukur, Flo. Akhirnya kakakku bisa merasakan kebahagiaan ini. Dan aku berharap setelah ini, gak ada lagi yang mengganggu kehidupan mereka."

"Flo, ayo pulang!" ajak Kamila.

Kedua orang tua Flower berjalan mendekat untuk mengajaknya pulang.

"Iya, Ma." Flower membenarkan letak slingbagnya.

"Pamit dulu sama kak Manda," perintah papanya.

Flower segera berjalan menuju pelaminan. Ia tersenyum lebar saat Amanda mengulurkan kedua tangannya untuk memeluknya.

"Selamat menempuh hidup baru, Kak," ucap Flower saat tubuhnya sudah dipeluk oleh Amanda.

"Semoga diberikan kebahagiaan dalam kehidupan rumah tangga kakak. Semoga diberi keturunan yang soleh dan solehah."

Amanda melepaskan pelukannya. Ia menangkup wajah Flower. Meskipun gadis itu tidak menjadi adik iparnya, tapi ia menganggap Flower seperti adiknya sendiri.

"Terima kasih, Flo. Terima kasih sudah menyempatkan hadir dan terima kasih juga atas doanya." Amanda tertawa saat Flower malah tertawa.

"Aku pulang dulu, Kak!" pamitnya.

"Arman yang antar? Mau?" tanya Amanda sengaja menggoda gadis yang sedang tersipu itu.

Flower menggeleng. "Dia sibuk mengangkat piring kotor, Kak!" Flower menutup mulutnya karena merasa geli dengan ucapannya sendiri.

Mana mungkin Arman melakukan hal itu. Bukankah mereka sudah membayar orang untuk melakukannya?

Sementara itu, Arman melihat dari tempatnya berdiri, kakak dan sahabatnya terlihat seperti saudara.

"Kapan akan melamar, Flo?" pertanyaan Marcel membuat Arman menoleh ke arah pria seusia ayahnya itu.

"Ma-maksud, Om?" tanyanya gugup.

Marcel tertawa saat istrinya mencubit perutnya. "Hanya bercanda, Ma," ucap pria itu pada istrinya.

Arman bisa mendengarnya. Ia tahu, papanya Flower itu tidak mungkin sedang bercanda.

"Om gak akan menjodohkan dia dengan siapapun," bisik Marcel seperti angin segar baginya.

Sepasang suami istri itu segera pergi saat Flower sudah turun dari pelaminan. Sementara Arman sedang merasa bahagia. Apakah ini pertanda restu untuknya?

"Setelah wisuda, Om!" ucap Arman tegas.

Marcel berbalik dan mengacungkan jempolnya. "Om tunggu!" ucap Marcel tanpa suara.

1
srietya
trimakasih thor, utk semua karya2 y...
Semangatttt.. d tunggu ya karya berikut y..
srietya
wkwkwk... bisa aja flo
Andi Syafaat
terimakasih thor atas karya karyanya, ditunggu karya yang lain
Andi Syafaat
lanjuuuuut
Andi Syafaat
lanjut
srietya
teman tapi mesra...
gk ada yg nama y sahabatan antara cewek & cowok, salah satu atau keduanya pasti ada hati💕
Andi Syafaat
bukalah matamu justin, kebahagiaan mu ada di Bianca
Andi Syafaat
lanjut👍
srietya
gimana Jen, rasanya d sorakin orang sekampung krn ketauan bo'ong?!?!
malu dongggg... wkwkwkwk
Andi Syafaat
ditunggu lanjutannya
srietya
hohoho.. pesona cowok desa😍
Andi Syafaat
lanjut
Andi Syafaat
minal aidin wal faidzin thor
Andi Syafaat
lanjut👍
Andi Syafaat
makin penasaran tunggu lanjutan ceritanya
srietya
duhhh.. saya jd ikut deg2-an 😔😔
Andi Syafaat
lanjut...
Andi Sayyid
lanjuuuut
王贝瑞: Mampir juga kak ke Biru si ketos bad boy dan Love My Stepbrother 😄
total 1 replies
Andi Sayyid
makin penasaran
Andi Syafaat
lanjut.....
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!