"kenapa kamu setujui mereka angkat rahim aku?" teriak Nindi pada Juna sang suami. Nindi telah menikah dengan idola tampan, yang merupakan aktor terkenal. Ia harus menghadapi kenyataan pahit saat rahimnya di angkat. "Punya rahim ataupun tidak. Kamu tetap istriku" kata Juna. Itu hanya kata-kata penenang yang akhirnya hilang bersamaan tuntutan cucu dari keluarga besarnya. Punya istri simpanan atau jujur menikah untuk yang kedua kalinya adalah pilihan yang harus Juna ambil. Tapi dari kedua pilihan tersebut sama sekali tidak ada yang menguntungkan untuk Nindi. Jadi apakah yang harus juna lakukan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sabana01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
mencari pengganti
Tama baru saja keluar dari tempat kerjanya, ia berjalan menuju parkiran tapi dia sangat kenal dengan seorang perempuan yang ada di halaman kantor.
Perempuan itu tersenyum padanya, Tama memasang wajah tak nyaman melihat kehadirannya.
"Ngapain kesini?" Tanya Tama
"Mau nganterin jaket" kata Jesica menyerahkan sebuah paperbag.
"Kamu bisa titip pake kurir, gak perlu kesini. Hubungan kita seharusnya tak akrab seperti ini" kata Tama menerima paper bag itu meninggalkan Jesica yang tak bisa berbuat apa-apa.
Jesika hanya cemberut melihat kepergian Tama, ia juga sadar bagaimana hubungan keluarga dia dan Tama.
...…..............
"Jes, Lo ikut gak sama kita?" Tanya temannya di telpon.
"Gue lagi males"
"Justru karena lagi males itu makanya kita dugem" jawab temannya.
Jesica berfikir sejenak, ia sudah beberapa hari ini tidak bertemu dengan Tama. Apa lagi sikap Tama yang sangat tak suka padanya membuat Jesica sedih. Tapi entah kenapa dia ingin bertemu pria itu.
Jesica celingak-celinguk mencari seseorang, di dalam diskotik ia sama sekali tidak melihat sosok yang ia cari.
"Ayo minum Jes" ajak temannya.
Jesica menolak gelas yang disuguhkan padanya. Ia tak mau mabuk malam ini, ia mau bertemu Tama.
"Gak mabuk gak seru lo jes, ayo minum" paksa temannya.
Akhirnya Jesica ikut minum karena dipaksa oleh temannya, ia minum sampai mabuk sampai ia tak sadarkan diri.
Jesica terbangun saat ia sudah ada disebuah kamar, kepalanya pusing membuat Jesica memejamkan matanya berulang kali.
Ini bukan kamar kosnya, ini seperti sebuah kamar hotel. Jesica bangun dengan paksa, ia duduk di tempat tidur, memeriksa dirinya membuka selimut yang menutupi tubuhnya. Ia masih menggunakan pakaian lengkap.
Jesica menarik nafas lega, saat melihat ke sekitar kamar. Seseorang terlihat tidur disebuah sofa dengan lengan menutupi wajahnya.
Jesica mengerutkan keningnya mencoba mengingat, dengan siapa dia pulang tadi malam. Tapi tak mampu ia ingat, ia sepertinya familiar dengan sosok yang sedang tidur itu.
Jesica bergerak pelan menuju sofa, benar apa yang ia pikirkan itu adalah seseorang yang ia kenal. Meski hanya melihat wajahnya dari hidung kebawah tapi Jesica yakin kalau itu Tama.
Jesica semakin mendekat, ia ingin melihat wajah Tama dari dekat namun tiba-tiba Tama bergerak dan membuat Jesika kaget ia hampir terjatuh. Reflek tangan tama menariknya dan jesika jatuh ke tubuh Tama yang sedang terbaring.
"Kamu ngapain?" Tanya Tama menatap Jesica yang saat ini berada di atasnya.
"Maaf kak" kata Jessica merasakan jantungnya berdebar hebat. Ia merasa jantungnya rasa mau meloncat keluar.
Jesica segera bangun dan berdiri, Tama ikut bergerak dan bangun. Jesica melihat Tama dari sudut matanya.
"Sudah aku bilang sama kamu untuk jangan mabuk, untung aku yang bawa kamu pulang. Kalau orang lain gimana?" Kata Tama tiba-tiba
Sepertinya jessica paham dengan apa yang sudah terjadi pada dirinya tadi malam. Iya sepertinya mampu berat sehingga pingsan dan dibawa oleh Tama kau hotel ini.
" Maaf kak" jessica merasa bersalah padahal semalam dia niatnya tidak mau mabuk.
"Jangan minta maaf sama aku, apa yang aku katakan untuk kebaikan kamu" kata Tama.
Jessica hanya mengangguk, paham dengan apa yang dikatakan tama.
"Sebaiknya kamu pulang, aku juga akan pulang" kata Tama mengambil jaketnya.
"Tunggu kak" tahan Jesika.
Tama menghentikan aktivitasnya, menatap Jessica sesaat.
"boleh aku traktir kakak makan"
Tama terdiam.
Jesica sesekali melirik Tama yang sedang menikmati makan siangnya, akhirnya ia berhasil mengajak Tama untuk pergi makan siang bersama.
Tama terlihat tampan apa lagi di pandang dari dekat.
"Kenapa?" tanya Tama melihat Jesica memperhatikannya dari tadi.
Jesica menggeleng, Kemudian memakan nasi di piringnya.
Saat jesica Menikmati makanannya, giliran Tama yang memperhatikan jesica. Sebuah senyuman tipis tanpa diketahui jesica menghiasi wajah Tama.
...****************...
Jadi yu buruan gabung karena kapasitas kami terbatas
Caranya hanya cukup Follow akun saya, maka saya akan undang kalian masuk. Terima Kasih