Bertemu dengan kembali dengan Kaisar adalah suatu kesalahan. Jatuh dalam cinta yang dalam. Mengikat sang Putri dalam dunia Kaisar yang posesif.
“Sekali menjadi milikku maka sampai mati akan menjadi milikku.”
Ucapan Kaisar yang menjadi ancaman untuk semua klan.
Terlahir dari kerajaan Byuni yang memisahkan dari dunia luar, membuat sang Putri tidak dapat mempertahankan cintanya. Karena banyak kehidupan yang akan hancur jika tidak ada kekuatan yang besar melindunginya.
Tugas Byuni melindungi dunia. Melindungi empat klan. Bagaimana bisa ia harus berpaling dari semua itu hanya demi satu cintanya. Terlebih ternyata cinta yang ia miliki, justru mengikatnya. Sang Putri hanya bisa hidup untuknya saja.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yuan La, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
Di istana kerajaan Mabi, sedang berlangsung sebuah pertemuan antar kerajaan. Sebagian besar kerajaan Mabi dianggap pihak netral tidak mengikuti urusan sengketa dan perselisihan. Mabi sendiri tidak berniat mengambil tahta kekaisaran.
Terlebih, Fa Ye meski Naga Mabi telah memilihnya sebagai esensi tubuhnya. Namun Fa Ye bukanlah keturunan resmi kerajaan Mabi.
Ayahnya Liu Zhe Han merupakan Jenderal Utama kerajaan Mabi menikahi dengan Ma Xinme, Putri kerajaan Mabi. Meski memiliki darah murni namun yang berhak menduduki kerajaan Mabi adalah anak keturunan Raja bermarga Ma.
Sesuai dengan dekrit kerajaan Mabi, semua Pangeran tidak boleh tinggal di kerajaan utama. Hanya penerus tahta yang berhak menempati istana utama.
Pertemuan itu membicarakan untuk meminimalisir gejolak kerusuhan dan menjalin hubungan dengan daerah perbatasan. Liwey bersama Yuga juga turut hadir.
Tidak ada yang mengetahui jati diri Liwey sebagai Raja Byuni. Mereka yang hadir hanya mengetahui dirinya sebagai utusan kerajaan Byuni.
“Aku dengar Putri Byuni masih belum ditemukan?” Tanya Ma Ryura, pangeran kedua kerajaan Mabi.
“Salam hormat Yang Mulia.” Sapa Yuga dan Liwey bersamaan.
“Aku akan mencoba membantu kerajaan kalian. Dengan banyak orang yang tersebar, bukankah lebih mudah dan cepat ditemukan.”
“Terima kasih Yang Mulia.” Balas Yuga.
“Tidak perlu sungkan. Bagaimanapun dia adalah calon istri dari Ar Yangra. Aku bersedia melakukannya.”
“Hal yang sudah berlalu, berlaku atau tidaknya tergantung pada Putri. Bukankah alasannya melarikan diri karena Pangeran kedua Aruo itu tidak cukup mampu melindungi Putri.” Tatap tajam Liwey yang terlihat kesal. Bahkan Yuga menarik lengan pakaian Liwey.
“Seingatku cukup sulit melindungi seseorang jika menjadi Byu.” Ledek Ryura.
“Tapi tenanglah, Pangeran Yangra sangat bertanggung jawab. Dia pun sedang berupaya mencari Putri. Miliknya akan menjadi miliknya.” Jawab Ryura dingin dan menepuk pundak Liwey dengan kipas tangannya.
“Tahan dirimu. Yang hadir orang petinggi semua.” Sahut Yuga saat Ryura pergi meninggalkan mereka berdua.
Dengan amarah Liwey membalikkan tubuhnya. Ia ingin segera keluar dari tempat itu dan kembali pulang.
“Kau tidak menunggu Kaisar?” Tanya Yuga.
Secara bersamaan Fa Ye melangkah menuju istana barat Mabi, sempat berpapasan dengan Liwey.
“Yang terjadi disini bukanlah urusanku. Tujuanku mencari Yubi.” Jelas Liwey melangkah keluar.
Ia merasa heran kenapa para tetua dan ayahnya mampu bertahan hidup dengan diremehkan. Jika mereka mau, ia bahkan mampu meratakan balai pertemuan itu seorang diri dalam hitungan detik
—————————————————————————
“A Lee lihat. Aku mau itu.” Tunjuk Yubi saat melihat permen kapas.
“Apa kau tidak merasa sudah cukup banyak makan hari ini.”
“Kenapa? Kalau aku gemuk kau tidak akan suka?” Kesal Yubi.
A Lee hanya bisa menuruti semua keinginan Yubi. Hari itu mereka berada di wilayah Utara kerajaan Mabi. Sengaja A Lee membawanya menjauhi wilayah Barat, dan lagi pula di buku undangan terlihat Liwey datang menghadiri pertemuan itu sebagai utusan Byuni.
“A Lee…” Panggil Yubi yang mengunyah permen kapas.
“Mmm…”
“Aku mau itu.” Tunjuk Yubi pada seekor hewan Oxy. Hewan seperti kucing, namun berukuran sangat kecil dan memiliki sayap. Dengan warna beraneka ragam.
A Lee kini berdiri di hadapan Yubi, menghela nafas panjang. Terlihat berat membiarkan seekor binatang ada di dalam kerajaan Yan.
“Terima kasih Yang Mulia.” Ucap Yubi setelah mengecup pipi A Lee dan langsung berlari semangat menuju kandang Oxy.
A Lee sendiri dengan wajah memerah menahan malu dikeramaian wanita itu sangat spontan melakukannya, ia bergegas menyusul Yubi.
Hewan Oxy itu terbang mengelilingi Yubi. Bahkan ada beberapa yang makan permen kapasnya Yubi.
“Mereka senang bertemu denganmu.” Ucap ibu penjual.
“A Lee lihat…” Yubi penuh semangat bermain dengan beberapa Oxy.
“Pilih satu.” Ujar A Lee.
“Hanya satu?”
“Bukankah kau sudah memiliki satu peliharaan ditempat mu. Aku tidak mau berbagi diri mu dengan yang lain lagi.” Bisik A Lee, peliharaan yang dimaksud adalah Rui si serigala.
“Ck… Kau ini. Sudahlah.” Yubi melihat beberapa Oxy dan matanya tertuju pada Oxy yang didalam kandang menatapnya dalam diam.
“Aku mau dia.”
“Aaah… nona maaf. Yang ini tidak dijual. Dia sedikit liar dan kurang bersahabat.” Ujar ibu penjual dan menutup kandangnya dengan kain.
“Tapi… aku tidak merasa seperti itu.”
“Pilihlah yang lain.” Pinta A Lee.
“Apa hanya itu alasan mu tidak bisa menjualnya ?” Tanya Yubi pada ibu penjual.
“Kalau hewan Oxy ini sampai menyakiti pemiliknya akan membuat dagangan ku tidak laku nona. Aku belum sempat menjinakkannya karena ia sangat liar.”
“Tidak apa. Itu tugas ku sebagai pemiliknya nanti. Jual pada ku. Aku akan… Dia akan membayarnya dua kali lipat.” Ucap Yubi menunjuk A Lee, membuat sang Kaisar tak habis pikir.
“Tapi nona…”
Tanpa menunggu aksi penjual, Yubi mengambil kandang tersebut dan membukanya. Mengulurkan tangannya kedalam kandang.
“Nona…”
“Kau akan terluka.” Khawatir A Lee.
“Tenanglah, Byu saja bisa aku taklukan. Tidak mungkin Oxy sekecil ini akan menyakiti ku.” Bisik Yubi.
Terlihat jelas bahwa Oxy berwarna biru ungu tersebut menggeram hendak menggigit Yubi.
“Apa kau mau ikut bersama ku? Aku akan merawatmu.” Ucap Yubi pada Oxy itu.
Perlahan Oxy tersebut terdiam dan terbang keluar menuju tangan Yubi. Mengendus aroma tubuh Yubi dan hinggap diatas kepala sang Putri.
“Nona… dia mau ikut bersamamu. Baru ini aku melihatnya akrab dengan seseorang. Bawalah bawalah dia. Rawat dengan baik.” Terlihat senyum puas ibu penjual.
“Ahaha… Lihat A Lee. Cepat bayar.” Perintah Yubi, “Terima kasih. Semoga mereka semua menemukan tuan yang baik untuk merawatnya.” Harap Yubi melihat semua Oxy itu.
“Apa kau senang?”
“Sangat. Kita akan menamakannya siapa?” Tanya Yubi yang melangkah terlebih dulu didepan A Lee. Mengelus lembut bulu Oxy tersebut di gendongannya.
“Terserah padamu.”
“Mmm… Karena kita sedang di Mabi. Aku beri nama Xima.” Ucap Yubi, “Sekarang nama mu adalah Xima. Bagaimana A Lee apa menurut mu…”
Yubi terdiam saat ia melihat sang Raja Byuni dengan beberapa pengawalnya melintasi jalanan tersebut. Jauh dibelakang A Lee. Sang Kaisar yang menyadari hal tersebut tanpa menoleh kebelakang segera menarik tubuh Yubi dengan ilmu pemindahan tubuh, bersembunyi disalah satu jalan kecil.
Yubi dapat mendengar derap kuda klan Byuni mendekati persembunyiannya. Jantungnya berdebar hebat. Ia sangat cemas.
“Apa kau takut?” Tanya A Lee lembut.
Yubi mengangkat wajahnya menatap A Lee. Tubuh mereka saling berdesakan terhimpit diantara tumpukan barang dan lemari pedagang. Sungguh aroma tubuh A Lee dapat menenangkan Yubi.
A Lee melihat sorot mata Yubi yang berpendar abu. Wanita dihadapannya bersembunyi didalam dekapannya. Tubuh mungilnya bahkan semakin merapatkan diri ke tubuh sang Kaisar.
“Jika kau ingin menemuinya akan kutemani.” Bisik A Lee.
Yubi perlahan mencoba melihat sang Raja Byuni. Ia bersama Yuga dan dua pengawal pribadi mereka. Tidak ada pasukan.
Terlihat wajah Liwey yang cukup letih. Ia ingin menemui sang Kakak. Tapi tidak dalam kondisinya saat ini.
“Aku ingin pulang.” Sahut pelan Yubi, “Bawa aku pulang ketempatmu.” Pintanya kembali menatap A Lee.
Sempat dirinya tercekat saat Yubi meminta pulang. Namun saat tujuannya adalah kediaman Yan. Segera A Lee melesat membawa Yubi kembali pulang. Tak ingin membuat wanita itu berubah pikiran dan pergi dari sisinya.
...****************...
Malam itu Yubi hanya berdiam diri di halaman depan kamarnya. Tidak nafsu makan hanya menghabiskan waktu bermain dengan Xima.
“Kau bertemu dengan kakakmu?” Tebak Rui saat itu yang duduk di hadapan Yubi.
“Ya…” Lirih Yubi, “Aku bersalah membuatnya khawatir.”
“Kau ingin kembali.”
“Ingin, tapi tidak saat ini.”
“Menurutmu perlukah aku menulis surat untuknya? Mengatakan untuk tidak perlu cemas dan mencariku?” Tanya Yubi.
“Apa menurutmu dia akan mendengarkan ucapanmu?”
Yubi tertunduk lesu, “Tidak. Dia pasti tetap akan mencariku.”
“Tapi setidaknya ia akan tenang.” Balas Rui, “Bagaimana pendapat Kaisar?” Tanya Rui kemudian.”
“Dia menawarkan diri untuk menemui Liwey. Tapi…” Bingunh Yubi.
“Kau khawatir?” Tanya Liwey
“Mereka berdua sangat keras pada pendiriannya. Bagaimana jika dia melarangku berhubungan dengan A Lee?”
“Aku hanya khawatir jika mereka berdua memulai pertengkaran. Liwey sangat mampu untuk menggulingkan sebuah kerajaan.” Lirih Yubi.
Rui bukannya tidak menyadari, meski Liwey memiliki kesabaran yang luas. Sangat dewasa dan lembut. Namun jika dirinya sudah murka, maka mudah baginya untuk membinasakan sebuah wilayah seorang diri. Lawan sebanding untuk Kaisar.
“Jangan cemas. Itu tidak akan terjadi. Saat itu terjadi aku akan memanggil seluruh kelompok serigala untuk menyeret mereka berdua kepegununan tanpa klan.” Sahut Rui menenangkan Yubi dengan candaannya.
Yubi tertawa pelan. Terdengar konyol namun candaan itu entah mengapa menenangkannya.
“Kembalilah ke kamarmu Putri.. Kau perlu istirahat. Besok pagi nona Yira dan nona Naya akan datang berkunjung.”
A Lee dari lorong gelap melihat dan mendengar percakapan mereka berdua. Ada rasa sesak di dadanya saat Yubi beranjak menuju kamarnya. Wanita itu sangat merindukan keluarganya. Rumahnya. Namun semua yang terjadi padanya membuat dirinya terbatas untuk dapat kembali ke kerajaan Byuni.
Selain takut tidak diterima oleh para tetua Byuni, dia juga cemas Byu dalam dirinya akan kembali mengendalikan jiwa dan tubuh Yubi. Bukankah selama ini hanya dengan energi A Lee semua dapat diatasi.
“Kau mendengar semuanya?” Tanya Rui yang saat itu melesat berdiri di belakang A Lee.
“Dia sudah melewati perbatasan. Kembali ke kerajaan Byuni.” Ucap A Lee, yang dimaksud adalah Raja Ni Liwey.
“Pada akhirnya Putri memilih tetap di sisimu, dan meninggalkan kakaknya.”
“Bantu dia untuk menuliskan surat. Aku akan mengirimkannya ke Raja Byuni.” Pinta A Lee.
“Apa kau yakin Yang Mulia?”
“Apa aku pernah menarik ucapanku?”
“Bukan itu maksudku, kau bisa dengar alasan Putri tadi.”
A Lee terdiam lama. Ia sebenarnya juga tidak mengetahui kehebatan yang tersembunyi dari seorang Raja Byuni. Melihat Yubi yang memiliki kemampuan besar bahkan dengan energi kultivasi yang tidak stabil dan cenderung lemah saja ia masih mampu melakukan banyak hal. Tidak menutupi kemungkinan besar jika sang Raja melebihi kemampuan sang Kaisar. Mereka memilih bersembunyi semata untuk menjaga klan Byuni yang tergolong minoritas untuk hidup aman.