Indonesia
NovelToon NovelToon
Kenapa Aku Dibedakan

Kenapa Aku Dibedakan

Status: sedang berlangsung
Genre:Single Mom / Wanita Karir
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: nerissa ningrum

**"Bukankah setiap anak berhak mendapatkan kasih sayang yang sama?"**

Lalu, mengapa aku harus tumbuh dengan luka karena terus-menerus diperlakukan berbeda?

Aku hanya ingin membuktikan bahwa aku mampu berdiri di atas kakiku sendiri. Namun setiap kali selangkah lebih dekat pada impianku, takdir seolah selalu menemukan cara untuk menjatuhkanku. Belum sempat luka itu mengering, petaka lain kembali datang merenggut harapan yang susah payah kubangun.

Saat akhirnya aku memilih berdamai dengan kenyataan dan memberanikan diri membuka hati, hidup kembali mempermainkanku. Semua yang telah kuraih runtuh seketika, memaksaku kembali berdiri di titik awal... seorang diri.

Aku lelah mempertanyakan alasan di balik semua ini.

Apakah karena aku berbeda, maka aku tidak pantas dicintai?

Apakah semua perjuangan, air mata, dan pengorbananku akan berakhir sia-sia?

Ataukah... kehadiranmu adalah jawaban yang selama ini dikirimkan Tuhan untuk mengubah takdirku?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nerissa ningrum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Lelah Untuk Berharap

“Ngomong-ngomong,” kata Rahma lagi, “ulang tahun Nona kan barengan sama pembukaan toko ini?”

Haselyn mengangguk. “Iya.” Sengaja. Ia sengaja memilih tanggal pembukaan toko bertepatan dengan hari ulang tahunnya.

“Aku ingin setiap tahun, saat toko ini merayakan hari jadinya, kita juga merayakan ulang tahunku bersama.” Kalimat itu terdengar ringan. Namun jauh di dalam hatinya, tersimpan luka yang tidak pernah benar-benar sembuh.

Karena hari ulang tahunnya… Tidak pernah benar-benar diingat oleh keluarganya.

Hari ketika ia dilahirkan. Hari ketika ia datang sebagai anggota keluarga baru. Hari yang seolah tidak pernah dianggap penting oleh orang-orang yang seharusnya paling mengingatnya.

“kami pasti akan ikut merayakan ulang tahun nona setiap tahun” ucap kelimanya dengan serempak dan wajah yang tulus membuat Haselyn tersenyum haru karenanya

***

Sekitar pukul delapan malam, Haselyn akhirnya tiba di rumah. Seragam sekolahnya masih melekat di tubuhnya, sedikit kusut setelah seharian beraktivitas.

Baru saja ia melangkah masuk, suara nyaring langsung menyambut kepulangannya.

“Dari mana saja kamu? Jam segini baru pulang!”

Haselyn menghentikan langkah sejenak, lalu menoleh ke arah ibunya, Mayrah Adisti, yang berdiri di ruang tengah dengan wajah penuh kekesalan.

“Dari sekolah,” jawab Haselyn singkat. “Memangnya dari mana lagi?” Tanpa menunggu tanggapan, ia kembali melangkah menuju tangga yang mengarah ke kamarnya di lantai atas.

“Mana ada anak sekolah pulang jam segini!” bentak Mayrah. “Jujur sama Mama, kamu habis dari mana?”

Haselyn berhenti di tengah anak tangga. Ia menoleh perlahan ke arah ibunya. “Bukan urusan Mama.” Jawaban itu terdengar datar.

Anehnya, malam ini ibunya begitu ingin tahu. Padahal selama bertahun-tahun, tidak pernah ada yang benar-benar menanyakan ke mana ia pergi.

Bahkan ketika usianya baru tiga belas tahun, ia pernah pulang pukul sebelas malam karena sepedanya rusak di tengah jalan dan harus dibawa ke bengkel agar bisa dipakai berjualan keesokan harinya.

Tidak ada yang bertanya mengapa ia terlambat. Tidak ada yang mencarinya. Tidak ada yang menunggunya.

“Haselyn!” Suara Mayrah semakin meninggi.

“Apa kamu nggak bisa jawab Mama baik-baik?” Namun, Haselyn hanya kembali melangkah menaiki tangga.

“Sudahlah, Mah,” ujar Mahendra sambil mendekati istrinya. “Tenang dulu.”

“Gimana bisa tenang?” Mayrah menunjuk jam dinding yang menunjukkan pukul delapan malam.

“Lihat itu! Jam segini baru pulang!” Dadanya naik turun menahan emosi.

“Dia selalu membantah ucapan Mama. Selalu bikin Mama kesal. Beda sekali sama Kakaknya, Nisrina. Nisrina itu patuh, nggak pernah bikin Mama marah.” Langkah Haselyn kembali terhenti. Kalimat itu. Kalimat yang sudah terlalu sering ia dengar.

Ia perlahan berbalik menatap ibunya. “Aku dan Kak Nisrina adalah dua pribadi yang berbeda.” Suaranya tetap tenang. “Jadi jangan samakan aku dengan dia.” Di bukannya benci dengan sang kakak, hanya terlalu lelah saja. Lelah selalu di banding-bandingkan.

“Lihat tuh, Yah!” seru Mayrah sambil menunjuk Haselyn. “Anakmu itu!”

Haselyn menatap ibunya tanpa rasa takut. “Aku memang seperti ini.” Tatapannya lurus. “Dan aku nggak akan pernah menjadi Kak Nisrina yang kedua.”

Ia mengucapkannya dengan begitu tenang, tetapi setiap katanya mengandung ketegasan yang tidak bisa digoyahkan. Mereka lahir dari rahim yang sama. Tetapi Haselyn tidak ingin kehilangan dirinya hanya demi memenuhi harapan orang lain.

“Dasar anak pembangkang!” Teriakan Mayrah menggema di seluruh rumah.

Namun, Haselyn kembali melangkah menuju kamarnya, seolah sudah kebal. Entah sudah berapa ribu kali ia mendengar bentakan seperti itu. Yang ia inginkan malam ini hanya mandi, menyelesaikan tugas sekolah, dan tidur beberapa jam sebelum kembali bangun dini hari untuk mengantar pesanan pelanggan.

Di ruang tengah, Mahendra memeluk bahu istrinya. “Sabar, Mah. Kamu tahu sendiri sifat Hasel memang keras.”

Mayrah mengembuskan napas panjang. “Dia dapat dari mana sih sifat keras kepala itu?”

Mahendra tertawa kecil. “Dari kamu.”

Mayrah menoleh. “Dari aku?”

“Iya.” Mahendra tersenyum.

“Kamu lupa waktu muda dulu? Kamu juga keras kepala, nggak suka diatur, dan selalu melakukan apa yang kamu anggap benar biarpun orang tuamu selalu menegurmu.”

Mayrah terdiam. “Begitu ya?”

Mahendra mengangguk. “Hasel sangat mirip sama kamu.”

Ia menatap ke arah tangga tempat putri bungsunya menghilang. “Dia anakmu, Mah. Anak kita.”

Wajah Mayrah perlahan melembut. “Sebenarnya Mama sayang sekali sama Hasel.”

Suaranya mulai bergetar. “Tapi sifatnya itu yang bikin Mama lebih sering marah daripada bicara baik-baik.”

Ia menundukkan kepala. “Setiap kali dia menjawab, entah kenapa Mama selalu terpancing emosi.”

Mahendra memeluk istrinya lebih erat. “Kita doakan saja semoga suatu hari nanti Hasel bisa berubah.”

Mayrah mengangguk pelan. “Iya…” Tatapannya masih tertuju ke arah lantai atas. “Semoga.”

Namun, mereka tidak pernah menyadari satu hal. Haselyn memang tidak berubah. Karena sejak kecil, ia belajar bahwa tidak ada seorang pun yang akan memperjuangkan hidupnya selain dirinya sendiri.

Dan seorang anak yang terlalu sering dibiarkan menghadapi dunia sendirian, pada akhirnya akan tumbuh menjadi seseorang yang terlihat keras, padahal hanya sedang berusaha bertahan.

***

Hari kelulusan Haselyn akhirnya tiba.

Di antara ratusan siswa yang memenuhi aula megah sekolah elit itu, nama Haselyn Afrasya dipanggil sebagai lulusan terbaik. Nilainya menjadi yang tertinggi di angkatannya, dan ia berhasil diterima di universitas impian di luar negeri—kampus yang telah ia incar selama bertahun-tahun. Sebuah mimpi yang ia perjuangkan dengan kerja keras, begadang, dan pengorbanan yang tak pernah diketahui siapa pun.

Semua orang berdiri memberikan tepuk tangan. Guru-guru memujinya, teman-temannya mengucapkan selamat, bahkan beberapa orang tua siswa ikut merasa bangga melihat pencapaiannya.

Namun, di tengah riuhnya perayaan itu, tak ada satu pun anggota keluarganya yang hadir. Bukan karena mereka berhalangan. Mereka bahkan tidak tahu. Atau mungkin, lebih tepatnya, tidak pernah benar-benar peduli.

Haselyn sengaja tidak menceritakan apa pun tentang prestasi yang ia raih. Bukan karena ia tidak ingin berbagi kebahagiaan, melainkan karena ia sudah terlalu sering belajar bahwa kebahagiaannya tidak pernah menjadi sesuatu yang penting di rumah itu.

Ia masih mengingat dengan jelas hari ketika ia pulang membawa piala dan piagam penghargaan dari ajang perlombaan tingkat provinsi. Dengan wajah penuh harapan, ia bercerita kepada kedua orang tuanya, berharap setidaknya mereka akan tersenyum bangga. Tapi yang ia terima justru tatapan tergesa dan jawaban seadanya.

Saat itu, seluruh perhatian keluarga tertuju pada Nisrina, kakak sulungnya, yang sedang mempersiapkan pendaftaran kuliah di Singapura. Semua tenaga, waktu, dan dukungan keluarga diberikan untuk membantu Nisrina masuk ke universitas favorit yang diimpikannya.

Prestasi Haselyn hanya menjadi cerita yang lewat begitu saja. Sejak hari itu, Haselyn berhenti berharap. Kekecewaan yang terus menumpuk membuatnya memilih diam. Ia tidak memberi tahu siapa pun tentang acara kelulusannya, sehingga tak seorang pun dari keluarganya datang ke sekolah.

Padahal sekolah itu mengadakan perayaan kelulusan dengan begitu meriah. Aula dihiasi rangkaian bunga, lampu-lampu kristal memantulkan cahaya hangat, dan para tamu undangan memenuhi setiap sudut ruangan. Sebagian besar siswa berasal dari keluarga terpandang, anak-anak para pengusaha, pejabat, dan tokoh berpengaruh.

Sementara Haselyn berdiri di sana seorang diri. Ia bisa berada di sekolah itu bukan karena kekayaan keluarganya, melainkan karena beasiswa yang ia perjuangkan dengan susah payah. Setiap langkah yang membawanya sampai di titik ini adalah hasil dari kerja kerasnya sendiri.

Sebenarnya, Haselyn tidak memberi tahu keluarganya bukan semata-mata karena rasa kecewa. Ia memang sudah tidak berniat menceritakannya. Lagipula, hari kelulusannya bertepatan dengan kepulangan kakak keduanya yang sedang libur semester. Ia tahu, seperti biasa, rumah akan dipenuhi kesibukan menyambut sang kakak. Kehadirannya hanya akan menjadi pelengkap yang mudah dilupakan.

Dengan langkah pelan, Haselyn keluar dari gerbang sekolah sambil memeluk map berisi piagam penghargaan. Angin sore berembus pelan, menggoyangkan pita kelulusan yang masih tergantung di lehernya.

Ia menatap piagam itu lama. Senyum tipis yang sedari tadi dipaksanya perlahan menghilang. “Buat apa sebenarnya semua ini?” gumamnya lirih.

Suara itu nyaris tenggelam bersama keramaian di belakangnya. Untuk pertama kalinya di hari yang seharusnya menjadi hari paling membahagiakan dalam hidupnya, Haselyn merasa kemenangan bisa terasa begitu sepi.

1
Novansyah
bagus kk tapi kalau bisa update jangan cuma 1 bab kk kalau bisa sekali update 4 sampai 5 bab
anggita
dukung like👍, iklan☝saja.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!