Indonesia
NovelToon NovelToon
Semar Mesem

Semar Mesem

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / Balas Dendam
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: Dhatu Lukita

Di dalam kamar kosnya yang sunyi, ia membuka kitab kuno peninggalan buyutnya, Ki Sarowang Prawangsa, seorang dukun legendaris yang konon menguasai ilmu-ilmu pengasihan paling berbahaya. Demi membuat Irawan kembali kepadanya sekaligus merasakan penderitaan yang sama, Lusi menjalani ritual Semar Mesem, dilanjutkan dengan puasa mutih dan Pati Geni—ritual yang dipercaya mampu mengikat hati seseorang, tetapi juga menjadikannya budak

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dhatu Lukita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

30

Rumah Keluarga Irawan. Tiga hari setelah kunjungan ke Gunung Kawi.

Ratna duduk di meja makan, menatap sepiring nasi goreng seafood yang baru saja dihangatkan. Tidak ada selera. Sudah tiga hari ia dan Hartono mencoba mendekati Irawan, mencoba mendapatkan apa yang diminta Ki Banespati. Dan selama tiga hari itu pula, mereka gagal total.

Irawan tidak mau keluar kamar kecuali untuk ke kamar mandi.

Ia tidak mau makan bersama. Ia tidak mau bicara. Ia hanya berbaring di kasurnya, menatap ponsel, menunggu balasan dari Lusi yang tidak pernah datang.

"Gimana, Ma?" Hartono masuk ke ruang makan, membawa ponsel di telinganya. "Tadi aku telpon kantor, bilang nggak masuk. Kita harus cari cara."

Ratna menggeleng. "Dia nggak mau deket-deket aku, Pa. Tiap aku masuk kamar, dia langsung pura-pura tidur. Ponselnya nggak pernah lepas dari tangannya."

"Apa kita harus jujur aja? Bilang kalau dia kena pelet, terus minta dia bantu kita?"

"Jujur gimana? Dia aja nggak sadar kalau dia kena pelet. Dia pikir dia beneran jatuh cinta." Ratna mengusap wajahnya. "Dan itu yang bikin susah."

Mereka berdua terdiam. Suasana rumah terasa mencekam. Televisi menyala tanpa suara, menampilkan berita kriminal yang tidak mereka tonton. Jam dinding berdetak pelan, menghitung waktu yang terus berjalan.

Tiba-tiba, suara langkah kaki di tangga.

Mereka langsung menoleh. Irawan turun. Kali ini ia tidak memakai kaos kusut ia memakai jaket jeans, celana jeans, dan sepatu. Rambutnya disisir. Wajahnya masih pucat, tapi ada semangat aneh di matanya.

"Awan? Mau ke mana, Nak?" tanya Ratna, kaget.

"Ketemu Lusi."

"Jam segini? Ini udah jam sembilan malem."

"Dia baru bales chat gue. Dia minta ditemenin makan di angkringan deket kost-nya." Irawan tersenyum senyum pertama yang tidak aneh dalam beberapa hari. "Aku nggak boleh telat. Dia nunggu."

Ratna menatap suaminya. Hartono mengangguk pelan. Ini kesempatan.

"Wan, bentar." Hartono berdiri. "Papa anterin."

Irawan menggeleng. "Nggak usah, Pa. Aku bawa motor sendiri."

"Motor kamu udah berdebu. Udah lama nggak dipanasin. Papa anterin aja. Sekalian Mama mau beli sesuatu di daerah sana." Hartono meraih kunci mobilnya. "Sekalian, abis kamu ketemu Lusi... ajak dia ke rumah."

Irawan mengerutkan dahinya. "Ngapain ke rumah?"

"Papa sama Mama mau kenalan. Sekalian masak-masak. Kamu kan belum pernah ngajak Lusi ke rumah, kan?"

Ekspresi Irawan berubah. Dari semangat menjadi... ragu. "Nggak... nggak perlu, Pa. Lusi kan pemalu."

"Pemalu gimana? Katanya pacar kamu. Masa nggak mau diajak ketemu orang tua?"

Ratna ikut berdiri. "Iya, Wan. Mama pengen banget ketemu Lusi. Pengen liat, cewek kayak apa yang bisa bikin anak Mama segini sayangnya."

Ada tekanan di suara Ratna. Irawan merasakannya, tapi ia tidak bisa menolak. "Ya... ya udah. Tapi nanti aku tanya Lusi dulu."

"Oke." Hartono tersenyum tipis. "Ayo, berangkat."

Angkringan dekat kost Lusi.

Angkringan Lik Man tidak pernah sepi. Di bawah tenda biru yang sudah kusam, beberapa orang duduk di bangku kayu panjang, menikmati nasi kucing, sate usus, dan wedang jahe hangat. Lampu minyak tanah di atas meja menciptakan cahaya temaram yang khas.

Lusi duduk di ujung bangku. Di depannya, segelas wedang jahe yang masih mengepul. Ia sudah membalas pesan Irawan sore tadi bukan karena kangen, bukan karena butuh ditemani. Tapi karena ia tahu, malam ini, ia harus mengendalikan Irawan lebih kuat lagi.

Mantra pengunci sudah berjalan. Tapi Lusi merasa, ada yang tidak beres.

Sejak beberapa hari terakhir, ia merasakan gelagat aneh. Irawan masih patuh, masih terikat, tapi ada... getaran. Getaran energi asing yang mencoba masuk ke dalam ikatan mereka. Energi yang tidak berasal dari dirinya, tidak berasal dari Irawan, dan tidak berasal dari siapapun yang ia kenal.

Ada yang sedang mencoba merusak mantranya.

Lusi tidak tahu siapa. Tapi instingnya insting yang kini lebih tajam setelah ritual, mengatakan bahwa ancaman itu nyata.

"Lus!"

Irawan datang. Ia berjalan cepat dari arah parkiran, wajahnya berseri-seri. Di belakangnya, Lusi bisa melihat sebuah sedan hitam parkir di sisi jalan. Kacanya gelap, tapi Lusi bisa merasakan ada sepasang mata yang sedang menatapnya dari dalam.

Orang tua Irawan.

Lusi menyadarinya.

"Lus, maaf telat. Tadi gue mampir dulu beli ini." Irawan duduk di samping Lusi, menyodorkan sekantong tempe goreng. "Kesukaan lo kan? Masih anget."

Lusi mengambil kantong itu, tapi matanya tetap menatap sedan hitam di kejauhan. "Itu siapa, Wan?"

Irawan menoleh. "Oh, itu Papa sama Mama gue. Mereka yang anterin. Soalnya motor gue udah lama nggak dipanasin."

"Mereka ke sini?"

"Iya. Mereka mau kenalan sama lo."

Lusi menegang. Kenalan? Bukan ini yang ia rencanakan.

"Lus, gue boleh jujur nggak?" Irawan menunduk, jemarinya saling bertautan. "Beberapa hari ini gue... gue nggak enak badan. Nggak bisa tidur, nggak bisa makan. Papa sama Mama khawatir. Mereka pikir gue lagi sakit."

"Terus?"

"Terus mereka nanya siapa pacar gue sekarang. Gue cerita soal lo. Mereka... mereka pengen ketemu lo. Biar tenang. Biar nggak khawatir lagi." Irawan menatap Lusi dengan mata yang memohon. "Lo mau kan, Lus? Ketemu mereka? Sebentar aja. Cuma makan malam di rumah. Besok atau lusa."

Lusi menatap Irawan lama. Di balik kepatuhan yang hampir mutlak itu, ia bisa melihat sesuatu yang lain. Sesuatu yang mencoba melawan. Sesuatu yang mencoba... memintanya.

Orang tua Irawan. Mereka bukan sekadar khawatir. Mereka punya rencana.

Mungkin ini jebakan.

Tapi Lusi tersenyum. Senyum yang penuh perhitungan.

"Boleh, Wan. Aku mau ketemu orang tua kamu."

Wajah Irawan langsung berbinar. "Beneran?! Ah, gue seneng banget! Makasih, Lus! Makasih!"

Ia meraih tangan Lusi, menggenggamnya erat. Lusi membiarkannya.

Kalau kalian mau main, aku siap, batinnya. Tapi kalian nggak tahu siapa yang kalian hadapi.

Rumah Keluarga Irawan. Dua hari kemudian. Pukul 19.00.

Malam itu, Lusi berdiri di depan gerbang rumah Irawan.

Rumah itu lebih megah dari yang ia bayangkan. Pagar besi hitam yang tinggi, halaman luas dengan rumput yang terawat rapi, lampu-lampu taman yang menyala hangat. Di dalam, lampu kristal berkilauan dari balik jendela kaca besar.

Irawan berdiri di sampingnya, menggenggam tangan Lusi erat-erat. "Gugup ya?"

"Nggak."

"Tenang aja. Mama sama Papa baik kok. Mereka cuma pengen kenalan." Irawan tersenyum. "Oh iya, nanti jangan kaget ya kalau Mama agak... over. Dia emang gitu."

Gerbang terbuka. Mereka masuk.

Hartono dan Ratna sudah menunggu di ruang tamu. Hartono duduk di sofa, memakai kemeja batik rapi. Ratna di sebelahnya, memakai dress bermotif bunga. Di meja, aneka kue dan minuman sudah tersaji.

"Lusi!" Ratna bangkit, tersenyum lebar. "Akhirnya ketemu juga. Awan udah sering banget cerita soal kamu."

Lusi menatap perempuan itu. Senyumnya manis di permukaan, tapi Lusi bisa melihatnya energi di balik senyum itu. Energi ketakutan. Energi kecurigaan. Energi permusuhan.

[BERSAMBUNG…]

1
Asphia fia
sebenarnya ini di Yogyakarta apa Surabaya Thor???
oh ya si Lusi ngeri ya TDK memanusiakan orang
Dhatu Lukita: di Surabaya kak,
total 1 replies
Asphia fia
ko blk Surabaya Thor katanya hidup di Yogjakarta
Wawan
Waduh angkringan ? 🤭
Wawan
/Rose//Rose/ untukmu Thor 💪✍️
Wawan
🤣🤣🤣
Dhatu Lukita
terimakasih 😉💪💪
Wawan
Iklan dan mawar buat mamahnya Irawan yang lagi puyeng 🤭💪✍️
Wawan
Padahal tukang pelet 🤭🤣
Dhatu Lukita: lahyo😄
total 1 replies
Wawan
Kembang buat Lusi 😄
Wawan
Manfaatkan Lus .... 🤣🤣🤣
Wawan
iklan buat mu Thor ✍️
Wawan
2 mawar buatmu Thor ✍️
Wawan
Zombie 🤣
Wawan
Iklan dan mawar buat Semar mendem 🤣🤣🤣
Wawan
Cepat pulih Thor 👍✍️
Dhatu Lukita: terimakasih ❤️
total 1 replies
Dhatu Lukita
Halo, semuanya! 🥰

Maaf ya, akhir-akhir ini author sedang kurang fit dan lagi drop, jadi belum bisa mengunggah bab selanjutnya. Mohon maaf sebesar-besarnya karena sudah membuat kalian menunggu. 🙏

Terima kasih banyak untuk teman-teman yang masih setia membaca, memberikan dukungan, dan sabar menunggu kelanjutannya. Semoga author bisa segera pulih dan kembali update secepatnya.

Terima kasih atas pengertian dan doa kalian. Semoga selalu sehat dan bahagia. ❤️
Wawan
Wah ngeri 🤭
Dhatu Lukita
semangat aku dewe🤭🫰
Intihan M: 😍.......
total 3 replies
Wawan
Lah kok pakai jilbab 😄🤭
Wawan
iklan dan mawar buat Lusi 😍😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!