Dian meninggal dengan sangat menyedihkan: dikhianati tunangannya sendiri dan saudara tirinya, dihina sebagai wanita miskin pengemis cinta, lalu tewas dalam kecelakaan yang "disengaja". Namun saat membuka mata, ia kembali ke masa 3 tahun lalu—tepat saat ayahnya menawarkan pernikahan kontrak dengan pria paling dingin, misterius, dan ditakuti di kota: Erlan Pratama.
Di kehidupan dulu, Dian menolak tawaran itu dan memilih setia pada tunangannya yang brengsek. Kali ini, Dian tersenyum dingin dan menyetujuinya. Ia pikir ini hanya langkah untuk selamat dari nasib buruk—sampai ia perlahan sadar: pria yang terlihat tidak peduli itu diam-diam melindunginya, menyembunyikan rasa sakit yang sama, dan ternyata sudah mencintainya sejak lama... bahkan di kehidupan sebelumnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ristika Rachma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31: Pengorbanan yang Tak Terduga
Abu sisa gulungan kuno itu masih beterbangan pelan di udara ruangan bawah tanah yang lembap, seolah membawa pergi satu-satunya harapan yang tersisa. Namun serpihan kecil yang tertangkap tanganku masih terasa hangat, tulisan samarnya terus berdenyut seirama dengan detak jantungku: "Satu-satunya cara membatalkan sumpah... adalah dengan memilih pengorbanan yang bukan atas nama kewajiban, melainkan atas nama cinta yang tulus." Kalimat itu terus berputar di benakku, mengajakku merenungkan setiap makna yang tersembunyi di baliknya. Sumpah kuno itu dibuat karena ketakutan akan kekuatan yang tak terkendali, namun ia lupa bahwa cinta yang melintasi batas kematian bukanlah pelanggaran—ia adalah bukti bahwa takdir bisa diubah oleh sesuatu yang lebih kuat dari hukum alam sekalipun.
Erlan berdiri tepat di hadapanku, tatapannya kosong namun tangannya yang terulur perlahan bergetar pelan. Di balik tatapan hampa itu, aku tahu jiwanya masih berjuang—terperangkap di antara kesadaran aslinya dan kendali bayangan yang mengaku sebagai bagian dari dirinya sendiri. Sosok bayangan itu berdiri tegak di belakangnya, memancarkan aura kekuasaan yang menyesakkan, sementara Sari tersenyum puas seolah kemenangan sudah ada di genggamannya. Semua kejadian ini bukan kebetulan: dari awal mereka berusaha merusak kepercayaan kami, memisahkan kami, hingga akhirnya menghancurkan bukti yang bisa membebaskan kami. Setiap langkah yang kami ambil ternyata sudah diarahkan menuju titik ini—di mana kami terpaksa memilih antara mematuhi sumpah yang menyakitkan atau menghadapi kehancuran yang lebih besar.
"Serahkan benda itu, Dian," suara sosok bayangan itu bergema berat, membuat dinding batu bergetar pelan. "Perlawananmu hanya akan mempercepat kehancuran dunia yang kau lindungi. Ikuti sumpah yang telah disepakati leluhurmu, dan biarkan semuanya kembali pada tempatnya tanpa keributan yang sia-sia."
"Tidak ada yang kembali pada tempatnya jika itu berarti menghapus perasaan yang nyata," jawabku lantang, meski tanganku gemetar menahan serpihan kertas itu erat. "Kalian bilang sumpah ini demi keseimbangan? Tapi keseimbangan yang dibangun dengan melenyapkan kasih sayang bukanlah keseimbangan sejati. Itu hanyalah ketakutan yang menyamar sebagai aturan mutlak."
Sosok itu tertawa rendah, penuh penghinaan. "Kau mengira perasaanmu mampu mengubah apa yang telah tertulis ribuan tahun silam? Kau hanyalah manusia yang sempat kembali dari kematian—sebuah anomali yang seharusnya sudah diperbaiki sejak lama."
Tiba-tiba Erlan melangkah maju selangkah lagi, jarinya hampir menyentuh tanganku yang memegang benda pusaka. Namun di detik itu juga, air mata jatuh dari sudut matanya yang kosong—air mata yang tak sengaja terjatuh, seolah tubuhnya sendiri menolak apa yang sedang diperintahkan kepadanya. Pemandangan itu menghancurkan pertahanan hatiku sekaligus memberiku kekuatan baru. Jika di dalam dirinya masih ada sisa perasaan itu, berarti ikatan kami belum sepenuhnya putus. Dan itulah kuncinya—bukan pada kekuatan benda pusaka, bukan pada tulisan kuno, melainkan pada ketulusan yang tak tergoyahkan walau di hadapan ancaman maut sekalipun.
Tanpa ragu lagi, aku melepaskan genggamanku pada benda pusaka itu, membiarkannya jatuh ke lantai batu dengan bunyi yang nyaring. Semua mata tertuju padaku, termasuk mata Erlan yang sejenak berkedip bingung. Lalu perlahan aku melangkah mendekat, bukan untuk melawan, melainkan untuk merangkul pinggang Erlan erat-erat, menempelkan dahiku ke dadanya dan berbisik dengan suara yang bergetar namun tegas:
"Aku tidak akan membiarkanmu menjadi bagian dari kegelapan itu. Jika sumpah ini menuntut pengorbanan, maka aku yang akan memberikannya—bukan karena aku terpaksa, tapi karena aku mencintaimu lebih dari apa pun di dunia ini."
Sosok bayangan itu meraung marah saat cahaya lembut mulai memancar dari tubuh kami berdua—bukan cahaya yang menyilaukan, melainkan cahaya hangat yang perlahan menyebar ke seluruh ruangan. Tanda merah di pergelangan tangan Erlan mulai memudar, digantikan oleh kilatan cahaya keemasan yang sama persis dengan cahaya yang pernah kami lihat saat menyatukan benda pusaka di dermaga dulu. Setiap sentuhan, setiap kata yang terucap, setiap detik kebersamaan kami kini menjadi bukti nyata bahwa sumpah yang didasari ketakutan tak mampu mengalahkan cinta yang tulus dan rela berkorban.
"Berhenti!" bentak sosok itu, berusaha meraih kami namun cahaya itu menahannya mundur. "Kau melanggar aturan yang abadi! Dunia akan hancur karenamu!"
"Dunia tidak akan hancur karena cinta," balasku tegas. "Dunia hancur hanya jika tidak ada lagi yang berani mencintai dengan tulus."
Di saat yang sama, Erlan tersentak seolah terbangun dari tidur panjang yang mencekam. Matanya kembali jernih, penuh kasih sayang sekaligus rasa takut yang mendalam saat ia menyadari apa yang baru saja kucoba lakukan. Ia segera merangkulku balik dengan sekuat tenaga, seolah takut aku akan menghilang kapan saja. "Kau gila..." bisiknya parau, mencium puncak kepalaku dengan penuh haru. "Kau benar-benar gila... tapi itulah mengapa kau adalah kuncinya."
Namun kemenangan itu belum utuh. Sari yang sedari tadi diam tiba-tiba bergerak cepat, meraih serpihan kertas yang jatuh ke lantai dan menghancurkannya dengan telapak tangannya hingga menjadi debu halus. "Kau pikir sekadar merangkulnya cukup untuk mengubah segalanya?" serunya histeris. "Sumpah itu bukan sekadar janji lisan! Ia tertanam dalam darah dan jiwa kalian! Dan sekarang... karena kau mencoba melawannya, hukuman itu akan jatuh padamu secara langsung!"
Seketika itu juga, tubuhku terasa disambar ribuan aliran listrik dingin yang menyakitkan. Lututku lemas, napasku tersengal, dan pandanganku mulai kabur. Erlan berteriak namaku, berusaha menahan rasa sakit itu namun ia pun terpental mundur terkena dampak yang sama. Cahaya keemasan tadi perlahan meredup, digantikan oleh bayangan merah yang kembali menguasai ruangan. Sosok bayangan itu tersenyum sinis, mulai bangkit kembali dengan kekuatan yang bahkan lebih dahsyat dari sebelumnya.
"Kau baru saja membuktikan kebenaran yang tak ingin kau dengar," ucapnya dingin. "Cintamu memang kuat... tapi sumpah itu lebih kuat lagi. Dan sekarang, hukuman itu telah jatuh tepat pada dirimu yang memulainya."
Erlan memelukku erat saat aku mulai kehilangan kesadaran, namun di tengah rasa sakit yang menyiksa itu, aku melihat sesuatu yang membuat mataku terbelalak tak percaya. Di balik jubah sosok bayangan itu, terlihat samar sebuah luka kecil yang berdenyut cahaya—persis di tempat yang sama dengan letak hati kami. Dan luka itu... perlahan mulai mengeluarkan cahaya yang sama dengan cahaya yang tadi kami pancarkan.
Apakah sumpah itu sebenarnya tidak bisa dibatalkan, namun bisa dialihkan? Atau apakah sosok bayangan itu sendiri sebenarnya juga terikat oleh sumpah yang sama, dan kini ia mulai merasakan dampak dari apa yang terjadi pada kami? Dan saat pandanganku perlahan gelap, satu pertanyaan terakhir terngiang di benakku: Apakah pengorbanan yang kuberikan tadi justru menjadi kunci yang akan menghancurkan musuh itu dari dalam, atau justru menjadi akhir dari segalanya?