Indonesia
NovelToon NovelToon
Rahasia Rumah Warisan Kakek

Rahasia Rumah Warisan Kakek

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Misteri / Fantasi
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Anastasia

"Apa benar ini rumah yang dimaksud? "
wajah Raisa pucat pasif sambil membawa tasnya di pundaknya.
Raisa beberapa hari lalu mendapatkan warisan dari kakek pihak ayahnya sebuah rumah di pinggir kota, saat berada dirumah dekat hutan itu memang rumah mewah tapi suasananya aneh.
tapi Raisa tidak punya pilihan karena dia juga tidak punya tempat tinggal di kota, daripada dia menjadi tunawisma lebih baik tinggal di rumah hantu itu.
saat tinggal di dalam sana, kejadian aneh terjadi padanya.
dari mulai bayangan manusia hitam, setiap tengah malam.
saat tengah malam, Raisa dikejutkan dengan kenyataan ternyata dirinya hidup dengan makhluk halus dirumah ini dan pemimpin rumah itu adalah makhluk Banaspati bernama Arya.
Dan siapa Arya itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anastasia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 31.Mengatakan kebenaran.

Keheningan yang pekat menyelimuti ruang makan, hanya terdengar suara detak jam dinding yang berirama lambat seakan menghitung setiap detik keraguan yang melanda hati Arya dan Jatmika. Alif masih berlutut dengan kepala tertunduk dalam, napasnya teratur namun penuh kepasrahan, seakan ia tahu bahwa nasibnya kini bergantung sepenuhnya pada keputusan sosok yang baru saja ia tantang dengan kata-kata tajamnya.

Arya meletakkan pisau pengupas buahnya perlahan ke atas piring, suaranya kembali dingin dan datar tanpa sedikit pun tanda goyah. “Alif, dengarkan baik-baik. Urusanmu dengan kelompokmu itu bukan tanggung jawab kami. Setiap orang punya jalan dan takdirnya masing-masing. Dulu, aku tak pernah ikut campur urusan dunia manusia, apalagi perselisihan antar kelompok yang penuh kepura-puraan. Uruslah masalahmu sendiri. Pergilah saat lukamu sudah sembuh sepenuhnya.”

Jatmika di sampingnya ikut mengangguk mantap. “Tuan benar. Menolong orang yang baru saja melontarkan kata-kata tajam pada kita, lalu meminta perlindungan seolah kita adalah pengawal pribadinya... itu bukan kebiasaan kita. Kita tidak tahu apa yang tersembunyi di balik niatmu yang kau sebut permohonan itu. Bisa jadi ini hanyalah jebakan yang kau pasang agar bisa masuk lebih dalam dan mencari celah untuk mencelakai Nona Raisa atau merusak kediaman ini.”

Alif menggeleng kuat, bahunya bergetar menahan rasa putus asa. “Aku tahu aku salah bicara tadi. Aku tahu aku lancang. Tapi percayalah, tak ada tempat lain yang bisa kutuju. Mereka memiliki kekuatan yang tak bisa dilawan manusia biasa. Jika aku kembali sendirian, aku pasti mati. Dan bukan hanya aku... mereka tahu rumah ini ada. Mereka tahu ada sesuatu yang sangat berharga di sini. Jika aku mati, mereka akan datang sendiri untuk mencari apa yang mereka inginkan.”

Kata-kata itu menggantung di udara, namun Arya tetap diam tak bergeming. Raisa yang sedari tadi menyimak dengan tenang akhirnya meletakkan sendoknya perlahan. Ia melirik sekilas ke arah Arya, lalu menatap punggung tegap pria itu yang kini terlihat begitu tak tersentuh.

“Arya,” panggilnya pelan namun tegas. “Kau pernah bilang padaku, kekuatan yang kau miliki bukan untuk ditakuti saja, tapi untuk melindungi apa yang benar dan lemah. Jika kita membiarkan dia pergi dan binasa begitu saja, bukankah sama saja kita membiarkan kejahatan menang? Lagipula, jika apa yang dia katakan benar, maka bahaya itu bukan hanya miliknya, tapi juga milik kita. Tolonglah dia... sekali saja.”

Satu kalimat itu, selembut angin namun seberat batu, seketika meruntuhkan tembok pertahanan hati Arya yang sedemikian kokoh. Perlahan, sorot matanya yang dingin melembut saat menatap wajah gadis itu. Ia menghela napas panjang, lalu mengangguk pelan tanpa kata.

“Baiklah. Demi kau, Raisa,” ucapnya singkat, lalu bangkit berdiri. “Bangun. Ikut kami ke atas. Jatmika, kau ikut.”

Jatmika hanya bisa menggelengkan kepala pelan sambil mengikuti langkah tuannya. Di dalam hatinya ia bergumam 222Dulu, tak ada satu pun permohonan yang bisa mengubah keputusan Tuan Arya. Sekarang... hanya dengan satu kata dari Nona Raisa, ia rela melanggar prinsip yang sudah dipegangnya ratusan tahun lamanya.

Mereka pun berjalan menaiki tangga menuju ruangan pribadi Arya yang luas dan remang. Raisa tak mau tertinggal, ia berjalan tepat di belakang Arya, menatap punggung pria itu dengan penuh rasa ingin tahu sekaligus rasa hormat yang makin dalam. Sesampainya di dalam ruangan yang dindingnya terbuat dari batu alam dan kayu tua yang kokoh, suasana berubah seketika. Alif berdiri tegak di hadapan mereka bertiga, merasakan hawa panas yang perlahan meningkat suhunya.

“Keluar, Raisa,” ucap Arya tiba-tiba. “Apa yang akan terjadi di sini bukanlah hal yang pantas kau lihat. Menilai kebenaran menggunakan api Banaspati sangat mengerikan. Bisa melukai matamu maupun hatimu.”

Raisa menggeleng mantap, matanya berkilat penuh tekad. “Aku tidak mau pergi. Aku ingin tahu siapa sebenarnya Alif. Dan aku ingin mengenal lebih dalam sisi lain dari dirimu, Arya. Bagaimanapun juga, kita adalah keluarga sekarang. Apa yang terjadi padamu atau pada orang yang ada di bawah perlindunganmu, juga menjadi urusanku.”

Belum sempat Arya membalas, Jatmika menjentikkan jarinya. Seketika ruangan itu menyala terang benderang, bukan dari lampu atau lilin, melainkan dari cahaya api kemerahan yang memancar dari udara kosong. Di atas kepala Alif melayani bola api kecil yang menari-nari dengan gerakan yang mengancam.

“Dengar baik-baik, Alif,” ucap Jatmika suaranya bergema memenuhi ruangan. “Api ini adalah cerminan sejati dari kebenaran yang ada di dalam hatimu. Jika kau berbohong sedikit saja, nyala api ini akan turun dan melahapmu menjadi abu dalam sekejap mata. Tak ada senjata, tak ada doa, tak ada lari yang bisa menyelamatkanmu. Katakanlah yang sejujurnya dari lubuk hatimu yang paling dalam.”

Alif menelan ludah, matanya tak lepas dari bola api yang kini terasa makin panas menyengat kulit kepalanya.

“Pertanyaan pertama,” Jatmika memulai dengan tatapan tajam menembus jiwa. “Apakah kau menyukai Nona Raisa? Apakah perasaan itu ada di dalam hatimu?”

Wajah Alif memucat, ia melirik sekilas ke arah Raisa yang menatapnya datar, lalu ke arah Arya yang siap meledak kapan saja. Dengan suara tercekat ia menjawab, “Tidak... aku tidak menyukainya...”

Belum selesai kalimat itu terucap, bola api di atas kepalanya seketika melesat turun hampir menyentuh rambutnya. Alif tersentak mundur, rasa panas yang menyengat membuatnya berteriak kecil. “Benar! Benar aku menyukainya! Aku mengakuinya! Sejak pertama kali melihatnya, aku merasa ada sesuatu yang berbeda... tapi aku sadar aku tak pantas!”

Bola api itu perlahan kembali ke posisi semula, namun ancamannya tak hilang.

Kemarahan Arya meledak seketika. Tanpa menyentuh sedikit pun tubuh Alif, dorongan kekuatan tak kasat mata melesat dan melempar tubuh Alif hingga menabrak dinding batu di belakangnya.

“Beraninya kau!” bentak Arya, matanya menyala merah padam. “Beraninya kau menaruh hati pada Raisa. ”

“ARYA!” seru Raisa cepat, ia segera berlari menghadang di depan Alif yang terjatuh. “Berhenti! Menyukai seseorang itu hak setiap manusia, Arya! Kau tak bisa melarang perasaan orang lain!”

Raisa kemudian menatap tajam ke arah Alif yang masih meringis kesakitan namun menatapnya dengan pandangan yang penuh harap. “Terima kasih karena sudah menyukaiku, Alif. Itu penghargaan yang berharga bagiku. Tapi maaf... aku tidak bisa menerimanya. Hatiku dan hidupku sudah terikat pada rumah ini, pada Arya, pada semua yang ada di sini. Tak ada tempat lagi untuk orang lain. Maafkan aku.”

Kata-kata itu terucap begitu tenang namun tegas, bagai palu godam yang menghantam hati Alif. Tatapan harapnya perlahan pudar digantikan kekecewaan yang mendalam, namun ia tak marah. Ia tahu itu bukan salah siapa-siapa. Kemarahan yang meluap di dada Arya perlahan mereda, digantikan rasa lega yang mendengar keputusan tegas dari mulut Raisa sendiri.

“Baiklah,” ucap Jatmika memecah keheningan yang terasa berat. “Sekarang jawablah pertanyaan sesungguhnya. Mengapa kau kabur dari organisasimu? Apa tujuan sebenarnya mereka menginginkan kediaman ini dan Nona Raisa?”

Alif bangkit perlahan, mengusap darah di sudut bibirnya. Ia menarik napas panjang, lalu berkata jujur dengan suara yang bergetar namun mantap. “Organisasi itu... mereka bukan sekadar kelompok biasa. Mereka memuja kekuatan gelap. Ketua mereka... ia memakan aura dan jiwa orang-orang hanya untuk dirinya yaitu ketua mereka. Dan tujuan mereka adalah mendapatkan inti sakti.”

Arya dan Jatmika saling berpandangan, keduanya tahu betul betapa berbahayanya hal itu. Arya mengeluarkan seutas tali gelang berwarna merah menyala yang berdenyut hangat di tangannya. Ia melemparnya ke arah Alif.

“Pakai ini,” perintahnya singkat. “Gelang ini akan mengukur seberapa besar kekuatanmu, dan sekaligus mengikat jiwamu. Jika kau berkhianat sekecil apa pun, gelang ini akan membakar dirimu sendiri sebelum kau sempat melangkah. Sekarang pergilah. Istirahatlah. Kita akan bicara lagi nanti.”

Alif memegang gelang itu dengan tangan gemetar, lalu memakainya dengan patuh. Ia menunduk hormat, lalu berjalan keluar ruangan dengan langkah gontai.

“Raisa, tolong tinggalkan kami sebentar,” pinta Arya lembut. “Ada hal yang harus kami bicarakan serius tentang ancaman ini.”

Raisa mengangguk pelan, melangkah mundur menuju pintu. “Baiklah. Tapi janji padaku, kalian tidak akan melakukan hal nekat tanpa memberitahuku.”

Setelah Raisa keluar, Arya dan Jatmika segera duduk berhadapan, serius merencanakan langkah menghadapi bahaya yang semakin nyata.

Sementara itu, Raisa berjalan perlahan menuruni tangga. Hatinya bercampur aduk antara rasa iba pada Alif dan rasa syukur karena Arya ada di sisinya. Ia melihat Alif duduk sendirian di kursi ruang tamu, menunduk dalam seakan dunia runtuh di pundaknya. Dengan langkah yang hati-hati, Raisa mendekatinya.

“Alif,” panggilnya pelan. “Katakan padaku... apa sebenarnya Inti Sakti itu? Dan mengapa mereka begitu menginginkannya sampai rela menghancurkan siapa saja yang menghalangi?”

Alif mendongak perlahan, menatap wajah gadis itu yang penuh tanya namun tetap ramah. Ia tahu, sekarang tak ada lagi yang bisa ia sembunyikan. Dan ia berjanji dalam hati, walau tak memiliki hatinya, ia akan berusaha melindunginya dengan nyawanya sendiri sebagai tanda terima kasih dan penghormatan terakhir.

 ​

1
sakura
...
Fatim Zahra
semangat kak, ditunggu ya update nya
vania larasati
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!