Indonesia
NovelToon NovelToon
Cinta Paksa Berujung Bahagia

Cinta Paksa Berujung Bahagia

Status: tamat
Genre:Diam-Diam Cinta / CEO / Sci-Fi / Tamat
Popularitas:9.6k
Nilai: 5
Nama Author: Ketoprak Encok

Di mata publik, Rania hanyalah anak bungsu Keluarga Baskara yang manja, dan menjadi beban keluarga. Semua orang lebih memuja kakaknya, Resti, yang merupakan model sukses. Padahal di balik layar, Rania adalah gadis mandiri yang membangun toko rotinya sendiri dari nol tanpa bantuan siapa pun.Malam pernikahan megah tiba, namun Resti justru kabur ke Prancis demi karier modelnya. Demi menyelamatkan nama baik Keluarga Baskara, Rania dipaksa menjadi pengantin pengganti untuk menikahi Rangga, CEO dingin pewaris Pratama Group.
Rangga murka karena merasa ditipu. Dia mengira Rania adalah gadis manja yang sengaja menjebak kakaknya demi harta. Namun, saat Rangga mulai tahu kemandirian Rania—dan aroma roti buatan Rania justru menyembuhkan penyakit mag kronisnya—sang CEO mulai cemburu buta dan gengsi untuk mengaku bucin.Sanggupkah Rania membungkam mulut semua orang yang dulu meremehkannya?

UP SETIAP HARI JAM 06.00

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ketoprak Encok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31

Siang hari menjelang sore di dalam penthouse mewah milik Rangga Pratama seharusnya menjadi waktu yang tenang. Namun, ketenangan itu hanyalah ilusi semu yang menutupi ketegangan psikologis yang kian hari kian meruncing di antara para penghuninya.

Sinar matahari yang hangat menerobos masuk melalui dinding kaca besar ruang tengah, menyinari hamparan lantai marmer putih yang bersih. Di sana, Resti berdiri dengan balutan gaun santai berjenama desainer ternama, memegang cangkir porselen berisi teh hitam hangat sambil mengawasi sekitar dengan tatapan sinis. Kehadiran Resti di rumah itu telah mengubah atmosfer tempat tinggal yang dulunya elegan menjadi panggung drama kekanak-kanakan yang melelahkan.

Di sisi lain, Rania baru saja melangkah keluar dari area dapur. Wanita itu tampak membawa nampan kecil berisi beberapa dokumen pembukuan toko rotinya yang baru saja ia cetak, bersiap untuk kembali ke ruang kerjanya di lantai atas. Rania bergerak dengan tenang, berusaha menghindar sejauh mungkin dari jangkauan pandangan Resti demi menjaga kedamaian mentalnya yang sudah terkuras habis.

Namun, nasib berkata lain. Ketika Rania berjalan melewati sudut dekat meja konsol ruang tengah, langkah kakinya sedikit bergeser karena ada sehelai kertas laporan yang tak sengaja terkelupas dari tumpukannya dan melayang ke lantai. Tanpa sengaja, tubuh Rania sedikit menyenggol bahu Resti yang berdiri agak menjorok ke tengah jalur koridor.

Prang!

Sentuhan fisik yang tidak sengaja itu membuat cangkir teh porselen di tangan Resti terguncang hebat. Sebagian air teh panas tumpah keluar, menciprat ke atas permukaan lantai marmer dan sedikit membasahi ujung kain gaun mahal milik Resti.

Seketika, suasana yang tenang itu pecah berkeping-keping.

Resti terpekik kaget, melompat kecil ke belakang dengan wajah memerah padam karena amarah yang langsung melonjak hingga ke ubun-ubun. Jiwa ratu drama yang mendominasi dirinya bangkit seketika, melihat insiden kecil itu sebagai kesempatan emas untuk melampiaskan seluruh rasa frustrasi yang ia pendam selama ini kepada Rania.

"Hei! Mata mu ditaruh di mana, hah?!" suara Resti melengking tajam, memecah keheningan penthouse dengan nada penuh kebencian.

Rania menghentikan langkahnya, menarik napas pelan, lalu berbalik badan dengan ekspresi wajah yang tetap tenang. Ia menatap Resti tanpa rasa gentar sedikit pun. "Maaf, aku tidak sengaja. Tadi ada kertas yang jatuh..."

"Tidak sengaja?!" potong Resti dengan nada suara yang semakin meninggi, melangkah maju mendekati Rania dengan dagu terangkat angkuh. Ia menunjuk cipratan air teh di gaunnya dengan gestur dramatis. "Kau lihat bajuku ini?! Ini adalah gaun edisi terbatas yang harganya setara dengan omzet tokomu sebulan! Kau sengaja, kan? Kau sengaja melakukannya karena kau cemburu melihatku tinggal di sini, dasar wanita murahan dan tidak tahu malu!"

Hinaan itu meluncur begitu mulus dari bibir Resti, disertai tatapan merendahkan yang seolah-olah menganggap Rania adalah kotoran di bawah alas kakinya. Resti tidak berhenti di situ; ia mengulurkan tangannya, mendorong bahu Rania dengan kasar menggunakan jari telunjuknya. "Kau pikir karena kau dinikahi secara terpaksa oleh Rangga, kau sudah menjadi Nyonya besar di rumah ini? Sadarlah posisimu! Kau itu cuma pengantin pengganti yang tidak berguna! Kakakmu ini yang seharusnya menjadi pemilik sah tempat ini!"

Rania terdorong sedikit ke belakang akibat dorongan itu, namun ia tetap mempertahankan keseimbangannya. Ia tidak membalas teriakan itu, tidak pula menangis atau menunjukkan ekspresi tersinggung. Rania hanya menatap mata Resti dengan sorot mata yang penuh dengan rasa kasihan yang dingin—sebuah ekspresi yang justru jauh lebih menyulut kemarahan Resti dibandingkan jika Rania membalas berteriak.

"Sudah selesai marahnya?" tanya Rania dengan suara yang tenang, datar, dan sangat dingin. "Kalau bajumu basah, kau punya tangan untuk membersihkannya sendiri. Jangan bertingkah seperti anak kecil yang kehilangan mainannya."

Setelah mengucapkan kalimat telak itu, Rania membalikkan tubuhnya, berniat melanjutkan langkahnya meninggalkan ruang tengah.

Melihat respons acuh tak acuh itu, kesabaran Resti benar-benar hancur total. Dalam kepanikannya dan rasa malunya, Resti kehilangan akal sehat. Ia mengangkat tangannya tinggi-tinggi, berniat melayangkan tamparan keras ke pipi Rania dari arah belakang.

"Kurang ajar sekali mulutmu!" jerit Resti histeris, mengayunkan tangannya cepat.

Namun, sebelum tangan itu sempat menyentuh kulit wajah Rania, sebuah bayangan gelap bergerak dengan kecepatan kilat dari arah koridor utama.

Cengkeraman yang kuat.

Sebuah tangan kokoh tiba-tiba mencengkeram pergelangan tangan Resti di udara secara kasar, menghentikan ayunan tamparan itu seketika sebelum sempat mendarat. Cengkeraman itu begitu erat hingga membuat tulang pergelangan tangan Resti terasa ngilu.

Resti terperanjat kaget. Ia menoleh dengan cepat ke samping, dan darah di wajahnya seketika tersedot habis, meninggalkan rona pucat pasi yang mengerikan.

Di sana, berdiri Rangga Pratama.

Pria itu baru saja melangkah masuk dari pintu utama setelah pulang lebih awal dari kantor pusat untuk mengambil dokumen penting yang tertinggal. Langkah kakinya yang tak bersuara di atas karpet tebal membawanya tepat ke tempat kejadian perkara, menyaksikan seluruh detik-detik saat Resti membentak, menghina, mendorong, hingga mencoba menampar Rania.

Wajah Rangga tidak lagi sekadar dingin. Wajah itu berubah menjadi gelap, kaku, dan memancarkan aura membunuh yang belum pernah disaksikan oleh siapa pun sebelumnya—bahkan oleh para direktur di ruang rapat dewan direksi. Urat-urat di pelipis dan leher Rangga menegang kaku, sementara napasnya memburu berat.

Untuk pertama kalinya dalam hidup Rangga, melihat dan mendengar secara langsung bagaimana wanita dari masa lalunya—wanita yang selama ini ia agungkan—berlaku sekasar itu kepada istrinya, bukan lagi mendatangkan rasa iba atau pemakluman di hatinya. Sebaliknya, sekujur tubuh Rangga mendadak bergidik ngeri.

Sebuah rasa jijik yang teramat sangat merayap naik, menghuru-hara isi perutnya. Rangga merasa jijik pada dirinya sendiri karena pernah begitu memuja wanita yang ternyata memiliki hati sekotor dan sebodoh itu, dan ia merasa jijik menyaksikan betapa kejamnya Resti memperlakukan Rania di rumah mereka sendiri.

Resti, yang merasakan tatapan mematikan itu, menelan ludah dengan susah payah. Suaranya mendadak bergetar hebat, ketakutan mulai merayap di dadanya.

"R-Rangga..." panggil Resti terbata-bata, mencoba memasang kembali wajah memelasnya sambil meringis kesakitan. "Dengarkan aku... bukan itu maksudku. Gadis sialan ini yang lebih dulu mencari masalah denganku. Dia sengaja menyenggolku dan..."

"Cukup, Resti!"

Bentakan itu meluncur dari bibir Rangga. Suaranya tidak melengking tinggi, melainkan diucapkan dengan nada rendah, berat, dan penuh tekanan yang luar biasa besar, menggema dahsyat ke seluruh sudut ruang tengah penthouse. Tekanan suara itu begitu mengintimidasi hingga membuat Resti terdiam membeku seketika, matanya membelalak lebar menatap pria di hadapannya.

Rangga perlahan-lahan menghempaskan pergelangan tangan Resti dari genggamannya dengan kasar, seolah-olah tangan itu adalah benda kotor yang menjijikkan untuk disentuh lebih lama.

Rangga melangkah maju satu langkah, menubrukkan tinggi tubuhnya untuk menatap tajam tepat di bola mata Resti. Suaranya berbisik rendah namun sarat akan ancaman mematikan yang membuat udara di sekitar mereka seolah membeku.

"Aku sudah bersabar selama ini menampungmu di sini, mendengarkan segala rengekan manjamu, dan memaklumi kehadiranmu demi masa lalu," ucap Rangga dengan suara bergetar menahan amarah yang hampir meledak. "Tapi hari ini... di hadapanku sendiri, kau berani membentak istriku, menghinanya dengan kata-kata kotor, bahkan mencoba melayangkan tanganmu untuk menamparnya?"

Rangga mendengus sinis, senyuman penuh kepahitan terukir di bibirnya. "Sekarang aku sadar... betapa bodoh dan butanya aku di masa lalu. Ternyata wanita yang selama ini kusebut sebagai cinta pertamaku tidak lebih dari seorang wanita egois, kejam, dan tidak tahu aturan yang hidup di atas pameran drama murahan."

Deg!

Kata-kata itu meluncur telak, menghantam harga diri Resti bagaikan hantaman palu godam. Selama ini, Rangga tidak pernah berkata kasar kepadanya, apalagi menghinanya separah itu. Air mata Resti langsung tumpah seketika—bukan lagi air mata tiruan atau drama buatan, melainkan air mata nyata yang didorong oleh kepanikan, rasa terkejut, dan kepedihan yang teramat sangat karena menyadari bahwa pria itu benar-benar telah berubah.

"Rangga! Jangan katakan itu!" rintih Resti histeris, suaranya pecah di ambang tangis. Ia mencoba meraih lengan jas Rangga dengan tangan gemetar. "Kau membela dia?! Kau memilih wanita ini daripada aku?! Kau sudah berubah, Rangga! Kau tidak mencintaiku lagi!"

Rangga menepis kasar tangan Resti yang mencoba menyentuhnya, memundurkan langkahnya untuk menghindari kontak fisik sekecil apa pun. Pria itu menatap Resti dengan sorot mata dingin yang dipenuhi rasa jijik yang telak.

"Ya. Aku memang sudah berubah," ucap Rangga tegas tanpa ragu sedikit pun. "Dan perubahan terbesar dalam hidupku adalah menyadari bahwa keberadaanmu di rumah ini adalah sebuah kesalahan besar."

Rangga mengalihkan pandangannya dari Resti. Ia menoleh ke arah Rania yang masih berdiri diam di dekat sudut ruangan, mengamati seluruh drama tersebut dengan sorot mata yang tenang dan tanpa ekspresi. Ada rasa bersalah yang teramat pedih menusuk dada Rangga saat melihat istrinya harus menyaksikan pemandangan memuakkan ini.

Dengan langkah cepat, Rangga mengabaikan tangisan histeris Resti yang mulai menjerit-jerit di tempat, lalu berjalan menghampiri Rania. Pria itu berhenti tepat di hadapan istrinya, merendahkan sedikit suaranya, dan berucap dengan nada penuh penyesalan yang mendalam:

"Rania... maafkan aku," bisik Rangga parau, matanya menatap lekat-lekat manik mata sang istri. "Maafkan aku karena telah membiarkan hal seperti ini terjadi di rumahmu. Masuklah ke kamarmu... aku akan membereskan kekacauan ini sekarang juga."

Rania menatap wajah suaminya sejenak. Tidak ada kemarahan di wajahnya, tidak ada pula kebahagiaan karena melihat Rangga membela dirinya. Yang ada hanyalah kelelahan yang nyata. Dengan anggukan kepala yang sangat pelan dan kaku, Rania membalikkan tubuhnya, melangkah pergi meninggalkan ruang tengah menuju kamarnya di lantai atas, meninggalkan Rangga yang berdiri sendiri di tengah badai amarah dan penyesalan yang membakar sekujur jiwanya.

Jangan lupa like ya😉

1
Ketoprak Encok
maaf aja nih kak, otak aku emang buntu banget, dari bab 27 makanya aku cepetin aja namatin cerita ini. tapi thanks kak udah luangin waktunya buat baca
Forta Wahyuni
koq kacau balau novelnya thor, alurnya simpang siur n apa jiplakan.
fanny tedjo pramono
mampir baca guys
Rian Moontero
lanjuutt,,👍🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!