Indonesia
NovelToon NovelToon
Tenda Biru

Tenda Biru

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Romansa / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati
Popularitas:77.5k
Nilai: 5
Nama Author: IAS

"Aku usaha, kamu juga usaha. Kita sama-sama berusaha demi mewujudkan wedding dream kita."

Demi janji itu, Rhea rela menjadi TKI dan mengubur mimpinya untuk bekerja di perusahaan yang sangat ia inginkan.

Saat pulang, tenda biru justru berdiri di depan rumah Oza. Pria yang sangat ia cintai itu menikahi Trisna, sahabat yang paling ia percaya.

Rhea berlari dengan air mata berurai, ketika ia memutuskan mengakhiri hidupnya, seseorang menahan tubuhnya dan menariknya.

"Jangan bertindak bodoh. Jangan hanya karena manusia, kamu rela memberikan nyawa."

Sejak hari itu, takdirnya berubah. Akankah pengkhianatan itu menjadi akhir hidupnya, atau awal dari kebahagiaan yang tak pernah ia bayangkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tenda Biru 05

"Ya Allah."

Rhea terbangun pada dini hari, tepatnya pada pukul 03.00. Ia berjalan gontai ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu. Dibentangkannya sajadah, dipakainya mukena, lalu kedua tangannya diangkat seraya mengucapkan takbiratul ikram.

Gadis itu manahan air mata yang selalu akan keluar setiap kali melantunkan bacaan sholat. Berkali-kali Rhea gagal bahkan saat di awal sholatnya. Namun ia terus mencoba hingga akhirnya dua rakaat bisa diselesaikan tanpa air mata.

Akan tetapi saat dirinya bersimpuh dan kedua tangannya menengadah, air mata itu tak lagi bisa terbendung. Ia tergugu dan nafasnya menjadi begitu sesaknya.

"Kenapa aku, Ya Allah. Apa salahku sampai-sampai mereka melakukan ini padaku. Astagfirullah," lirihnya.

Rhea menekan dadanya sendiri. Ia juga mencoba memukulnya dengan keras berharap ganjalan yang ada di sana luruh lalu hilang.

Namun percuma, semakin deras tangisnya, maka dadanya semakin sesak dan ganjalan itu juga semakin besar.

Bayangan tentang senyum Oza dan Trisna di pelaminan dengan tenda berwarna biru itu menari di pelupuk matanya. Rhea mengusap matanya dengan keras bekali-kali berharap bayangan itu akan hilang, tapi percuma.

"Ya Allah ... ," ucapnya.

Rhea mengambil nafasnya dalam-dalam dan membuangnya perlahan. Ia lalu merapikan kembali mukena dan sajadahnya.

Saat mengembalikan alat sholatnya ke atas nakas, mata Rhea tertuju pada foto yang ada disana. Foto itu adalah gambar dirinya dan Oza saat acara pertunangan.

Di dalam foto itu, wajah Rhea dan Oza nampak sumringah sambil menunjukkan cincin pertunangan mereka. Balutan kebaya warna baby blue, serasi dengan batik biru yang dikenakan oleh Oza.

Rhea mengambil foto tersebut lalu mengusapnya dengan lembut.

"Dulu kamu kelihatan sangat mencintaiku, Za. Tapi kenapa kamu tega banget khianati aku kayak gini? Apa salahku ke kamu, Oza Mediawan?"

Rhea mengamati wajah Oza secara seksama. Tak pernah terbayangkan pria yang berkata cinta padanya dan melamarnya waktu itu ternyata malah menikahi sahabatnya sendiri tanpa pemberitahuan apapun. Ya, tanpa undangan, tanpa kata-kata, dan hanya Tenda Biru yang jadi bukti sebuah pengkhianatan.

Mata Rhea beralih, dari foto ke cincin pertunangan yang masih melingkar di jari manisnya sebelah kiri. Dia memutar cincin itu, kenangan indah saat Oza melamarnya, masih terngiang jelas di kepalanya.

"Rhea Liharika, maukah engkau menjadi separuh hatiku sampai diujung hidupku?"

Lamaran manis tersebut sama sekali tanpa rencana. Saat itu Rhea sedang libur bekerja paruh waktu. Oza tiba-tiba mengajaknya pergi menikmati sunset di pantai.

Rhea tercengang ketika Oza berlutut di depannya sambil menunjukkan sebuah cincin. Kebersamaan mereka tergolong belum lama, tapi Rhea menyadari bahwa Oza tulus terhadapnya.

Kehilangan kata-katanya Rhea hanya mampu menganggukkan kepala. Tanda dia setuju atas lamaran Oza.

Dua minggu setelah lamaran di pantai, Oza bersama keluarganya datang untuk melamar secara resmi.

Mengingat kejadian itu, Rhea menaikkan satu bibirnya. Gadis itu hanya bisa tersenyum kecut.

"Kamu terlihat sangat mencintaiku waktu itu, tapi senyumanmu di atas pelaminan kepada Trisna, juga tampak sangat mencintainya. Sebenarnya selama ini, kamu menganggap hubungan kita ini apa?"

Rhea kesal karena air matanya kembali luruh. Dadanya begitu nyeri, sehingga ia memilih duduk di sisi ranjang setelah meletakkan kembali bingkai foto itu secara terbalik.

hiks

Tangis Rhea terdengar begitu menyesakkan dada di telinga sang kakak ipar. Lavia yang ada di depan kamar dan hendak mengetuk pintu, memilih urung dan mundur lagi.

Sakit yang tak berdarah sungguh lebih menyakitkan ketimbang luka yang menganga.

Lavia membiarkan Rhea meluapkan semua perasaannya. Meski demikian dia tetap waspada. Niat mengakhiri hidup yang Rhea lakukan kemarin cukup membuat ia dan Radit sangat ketakutan.

"Mbak," kata Rhea

"Eh Rhe, kamu udah bangun?" sahut Lavia. Ia langsung membalikkan tubuhnya saat Rhea memanggilnya. Dia yang tengah fokus dengan pemikirannya membuat tak menyadari langkah Rhea yang mendekat.

"Iya, aku udah bangun dari tadi kok," ucap Rhea pelan.

Mata Rhea terlihat sembab, bahkan wajahnya juga sedikit bengkak. Tapi gadis itu mencoba untuk tersenyum.

Lavia pun juga tersenyum kecil. Dia tak akan mengungkit tentang apa yang dirasakan Rhea. Saat ini cukup bertindak secara wajar, seperti biasanya.

Namun dada Lavia terasa sesak ketika melihat cincin tunangan itu masih melingkar di jari Rhea.

"Dia masih belum bisa melepaskannya," ucap Lavia dalam hati.

Lavia membalikkan tubuhnya. Dia mengambilkan air hangat untuk adik iparnya,

"Minum dulu Rhe, ah ya kamu mau sarapan apa?"

"Makasih Mbak, aku nggak pengen makan," jawab Rhea cepat lalu menenggak air putih hangat yang baru saja disajikan.

Mata Rhea terlihat kosong saat ini. Ponsel yang ia bahwa tadi, hanya diletakkan diujung meja. Beberapa kali ponsel itu berbunyi, entah notifikasi pesan, media sosial, bahkan dering panggilan, namun Rhea bergeming dan hanya meliriknya sepintas.

"Apa kamu nggak mau memeriksanya, Rhe?" tanya Lavia sambil melirik sepintas ke arah ponsel Rhea yang terus berdering itu.

Rhea hanya menjawab dengan gelengan kepala. Lavia menghela nafasnya pelan, dia beranjak dari duduknya lalu memeluk sang adik ipar.

"Nggak apa-apa, nggak perlu dilihat," ucap Lavia sembari menepuk lengan Rhea.

"Mereka pasti pada nanya, Mbak. Mereka pasti pada pengen tanya kenapa Oza nikahnya nggak sama aku tapi malah sama Trisna. Aku, aku ngerasa malu Mbak. Aku udah gembar-gembor bakalan nikah sama Oza. Tapi ternyata ... ."

Sttttt

Lavia memeluk Rhea dengan erat. Dia tak lagi ingin Rhea berbicara. Meski demikian, hati Lavia tetap saja terbakar tentang Oza yang tiba-tiba menikah dengan Trisna. Otaknya tidak bisa mencerna kenapa hal itu bisa terjadi.

Sedangkan di waktu yang sama namun tempat yang berbeda, kamar pengantin pada rumah baru yang baru saja ditempati, sepasang pengantin baru tengah melakukan aktivitasnya masing-masing.

Trisna, wanita yang paling berbahagia kemarin sedang menatap layar ponselnya. Ia duduk di depan cermin. Keningnya berkerut, jarinya berkali-kali mengetuk pipinya sendiri.

"Mas, apa jangan upload semua dulu aja ya?" tanya Trisna.

Wanita itu mengalihkan matanya dari ponsel ke arah Oza yang baru saja keluar dari kamar mandi. Trisna juga menggeser sedikit tubuhnya agar sepenuhnya menghadap ke arah suaminya.

"Kenapa? Lakukan aja," jawab Oza singkat sambil mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk.

"Tapi, gimana kalau Rhea tahu?" tanya Trisna. Ia menatap ke arah Reza lurus namun tangannya menggenggam ponsel dengan erat .

"Bagus, biar dia tahu kalau semuanya memang udah selesai," jawab Oza cepat. Pria itu lalu melenggang menuju ke koper yang ada di sudut kamar, mengambil baju ganti dan segera memakainya.

Wajah Oza terlihat datar, tanpa ekspresi apapun.

Sedangkan Trisna mengangguk paham. Ia lantas mengunggah semua foto pernikahan mereka kemarin. Namun tangannya berhenti, ia kembali melihat ke arah Oza.

"Terus kalau dia kenapa-napa, gimana?" ucap Trisna tiba-tiba. Wajahnya mendadak cemas, pikirannya melambung kemana-mana.

Oza terdiam sejenak, tangannya yang tengah mengambil baju terhenti. Matanya juga terpejam beberapa detik.

"Bukan urusan ku," ucapnya lantang

Oza lalu mengambil baju dari tempatnya. Ia menatap Trisna dengan tatapan yang biasa saja. Pria itu lantas mengenakan pakaiannya dengan cepat, meminum kopi yang baru saja dibuat oleh Trisna, sambil menatap pemandangan taman di sisi rumah.

"Nggak hanya sampai sini."

TBC

1
Esther
yah unboxing di kantor ini....awas gak bisa jalan nanti Rhea😄
dewi rofiqoh
Mimik cucu dulu ah dedek🤣🤣
Mariee__shiitie___🍒🍒🍒🍒
tanggung jawab ka pada penasaran nih
Mariee__shiitie___🍒🍒🍒🍒
wiiihhh dah ad sinyal lampu ijo
Mariee__shiitie___🍒🍒🍒🍒
heeeyyyy nayaka ingat km LG kerja,NNT ad gangguan loh,
Mariee__shiitie___🍒🍒🍒🍒
emng sengaja kyknya nih biar km g mau kerja lg
D_wiwied
yaaah tanggung amat thor 😆😆
lanjutin napa, kasian loh itu Nayaka dah nunggu lama momen ini 🤭🤭
GiZaNyA
gas pol Nayaka sampe gol yesss... 🤣🤣🤣
GiZaNyA
astagaaaa Othooorrrrr... gimana iniiii masa langsung di skip... 🤣🤣🤣
Icha Arlita
males ngebayangin sendiri, ayo ngebayangin bareng bareng 🤣🤣🤣
Bunda HB
hmmmmm pgi2 udh buat mrinding aja thor....😅😅😅
Lela Angraini
hdeeehhh pagi" dah haredang aja lah othor ini
ind@h
pagi² sudah dibikin panas dingin...🤭
ElHi
maem permen lolipop kaaakkk........kan biar santuyy dulu gitu lohh....Nayaka punya kok..tenang azaah....dah bayangin itu aja dah🤣🤣🤣🤣
falea sezi
kebayang muka nya pas blg yankk🤣🤣 q yg baper loo rea🤣🤭
dewi rofiqoh
Dah mulai bucin dan posesif niiih nayaka 🤭🤭🤭🤭
GiZaNyA
wihhh langsung ada huru-hara di hati Oza pastinya kalau tau Rhea nikah sama bos mereka sendiri.. 🤣🤣
GiZaNyA
intinya selamat yaa Nayaka Rhea... sekarang tinggal bikin geger orang sekantor yesss... 🤣🤣🤣
Mariee__shiitie___🍒🍒🍒🍒
kyknya nikmat bngt lihat penderitaan orang km tono
Mariee__shiitie___🍒🍒🍒🍒
apa hak lu,ngatur dan tanya tanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!