Kejarlah ilmu sampai ke negeri cina, sepertinya berubah makna menjadi cinta. Reza dan keluarganya adalah penduduk lokal asli yang hidup dikawasan kota J, berteman dengan Chintya yang pendatang dari etnis cina bersama keluarganya yang mengelola toko kelontong.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HaLiAs, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Titik Terang x Pelatihan 2
Keesokan paginya, matahari baru saja muncul ketika kos-kosan Kutek sudah disibukkan oleh aktivitas dua pemudanya.
Poltak berdiri di depan cermin, merapikan kerah kemeja rapinya dan menyisir rambut ikalnya dengan pomade hingga kaku. "Za, aku berangkat ke kampus dulu ya. Dua hari aku bolos ngurusin kau, kalau hari ini aku bolos lagi, IPK-ku bisa ikut terjun bebas ke selokan bareng kelerengmu itu. Jadwal absenku udah merah merona ini."
Reza yang sedang memasukkan berkas-berkas ke dalam map merah tertawa pelan. "Iya, Tak. Santai aja. Lo udah bantu gue banyak banget. Hari ini gue ke Kantor Imigrasi sendiri aja. Lo belajar yang bener, jangan sampai lo ikut di-DO, ntar siapa yang traktir gue nasi padang?"
"Bah, meremehkan kau! Poltak Hasibuan ini calon sarjana teladan!" sahut Poltak sebelum berlari keluar kamar.
Hari itu, Reza berjuang sendirian di medan birokrasi. Ia berangkat ke Kantor Imigrasi kelas I di kawasan Jakarta Selatan. Sesampainya di sana, ia dihadapkan pada antrean panjang yang mengular hingga ke luar pintu. Namun, Reza tidak mengeluh. Baginya, antre di imigrasi jauh lebih mudah daripada antre di kantin Sastra sambil melihat Kevin tebar pesona.
Saat tiba gilirannya untuk mengisi formulir pembuatan paspor dan visa kerja, Reza menyelesaikannya dengan kecepatan cahaya. Jari-jarinya yang sudah terbiasa menulis karakter Hanzi yang rumit dengan puluhan goresan, kini merasa sangat diremehkan saat hanya disuruh menulis huruf abjad Latin biasa.
"Nama lengkap, tempat tanggal lahir, tujuan negara..." Reza bergumam sambil mengisi kolom demi kolom tanpa ada satupun kesalahan atau coretan. Petugas loket sampai takjub melihat kecepatan dan kerapian tulisan Reza. Tidak ada kendala berarti. Hanya butuh waktu beberapa jam, semua urusan birokrasi itu beres. Ia tinggal menunggu jadwal foto dan pengambilan paspor beberapa minggu ke depan.
Sore harinya, setelah kembali dari Jakarta, Reza tidak langsung beristirahat. Ia melangkah menuju Warkop Berkah dengan perasaan rindu yang aneh pada bau terasi.
"Lho, Reza! Udah balik kamu, Le?" sambut Bu Rahma dengan wajah semringah begitu melihat pegawainya itu datang. Warkop Berkah kini sudah terlihat lebih rapi. Etalase kacanya yang baru bersinar mengkilap, meskipun beberapa kursi patah masih belum tergantikan.
"Udah, Bu. Gimana kabarnya warung kita? Masih rame kan yang pesen Indomie?" tanya Reza sambil langsung meraih celemek hitam andalannya.
"Alhamdulillah, rezeki orang sabar, Za. Ayo, kebetulan ini pesanan lagi numpuk. Anak-anak teknik lagi pada nobar bola."
Malam itu, Reza kembali ke habitat aslinya. Tangannya dengan lincah mengaduk mi di dalam panci yang mendidih. Namun ada yang berbeda dari pemandangan malam itu. Di dekat kompor, Reza menempelkan selembar kertas HVS berisi tabel Hanzi, Pinyin, dan artinya.
Sambil menuangkan bumbu mi instan ke dalam mangkuk, mulut Reza berkomat-kamit melafalkan nada bahasa Mandarin.
"Wǒ de ài rén zài Guǎngzhōu..." (Kekasihku ada di Guangzhou) gumam Reza sambil mengaduk telur mata sapi.
"Yī, èr, sān, sì... tambah kornetnya satu porsi!" lanjutnya sambil menaburkan kornet ke atas mi goreng.
Beberapa mahasiswa yang duduk di dekat gerobak saling berpandangan dengan kening berkerut. "Bu, si Reza kesurupan vampir Cina apa gimana? Kok dari tadi ngomong bahasanya aneh bener. Jangan-jangan mi kita lagi dimantrain biar kita ketagihan ya?" bisik salah satu mahasiswa.
Bu Rahma hanya tertawa geli. "Biarin aja, Mas. Reza itu lagi persiapan mau go international. Mas-mas ini kalau lulus paling mentok kerja di Sudirman, nah si Reza ini mau kerja di luar negeri!"
Reza hanya tersenyum tipis mendengar obrolan itu. Cibiran orang tidak lagi mempan padanya. Setiap mi yang ia hidangkan, setiap huruf Mandarin yang ia hafal, adalah langkah kecil yang membawanya semakin dekat dengan landasan pacu menuju Tiongkok.
...
"BANGUN, PRAJURIT CINA!"
Suara bariton yang menggelegar dan hantaman keras pada pintu kamar membuat Reza melompat dari tikar plastiknya. Waktu baru menunjukkan pukul 05.00 WIB. Langit Depok masih gelap gulita, ayam jago milik bapak kos saja baru mulai berdeham untuk berkokok.
Pintu terbuka. Poltak berdiri di ambang pintu, mengenakan singlet ketat berwarna hitam yang menonjolkan otot lengannya, celana training, dan handuk kecil melingkar di leher.
"Apa-apaan sih, Tak? Ini masih subuh!" erang Reza sambil menarik selimutnya kembali. "Gue semalem baru kelar shift warkop jam dua pagi."
Tanpa ampun, Poltak menarik selimut Reza dan melemparnya ke sudut kamar. "Lupa kau dengan kesepakatan kita di Warkop Mbah Surip?! Hari ini, Program Bulking Tembok Besar Cina resmi dimulai! Bangun, cuci mukamu, lalu ke kamarku sekarang! Sarapan juara sudah kusiapkan!"
Dengan langkah gontai dan nyawa yang baru terkumpul lima belas persen, Reza mencuci wajahnya dan berjalan ke kamar Poltak. Di atas meja belajar Poltak, tersaji sebuah piring yang isinya sukses membuat Reza ingin langsung kembali tidur.
Ada empat butir telur rebus, satu potong dada ayam kukus yang warnanya sepucat kapas tanpa bumbu, dan sekotak susu full cream.
"Makan," perintah Poltak sambil menunjuk piring itu layaknya seorang jenderal memerintahkan prajuritnya maju ke medan ranjau.
"Tak... lo gila? Pagi-pagi buta gue disuruh nelen telur rebus empat biji? Kuningnya juga? Bisa kolesterol mati mendadak gue sebelum ke Disnaker," protes Reza ngeri menatap tumpukan protein kaku itu.
"Makan! Ototmu itu butuh batu bata buat dibangun, dan ini batu batanya! Nggak usah banyak protes. Telen pakai air putih kalau seret!" bentak Poltak galak.
...