Kiamat zombie mungkin itu hanya cerita film dan dalam buku. Tapi bagaimana jadinya jika itu terjadi?
Itu yang dirasakan oleh Hayden Vihaan pria berusia dua puluh lima tahun yang terjebak dalam kiamat zombie. Dia yang dari dulu di rawat oleh kakeknya seorang ilmuan sudah memang mempersiapkan semuanya. Kendaraan yang bisa di tumpangi enam orang di sulap menjadi mobil ajaib yang memiliki sistem pertahanan yang kuat. Tidak hanya mobilnya tapi villa yang memiliki bangker dan pertahanan sama kuatnya.
Bagaimana cerita selanjutnya yuk simak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jumarlin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
Sepuluh tahun berlalu sejak Karl, Mery, dan Nico memindahkan langkah kaki mereka menembus kabut dingin hutan cemara menuju Villa Suaka. Waktu yang berjalan lambat di tengah isolasi telah mengubah tempat yang dulunya merupakan benteng keputusasaan menjadi sebuah pemukiman mandiri yang hijau, tersembunyi, dan dipenuhi kehidupan.
Pohon-pohon cemara yang tumbuh makin tinggi dan rapat kini memagari perimeter villa bagaikan benteng raksasa alami. Di halaman tengah yang dulu berupa tanah berbatu, kini membentang ladang gandum kecil, kebun sayur hydroponik buatan Dion, serta lapangan latihan berfondasi batu alam.
Di tepi lapangan latihan tersebut, Hayden berdiri dengan tangan bersedekap di dada. Garis-garis usia dan beberapa bekas luka baru menghiasi wajahnya, tetapi matanya tetap setajam dulu. Di lehernya, tidak ada lagi pendaran kehitaman dari racun *Genesis-X*—suntikan supresan terstabilkan dari Dr. Helena telah menyatu sempurna dengan ketahanan fisiknya.
"Fokus pada poros tubuhmu, Nico! Jangan biarkan musuh membaca arah gerakan matamu!" seru Hayden dingin namun membimbing.
Di tengah lapangan, dua remaja bertarung menggunakan tongkat kayu tumpul.
Nico, yang kini berusia tiga belas tahun, bergerak cepat dan lincah bagaikan bayangan. Wajahnya yang tegap mewarisi ketegasan Karl, sementara sepasang mata kristal merahnya berkilat tajam di bawah terik matahari siang. Saat bergerak, garis pembuluh darah halus berpenampakan keemasan merambat tipis di sekitar pelipisnya—tanda *Virus Genesis-X* laten dalam darahnya bereaksi terhadap lonjakan adrenalin, namun Nico telah terlatih untuk mengendalikannya penuh tanpa kehilangan akal sehat.
Satu sabetan cepat Nico mengarah ke leher lawannya, tetapi sebuah kibasan pisau latihan menangkis tongkat itu dengan presisi sempurna.
"Terlalu lambat, Nico," kekeh Leo, yang kini telah tumbuh menjadi pemuda gagah berusia dua puluh tahun. Tubuh Leo tegap berotot, mengenakan rompi taktis buatan Dion dan memegang pisau tumpul di tangannya. Sebagai putra tertua di keluarga itu, Leo telah menjadi komandan lapangan kedua bagi Hayden dan Dion.
*CTAK!*
Nico memutar tubuhnya, memanfaatkan dorongan lutut untuk menendang dada Leo, membuat pemuda itu mundur dua langkah seraya tertawa bangga.
"Bagus sekali!" seru sebuah suara jernih dari atas panggung kayu teras.
Hayra, yang kini berusia sepuluh tahun, duduk di atas pagar kayu teras seraya mengayun-ayunkan kakinya. Gadis kecil itu tumbuh menjadi sosok yang anggun sekaligus pemberani, memadukan paras cantik Fiora dengan keberanian Hayden. Rambut hitam panjangnya dikuncir kuda. Di pergelangan tangan kirinya, terpasang gelang pemantau biologis buatan Karl dan Dr. Helena yang memancarkan pendaran hijau stabil—menandakan bahwa varian virus laten dalam tubuhnya beristirahat tenang.
Di samping Hayra, Maya yang berusia delapan belas tahun sedang merapikan busur panah dan perlengkapan berburunya. Maya tersenyum seraya mengusap rambut Hayra. "Jangan puji dia terus, Hayra. Nanti Nico makin besar kepala."
"Tapi tendangan Nico tadi memang keren, Kak Maya!" sahut Hayra seraya terkekeh riang, matanya berbinar menatap Nico yang menyapu keringat di dahinya.
Fiora melangkah keluar dari dalam villa membawa nampan berisi teko air dingin dan buah-buahan segar hasil panen. Jalannya anggun, kedamaian hidup di tempat terisolasi selama satu dekade terakhir telah memulihkan kecantikan dan ketenangan jiwanya. Mery mengikuti di belakangnya membawa kain lap bersih.
"Istirahat dulu! Latihannya dilanjutkan nanti sore," panggil Fiora lembut.
Nico dan Leo menyandarkan senjata latihan mereka di rak kayu, lalu berlari kecil mendekati teras. Hayra melompat turun dari pagar dan langsung menyodorkan gelas air dingin pada Nico.
"Nico, tadi mata merahmu makin terang waktu menangkis serangan Kak Leo," bisik Hayra polos. "Terasa sakit tidak?"
Nico menerima gelas itu, menyunggingkan senyum hangat yang hanya ia tunjukkan pada keluarga. "Tidak sakit sama sekali, Hayra. Berkat latihan dari Paman Hayden dan bantuan alat Helena, aku bisa mengontrol rasa panasnya."
Di ruang bawah tanah villa, Dr. Helena yang kini berambut perak bersama Karl sedang memeriksa layar monitor utama. Sistem pemantauan mereka menangkap data biometrik Hayra dan Nico yang konstan berada di tingkat kestabilan **99.8%**.
"Sepuluh tahun..." gumam Dr. Helena seraya mengusap kacamata bacanya. "Varian mutasi laten di darah Hayra dan Nico tidak lagi bertindak sebagai patogen pemusnah. Tubuh mereka justru membentuk simfoni kekebalan baru. Sel-sel virus itu menjadi perisai biologis yang membuat mereka kebal terhadap segala jenis penyakit dasar manusia."
Karl mengangguk pelan, jemari bio-mekaniknya mengetikkan baris enkripsi baru pada sistem pertahanan otomatis villa. "Mereka bukan lagi pembawa racun, Helena. Mereka adalah evolusi pertama dari generasi baru manusia pasca-kiamat."
Sore harinya, matahari mulai tenggelam di balik perbukitan cemara, memancarkan warna jingga keemasan yang mempesona ke seluruh pelosok lembah.
Di atas menara pemantau bukit belakang villa, Hayden berdiri menatap pemandangan indah tersebut. Dion melangkah mendekat, menyodorkan cangkir kopi hangat ke arah sahabat lamanya itu.
"Sektor luar makin stabil," ujar Dion pelan, menatap garis horizon. "Sisa-sisa faksi Aegis sudah lama hancur oleh perpecahan internal mereka sendiri. Peradaban baru di luar sana mulai membangun kota-kota kecil di bawah naungan pemerintahan penyintas bersatu."
"Apakah mereka masih mencari anak-anak mutan?" tanya Hayden tenang.
"Tidak lagi," jawab Dion seraya menggeleng. "Bagi dunia luar, ancaman *Virus Genesis* adalah sejarah masa lalu yang sudah meredup. Kebanyakan orang percaya semua mutan telah musnah sepuluh tahun yang lalu."
Hayden menyesap kopinya, membiarkan angin dingin malam mengelus wajahnya.
Di bawah sana, di teras villa yang diterangi lampu minyak hangat, seluruh keluarga berkumpul di sekitar meja makan panjang. Suara gelak tawa riang bergema melintasi keheningan malam. Fiora dan Mery sedang menyajikan sup hangat, sementara Karl, Leo, dan Maya sibuk memperebutkan potongan daging bakar. Di sudut teras, Nico dan Hayra tampak tertawa bersama seraya menggambar peta wilayah hutan di atas kertas usang.
Fiora mendongak ke arah menara pemantau, menangkap pandangan Hayden. Wanita itu menyunggingkan senyum paling hangat yang membuat dada Hayden bergetar oleh rasa syukur yang mendalam.
Hayden melangkah turun dari menara, berjalan mendekati meja makan dan merangkul bahu istrinya dari belakang. Hayra mendongak menatap ayahnya, lalu memeluk pinggang Hayden erat-erat.
"Papa, nanti malam ajarkan Hayra cara membaca bintang di atap ya?" pinta Hayra dengan mata bulatnya yang penuh rasa ingin tahu.
Hayden mengecup kening putri kecilnya, lalu menatap seluruh anggota keluarga yang ada di sekelilingnya—Fiora, Leo, Maya, Hayra, Karl, Mery, Nico, Dion, dan Dr. Helena.
Dunia di luar sana mungkin pernah runtuh oleh kerakusan dan wabah yang mengerikan. Namun di dalam villa terisolasi di pinggir hutan cemara ini, di atas darah, air mata, dan pengorbanan masa lalu, Hayden berhasil menjaga janji terbesarnya: melindungi keluarganya dan membesarkan fajar harapan baru bagi kemanusiaan.