Seumur hidupnya, Amira tidak pernah benar-benar dianggap sebagai bagian dari keluarganya. Sebagai anak yang lahir dari hubungan terlarang, ia selalu menjadi sasaran kebencian kakak tirinya. Bahkan lelaki yang dicintainya memilih kakaknya sendiri hanya karena Amira bukan anak sah keluarga itu. Ketika fitnah demi fitnah membuat ayahnya ikut membencinya, Amira akhirnya mendapat "hadiah" dari keluarganya—sebuah perjodohan dengan Kaizar, pewaris keluarga mafia paling ditakuti. Kaizar bukan pria biasa. Ia lumpuh, memiliki luka yang membekas di wajahnya, dingin, kejam, dan tidak mengenal belas kasihan. Bagi keluarga Amira, perjodohan itu adalah cara untuk menyingkirkan putri yang selama ini mereka anggap sebagai aib. Namun mereka tidak tahu satu hal. Di balik kekejaman Kaizar, tersimpan luka yang jauh lebih dalam. Dan ketika semua orang memilih takut kepadanya, Amira justru menjadi satu-satunya perempuan yang berani mendekat, memeluknya, lalu berkata, "Sabar... kamu tidak sendirian."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
Ganjar masih menatap Amira dari atas ranjang, setelah bertahun-tahun, tidak ada jarak yang sengaja ia ciptakan di antara mereka. Amira berdiri beberapa langkah dari ranjang. Matanya masih berkaca-kaca setelah mendengar ucapan sederhana dari pria yang selama ini begitu sulit memberinya pengakuan.
"Terima kasih," ulang Ganjar pelan.
Amira mengangguk. "Sama-sama, Pi."
Ganjar menatap putrinya cukup lama. Ada banyak hal yang ingin ia tanyakan. Tentang kehidupannya selama ini. Tentang pernikahannya. Tentang bagaimana Amira bisa tetap datang ketika dirinya sedang terbaring tidak berdaya. Namun tubuhnya belum cukup kuat untuk menampung terlalu banyak percakapan.
"Maafkan Papi ..."
Kalimat itu keluar begitu lirih hingga hampir tidak terdengar. Amira membeku.
Ganjar memejamkan mata. Papi ....." Ia berhenti karena napasnya mulai berat.
Amira mendekat."Jangan bicara terlalu banyak."
Ganjar membuka mata. "Tapi Ayah ingin..."
"Besok saja." Amira memberikan senyum kecil meskipun matanya mulai basah. "Kalau Papi sudah lebih kuat, kita bicara."
Ganjar hanya mampu mengangguk. Di balik pintu, Ambar berdiri kaku. Ia mendengar semuanya. Entah kenapa rasa bersalah yang selama ini ia tekan mulai terasa semakin berat.
Amira keluar dari ruangan bersama Kaizar.
Begitu pintu tertutup, Ambar langsung mendekati ranjang.
"Mas, Amira sudah pergi?"
Ganjar menoleh. "Iya."
Lalu pria itu terdiam sejenak hingga beberapa detik kemudia ia membuka suara kembali. "Aku ingin bicara dengannya lagi."
Ambar mencoba tersenyum. "Nanti saja. Kamu harus istirahat."
Ganjar mengangguk. Namun sebelum Ambar sempat beranjak, Ganjar berkata, "Ambilkan ponselku."
Ambar menoleh. "Untuk apa?"
"Aku ingin melihat sesuatu."
"Apa?"
Ganjar menatapnya. "Foto Amira waktu kecil."
Ambar langsung terdiam. Jantungnya berdegup lebih cepat, entah kenapa mendengar itu hatinya merasa khawatir, takut jika pria itu tahu semuanya, lalu bagaimana kehidupan anaknya.
"Kenapa tiba-tiba?"
"Aku tidak tahu." Ganjar mengalihkan pandangan. "Aku cuma ingin melihatnya."
Ambar tidak menjawab. Ia mengambil ponsel Ganjar yang berada di atas meja. Tangannya gemetar ketika menyerahkannya. Ganjar menerima ponsel itu, lalu membuka galeri.
Beberapa foto keluarga muncul. Alika kecil. Ambar. Dirinya sendiri. Kemudian sebuah foto lama yang memperlihatkan Amira saat masih kecil.
Ganjar berhenti. Jarinya menyentuh layar.
"Dia kecil sekali." Suara Ganjar terdengar berbeda.
Ada sesuatu yang baru. Kerinduan dan penyesalan, kemudian Ambar yang melihat itu langsung memalingkan wajah.
Sementara itu, di luar ruangan, Alika berdiri sendirian di ujung lorong.
Pikirannya terus berputar, tentang tes DNA, tentang ayahnya juga Amira dan tentang rencana pernikahannya dengan Ricki.
Jika berita ini tersebar, semuanya akan berubah. Ia tidak takut kehilangan nama Wijaya saja. Ia takut kehilangan masa depan yang sudah dibangun selama bertahun-tahun.
Pernikahannya dengan Ricki tinggal menunggu waktu. Keluarga Ricki mengenalnya sebagai putri Ganjar Wijaya. Sebagai perempuan dari keluarga terpandang.
Jika mereka mengetahui bahwa darah Ganjar tidak mengalir di tubuhnya, apakah mereka masih akan menerimanya?
Alika mengepalkan tangan. Tidak. Ia tidak boleh membiarkan itu terjadi. "Aku harus cepat melakukan sesuatu, untuk membungkam semuanya."
☘️☘️☘️☘️☘️☘️
Beberapa saat kemudian, Amira dan Kaizar berjalan menuju ruang tunggu. Amira masih memikirkan percakapan dengan Ganjar.
"Aku tidak pernah membayangkan dia akan mengatakan itu."
Kaizar menatapnya. "Karena itu yang selama ini ingin kau dengar?"
Amira mengangguk. "Iya."
Kaizar menggenggam tangannya. "Tidak semua luka sembuh hanya karena satu kalimat."
"Aku tahu."
Amira menatap pintu ruang perawatan. "Tapi setidaknya sekarang aku tahu bahwa mungkin masih ada kesempatan."
"Kesempatan untuk apa?"
"Untuk mengenalnya."
Kaizar tidak menjawab.
Amira tersenyum kecil. "Sebagai ayah."
Kaizar mengangguk. Mereka kemudian melihat Alika berjalan mendekat.
"Amira."
Amira menoleh. Alika berhenti di depannya.
"Aku ingin bicara."
Amira mengangguk. Alika menundukkan kepala. "Maaf tentang semuanya."
Amira terdiam.
"Aku tahu selama ini aku sering bersikap buruk kepadamu."
Amira tidak menyangka mendengar perkataan itu.
"Kak ...."
"Aku sedang kacau." Alika mengusap matanya.
"Setelah mendengar hasil pemeriksaan tadi, aku bahkan tidak tahu harus bagaimana."
Amira menatapnya dengan iba. "Aku mengerti."
"Dokter bilang hasilnya belum bisa dijadikan kesimpulan."
Amira mengernyit. "Belum?"
Alika mengangguk. "Iya. Masih perlu pemeriksaan lanjutan."
Amira memperhatikan wajah kakaknya. Ada sesuatu yang terasa ganjil.
"Tapi tadi dokter bilang..."
Alika langsung menyela. "Mungkin aku salah memahami."
Ia tersenyum kecil. "Makanya aku juga belum tahu sebenarnya apa yang terjadi."
Amira terdiam. Kaizar yang sejak tadi berdiri di samping istrinya memperhatikan Alika tanpa banyak bicara. Tatapannya membuat Alika sedikit gelisah.
"Kalau begitu, jangan terlalu dipikirkan dulu," ujar Amira.
Alika mengangguk. "Terima kasih."
Ia kemudian berjalan meninggalkan mereka.
Begitu cukup jauh, senyum di wajah Alika menghilang. Tangannya mengepal. Langkahnya berhenti ketika sebuah suara memanggil dari belakang.
"Nona Alika."
Ia menoleh. Seorang perawat berdiri di sana sambil membawa map.
"Ini hasil pemeriksaan Anda."
Wajah Alika langsung berubah. Ia melihat map itu. "Kenapa diberikan kepada saya?"
"Dokter meminta keluarga menyimpannya dengan baik."
Alika menerima map tersebut.
Tangannya terasa dingin. Ia menatap sampulnya. Ada satu lembar hasil pemeriksaan yang bisa menghancurkan seluruh kehidupannya.
Perawat pergi.
Alika berdiri sendirian. Ia membuka sedikit map itu. Matanya membaca kalimat di bagian atas.
Hasil pemeriksaan hubungan biologis. Alika segera menutupnya kembali.
Ia melihat sekeliling. Tidak ada siapa pun.
Kemudian ia memasukkan map itu ke dalam tas. Bukan untuk menyembunyikannya selamanya. Setidaknya untuk sekarang. Ia harus memastikan tidak ada orang lain yang melihatnya.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️
Malam mulai turun ketika Ambar dan Alika akhirnya berada di rumah. Rumah besar itu terasa jauh lebih sunyi daripada biasanya.
Alika masuk ke kamar ibunya. "Mami."
Ambar menoleh. Alika mengeluarkan map dari tasnya.
"Ini hasilnya."
Ambar membeku. "Kau membawanya pulang?"
"Perawat menyerahkannya kepadaku."
Ambar mengambil map tersebut. Ia membukanya perlahan. Matanya membaca hasil pemeriksaan sekali lagi.
Tidak ada kesalahan. Tidak ada keraguan dan Ganjar benar-benar bukan ayah biologis Alika.
Ambar menutup mata."Bagaimana kita bisa menyembunyikan ini?"
Alika menatap ibunya. "Untuk sementara, kita bilang hasil ini belum final."
"Dan setelah itu?"
Alika tidak langsung menjawab. Tatapannya jatuh pada sebuah kotak tua di atas lemari.
"Mami..."
"Apa?"
"Aku ingin tahu satu hal."
Ambar mengikuti arah pandangan putrinya. Kotak itu.
Wajah Ambar langsung berubah. "Jangan sentuh itu."
Alika menoleh. "Kenapa?"
"Itu barang lama."
"Barang siapa?"
Ambar berdiri dan segera mengambil kotak tersebut. "Alika, jangan bertanya."
Tetapi kali ini Alika tidak mundur. "Isinya berkaitan dengan ayah kandungku?"
Ambar membeku, entah harus dengan cara apa ia memberi tahu putrinya itu untuk tidak menyentuh barang itu, lalu beberapa detik berlalu.
Alika menatap ibunya. "Aku memang tidak ingin orang lain tahu."
Ia berhenti. "Tapi bukan berarti aku tidak ingin tahu."
Ambar menggenggam kotak itu erat. "Kau tidak perlu tahu siapa dia."
"Kenapa?"
"Karena pria itu sudah tidak ada dalam hidup kita."
Alika mengerutkan kening. "Dia masih hidup?"
Ambar tidak menjawab. Pertanyaan itu membuat Alika semakin yakin. Ia mendekat.
"Mami."
Ambar memalingkan wajah.
"Siapa dia?"
Ambar akhirnya membuka kotak itu. Di dalamnya terdapat sebuah foto lama. Foto seorang pria muda. Di sampingnya berdiri Ambar yang jauh lebih muda.
Alika mengambil foto itu. Wajah pria tersebut membuatnya terdiam. Ia belum pernah melihatnya. Tetapi ada sesuatu pada wajah pria itu yang terasa aneh.
Seperti pernah ia lihat. Alika membalik foto tersebut. Di bagian belakang terdapat tulisan tangan yang sudah mulai pudar.
"Untuk Ambar. Apa pun yang terjadi, aku akan bertanggung jawab atas anak kita."
Napas Alika tercekat. "Anak kita..."
Ia menatap ibunya. "Jadi dia ayahku?"
Ambar merebut foto itu. "Jangan pernah membicarakan pria ini kepada siapa pun."
"Kenapa?"
Ambar menatap Alika dengan wajah penuh ketakutan. "Karena kalau sampai orang-orang tahu siapa dia..."
Ia berhenti. "Termasuk Ganjar."
Alika semakin penasaran. "Kenapa?"
Ambar memeluk foto itu erat-erat. "Hidup kita tidak akan pernah sama lagi."
Alika menatap wajah ibunya dan sejak mengetahui dirinya bukan putri biologis Ganjar, ia menyadari bahwa rahasia terbesar keluarganya mungkin bukan tentang siapa ayahnya.
Melainkan tentang mengapa pria itu harus disembunyikan dari Ganjar selama bertahun-tahun. Dan tanpa mereka sadari, di luar kamar, seseorang baru saja berhenti di depan pintu.
Ricki.
Ia datang tanpa memberi tahu siapa pun. Dan dari balik pintu yang belum tertutup sempurna, ia mendengar satu kalimat terakhir Ambar.
"Jangan sampai Ricki tahu."
Ricki membeku. Tangannya yang semula hendak mengetuk pintu perlahan turun.
Ia baru saja mendengar namanya sendiri. Dan ia merasa ada sesuatu yang sedan disembunyikan keluarga Wijaya darinya.
Bersambung...