Hidup itu penuh canda tapi untuk orang lain.
selalu ada kebahagian dalam ke kesedihan tapi untuk orang lain.
ada perkataan yang mengatakan jika "orang yang pertama menertawakanmu saat menderita adalah sahabat" maka yang benar adalah siapa saja jelas akan menertawakanmu.
ini adalah kisah sial dalam hidupku. baca kisah ini biar kuceritakan biar kesialan menimpamu juga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon andee Rosalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
31
Setelah selesai membayar belanjaan kami, laudya segera membuka 1 kemasan susu untuk dibuat dan jelas bayi kecil dalam gendongnya itu menyambut dengan antusias.
Kami sempat menjadi tontonan namun sungguh laudya tidak peduli, begitu pun aku. Aku tidak tahu harus bilang apa tapi hatiku sakit kala bayi yang sedari tadi menangis meminta haknya kini minum susunya dengan sangat rakus hingga kembali tertidur padahal kami masih dalam koto swalayan dan belum jauh dari kasir.
Setelah memindakan semua barang belanjaan ke bagasi, tubuh ini akhirnya kembali duduk nyaman dalam ruang sempit bernama mobil.
Laudya menantapku intens kala kami tengah duduk bersampingan. Namun tidak kuhiraukan karena aku harus segera mengemudikan mobil untuk keluar dari parkiran sebelum orang dibelakang kami kembali membunyikan klakson.
"Kenapa ko kah liati terus ka dari tadi?"
"Ndak tahu ka, kau ini sebenarnya malaikat atau iblis" ujarnya dengan senyum ketir sembari memperbaiki posisi tidur anaknya.
"Isshh, kurang jelas penglihatanmu kah sampai kau lupa kalo manusia jaka juga" balasku dengan senyum tipis membalas candaan wanita di sampingku ini.
Mobil melaju pelan meninggalkan toko swalayan hingga bergabung dengan kendaraan yang lain demi sampai ditempat tujuan. Sempat terjadi keheningan antara kami tapi aku berkata,
"Ko sudah baca artikel yang bahas tentang saya sama kingkong?" Pancingku sebagai bahan obrolan.
"Tidak, kau lihat sendiri bagaimana saya susah payah sembunyi dari penagih hutang sampai beli data internet saja jadi momok" jelasnya dengan nada lirih namun pandangan fokus padaku seolah menanti untuk ku jelaskan sendiri.
Terlebih dahulu aku menghela nafas secara kasar lalu berdecak kesal kala mengingat kembali hal yang terjadi beberapa waktu lalu, walaupun jelas aku adalah korban, beberapa orang menyikapinya seolah aku hanya tengah memainkan peran untuk merusak nama baik abraham dan ayahnya.
"Apa sih, kau disuruh cerita malah diam" desak laudya dengan bibir yang berkerucut.
Mendengar ucapan wanita itu, akhirnya dengan rasa kesal yang masih meluap, ku ceritakan semuanya. Yaps semuanya tanpa terkecuali mulai barang yang abraham anggap kado padahal hasil dari mendesakku lalu jadi utang piutang antar kami, judi bola berlanjut dengan judol, abraham yang membawa wanita lain dihari ujian akhir bahkan ayahnya abraham yang katanya kena serangan jantung.
"Waa... waaa gila, kenapa ko baru cerita sekarang?" Jeritnya sedikit tertatahan agar tidak mengusik bayi kecil dalam dekapannya.
"Ya karena menurutku tidak penting, itu juga ku buka semua aibnya di depan bapaknya karena ndak bisa ma tahan dengan kelakuannya"
Wanita ini jelas tidak bisa begitu saja mendengar kata demi kata yang ku ucap, selalu saja ada cela untuknya memotong ucapanku bahkan menyalahkan hal-hal bodoh yang telah ku lakukan untuk pria sialalala itu.
Kian banyak ku ucap maka semakin seru pembahasan dan kian panjang makian laudya untuk si kingkong. Anehnya aku kala mendengar laudya mengumpat malah membuatku tersenyum bahagia.
"Ndak tahu ka' sebenarnya si kingkong yang gila atau memang kau yang bodoh. Bisa-bisamu baru ungkapkan i sekarang padahal lama mo na permainkan" decak laudya dengan kepala yang beberapa kali menggeleng pelan.
"Mmm" gumamku asal sebagai jawaban karena mulai malas menjelaskan panjang lebar.
Aku sempat memilih diam karena fokus mengemudikan mobil melewati beberapa kendaraan yang berhenti dibahu jalan. Mungkin niatnya agar tidak menghalangi namun malah membuat jalanan yang sudah sempit menjadi sulit untuk di lalui jika tidak berhati-hati.
Ucapan laudya memenuhi pikiranku, pertanyaan tak bermaksud itu membuatku ragu dengan diri sendiri namun entah ini bisikan sukma yang berbicara atau pikiran positif semata,
Aku meyakini bahwa, bukti orangtuaku berhasil mendidik ku yaitu, selama hidup aku diajarkan selalu punya ruang maaf untuk orang jahat tanpa keinginan balas dendam sama sekali.
Usai meyakinkan diri dan berdialog dengan diri sendiri, tanpa sadar bibirku tertarik membentuk senyum tipis. Dalam diam hingga hening, aku sempat mencuri pandang pada laudya, wanita itu menatap penuh cinta bayi dalam dekapannya.
Usai berjibaku dengan macet, mobil akhirnya berbelok menuju perumahan widya. Jarum jam telah menunjukkan pukul 10 lebih kala kami telah tiba di rumah subsidi yang bahkan dapurnya belum dibangun.
Awalnya aku berniat segera pulang setelah meletakkan semua barang belanjaan namun rasa lapar mendatangiku hingga ku putuskan untuk tinggal lalu makan malam yang sudah amat sangat terlambat ini.
Kami memesan makanan cepat saji lalu makan dengan lahap. Ditengah-tengah kegiatan makan, obrolan kami terus berlanjut hingga akhirnya ku jelaskan pada wanita dihadapanku ini jika aku akan bertunangan.
Sekali lagi laudya terpengarah dengan hal yang ku ungkapkan. Wanita gila ini terus berdecak tidak percaya seolah apa yang dihidupku memang layak penuh dengan drama serta keajaiban.
Usai menjelaskan panjang lebar tentang aku, Laudya seolah larut dalam pembicaraan kami ini. Banyak hal yang dia ceritakan terutama sulitnya dia dan suami bertahan hidup di kondisi keuangan yang pas-pasan ditambah kebutuhan hidup dan bayi kian hari kian mahal.
Curhatannya tidak hanya sampai disana, wanita itu juga bercerita bagaimana lelahnya mengambil peran sebagai seorang ibu kala kondisi mentalnya juga sedikit terganggu akibat gali lubang tutup lubang itu.
"Seberat itu emang?" Tanyaku sembari menyandarkan punggung namun tangan masih mengambil potongan pitzza
"Issengko degh, Kau saja saja tidak ragu keluarkan uang cuma-cuma untuk kingkong dan bayar utangku, terus kau takut apa?"
"Kau kurang dengar kah, ku bilang kalo nddak ada perasaanku sama dia, terus kalo perasaan saja ndak ada, bagaimana mau jalin rumah tangga yang samawa?" Decakku sembari mengerucutkan bibir.
"Cinta?" Beo laudya dengan tawa mengejek. Setelah itu dirinya kembali berkata,
"Dulu ku pikir cinta itu juga penting tapi lihat ma sekarang, suamiku memang baik dan bertanggung jawab tapi uang jadi permasalahan, nyatanya tetap jiki juga kadang bertengkar sampai kadang kurasa tidak pernah cinta"
"Kan ujian seperti ini sebentar ji masa cinta tidak bisa kuatkan rumah tangga?" Balasku dengan otak yang bekerja cukup keras untuk mencerna apa yang baru saja wanita ini ucapkan.
"Bukan tidak bisa tapi uang juga bisa menghancurkan semuanya. Kau lihat mi kemarin saya seperti apa, besok atau lusa pasti tetap diteriaki dan dimaki karena utang, tidak tahu sampai kapan kalo kau tidak tolong ka hari ini"
"Tadi juga kau tolak jaka. Kenapa baru ko sadar kalo cuman saya yang bisa bantu ko" ejekku sembari melempari laudya dengan bungkusan sambel namun sayangnya tidak menggenai wanita itu.
Laudya tidak menjawab tapi perhatiannya kini teralihkan karena ketukan pintu. Saat dirinya menatap jam dinding, dirinya sedikit terperanjak lalu bergegas membuka pintu rumah.
Rupanya yang datang suami laudya. Pria itu jelas heran mendapati kehadiranku tapi lebih heran lagi dengan semua kantong belanjaan yang memang belum kami rapikan karena asyik bertukar kabar selama kami tidak pernah bertemu.