Keluarga suamiku merendahkanku setiap hari, aku di jadikan babu di rumah itu, rumahku sendiri. Tapi suamiku tak peduli, ia hanya bisa terus berselingkuh dengan wanita di Bar.
Satu malam, aku mabuk berat dan tidur dengan pria asing yang ku temui di parkiran, kami melakukannya di mobil.
"Ah...lakukan dengan pelan." Kataku, karena hanya itu yang bisa ku balas pada dunia yang menyakitiku.
Tapi aku tak tau, pria itu ternyata....ketua organisasi paling berbahaya di kota ini.
Sekarang aku terjebak
Antara pernikahan yang akan membunuhku pelan pelan, atau pria yang bisa membunuhku dalam semalam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Clue, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
Di gedung Dewana group. Departemen design. Clare duduk di antara seluruh karyawan, orang di sampingnya melihat Clare sinis, berbisik satu sama lain
"aku pikir dia itu sangat baik, sangat agung"
"tapi ternyata itu hanya image"
"memang kita tidak boleh melihat orang dari luarnya saja..."
Clare pura-pura tidak mendengarnya. Jarinya mengetik di keyboard. namun pikirannya kosong
Layar monitor penuh dengan sketsa, tapi tidak ada satupun yang masuk di kepalanya
Ponsel di dalam laci meja bergetar sekali, Clare melirik namu ragu untuk melihatnya
Suara langkah kaki mendekat dari kantor kepala departemen, terlihat ia sedang membawa tumpukan dokumen, menuju arah Clare
"Clare!" panggil sinta dengan nada tinggi, dia meletakan kasar tumpukan dokumen itu di meja Clare
"revisi semua dokumen ini! Harus selesai besok!"
kalau ini tidak selesai siap-siap kamu di pecat!" ujarnya
Suaranya menggema. disengaja
Seluruh karyawan yang mendengar mendadak menoleh. Beberapa orang bahkan berhenti mengetik
Clare menatap tumpukan map itu. Debu masih beterbangan di udara
"ini bukan pekerjaan yang harus saya kerjakan, saya tidak punya tanggung jawab atas ini!"
Sinta tertawa kecil, tajam
"kalau saya suruh kerjakan ya kerjakan! Kamu tak berhak mengatur saya sekarang, kamu bukan siapa-siapa lagi!"
Hening.
Clare tidak langsung menjawab.
Ia meletakkan pulpennya pelan. klik...
Lalu Clare berdiri. Kursinya berdecit pelan, menatap Sinta. Lurus, dari kepala hingga ujung kaki
"Kamu benar." ujarnya datar
"saya bukan siapa-siapa lagi di sini."
Ia mengambil satu map dari tumpukan. membukanya. Membacanya sekilas
"Jadi saya tidak akan kerja lembur untuk orang yang bahkan tidak bisa bedakan revisi dan membuat baru."
Brak!...
Clare menutup map itu. Suaranya pelan tapi cukup untuk membuat Sinta terdiam
"dan saya tidak akan mengerjakan ini!" ujar Clare tenang "saya hanya akan mengerjakan apa yang sudah menjadi tugas saya!"
Sinta terpaku, ia mengepalkan tangannya menatap sinis Clare seakan kebencian terus menguasai tubuhnya
"berani membantah, ya kamu!" bentak Sinta tangannya menghantam meja, pulpen dan stapler berhamburan ke lantai
Clare tidak bergeming, ia hanya mengangkat alis sedikit, lalu tersenyum tipis
Brak!!
Sinta kembali menghantam meja, lebih keras. Wajahnya memerah menahan amarah
"kurang ajar! Kamu itu siapa! Cuma mantan CEO yang sudah buruk citranya!"
Di luar, suara ketikan mendadak berhenti. Pintu ruangan sebelah terbuka sedikit. Bisik-bisik mulai terdengar
Clare mengalihkan pandangan, ia mengambil tas miliknya di atas meja. Gerakannya santai seolah tak ada yang sedang terjadi
"ya" ujar Clare. Singkat. lalu ia berjalan ke arah pintu meninggalkan ruangan, melambai dengan wajah riang
Sinta melihatnya dengan penuh emosi yang tidak bisa tertahan lagi, matanya mebelalak menatap punggung Clare yang semakin menjauh
"SIALAN!" teriakannya
Sinta menyapu seluruh isi meja dengan kedua tangannya
Brak!
Map, tumpukan dokumen, laptop, bahkan bingkai poto di meja berhamburan ke lantai. Kertas berterbangan ke segala arah seperti salju
"keterlaluan! Memangnya dia siapa!" gumam sinta, tangannya mengusap kasar wajahnya
Lalu ia menatap seluruh karyawan yang melihatnya, menyapu nya satu persatu
"apa yang kalian lihat!" ujarnya, meninggi
Para karyawan langsung mengalihkan pandangannya ke depan, berpura-pura mengetik di keyboard nya masing-masing. Tidak ada yang berani membantah
Sinta menggelengkan napas kasar, ia menendang tumpuk map di lantai. Suara berbisik itu justru membuat suasana semakin hening
Tiba-tiba satu ponsel bergetar, terasa di saku Sinta. Dia meraihnya melihat nama yang tertulis di layar "direktur utama"
Ia menatapnya sebentar sebelum berani mengangkatnya
"ya, pak?.." suaranya tercekat
Dari seberang terdengar suara berat, tua
"ke ruangan saya. sekarang."
Klik... Telepon tertutup
Sinta menjatuhkan ponselnya ke meja, lemas
Ia menatap kekacauan di sekelilingnya, lalu menatap pintu
"persetan!" gumamnya pelan "apalagi yang dia inginkan dariku" ujar Sinta dengan nada cape
Ia merapikan blazernya. Rambutnya yang tadi kusut tadi kini ia sisir kasar dengan jari
Langkahnya menuju ruang direktur terasa berat. Setiap langkah hak sepatunya beradu dengan lantai marmer, suaranya menggema di lorong,
Di depan pintu kayu besar bertuliskan "DIREKTUR UTAMA", Sinta berhenti.
Ia menarik napas dalam-dalam, lalu mengetuk.
"Masuk."
Di dalam, Pak Dirga duduk di balik meja besar. Wajahnya datar, mesum.
Pak Dirga menunjuk kursi di depannya.
"Duduk."
Sinta duduk. Punggungnya tegak, namun kedua tangannya ia sembunyikan di bawah meja agar tidak terlihat gemetar.