Untuk lebih mengena lebih baik baca dulu PROGRAMMER SOLEHAH
ini season keduanya menceritakan kehidupan anak - anaknya.
Ammar Putra Ibrahim Al Malik jatuh cinta dengan seorang gadis yang mahir coding Annisa Rahma Wijaya.
Tetapi Cinta Mereka masih sama - sama tertahan dikarenakan Annisa mengetahui jika sahabatnya juga menaruh hati kepada Ammar.
Belum lagi Ammar harus melanjutkan studi S2 nya di luar negeri seperti permintaan Papinya untuk meneruskan perusahaan keluarga Mereka..
Akankah Mereka bersatu...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aeni Santi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Emang dunia berhenti ketika cinta ditolak
Satu bulan berlalu, Annisa kali ini sedang menghadapi ujian akhir semester tiga. Komunikasi dengan Ammar berjalan lancar walau kadang tiga hari sekali atau jika ada waktu longgar Mereka akan melakukan video call.
Mereka saling memberikan semangat untuk menggapai mimpi mereka masing-masing. Ammar selalu memberi dukungan kepada Annisa agar semangat dalam meraih mimpinya menjadi seorang programmer.
Begitu pula dengan Annisa yang selalu memberi motivasi kepada Ammar agar segera selesai studinya dan bisa memimpin perusahaan menggantikan Papinya.
"Ma, Nisa berangkat ya."
Mama meraih tangan Mamanya dan menciumnya.
"Iya sayang semangat ujiannya, optimis kamu bisa."
"Iya Ma, Assalamualaikum Ma."
"Waalaikumsalam sayang."
Annisa keluar duluan menunggu Papanya di mobil.
"Papa sudah berangkat ya Ma."
"Iya Pa hati-hati di jalan."
"Iya Ma, Assalamualaikum."
" Waalaikumsalam, Papa sama Annisa hati-hati ya jangan lupa kasih kabar ke Mama kalau udah sampai."
"Siap Ma."
Papa Ilham melajukan mobilnya menuju ke kampus Annisa. Sesampainya di depan kampus seperti biasa Annisa akan turun dan Ameera biasanya telah menunggu dirinya di depan sana juga.
"Pagi Om."
"Pagi Nisa. Om, langsung saja ya ada meeting Assalamualaikum."
" Waalaikumsalam." jawab Nisa dan Ameera.
Baru saja mereka berjalan beberapa langkah terdengar suara Riri yang memanggilnya dari belakang.
"Nisa, Ra, tungguin."
Riri datang dengan diantar oleh Rendi ke kampus. Annisa dan Ameera menoleh ke belakang dengan senyum senyum sendiri.
"Lihat Nisa, kayaknya bakalan ada yang jadian sebentar lagi." celetuk Ameera.
"Iya Ra, kita tunggu makan-makannya dari mereka ya."
"Ha ha ha..."
"Ngapain kalian tertawa." Riri.
"Nggak papa, hai Ren nggak mampir dulu." Ameera.
"Sorry ya Ra, aku langsung aja ada kelas pagi soalnya."
"Oke."
"Ri, aku cabut ya. Nisa, Meera duluan ya."
"Oke, hati - hati."
Setelah Rendi pergi meninggalkan mereka, Ameera siap mengerjai sahabatnya satu itu.
"Ciyeee.. tiap hari antar jemput sekarang, kayaknya sebentar lagi kita berkata apa traktiran dehh Nis." sindir Ameera.
"Apaan sih kalian, kan kampus kita searah jadi tadi Rendi ngampiran aja ke rumah." Riri.
"cuma mampir ya, nggak sengaja si Rendi ya."
"Nggak tau ya, udah yuk mau masuk nih."
Mereka berjalan bersama mereka juga ruangan untuk mengikuti ujian akhir semester.
🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷
Sepanjang Rendi tersenyum-senyum sendiri, mengingat beberapa hari ini dia berhasil mengajak Riri untuk berangkat ke kampus bareng.
"Kamu tiap hari tambah lucu Ri, tapi jika aku mengungkapkan perasaan ini apakah akan merusak persahabatan kita." gumamnya sendiri.
Rendi telah memasuki kampusnya di mana dulu juga kampus dari Ammar mendapatkan gelar S1 nya.
Karena ada mata kuliah pagi Rendi langsung menuju ke ruangannya untuk mengikuti kelas pagi.
"Aku mending tanya ke Meera deh."
gumamnya sambil berjalan, dan hingga tak sengaja bertabrakan dengan seseorang.
brukkkk...
Buku yang dibawa oleh gadis itu jatuh berantakan. Rendi membantunya untuk mengambil dan meminta maaf.
"Maaf ya, nggak sengaja."
"Iya nggak papa, makasih."
Mereka berdua saling tatap kemudian gadis itu terlihat tersenyum senyum kepada Rendi.
"Sekali lagi saya minta maaf, permisi."
Rendi meninggalkan gadis itu masuk kedalam ruangan kelasnya karena sudah akan dimulai.
"Siapa cowok itu, ganteng juga."
celetuk gadis itu.
Di dalam kelas Rendi dengan serius mengikuti mata kuliah pagi itu hingga selesai. Setelah itu dia berniat menghubungi Ameera secara pribadi.
Mereka membuat janji untuk bertemu tanpa sepengetahuan Riri, tetapi dengan mengajak Aqila serta Annisa.
Akhirnya Mereka sepakat ketemu saja di rumah Annisa yang lebih aman daripada keluar sekaligus Annisa ingin mengunjungi Mami Syakila lama tak berjumpa karena kesibukannya kuliah.
Ameera, Aqila,Riri dan Annisa pulang menggunakan mobil Aqila setelah menurunkan Riri di rumahnya Mereka tidak bilang jika ingin main ke rumah kamera karena sudah membuat janji dengan Rendi.
"Assalamualaikum." ucap Ameera, Annisa dan Aqila yang masuk ke dalam rumah.
" Waalaikumsalam. Eh gadis Mami pada ke sini."
"Iya Mi, Kita janjian sama Rendi."
Ameera meraih tangan Maminya dan menciumnya begitu pula dengan Annisa dan Aqila.
"Riri mana."
"Sengaja Mi, nggak kita ajak karen ingin bahas Dia." jelas Ameera.
"Kalian berantem lagi."
"Nggak Mi, kita mau rembuk masalah Rendi sama Riri."
"Ya sudah, Annisa Mama sama Papa sehat kan."
"Sehat Mi."
"Aqila, Mama kamu katanya juga mau ke sini tapi kok belum nyampe."
"Mungkin ke kantor Papa dulu Mi, tadi pagi bilangnya gitu."
"Ya sudah, Mami ke belakang dulu ya."
"Nisa ikut Mi."
"Ayo.. Sayang."
Annisa ikut Mami Syakila ke dapur untuk membuat minuman dan mengambil camilan.
Tak lama datanglah Rendi dan mereka duduk bersama semuanya di taman belakang untuk mengobrol.
"Silahkan minumnya." Annisa datang membawakan minuman bersama Bibi.
"Ini tuan rumahnya siapa sih kok Annisa yang melayani kita." Rendi nyindir Ameera.
"Kakak ipar Ku kan rajin banget, Makanya Abang sampai tergila-gila."
"Udah di minum haus kan kalian."
Mereka berempat ngobrol asyik di taman belakang, Mami Syakila hanya menengok dari dalam dan meninggalkan mereka menemani Oma.
"Gimana Ren, ada apa ini."
Aqila sambil nyemil.
" Aku mau minta bantuan kalian."
"Masalah Riri, Kamu suka kan sama Dia." Ameera.
"Itu masalahnya, aku takut kalau mengungkapkan perasaan ini akan merubah persahabatan kita."
"Tapi mau sampai kapan kamu memendam rasa itu, Kalau aku lihat Riri sepertinya juga mulai tumbuh rasa sama kamu." Aqila.
"Aku nggak tahu, itu rasa suka atau cuman rasa karena kita sahabat jadi dia selalu menerima tawaran ku untuk berangkat Kampus bareng."
"Kenapa nggak coba dibicarakan saja sama dia." Annisa.
"Iya benar itu sarana Nisa." Ameera.
"Aku takut ditolak terus dia benci sama aku persahabatan kita jadi berantakan. Kira-kira kalau di kampus dia ada nggak yang mendekati Dia."
"Sepertinya enggak sih, mana ada yang berani coba deketin Riri dia jadi senggol sedikit udah kayak preman. ha ha ha.." tawa Ameera.
"Hussss.. Kamu aja juga nggak ada yang deketin kan." Rendi membela Riri.
"Kenapa jadi bahas Aku sih." Ameera sewot.
"Terus bagaimana ini." Rendi.
"Gini aja ungkapkan saja perasaan kamu tetapi dengan satu syarat kamu harus siap ditolak dan jika ditolak kamu tidak boleh benci sama dia dan persahabatan kita akan berjalan seperti biasanya." Aqila.
"Iya benar itu, enggak ada jalan lain kamu harus siap resiko dong masa nggak berani sih kamu." Ameera.
"Hufft.. kalau ditolak itu loh gimana hidup ku selanjutnya." Rendi nampak pesimis.
"Ya berjalan Bro... Emang dunia berhenti ketika cinta ditolak." Ameera dan Aqila kompak kalau Annisa suka senyum aja melihat Mereka.
"Nisa kangen Bang.." batin Nisa memandang foto Ammar yang terpajang di dinding.
🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷
lanjutttttt ☺☺☺☺☺😁😁😁😁