Hai,
Ini merupakan karya pertamaku, mohon dukungannya ya dengan cara like, love, vote dan komen sebanyak-banyaknya.
Kasih juga ya hehehe.
❤️❤️❤️❤️❤️
Anyelir, gadis yatim piatu yang cerdas dan cantik. Tapi sayang nasibnya tak secantik rupanya. Ia harus rela mengubur impiannya untuk bekerja keras demi sang Nenek tercinta yang sedang sakit.
Kehormatan nya direnggut secara paksa oleh seseorang yang mempunyai pengaruh di tempatnya bekerja.
Ken, anak dari pengusaha kaya raya. Hidupnya tidak tenang, selalu dihantui rasa bersalah setelah malam kejadian ia merampas kehormatan salah satu karyawannya.
Elena, seorang gadis manis yang sangat hebat. Diusianya yang masih kecil ia memiliki bakat melukis serta bermain biola. Disamping kelebihannya, Elena merupakan gadis yang pendiam, saking diamnya sampai-sampai ia tidak mau berbicara. ia berkomunikasi dengan bahasa isyarat dan juga note book electric nya.
Akankah mereka bisa bersatu menjadi satu keluarga yang utuh?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rinjani Asa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kembali
Seminggu berlalu semenjak kejadian Anyelir ditampar di toko kue miliknya. Beruntung Elena tidak trauma dan berlarut sedih karena melihat dengan jelas Anyelir ditampar dan juga bentakan dari Carol kepadanya.
Anak itu melewati harinya dengan aktifitas seperti biasa. Pagi berangkat sekolah, siangnya ikut Anyelir di toko dengan dia yang terkadang sibuk dengan canvas dan cat air miliknya karena adanya pesanan maupun untuk koleksi. Karena rencananya Anyelir ingin mendirikan galeri seni untuk lukisan-lukisan Elena.
"Pagi Ma," sapa Elena mengecup pipi Anyelir lalu menarik kursi di samping Anyelir lalu duduk disana.
"Pagi Sayang. Mau sarapan roti atau nasi goreng?" tanya Anyelir.
"Nasi goreng aja deh Ma. Rotinya buat bekal ya," ucap Elena sambil melihat menu sarapan di atas meja.
"Siap." Anyelir segera mengambil piring lalu menyendok nasi goreng dan ditaruhlah di atas piring itu, tak lupa irisan tomat dan timun serta taburan bawang goreng sebagai pelengkap. Lalu ia meletakkan piring yang sudah berisi nasi goreng serta pelengkapnya itu dihadapan Elena.
"Terima kasih Ma." Elena segera menyuap nasi goreng itu.
"Hari ini dijemput aunty For lagi ya Sayang. Mama ada janji dengan orang yang mengurus perizinan untuk bimbel," ucap Anyelir pada Elena.
"Tapi nanti pulangnya Elena mampir beli es krim boleh?"
"Boleh, tapi jangan terlalu banyak makan es krimnya."
"Ok Ma."
Mereka pun segera menyelesaikan sarapannya. Setelah itu mereka menuju ke sekolah Elena. Sebenarnya jarak sekolah Elena dengan rumah dan rose bakery tidak terlalu jauh. Hanya perlu waktu tiga puluh menit untuk sampai ke sekolah Elena. Sedangkan rumah Anyelir dan rose bakery hanya berjarak kurang lebih 100 meter.
Anyelir dan Elena sekarang tengah berada di depan bangunan yang bertuliskan Taman Kanak-Kanak Bina Nusa. Anyelir mengantar Elena sampai gerbang sekolah. Karena sekolah ini memperbolehkan para orang tua mengantar anaknya sampai gerbang saja.
Anyelir berjongkok untuk menyamakan tingginya dengan sang buah hati. Ia lalu memastikan penampilan Elena sekali lagi.
"Belajar yang rajin Sayang," ucapnya lalu mengecup pipi kedua anaknya dilanjut kecupan di puncak kepala Elena.
Elena mengangguk. Elena pun melakukan hal yang sama dengan apa yang Anyelir lakukan kepadanya yaitu dengan mengecup kedua pipi Anyelir lalu diakhiri dengan menggesekan hidungya dengan hidung Anyelir.
"Iya Ma. Mama hati-hati ya," ucapnya lalu mencium punggung tangan Anyelir kemudian segera memasuki gerbang yang disambut dengan senyuman oleh gurunya.
Setelah memastikan Elena telah memasuki kelasnya, Anyelir segera menuju mobilnya untuk ia kemudikan menuju sebuah tempat untuk bertemu dengan Joni guna membahas tentang pendirian rumah belajar.
***
"Mama kamu belum jemput Elena?" tanya Bu Wati salah satu guru di TK Bina Nusa yang melihat Elena masih duduk di ruang tunggu siswa yang akan di jemput oleh orang tua atau walinya.
TK Bina Nusa menerapkan aturan untuk antar jemput anak. Yang mana anak akan diantar oleh orang tuanya hanya sampai batas gerbang sekolah saja, sedangkan untuk penjemputan anak-anak akan menunggu di ruangan khusus yang disediakan oleh sekolah yang didalamnya ada berbagai macam mainan dan juga buku.
Orang tua yang akan menjemput anaknya akan menemui guru yang berjaga dan menyebutkan nama anak yang di jemput. Kemudian guru tersebut akan membawa anak yang disebutkan tadi untuk diantarkan kepada orang tuanya.
Hal ini dilakukan untuk menghindari adanya tindak penculikan anak.
"Hari ini Aunty For yang jemput Bu," jawab Elena sambil memainkan lego.
"Owh ya sudah, kalau begitu Ibu temani main ya."
Elena mengangguk kemudian mereka larut dalam permainan yang mereka ciptakan.
"Elena ini sudah lebih dari satu jam kita menunggu lho. Coba Ibu akan hubungi Mama kau dulu ya."
Berulang kali Bu Wati mencoba menelpon Anyelir tapi tidak tersambung.
"Kamu punya atau ingat nomor ponsel..."
"Aunty For?" tanya Elena.
"Ya. Kamu tau Sayang?"
Elena menggeleng. "Tapi aku tau nomor ponsel Aunty Vio," ucap Elena kemudian.
"Aunty Vio itu siapanya Elena?" Bu Wati memastikan orang yang akan dihubungi ini adalah orang yang tepat.
"Aunty Vio itu sahabat Mama. Dia juga bekerja di toko kue Mama sama dengan Aunty For. Biasanya pulang sekolah aku mampir dulu ke toko kue."
"Oke kalau begitu sebutkan nomornya Sayang."
Elena kemudian menyebutkan nomor ponsel Vio. Setelah itu Bu Wati segera melakukan panggilan. Tapi hasilnya nihil tak ada satu pun panggilan dari Bu Wati yang terjawab.
"Mungkin toko kuenya lagi ramai pembeli makanya Aunty Vio sibuk," ucap Elena.
Terdengar suara pintu diketuk kemudian seorang perempuan yang memakai seragam yang sama dengan bu Wati masuk langsung menghampiri Bu Wati.
"Elena sudah dijemput Bu, tapi saya tidak pernah melihat orang itu sebelumnya," ucap bu Safa memberikan informasi kepada bu Wati sebelum membawa Elena untuk bertemu si penjemput.
"Ibu sudah menanyakan siapa namanya?" tanya Bu Wati.
Bu Safa mengangguk. "Namanya pak Ken, dia..."
Belum sempat meneruskan perkataannya, Elena sudah berteriak terlebih dahulu.
"Papa? Itu papa aku Bu," ucap Elena kemudian membawa tas di punggungnya lalu berlari keluar untuk menemui Ken.
Baik Bu Safa maupun Bu Wati segera mengikuti Elena. Mereka berhenti setelah melihat Elena yang tengah memeluk seorang pria yang diketahui bernama Ken.
Lalu bu Wati menghampiri keduanya. "Elena, bener beliau ini papa kamu Nak?" tanya bu Wati memastikan, karena tidak mau terjadi kejadian yang tidak diinginkan, seperti penculik yang mengaku sebagai orang tuannya dan memaksa anak ikut dengannya mungkin.
"Iya Bu, ini papa aku. Ibu bisa lihat kan kalau kita berdua wajahnya mirip?" ucap Elena yang kini sudah berada dalam gendongan Ken.
Bu Wati dan Bu Safa memperhatikan wajah Ken dan Elena bergantian. Memang mirip bahkan sangat mirip, hanya saja Elena mempunyai bola mata yang lebih besar dan bulat.
"Elena memang anak saya Bu. Kalau ibu tidak percaya saya bisa tinggalkan pengenal saya sebagai jaminan," ucap Ken yang sudah menyodorkan kartu identitas kepada Bu Wati.
"Oh, bukan begitu Pak. Soalnya selama ini Elena selalu diantar dan di jemput oleh mamanya, kalau mamanya berhalangan biasanya Elena dijemput oleh Mbak Fortuna."
"Kemarin-kemarin saya memang sedang ada urusan jadi tidak sempat mengantar atau menjemput Elena."
Karena Bu Wati tidak melihat hal yang aneh atau janggal, bahkan ia melihat Elena yang seolah ingin bermanja dengan papanya, maka dari itu ia pun mengizinkan Ken membawa Elena.
Elena di dudukan di kursi penumpang tak lupa Ken memasangkan sabuk pengamannya. Lalu dengan segera Ken memutari mobil untuk menuju kursi pengemudi. Tanpa waktu yang lama mobil itu bergerak meninggalkan sekolah Elena.
Tak lama berselang, Fortuna memarkirkan kendaraan roda duanya di halaman sekolah Elena. Lalu dengan tergesa ia masuk ke dalam sekolah untuk menemui guru yang ada di sana.
"Bu, maaf saya terlambat jemput Elena. Bisa saya membawanya sekarang?" Fortuna berbicara dengan Bu Wati. Dirinya persis seperti orang yang habis lomba lari. Nafasnya ngos-ngosan.
"Lho, Elena baru saja dijemput oleh papanya," jawab Bu Wati.
Fortuna yang mendengar jawaban dari Bu Wati langsung kaget.
"Dijemput papanya?" tanyanya memastikan.
Bu Wati kemudian memberi jawaban dengan anggukan kepala.
"Ya Allah...bisa kena marah Nyonya bos kalau begini ceritanya. Aduh, mana handphone lowbat lagi," gerutu Fortuna.
❤️❤️❤️
Hai...hai...Elena hadir kembali, maafkeun kemarin karena tak update ya
Untuk part kali ini gak panas kan?
Kalau part selanjutnya pinginnya gimana nih? Panas, dingin atau berbunga-bunga?🤭🤭
Terima kasih aku ucapkan untuk yang selalu setia membaca novel ini, terima kasih juga atas dukungan kalian selama ini, semoga Allah membalas dengan kebaikan yang lebih 😘😘😘
extra part-nya yg byk thor