Dia lahir dan tumbuh di wilayah konflik. Pertempuran yang seolah tak berkesudahan, membuatnya berpikir masih adakah rasa kemanusiaan terhadap sesama?
Satu persatu keluarga, saudara dan teman pergi meninggalkannya. Semuanya terampas oleh perang yang tak kunjung usai.
Akhirnya dia kembali menemukan teman yang selalu berjuang bersama hingga titik akhir. Dipaksa untuk menikah dengan seseorang yang baru saja dikenalnya oleh kakak lelakinya, menimbulkan konflik baru untuk dirinya. Seekor leopard dan seekor burung robot yang merupakan penemuan mutakhir seorang profesor pun bersedia menemani perjalanannya untuk mewujudkan impian kecilnya, yaitu perdamaian di tanah kelahirannya. Akankah itu bisa terwujud?
Ikuti kisah Aleena yang ingin melihat kedamaian di kota kecilnya. Berpetualang bersama Leopard sang macan tutul dan para sahabatnya 😉
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vie isty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Morning kiss
Aleena sudah selesai memakai pakaian. Adam memintanya untuk kembali tidur di atas ranjang, namun gadis itu lebih memilih untuk duduk di atas sofa.
Ketukan pintu terdengar. Adam pun hanya memintanya untuk masuk, karena dia sudah menekan tombol remote untuk membuka kunci pintu secara otomatis. Beberapa orang wanita terlihat memasuki kamar mewah tersebut, termasuk juga Nadeen. Sementara Jimmy terlihat menutup kembali pintu tersebut.
"Tolong periksa kesehatan tubuh istri ku."
Adam meminta kepada seorang wanita ber jas putih, yang berdiri di barisan terdepan. Sementara Nadeen beralih berdiri di samping tempat duduk dari nyonya mudanya.
"Aku tidak perlu di periksa. Hanya butuh obat nyeri saja."
Aleena berkata dengan pelan.
"Saya tahu nyonya. Saya hanya akan memastikan kesehatan anda."
Aleena hanya mengangguk untuk menyetujui tindakan yang akan dilakukan dokter itu kepada dirinya.
Dua orang perawat segera berjongkok di hadapan Aleena dan mulai memasang alat pendeteksi tekanan darah. Sementara sang dokter, mulai melakukan tugasnya dengan benda kecil yang selalu melingkar di lehernya.
"Tekanan darah anda sedikit turun nyonya. Dan kemungkinan akan semakin menurun karena anda masih datang bulan. Saat ini saya akan memberikan obat pereda nyeri dosis rendah dan juga pil tambah darah. Untuk selanjutnya, obat pereda nyeri ini sebaiknya tidak dikonsumsi jika anda sudah tidak merasa sakit lagi."
"Saya tahu. Biasanya juga cuma satu kali, saya meminum obat itu. Itupun karena beberapa bulan ini, saya sudah tidak lagi mengonsumsi herbal untuk mengurangi rasa nyeri yang biasa datang."
"Baguslah kalau begitu. Saya akan menyiapkan ramuan herbal terpercaya untuk nyonya. Walaupun saya seorang dokter, namun saya juga peneliti bahan herbal."
Aleena membalas senyuman kecil sang dokter muda yang masih berdiri di hadapannya.
"Semenjak kakak membelikan beberapa tanaman herbal. Saya tidak lagi pingsan karena kesakitan. Pereda nyeri hanya saya minum jika terdesak saja."
"Anda sangat bijak nyonya. Walaupun sedikit lebih lama, namun herbal terbukti ampuh untuk mengobati berbagai keluhan tanpa memiliki efek samping yang berbahaya seperti halnya obat medis. Untuk selanjutnya jangan lupa untuk meminum air kelapa muda meskipun hanya sekali seminggu."
"Tentu saja dokter. Meskipun buah itu sedikit sulit untuk didapatkan di daerah ini."
Perbincangan keduanya terhenti saat beberapa orang pelayan datang dan membawakan beberapa nampan sarapan pagi.
"Sebaiknya nyonya makan terlebih dahulu sebelum meminum obat itu."
"Hm."
"Saya permisi nyonya. Saya akan menyiapkan semua herbal yang anda perlukan. Permisi tuan muda."
"Ya terimakasih. Siapkan semuanya secepatnya. Aku tidak mau istri ku kesakitan."
Sang dokter hanya mengangguk dan mulai pergi meninggalkan ruangan tersebut, bersama dengan dua orang perawatnya. Adam kemudian menghela nafas panjang serta mengusap wajahnya kasar, sebelum kembali berucap. Pria itu terlihat begitu terkejut saat mengetahui bahwa istrinya begitu kesakitan hampir setiap bulan.
"Kau sering pingsan?"
"Itu dulu. Ayah dan kakak rela menghabiskan uang yang mereka peroleh, hanya untuk membeli semua hal yang bisa mengurangi rasa sakit yang setiap kali datang di saat seperti ini."
"Cepat habiskan susu ini, sebelum dingin."
Adam mendekatkan nampan yang berisi susu dan juga beberapa lapis roti. Aleena mengambilnya dan meminumnya perlahan.
"Kau tetap di sini Nadeen. Aku akan mandi. Dan pastikan dia menghabiskan semuanya serta meminum obatnya."
"Baik tuan muda."
Adam berbalik dan berjalan menuju kamar mandi, untuk membersihkan tubuhnya.
"Siapkan juga coklat panas dan juga beberapa roti untuk suamiku."
Aleena menatap seorang pelayan yang masih berdiri. Pelayan tersebut mengangguk dan segera melakukan perintah majikannya.
Aleena tahu bahwa Adam tidak begitu suka dengan susu. Karena selama lebih dari satu bulan mereka bersama, pria itu selalu menolak saat ia menawarkan susu hangat kepadanya. Ia lebih memilih coklat panas ataupun berbagai jenis teh serta air mineral saja. Bahkan pria itupun sangat jarang meminum kopi yang sering kali di tawarkan oleh Benny ataupun Rocky.
Setelah menghabiskan sarapannya, serta meminum obatnya. Aleena beralih menuju ke ruang ganti, untuk menyiapkan pakaian ganti suaminya.
Beberapa pakaian telah ia masukkan ke dalam ruang penyimpanannya. Begitupun dengan beberapa pasang pakaian yang biasa di pakai oleh Adam. Meskipun pria itu sudah menyiapkan semua kebutuhannya sendiri, namun Aleena tetap menyimpan beberapa barang yang biasa di pakai oleh suaminya tersebut.
Sebelumnya Aleena sudah meminta Nadeen untuk menunggu di luar. Sementara dirinya menunggu Adam keluar dari kamar mandi. Setelah meletakkan nampan yang berisi beberapa lembar roti serta coklat panas. Terlihat pintu kamar mandi sudah terbuka. Adam yang hanya menggunakan handuk piyama, keluar seraya mengeringkan rambutnya dengan menggunakan sebuah handuk kecil.
"Kau sudah meminum obat mu?"
Adam bergegas menghampiri Aleena yang sedang berjalan perlahan mendekati dirinya, dan segera menopang tubuhnya.
"Aku sudah lebih baik. Cepat pakai baju mu dan habiskan sarapan itu. Karena pesawat sudah menunggu di belakang."
"Kau yakin akan ikut? sebaiknya kau beristirahat di rumah saja."
Ke dua alis mata Aleena hampir saling bertaut. Bibirnya pun sedikit mengerucut, saat gadis itu mendengar ucapan dari suaminya.
"Aku bisa melewati masa-masa seperti ini setiap bulan, bahkan saat kita masih dalam pelarian untuk mengantarkan para pengungsi. Apakah sekarang berbeda?"
"Ti.. Tidak. Maksud ku bukan seperti itu. Baiklah, jika kau memang baik-baik saja. Kau akan tetap pergi bersama dengan ku."
Adam memilih untuk mengganti pakaiannya. Sementara Aleena membantunya dengan telaten. Keduanya tidak lagi sungkan meskipun Adam hanya menggunakan pakaian dalam, atau bahkan sama sekali tidak memakai apapun.
Aleena bahkan mengancingkan satu persatu semua kancing kemeja yang di pakai oleh suaminya. Seperti halnya seorang ibu yang sedang membantu putranya. Pakaian yang dikenakan oleh Adam saat ini adalah pakaian formal. Sehingga pria itu pun juga harus memakai dasi, sebagai pelengkap dari jas yang ia kenakan.
Postur tubuh Adam yang lebih tinggi dari istrinya, membuat Aleena harus naik ke atas bangku kecil yang tidak begitu tinggi. Untuk bisa menyamakan tinggi tubuhnya dengan suaminya. Sehingga ia bisa memakaikan dasi pada leher suaminya.
Gadis itu juga memberikan sedikit minyak rambut serta menyisir rambut suaminya, hampir semua kebiasaan Adam dilakukan oleh Aleena. Aroma tubuh Aleena tercium oleh hidung suaminya yang hanya terdiam di hadapannya. Secara refleks, Adam pun meletakkan kedua tangannya pada pinggang istrinya. Aleena hanya diam, serta masih merapikan rambut suaminya.
Tanpa disadari kedekatan keduanya semakin erat. Meskipun belum saling mengenal dengan baik. Namun dengan ikatan pernikahan, membuat mereka saling terbuka dan saling menerima satu sama lain.
Seorang Adam Mark Duwey, pewaris tunggal kerajaan kecil bangsawan Duwey. Serta pemegang saham utama dari Altan company, yang sebelumnya sudah menjalani proses pendidikan di berbagai negara maju.
Masih bisa memegang teguh agama, serta semua prinsip moral yang ada di dalam setiap ajaran agamanya. Meskipun kehidupan dunia barat yang cukup bebas, sama sekali tidak mempengaruhi kepribadiannya sebagai seorang muslim sejati.
Tidak saling bersentuhan dengan wanita yang bukan muhrim, merupakan salah satu hal terberat dalam kehidupannya di dunia barat. Namun sekarang semua kesabaran itu terbayar dengan seorang wanita cantik yang kini mendampingi hidupnya.
"Semoga kau selalu bersama dengan ku, hingga waktu yang ia tentukan."
Terbersit doa di dalam hatinya. Saat kedua tangannya, kembali menyentuh tubuh indah seorang wanita yang kini sudah sah menjadi istrinya.
"Tolong lepaskan tanganmu. Aku sudah selesai merapikan rambut mu."
Adam sama sekali tidak melonggarkan pelukannya. Pria itu justru semakin erat memeluk pinggang ramping istrinya, hingga tubuh mereka sama sekali tidak berjarak.
"Berikan aku morning kiss, setiap hari."
Aleena terdiam dan kembali berwajah cemberut, hingga bibirnya sedikit mengerucut. Adam tersenyum kecil, melihat tingkah istrinya yang justru semakin terlihat menggemaskan di matanya.
Kedua tangan Aleena beralih melingkar pada leher pria dihadapannya. Kemudian memberikan kecupan singkat pada keningnya.
"Sudah, lepaskan tanganmu."
Aleena mencoba mendorong tubuh suaminya yang tidak kunjung melepaskan pelukannya. Adam hanya tersenyum kecil, seraya mengecup lembut bibir mungil Aleena yang masih sedikit mengerucut.
"Jangan perlihatkan wajah seperti itu lagi di hadapan ku. Atau aku akan ******* mu sampai habis."
Adam melepaskan Aleena yang masih mematung di tempatnya. Pria itu beralih mendekati nampan yang berisi coklat panas. Kemudian meminumnya dan juga memakan roti yang sudah tersedia.
berharap ada double up 😁