Namaku Rani aku adalah ibu sekaligus ayah untuk putri tunggalku yang bernama Luna. Luna tidak seperti anak pada umumnya. Dia memiliki gangguan pada pendengarannya sejak bayi.
Semua itu terjadi karena aku sedang depresi karena perilaku kasar suamiku. Hingga membuatku nekat melakukan aborsi kepada anak yang aku kandung. Namun, Allah berkehendak lain janin yang ada di dalam kandunganku selamat dan kini menjadi seorang gadis yang sangat cantik.
Mas Niko suamiku yang kasar itu meninggalkanku entah kemana. Sejak Luna lahir kedunia dia tidak pernah melihat sosok ayahnya. Kini setelah Mas Niko pergi aku harus berjuang untuk kehidupanku dan Luna di masa depan. Karena aku tidak ingin apa yang aku alami saat ini dirasakan juga oleh putri kecilku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Rahmania, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
Sepanjang perjalanan pulang kami hanya terdiam kata-kata. Rasa canggung mulai menyelimutiku saat melihat luka lebam di wajah Roy. Sedangkan Luna yang sudah mulai tenang dan sibuk dengan mainan yang ada di dalam mobil.
"Sepertinya di rumah ada tamu," ucapku saat melihat beberapa sandal berjajar rapi di depan rumah.
"Itu sandal orang tuaku," jawab Roy sambil mematikan mesin mobilnya.
"Mas, aku minta maaf atas kejadian tadi," ucapku sambil memegang tangan Roy yang akan membuka pintu.
"Kamu tidak salah, jangan bahas lagi masalah ini lagi," jawab Roy sambil tersenyum dan mengusap lembut pipiku.
"Tapi bagaimana jika Ibu dan Bapak bertanya tentang luka di wajahmu?" tanyaku dengan wajah cemas.
"Biar nanti aku yang menjawabnya, Tuan putri ayo kita turu," ajak Roy sambil menoleh ke arah Luna yang ada di bangku belakang.
"Nenek!" teriak Luna saat melihat orang tua Roy sedang duduk di teras.
"Luna, cucu Nenek yang paling cantik," jawab Bu Asih sambil memeluk Luna dengan penuh kasih sayang.
"Kalian berdua darimana? Hampir satu jam Bapak dan Ibu di sini," protes Pak Usman kepada kami.
"Maaf Pak kami tadi jalan-jalan sebentar," jawab Roy sambil membuka pintu rumah yang masih terkunci.
"Mari masuk Pak, Bu," ucapku sambil mempersilahkan mereka masuk.
"Sebentar-sebentar, itu wajahmu kenapa babak belur?" tiba-tiba Bu Asih bertanya sambil memegang wajah Roy.
"Ini tadi kepentok Bu, tapi sudah tidak apa-apa," jawab Roy sambil melepaskan tangan ibunya.
"Kepentok kok sampai seperti ini, kamu pikir Ibu ini Luna yang bisa dibohongi," ucap Bu Asih sambil berjalan ke arah sofa.
"Tadi Ayah dipukul sama Papa, Nek," jawab Luna dengan tiba-tiba.
"Luna tadi bertemu Papa Niko?" tanya Pak Usman kepada Luna.
"Iya tadi kami ke rumah sakit dan ketemu Papa, terus Papa marah karena Luna tidak mau digendong, akhirnya Papa pukul wajah Ayah," jawab Luna dengan polosnya.
"Luna sekarang kamu mandi lalu tidur siang, Nenek dan Kakek mau bicara sama Mama dan Ayah dulu ya," perintah Bu Asih yang di jawab dengan Anggukan oleh Luna.
Entah kenapa hatiku tiba-tiba takut saat mendengar ucapan Bu Asih. Tatapan tajam dan marah terlihat jelas dari mata Ibu mertuaku saat melihat ke arahku. Aku tahu rasa marah dan kesal yang ada dalam hatinya saat ini.
“Kalian duduk disini,” perintah Pak Usman kepada kami yang terlihat menunduk di hadapannya.
“Ibu heran sama kalian kenapa kalian masih menemui laki-laki berandal itu, kamu juga Rani seharusnya sebagai seorang istri yang baik kamu harus bisa melupakan masa lalumu, apa jangan-jangan kamu masih mencintai mantan suamimu itu,” ucap Bu Asih hingga membuatku terkejut dan langsung menatap wajah mertuaku.
“Maaf Bu ….” jawabku yang langsung terdiam karena Roy langsung menyela ucapanku.
“Ini bukan salah Rani, aku yang mengajaknya bertemu dengan Niko,” jawab Roy sambil menatap wajah sang ibu.
“Apa kamu sudah gila, atau kamu lupa dengan apa yang dia lakukan kepadamu beberapa bulan lalu,” ucap Bu Asih dengan wajah kesal.
“Kami hanya ingin menjenguk Ibu Niko yang sedang sakit, tapi ternyata Niko tidak menyukai kehadiran kami,” jawab Roy sambil menunduk.
“Ya jelas dia tidak menyukaimu, karena yang ada dalam pikirannya kamu sudah merebut istri dan anaknya!” bentak Bu Asih sambil berdiri dan menatap tajam ke arah kami.
“Bu, tenang dulu, kita bisa bicarakan baik-baik,” ucap Pak Usman sambil memegang tangan istrinya.
“Tenang bagaimana, sekarang Bapak lihat wajah Roy memar karena perbuatan mantan suaminya Rani, apa Ibu bisa tenang,” jawab Bu Asih yang langsung menoleh ke arah sang suami.
“Iya Bapak tahu, tapi paling tidak kita dengarkan dulu penjelasan mereka,” ucap Pak Usman seolah menjadi penengah.
“Rani, kalau kamu masih mau menjadi istri Roy dan menantu kami, Ibu minta kamu jauhi mantan suamimu, atau jika kamu masih nekat bertemu dengannya lebih baik kalian bercerai,” ucap Bu Asih yang membuatku dan Roy terkejut.
“Bu, jangan bicara seperti itu, ini semua bukan atas permintaan Rani, tapi aku yang mengajaknya,” jawab Roy yang langsung menoleh ke arah sang ibu.
“Kenapa? Benarkan apa yang Ibu bilang, sekarang kamu pikir seorang perempuan jika tidak bisa lepas dari masa lalunya apalagi itu mantan suami berarti kemungkinan dia masih ada rasa cinta ‘kan!” bentak Bu Asih sambil menatapku yang masih menunduk dan terdiam sambil menahan tangis.
“Tapi ini bukan kemauan Rani Bu, semua ini atas dasar kemauanku. Kenapa Ibu masih menyalahkan Rani?" jelas Roy kepada Bu Asih.
“Ibu seperti ini bukan karena menyalahkan Rani maupun membencinya, tapi ini demi kebaikan kalian, Roy kamu tidak tahu siapa Niko dan bagaimana dia,” jelas Bu Asih kepada Roy.
“Ibumu benar Roy, Niko itu adalah laki-laki keras dan kejam, bahkan saat Rani dan Niko masih dalam ikatan pernikahan hampir setiap hari Rani disiksa olehnya, dan tidak menutup kemungkinan dia akan melakukan hal yang sama kepadamu atau Luna dan Rani,” tambah Pak Usman sambil menoleh ke arah sang putra.
“Pak, Bu, saya minta maaf jika selama ini saya masih membawa masa lalu di kehidupan yang sekarang, tapi saya akan usahakan mulai sekarang akan menjauhi masa lalu saya,” ucapku sambil memberanikan diri menatap Bu Asih.
“Rani, Ibu harap kamu tidak salah paham atas sikap keras Ibu dan Bapak kepadamu, kami keras seperti ini bukan karena kami membencimu, tapi justru kami sangat menyayangimu," ucap Bu Asih yang mulai melembutkan suaranya sambil memegang tanganku.
Setelah menjelaskan maksudnya Bu Asih langsung memelukku dengan erat. Memeluk Ibu mertuaku seakan memeluk almarhum Ibu kandungku yang lama meninggal. Entah karena Bu Asih tulus menyayangiku atau mungkin aku yang sangat merindukan Ibuku.
“Ya Allah terima kasih engkau telah memberikan aku mertua yang sangat menyayangiku,” batinku sambil menangis di pelukan ibu mertuaku.
“Bagaimana kalau malam ini kita makan di restoran ku, kebetulan aku juga ingin mengecek beberapa dokumen di sana,” ajak Roy sambil tersenyum.
“Tapi Mas, apa aku tidak apa-apa kesana, apalagi dengan baju sederhana ini,” ucapku dengan ragu.
“Sayang kamu sangat cantik dengan pakaian itu, nanti setelah makan malam aku akan ajak kalian belanja,” jawab Roy sambil tersenyum dan memegang tanganku.
“Ya sudah Ibu mau ke kamar Luna, karena Ibu pengen kasih jepit rambut ini buatnya,” ucap Bu Asih sambil berdiri dan menunjukkan beberapa jepit rambut yang sudah dibeli.
“Sayang, kamu siap-siap saja dulu, biar aku dan Bapak tunggu di luar,” perintah Roy yang langsung aku jawab dengan senyum dan anggukan kepala.
mkasih othor dah kasih bab lanjutannya. semangat terus ya thor
buka hati saja wat roy kasian luna juga pengen punya ayah