Chapter 1
"Dasar tidak becus! Percuma saya membayar gajih kalian sama sekali tidak bisa bekerja. Membuat laporan bulan saja kalian selalu salah. Sebaiknya kalian kembali saja ke bangku kuliah, karena saya tidak mentolerir satu kesalahan pun. "
Suara seorang pria menggema di ruangan tersebut sebut.Begitulah yang selalu diterima para pegawai di sana. Jika meraka mengadakan rapat bulanan, di perusahaan power company. Peria tersebut merupakan CEO di perusahaan itu. Dia seorang CEO muda yang sangat perfect.
Membuat karyawannya merasa kesulitan dalam bekerja. Pria itu bernama Alek Dengan. Seorang peria berusia 25 tahun, yang sampai detik ini tidak memiliki kekasih.
Maafkan kami, pak. Kami akan merevisi lagi laporan bulanan kami, sesuai dengan permintaan anda,"ucap natasha, yang merupakan sekertaris disana.
Alex pun menatap tajam ke arah sekertarisnya tersebut.
"Hmm, saya sudah bosan mendengar kamu mengatakan kalimat yang sama dan berulang setiap bulanya. Apakah kosakataKamu sanga
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon asihifa rubya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
chapter 32
"Ini dompetmu, Nona. Aku hanya ingin menyita KTP-mu saja untuk sementara waktu. Sebagai bukti jika kau tidak akan lari dari tanggung jawab," jelas pria itu yang langsung memasukkan KTP tersebut ke dalam saku celananya, membuat Meysa tidak bisa berkutik lagi.
"Kau memang benar-benar keterlaluan," jawab wanita itu sambil mendengus kesal menatap ke arah Leon.
Akhirnya Meysa tidak punya pilihan lain, selain menelepon orang kepercayaan keluarganya. Agar segera membawa mobil Leon ke bengkel." . . Mana kunci mobilmu?" tanya wanita itu.
Leon pun segera menyerahkan kunci mobilnya kepada Meysa dan wanita itu langsung memberikannya kepada satpam yang berjaga di sana. Karena ia bermaksud meminta satpam itu menyerahkan kunci mobil tersebut kepada orang kepercayaan keluarganya, jika sudah tiba di tempat itu.
"Kau tenang saja. Sebentar lagi orang kepercayaan keluargaku akan datang menjemput mobilmu dan membawanya ke bengkel. Sebaiknya kau serahkan KTP-ku sekarang," pinta Meysa sambil mengulurkan tangannya.
"Maaf, Nona, tidak bisa. Tunggu kunci mobilku kembali ke tanganku, baru aku akan menyerahkan KTP ini kepadamu," jelas Leon sambil tersenyum menatap ke arah wanita itu.
Leon sengaja melakukan hal tersebut. Supaya Meysa lebih bertanggung jawab atas perbuatan yang sudah ia lakukan.
Sementara wanita itu, kini ia mendengus kesal. Ketika mendengar perkataan Leon barusan, yang sepertinya hanya ingin mempersulit dirinya saja."Oh my Good! Mimpi apa aku semalam? Kenapa aku bisa bertemu dengan pria yang sangat menyebalkan sepertimu?" tanya wanita itu, lalu memutuskan untuk segera berjalan menuju ke arah mobilnya berada.
Melihat Meysa yang hendak membuka pintu mobil, dengan cepat Leon menyusul wanita itu dari belakang dan tanpa permisi lagi ia langsung duduk di kursi penumpang. Tanpa meminta izin terlebih dahulu kepada si pemilik mobil.
"Hei, Tuan! Apa yang sedang kau lakukan? Siapa yang menyuruhmu masuk ke dalam mobilku?" tanya wanita itu yang merasa terkejut, ketika melihat Leon yang sudah duduk manis di sampingnya saat ini.
Tak lama kemudian, ponsel Leon tiba-tiba berdering. Sebenarnya pria itu adalah seorang direktur di salah satu perusahaan garmen milik keluarganya. Hanya saja ia menyamar sebagai karyawan biasa, saat Nara masih bekerja di sana. Itulah sebabnya, kenapa wanita itu tidak pernah tahu, siapa Leon yang sebenarnya.
"Sebaiknya kau diam. Aku angkat panggilan telepon dulu," pinta Leon yang meletakkan telunjuknya di depan bibir. Sebagai kode, supaya Meysa tidak mengganggunya saat menerima panggilan telepon tersebut.
|"Ya, Susan. Ada apa kau menelepon?")
Susan yang merupakan sekretaris Leon langsung menjelaskan maksudnya menelepon pria itu. Karena ada klien yang meminta Leon untuk menemuinya di restoran setengah jam lagi.
| "Baik, saya akan segera ke sana sekarang. Sebaiknya kau segera siapkan semua berkas-berkas yang dibutuhkan.") setelah memberikan perintah kepada Susan sekretarisnya, Leon
segera menutup panggilan telepon tersebut.
Tut! Tut! Tut!
Tanpa memandang ke arah Meysa, ia memberikan perintah kepada wanita itu.
"Tolong antarkan saya ke restoran yang berhadapan dengan mall terbesar yang ada di pusat kota," pinta Leon membuat Meysa seketika membulatkan mata menatap ke arahnya.
"What? Kau memintaku mengantarmu ke restoran? Apa kau pikir aku ini supirmu?" tanya Meysa yang merasa tidak terima.
"Nona, sebaiknya kau hidupkan mobilmu sekarang. Karena nanti aku bisa terlambat, jika kau terus mengomel," jelas Leon yang berusaha sabar, saat melihat tingkah Meysa yang menurutnya sangat menyebalkan.
Namun, Meysa yang keras kepala terang-terangan menolak permintaan dari pria itu.
"Aku bukan supir mu, Tuan. Sebaiknya kau turun dari mobilku sekarang juga!" pinta wanita itu yang tidak mau kalah. Sejenak Leon terdiam, sambil menghela napasnya secara perlahan-lahan. Ketika melihat arloji di tangannya yang terus berputar. Akhirnya pria itu langsung mencabut kunci mobil tersebut dan meminta Meysa untuk bertukar tempat duduk dengannya.
"Hey, Tuan! Apa yang ingin kau lakukan?" tanya wanita itu yang merasa kebingungan, saat melihat Leon memaksanya untuk segera turun.
"Kau duduk di kursi penumpang sekarang juga, Nona. Biar aku yang menyetir. Karena kau sudah banyak membuang waktuku," jelas
pria itu dengan sangat tegas. Namun, Meysa langsung menggelengkan kepala. Karena ia tidak ingin menuruti perintah yang Leon berikan.
"Baik, jika kau tidak mau, tapi jangan salahkan aku. Jika aku akan memindahkan tempat dudukmu secara paksa!"
Leon pun segera menggendong Meysa layaknya karung beras, lalu menurunkan wanita itu untuk duduk di kursi penumpang.
"Kau benar-benar keterlaluan. Seanaknya saja memaksaku. Padahal, aku pemilik mobilnya," protes Meysa ketika Leon yang sudah duduk di kursi kemudi. Bersiap untuk menyetir mobil.
"Sebaiknya kau pasang sabuk pengaman, Nona. Jangan berceloteh terus," perintah Leon yang langsung tancap gas, membuat Meysa sedikit ketakutan.'
"Tuan, tolong pelankan mobilnya,' pinta wanita itu yang kini sudah memegang sabuk pengaman dengan sangat erat. Karena Leon sama sekali tidak memperdulikan permintaannya.
Tak lama kemudian, mobil yang dikendarai Leon telah tiba di depan restoran yang dimaksud. Jarak tempuh ke restoran yang
seharusnya 25 menit, bisa pria itu pangkas menjadi 15 menit. Karena Leon mengemudi dengan sangat kencang. Membuat Meysa merasakan mual dan hendak muntah, akibat ulah pria itu.
"Terima kasih atas tumpangannya, Nona. Aku harap secepatnya kau bisa mengantarkan mobilku ke alamat yang aku berikan tadi kepadamu. Kalau begitu aku permisi dulu."
Setelah mengatakan kalimat tersebut, dengan santainya Leon keluar dari mobil dan pergi meninggalkan wanita itu. Karena saat ini ia sedang terburu-buru untuk bertemu dengan klien pentingnya di restoran. Sementara Meysa, ia menatap kepergian Leon dengan tatapan tajam. Karena wanita itu merasa sangat sial hari ini. Terlalu banyak masalah yang menguras emosi, serta tenaganya. Membuat hati dan pikiran wanita itu menjadi tidak tenang. Mulai dari pernikahan Alex dan akhirnya ia dipertemukan dengan Leon. Pria yang sangat menyebalkan baginya.
'Awas saja, aku akan membalas perbuatanmu. Karena kau sudah berani memancing emosiku, Leon Orlando,' ucap Meysa dalam hati, saat menatap kepergian pria itu yang sudah pergi menjauh.
**" Saat ini di restoran, ternyata kedatangan leon sudah ditunggu oleh sepasang suami istri yang berasal dari Negeri Jiran. Dia adalah Naseer berserta Najilah istrinya. Karena kedatangan mereka bermaksud untuk bekerja sama dengan perusahaan garmen pimpinan Leon.
Selamat siang Tuan Naseer dan Puan Nazila. Maaf, jika kedatangan saya agak sedikit terlambat," ucap Leon yang begitu hormat kepada sepasang suami istri tersebut.
"Tidak mengapa, Leon. Kami pun baru sampai. Jom, sila duduk." ucap Naseer dengan logat melayunya, yang mempersilahkan Leon untuk duduk di hadapan mereka.
Sementara Susan yang juga baru tiba di restoran, memilih untuk duduk di samping bosnya tersebut, sambil menyerahkan beberapa berkas yang akan mereka serahkan kepada pasangan suami istri itu.
Saat ini terjadilah perbincangan di antara mereka. Karena Naseer dan juga istrinya merasa tertarik untuk menanamkan saham ke perusahaan Leon dan meminta pria itu untuk mengekspor hasil produksinya ke Negeri Jiran. Agar bisa dipasarkan di sana. Ketika mereka hendak berjabat tangan, tiba-tiba dengan cepat seorang wanita langsung menggenggam tangan pria itu. Wanita itu tidak lain adalah Meysa, yang saat ini menunjukkan raut wajah sedihnya.
"Leon, ternyata kau di sini. Kenapa kau tidak mengangkat panggilan telepon dariku, Sayang? Padahal, aku sudah mencarimu ke mana-mana. Sungguh kau sangat keterlaluan. Aku tidak terima, karena kau menolak mengakui darah dagingmu sendiri. Apa kau lupa, dengan dosa yang sudah kita lakukan? Ueek! Ueek!" Meysa sengaja mengatakan kalimat itu, karena sebenarnya ia ingin membalas perbuatan Leon kepadanya barusan.
"Kau .... Sebenarnya apa yang kau katakan? Aku sama sekali tidak mengerti. Lagipula bagaimana bisa kau hamil, sementara kita tidak saling mengenal?" tanya Leon yang menatap Meysa dengan tatapan tajam. Karena kehadiran wanita itu, bisa merusak reputasinya di hadapan sepasang suami istri
tersebut.
"Leon, kau sangat tega kepadaku. Bahkan sekarang kau tega mengatakan, jika kau sama sekali tidak mengenalku. Hiks-hiks." Saat ini Meysa menunjukkan raut wajah sedih. Hingga ia menitikkan air mata, sambil mengelus perutnya. Agar aktingnya lebih meyakinkan lagi. Melihat hal itu Puan Najilah merasa iba dan memutuskan untuk angkat bicara.
"Leon. Saya tak sangka awak boleh sakitkan hati wanita mengandung ni. Awak kata awak tak kenal dia. Saya sangat kecewa dengan apa yang awak lakukan. Lebih baik awak selesaikan perkara dengan wanita malang ini dahulu. Kerana saya tidak mahu bekerja dengan lelaki yang tidak mahu bertanggung jawab. Ayuh, Abang, mari pulang." Setelah mengatakan kalimat itu dengan bahasa, serta logat melayu yang kental, Puan Najilah segera menarik tangan suaminya untuk pergi meninggalkan Leon denganperasaan amarah.
Leon pun berusaha mengejar mereka berdua. Agar bisa memberikan penjelasan. Namun, langkahnya harus terhenti oleh dua pengawal dari pasangan suami istri tersebut.
Sementara Meysa, ia merasa sangat puas. Karena wanita itu sudah berhasil membalas rasa rasa sakit hatinya kepada Leon.
"Kau wanita sakit jiwa! Akibat perbuatanmu aku harus kehilangan klien penting ku. Secepatnya kau harus meminta maaf kepada mereka. Karena sudah mengarang cerita bohong!" ucap Leon yang sudah tidak mampu lagi membendung amarahnya.
Meysa pun langsung terkekeh ketika mendengar perintah yang diberikan oleh pria itu.
"Hehehe. Jangan berharap, Tuan Leon Orlando yang terhormat. Karena aku tidak akan pernah menarik perkataanku. Anggap saja itu balasan dariku atas perbuatanmu, yang sudah menghancurkan moodku hari ini. Ya sudah, aku permisi dulu. Sampai bertemu lagi."
Setelah mengatakan kalimat itu, Meysa segera mengenakan kacamata hitamnya, lalu berjalan meninggalkan Leon dengan sebuah kemenangan.
Sementara Susan, ia langsung menatap ke arah bosnya tersebut dengan perasaan khawatir.
"Bos, are you okay?" tanya wanita itu.
Leon pun berusaha untuk tersenyum, sambil menganggukkan kepala dan meminta Susan untuk segera pergi meninggalkannya. Karena saat ini pria itu butuh waktu untuk sendiri.
'Kenapa hari ini terlalu banyak masalah yang bertubi-tubi datang menimpa aku? Apa yang harus aku lakukan sekarang? Karena wanita sakit jiwa itu, aku terancam kehilangan kontrak bersama tuan Naseer,' pikir Leon dalam hati, sambil menghela napasnya secara kasar dan memejamkan matanya walau hanya sejenak.
***
Tak terasa matahari mulai meredupkan cahayanya. Pertanda malam pun akan segera tiba. ementara di kamar pengantin yang bertaburan mawar merah, Nara merasa kebingungan harus melakukan apa. Hingga ia mendengar suara seseorang yang hendak membuka pintu kamar hotel. Dengan cepat wanita itu berlari menuju toilet. Karena Nara bermaksud ingin bersembunyi di sana, sekaligus membersihkan tubuhnya yang terasa gerah.
"Nara! Nara! Ke mana perginya wanita itu? Kenapa dia tidak menjawab panggilanku?" tanya Alex yang saat ini sedang mencari keberadaan istrinya.
Ketika ia mendengar suara gemericik air, pria itu yakin jika saat ini Nara sedang berada di sana.
Sambil menunggu wanita itu selesai mandi, Alex memutuskan untuk mengambil laptopnya dan menyelesaikan beberapa pekerjaan yang terbengkalai. Akibat resepsi pernikahannya hari ini.
Tak terasa 15 menit telah berlalu. Namun, Alex tidak melihat tanda-tanda, jika Nara akan keluar dari toilet. Awalnya ia membiarkan saja. Namun, setelah 30 menit berlalu, pria itu merasa curiga dan akhirnya memutuskan untuk mengetuk pintu toilet tersebut.
Tuk! Tuk! Tuk!"Nara! Apa yang sedang kau lakukan di dalam? Kenapa lama sekali?" tanya Alex yang semakin menaruh rasa curiga.
Untunglah sebelum keluar dari kamar, pria itu sudah mandi terlebih dahulu. Makanya saat ini ia bisa berpakaian santai.
Tak lama kemudian, Nara pun keluar dari dalam toilet. Betapa terkejutnya Alex, ketika melihat gaun pengantin yang masih melekat sempurna ditutup wanita itu.
"Nara, apa yang kau lakukan dari tadi di dalam toilet? Apa kau sedang bermain air seperti anak kecil?" tanya Alex, membuat wanita itu menatap tidak suka ke arahnya.
"Aku tidak bisa membuka gaun pengantin ini, Ko. Sangat sulit, tanganku juga tidak sampai untuk membuka ritsletingnnya," jelas Nara, membuat Alex seketika membulatkan mata. Saat mendengar perkataan wanita itu.
"Kau ini, kalau tidak bisa dibuka sebaiknya ngomong. Minta bantuan dariku, jangan hanya diam. Membuang-buang waktu saja. Ya sudah, sini aku bantu." Setelah mendengar tawaran yang diberikan oleh suaminya, Nara segera menyodorkan punggungnya kepada Alex. Membuat pria tampan itu harus meneguk saliva-nya. Saat melihat punggung mulus milik istrinya tersebut.
Namun, Alex berusaha untuk menahan hasratnya. Karena ia teringat dengan perjanjian yang sudah ia buat bersama Nara, sebelum mereka menikah.
Dengan perlahan-lahan, Alex menurunkan ritsleting wanita itu. Agar Nara bisa segera menyelesaikan ritual mandinya.
"Sekarang kau tidak memiliki alasan lagi, Nara. Cepat, mandi. jangan membuatku menunggu lama," pinta Alex membuat wanita itu langsung membulatkan mata.
"Kau tidak usah menunggu, Ko. Jika kau lelah tidur saja," jawab Nara cepat.
Alex pun terkekeh saat mendengar perkataan wanita itu. Karena ia tahu maksud perkataan istrinya barusan.
"Tidak, Nara. Aku akan menunggumu, supaya kita bisa tidur bersama," jelas Alex, membuat wanita itu bergidik ngeri saat mendengar perkataan suaminya.
Terlihat raut wajah kebingungan yang ditunjukkan oleh Nara. Namun, ia tidak punya pilihan lain, selain menyelesaikan ritual mandinya. Karena sebenarnya tubuh wanita itu sangat lelah dan ja ingin secepatnya bisa memejamkan mata.
Setelah melihat Nara kembali masuk ke dalam toilet, Alex pun memutuskan untuk menyelesaikan beberapa laporannya hari ini.
Hingga 30 menit pun sudah berlalu. Sesekali mata pria itu melirik ke arah pintu toilet. Karena Nara sepertinya masih betah berada di sana.
Di saat Alex memutuskan untuk bangkit dari tempat tidur, supaya bisa mengedor pintu toilet tersebut, tiba-tiba pintu toilet itu terbuka dan menghadirkan sosok Nara yang berdiri di hadapannya.
Wanita itu pun sudah mengenakan piyama tidurnya, dengan rambut yang kini sudah dibalut oleh handuk.
Melihat kehadiran istrinya, Alex segera menyelesaikan tugasnya dan menyimpan laptop ke dalam tas, yang sering ia gunakan.
Sambil menepuk-nepuk kasur, pria itu meminta Nara untuk tidur di sampingnya. Ada perasaan canggung yang wanita itu rasakan. Karena ini adalah pengalaman pertama baginya dan ia berusaha untuk tidak terjebak dalam pesona suaminya sendiri.
"Ko, apa kita harus tidur satu kasur?" tanya wanita itu yang sebenarnya merasa keberatan dengan permintaan Alex barusan.
"Tentu Nara, bukankah kita sekarang sudah resmi menjadi pasangan suami istri? Jadi, kita tidak boleh tidur terpisah. Agar kita bisa menunjukkan kemesraan di hadapan semua orang. Bukan begitu, Sayang? Ayo, kemarilah,
tidur di sini, " pinta Alex membuat Nara sedikit takut terhadap suaminya itu.
"Ko, s-sebaiknya kau jangan macam-macam. A-aku tidur di s-sofa saja," jawab Nara dengan terbata-bata, lalu berniat ingin mengambil bantal dan juga selimut.
"Baiklah, silahkan kau tidur di sofa. Nanti juga, jika kau sudah tertidur aku akan mengendongmu dan membawamu tidur di sampingku," jawab Alex dengan begitu santainya.
Nara pun langsung memberikan protes ketika mendengar perkataan pria itu barusan."Tidak, kau tidak boleh menyentuh ku."
Tanpa pikir terpanjang lagi, Nara langsung berlari dan mengambil posisi tidur di samping pria itu. Karena ia tidak ingin Alex mengendongnya saat tertidur.
Dengan cepat wanita itu menarik selimut hingga ke tubuhnya dan tidur membelakangi Alex.
"Apa kau lupa Nara, jika berdosa seorang istri tidur membelakangi suaminya," jelas Alex yang membuat wanita itu lagi-lagi mendengus kesal.
"Ko Alex, apa kau lupa jika pernikahan kita didasari dengan sebuah kontrak perjanjian? Sebaiknya kau jangan menuntut ku untuk menjadi istri sempurnamu. Karena status pernikahan kita hanya di atas kertas," jelas Nara berusaha mengingatkan pria itu.
"Ya, aku ingat Nara, tapi walau begitu. Kau tetap istri sah ku. Baik secara hukum mau pun di mata agama. Sudahlah jangan berdebat terus."
Setelah mengatakan kalimat itu, Alex langsung memeluk pinggang wanita itu dari belakang, membuat Nara seketika menegang."Ko, apa yang sedang kau lakukan?" tanya wanita itu.
"Memeluk istriku. Ya sudah, Nara. Sebaiknya kau tidur. Saat ini aku benar-benar lelah dan mengantuk. Apa kau tidak lelah?" tanya Alex yang mulai memejamkan mata.
"Hmm, tapi lepaskan dulu tanganmu." Nara pun berusaha melepaskan tangan pria itu dari tubuhnya.
Namun, sepertinya semua yang ia lakukan hanya sia-sia. Karena saat ini Alex sudah tertidur pulas sambil memeluk tubuh istrinya dengan sangat erat.