Clara Nathalia. Seorang anak kecil berusia 8 tahun, memiliki paras yang cantik. Clara anak yang periang,cerdas dan cerewet. Namun, suatu malam yang kelam menghancurkan hati Clara. Membuat Clara tidak percaya lagi dengan kebersamaan.
10 tahun kemudian, Clara tumbuh menjadi gadis yang pendiam. Karena sebuah insiden, Clara terjerumus masuk ke dalam jebakan musuh orang lain.
Bagaimana kisah Clara selanjutnya?.
Pantengin terus cerita ini ya☺....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MellaMar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menyerah bukan tujuan utamaku
Seorang pria berusia setengah abad sedang berlari di daerah pemukiman warga tak jauh dari rumah Satria dengan terus melirik ke arah kiri di mana Satria,Willy dan anak buahnya tengah mengejar Clara.
"Ngejar wanita hamil aja lelet". Monolog pria itu terus berlari mengimbangi Clara.
Gang demi gang ia lewati dengan lincah. Tidak terlihat seperti usia lanjut karena kekuatan untuk larinya sangatlah cepat.
"Grep".
Pria itu menarik tangan Clara dan membungkam mulut Clara. Sosok itu menyuruh Clara untuk jongkok supaya tidak ketahuan Satria dengan telunjuk menempel pada bibirnya menyuruh Clara diam. Clara mengatur nafasnya karena dadanya naik turun yang tak beraturan.
Setelah memastikan Satria dan yang lainnya pergi, Clara meberanikan diri mengalihkan pandangannya dengan sangat perlahan ke sosok yang berada di sampingnya.
Wajah yang tertutupi oleh masker dan terpasang senuah topi dikepalanya membuat Clara tak mengenali pria itu. Seketika bola mata Clara membulat sempurna setelah masker dan topi itu di buka dan mengetahui siapa sosok di hadapannya dengan matanya berkaca-kaca.
"Om Heri". Lirih Clara tak percaya.
Om Heri sekaligus papa dari Satria dan Willy itu ternyata saling mengenal dengan Clara. Sepengetahuan Clarapak Heri dan pak Tomo menjalin hubungan yang baik,padahal sebaliknya. Clara pun tak tahu ada berapa orang jumlah anak pak Heri.
Pak Heri tentunya syok mendengar kabar semua kejadian Clara dan Satria hingga menelan korban yaitu satu calon cucunya. Saat itu juga pak Heri memanggil Satria dan menghukumnya selama satu minggu di Indonesia tanpa ada seorangpun yang tahu.
Pak Heri membawa Clara ke rumahnya dan sebelumnya menghubungi Satria secara diam-diam.
"Mau minum apa?". Tanya pak Heri.
"Air putih aja pak". Jawab Clara lembut.
Pak Heri langsung menyuruh art nya membawakan segelas air dan di sambut hangat oleh Clara. Pak Heri mengajak Clara berbicara dan Clara perlahan merasa nyaman dan relax.
"Tante Meta nya kemana om?". Tanya Clara.
"Tante?". Pak Heri terkejut.
"Oh tante lagi di rumah anak om". Jawab pak Heri menormalkan ekspresinya.
"Clara baru tahu loh kalo om punya anak". Ucap Clara serius.
"Benarkah?".
"Heemh". Gumam Clara mengangguk karena mulutnya penuh dengan air minum.
Sebagai kepala keluarga tentunya merasa sangat bersalah atas apa yang terjadi pada Clara. Pak Heri mengenyampingkan kasus kecelakaan mami Meta yang di duga pak Tomo pelakunya karena ini bukan waktunya.
Perlahan pak Tomo menjelaskan semuanya dari awal siapa itu mami Sandra tanpa mengatakan siapa pelakunya. Kabar tentang ketiga anaknya memperkenalkan nama-nama mereka tentu saja membuat Clara terkejut.
"Kalian semua jahat!!". Teriak Clara histeris.
Pak Heri dengan cepat mendekatinya. "Clara! Clara dengerin om". Pinta pak Heri memegang kedua bahu Clara dari arah depan.
"Kalian jahat. Om jahat. Mami Sandra jahaat!!". Racau Clara.
"Jangan deketin Clara. Clara benci kalian. Bentak nya lagi membuat pak Heri melangkah mundur.
"Teruslah menangis jika kamu ingin kehilangan anakmu lagi". Gertak pak Heri membuat Clara langsung terdiam.
Pak Heri mencoba meminta maaf atas perlakuan tak pantas yang dilkukan oleh Satria dan apa penyebabnya.
"Satria telah berubah, percayalah Clara. Dan pertemuanmu dengan tante Meta itu tidaklah di sengaja". Jeas pak Heri.
Panjang lebar sudah pak Heri menjelaskan semuanya kepada Clara. Mungkin untuk saat ini pak Heri memaklumi jika Clara belum bisa menerima kenyataan.
Satria merasa lega setelah mendapatkan notifikasi pesan keberadaan Clara dan segera kembali ke rumahnya. Apalagi Clara akan tinggal sementara di rumah pak Heri bersama para art nya.
Clara termenung sendiri di kamar menghadap ke jendela. Pemandangan deretan rumah tersusun rapi bersekat jalan yang menjadi tempat lalu lintas.
"Kenapa jadi seperti ini?". Lirih Clara bermonolog.
"Rasanya sangatlah lelah. Tapi jika aku menyerah,bagaimana nasib anakku yang tak berdosa ini. Apakah aku salah mengorbankan diriku demi bapak? Tapi dimana bapak? Dia tidak pernah menghubungiku setelah ia sadar". Lanjutnya.
"Kenapa Tuhan? Kenapa tidak ada orang yang benar-benar tulus menyayangiku? Aku tahu kau mengujiku, tapi kapan? Kapan semua ini berakhir Tuhan? Aku sudah sangat lelah".
Ia berjalan ke arah cermin minimalis yang menempel di dinding kamar.
"Tidak,aku tidak boleh menyerah. Ini bukan tujuan utamaku. Aku kuat. Aku hebat".
"Ya, aku bisa melewati ini semua. Semangat". Ucapnya lalu mengukir senyum hambar di wajahnya.
Clara memilih tidur dari pada terus melanjutkan menangis yang
menurutnya tiada arti bagi semuanya.
***
Ruangan kerja di rumah pak Tomo...
Pak Tomo menarik laci meja yang setelahsekian lama baru ia buka kembali. Menarik sebuah amplop putih dan membukanya. Nampak beberapa lembar foto di dalamnya yang ternyata semunya foto mami Meta dari usia muda sampai ketika tubuhnya berlumuran darah.
"Meta, apakah kau mengingatku?". Gumam pak Tomo.
"Dimana kamu sekarang Meta? Aku sangat merindukanmu".
Pak Tomo kemudian mengingat kembali kejadian fatal sepuluh tahun yang lalu.
Flashback on...
Setelah perpisahannya dengan ibu Nesha yang sekarang menjadi ibu sambung Cleo dan ibu angkat Keysa. Pak Tomo hanya memikirkan seorang wanita yang ia cintai dari masa mudanya.
"Apa yang harus saya lakukan tuan?". Tanya seorang pria gagah menyeramkan di hadapan pak Tomo.
Pak Tomo menyunggingkan bibirnya. "Apakah kamu sanggup melakukannya tanpa melibatkan namaku jika suatu waktu kau di tangkap?". Tanya pak Tomo.
Pria itu mengangguk menyanggupinya karena tepat saat itu ak Tomo menawarkannya dengan satu koper uang yang entah berapa jumlahnya.
"Bapak!!!". Tiba-tiba Clara gadis kecil memanggilnya.
Karena gugup pak Tomo langsung menarik sebuah foto dari tumpukan foto yang terbalik di atas mejanya yang ia fikir adalah foto pak Heri, langsung menyerahkannya dan segera mengusir pria itu.
"Jangan biarkan dia hidup atau tidak kau yang akan mati. Pergi". Ancam pak Tomo diangguki pria itu yang segera pergi.
"Iya Rara sayang ada apa?". Tanya pak Tomo menghampiri Clara yang masih berusia 8 tahun.
"Rara sayang bapak. Bapak adalah yang terbaik sedunia". Ucap Clara dengan tingkah lucu sebelum terkena bullying di sekolahnya.
Pak Tomo hanya tersenyum dan mengajak Clara pergi. Pria yang tadi membuka kembali koper pemberiandari pak Tomo dan melihat isinya yang sangat menggiurkan. Ia buka kembali foto itu dan menganggukkan kepalanya.
"Hanya seorang wanita". gumamnya.
Hari itu juga dia langsung melancarkan aksinya yang bertepatan di sebuah taman yang menggegerkan seisi kota dengan kondisi mami Meta.
Pak Tomo sangat terkejut mendengar laporan bahwa priaitu mencelakai orang yang salah. Ia meninggalkan Clara yang tengah bermain bersamanya untuk kembali ke ruangan sebelumnya. Pak Tomo membuka sebuah foto yang terbalik, begitu marahnya ia karena salah memberikan foto.
"Aaarghhhh".Teriaknya frustasi.
Dari sana lah sikap pak Tomo yang berubah drastis menjadi tempramental.
Flashback off...
Biar mampus lu
Ish... geregetan pen dipiting gitu 😅😅
Ditunggu ya. Nanti mampir lagi. Sepertinya ada sesuatu yang disembunyikan bapaknya nih
Semangka
Kenapa gak jadi ibu sambungnya aja sih. Sayang banget kan. Putus ge dari tunangannya sana
Tragis banget kamu nak 😭😭