Indonesia
NovelToon NovelToon
KEKASIH BEKAS MANTAN

KEKASIH BEKAS MANTAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Dosen / Playboy / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Kehidupan di Kantor / Fantasi Wanita
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: Tris jonh

Terpaan cobaan kehidupan bagi Yenni, ia mulai menyadarinya setelah berkenalan sama cowok bertampang keren di salah satu cafe. Setidaknya terjadi kekacauan waktu keduanya saling bersilangan jalan sewaktu dia mendapatkan tugas dari ibunya. Bukanlah sembarangan seruan ibu Hartati, sebagai putri semata wayangnya.

Gilang di kantor selalu jadi pusat perhatian karyawan wanita. Metta secara tak sengaja menaruh hati pada Gilang. Tidak heran bilamana ada sepasang mata terus mengawasinya.

Di bulan ketiga Gilang baru memberanikan diri untuk bisa meraih cita-citanya. Membangun perusahaaan di bidang jasa konsultan. sebagai lelaki merasa tertantang buat mendapatkan cintanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tris jonh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sepatu putih

Seminggu Sandra menantikan peluang emas. Panggilan hatinya kerap muncul keraguan. Terutama ketika melihat kondisi ibunya banyak mengalami guncangan batin. Seolah batinnya mau menjerit sekeras keras.. Gadis itu berharap seisi dunia sudi menaruh simpatik. Bulan di atas sana masih pula menggelantung indah memamerkan kecerahan. Lukisan keindahan itu masih menggelantung.

Andai saja Sandra mampu atasi rintangan dalam keluarganya. Wajar kalau dirinya berkeluh kesah. Demi hendak buyarkan lamunan kosong, siap begitu tega celakai anggota keluarganya. Tentu sekuat tenaga Sandra ingin cari tahu siapa pelakunya.

Duduk tenang sebatang kara, demikian ada bisikan dari meja di sudut sana. Semata mata Sandra juga ikutan merasa iri dan risih. Jauh lebih tepatnya gadis menaruh kagum. Betapa dekat dia sama seorang ibu masih kenakan sal merah muda. Coba berkali-kali mengusap sudut mata coklatnya. Dari semua iru ada lebih menonjol dari penilaian.

"Bu... Ayo masuk saja!" ajak putranya.

Angin senja itu masih menyapu pipi perempuan yang patut di panggil ibu sama cowok macho. Santun pula cara dia berikan sambutan hangat. Gerak tangannya separuh tenaga.

"Kamu ini gimana sih..." bujuk ibunya.

Cowok macho masih menatap wajah ibunya. Tentu seribu alasan ibunya tetap ingin duduk di cafetaria, cari angin. Pada dasarnya anak lelaki coba berikan alasan kuat. Hal utama kesehatan ibunya jauh lebih bernilai.

"Lho... Ibu harus menuruti anjuran dokter harus istirahat cukup. Dengan begitu kesehatan ibu menjadi lebih bermanfaat."

"Terima kasih atas anjuran kamu...."

"Saya tidak mau bertanggung jawab kalo dokter Hans akan memarahi saya..."

Hmmm, tawa lirih waktu lihat tampang putranya. Setelah tiga tahun lama pria itu kubur dalam'-dalam impian terindahnya. Bahkan janji pernah di utarakan kala itu ayahnya mendampingi ibunya. Terus apa mungkin memanjakan diri sendiri. Tak mau memikirkan ibunya yang sejak tadi terus mengawasi segala gerak geriknya.

"Rasanya sumpek di kamar terus. Mana ada ibu kan mendapatkan perawatan khusus. Terus musti berdiam diri. Seharian tanpa melakukan kegiatan apa pun... Bosen kan. Sekarang kamu jalani sendiri."

Lagi-lagi cowok macho itu hanya berdiam diri. Walau pun kenyataan dia berharap mampu hapus bayang-bayang mantan istrinya.

Oh Tuhan. Tunjukkan jalan terbaik buat kami. Demikian dia selalu memanjatkan doa setelah menunaikan ibadah wajib. Keharusan memanjatkan doa. Kali ini bukan lagi kerinduan akan dekapan istri tercinta. Lalu ia ingin segera lepaskan belenggu. Oleh dekapan asmara sesaat? Sekuat tenaga dia mau alihkan pembicaraan. Sebelum ibunya punya rencana lebih, sebab dilihat sejak tadi Pujiati tertuju sama gadis bergaun manik-manik. Biar pun begitu tidak menunjukkan glamour. Di sisi kirinya atas branded. Mundur selangkah buat putranya.

"Tuh kan melamun lagi...?" putus putranya.

"Siapa bilang ibumu ini salah dan kerjanya melamun. Coba perhatian meja sebelah sana..." katanya sambil jari tertuju ke meja hanya satu orang.

Makin bingung cowok macho itu sama ucapan ibunya. Bukankah ibunya tidak perlu sampai selarut ini? Setiap menit memikirkan putra kesayangannya. Sebegitu harapan bersandar di pundaknya. Kegigihan Danar dalam menopang ekonomi keluarga. Ia mampu menghidupi dua putrinya tanpa seorang ibu. Dua buah hatinya masih bisa diajak kompromi. Karena ayahnya bisa mengatur jam kerja dan kegiatan di rumah. Mungkin itu merupakan alasan ibunya suruh mencari pendamping baru. Kedengaran sederhana untuk dijalan. Namun berat buat merancangkan tindakan selanjutnya. Dia mulai menyadari bahwa mencari pengganti untuk buah hatinya. Selain dua putrinya belum kasih dukungan secara penuh.

"Bu.... Sudahlah jangan berpikiran macam-macam. Kita mustinya sadar diri. Akibàt kalo memaksakan diri menjangkau sesuatu di atas awang-awang. Kan mubazir."

"Lalu kau mau menyerah pasrah!" sergah perempuan gusar.

"Sesuatu yang dipaksakan akan berbuah pahit.....!" keluh Danar dalem.

Seumur hidupnya baru kali ini di derita oleh dua orang. Pertama istrinya yang punya pendiri teguh. Dia ingin kerja meniti karier sebagai perempuan mandiri. Ada baiknya jikalau suaminya memotivasi. Sayangnya Danar tak mau kehilangan moment bersama dua putrinya. Terasa cepat sekali waktu telah menjeratnya. Hingga pada akhirnya dia harus merelakan keputusan.

"Saya belum siap."

"Buang jauh-jauh harapan pilu. Sebelum kau benar-benar banyak kehilangan kesempatan. Selama ada peluang ibu berikan saran. Kamu harus bisa mencoba apa salahnya?"

"Berapa kali saya berikan jawaban. Oke. Saya akan memikirkan asalkan ibu menuruti permohonan dokter. Semua demi kebaikan dan kesembuhan ibu."

Senja mulai menipis berganti malam. Cafetaria mulai sepi. Satu demi satu pengunjung kembali ke kamar pasien. Biasanya mereka begadang semalaman nunggu pasien. Bentuk pencurahan kasih sayang. Rasa bakti itu terlihat nyata di matanya. Ternyata ada pula sepasang mata sedari tadi menaruh perhatian. Tugas pertama baringkan ibunya. Esok harinya Danar akan mampir sebelum berangkat ke kantor. Sesibuk apa pun harus menyempatkan diri ke rumah sakit. Kembali ibunya perlahan menarik lengan putranya. Seolah tidak mau kehilangan perhatian dari putranya.

"Tolong pertimbangkan, sayang..." Pujiati memohon agar luluh hati Danar. "Kalian punya kesamaan ibumu punya pengalaman..."

Sedari dahulu Danar menuruti apa kata ibunya. Menolak seruan ibu sama hal, merusak taman bertabur bunga. Pilihan Pujiati terkadang berubah-ubah. Lelaki itu pusing dibuatnya. Danar sedikit merasa lega lihat ibunya istirahat. Ia melangkah pulang tidak perlu khawatir dan cemas. Pujiati dalam perawatan dokter Siska, serta penangan soal depresi ringan. Pelan-pelan langkah kaki Danar keluar kamar rawat inap.

Separuh hati ada kelegaan lihat perkembangan ibunya. Ia berniat melakukan pelunasan biaya perawatan. Seorang suster ramah menyapa keluarga pasien.

"Ada yang bisa kami bantu pak...?" tanya suster jaga. "Mohon sebutkan nama pasien. Supaya saya bisa cepat krocek di data bace. Paling tidak jauh lebih mudah mencari informasi yang dibutuhkan..."

"Ibu Pujiati. Kamar melati nomor 6...." sahut Danar. "Apakah dalam waktu dekat bisa pulang?"

Suster berlesung pipit tersenyum tulus. Tapi batinnya serupa disayat sayat sembilu. Danar sebetulnya mau menarik diri. Agar jangan sampai bertemu perempuan. Ada serupa kegelisahan.

"Benar. Ada apa?" tukas suster lembut suaranya. "Silahkan katakan keperluannya apa? Nanti saya konfirmasi dengan dokter."

"Begini suster. Saya ingin melunasi biaya perawatan ibu saya. Oya... Saya ingin tanyakan kapan kira-kira bisa pulang?" detail Danar ingin tahu kejelasan.

"Baik. Bapak mohon bersabar karena rekannya akan berikan penjelasan."

"Sebutkan saja... Supaya hati saya merasa tenang. Berapa pun jumlahnya nanti akan saya usahakan."

Danar tertegun. Semua ini ialah ketentuan Alloh. Sebagai hambaNya hanya patut berserah diri. Bahwa hidup dan mati hanya milikNya. Dari pencerahan inilah Danar berlapang dada. Selanjutnya dia terima bukti pembayaran.

"Silahkan bapak cek kembali. Apakah ada hal perlu saya sampaikan? Sebab pembiayaan telah terlampir sama kunjungan di hari berikutnya. Adanya suka cita Danar dengar penjelasan suster."

Bilamana dirinya tidak memiliki rasa malu. Lelaki bertubuh tegap. Segera berpaling pada perempuan lain. Dari pada hidup harus menjalani penuh orak dan duri. Sekuat tenaga ia berusaha menarik nafas dalam-dalam. Sebelum nota pembayaran jatuh dalam genggamannya. Dekup jantungnya bagaikan dihentikan oleh tatapan suster sedang meminta jawaban.

"Semuanya suster?" tanya Danar kaget.

"Sekarang boleh melunasi saat pasien dinyatakan pulih seratus persen. Selanjutkan kami berikan resep untuk kunjungan di hari berikutnya."

"Terima kasih, sus....? Saya kembali esok hari." balas Danar lemas.

Ya Tuhan. Ampuni segala dosaku. Amin. Doa lelaki itu ngeloyor keluar ruang kasir. Uang sebanyak itu dari mana akan bisa mengumpulkan uang sebanyak 30 juta. Sedangkan penghasil perbulan digunakan untuk kepentingan sehari-hari. Belum lagi dua buah hatinya minta dibelikan mainan boneka panda. Berkali kali Danar meremas rambut. Pusingnya tidak tertahankan, bagaimana bisa ia melunasi biaya pengobatan ibunya.

Dug. Dug. Dug.

Tiga kali benturan keras ke sisi pintu kasir. Spontan tubuh lelaki itu sepat sempoyongan. Pandangan matanya sempat kurang jelas. Ada semacam bayang-bayang hitam. Perlahan berubah kekuningan dan akhirnya tubuh kekar sudah dalam panggung tangan perempuan berbaju merah hati.

"Awas! Hati'hati duduknya. Anda kelihatannya terlalu lelah." kata perempuan berbaju merah.

Rasa pening bikin Danar sulit menentukan arah pikirannya. Tekanan dalam batinnya makin bergejolak sewaktu teringat perlakuan Marina, mantan istrinya. Sering merendahkan bahwa dia tidak mampu membahagiakan keluarga. setahun sekali mustinya ajak dua buah hatinya ke kebun binatang. Cerita lucu saja jarang ada dialog manis. Selama 10 tabun pernikahannya belum ada kata kesepakatan mengenai pendidikan dua putrinya.

"Silahkan di minum teh," suara itu demikian lembut.

Kesekian kalinya Danar terhenyak dari posisi duduknya. Wajahnya sedikit mendongak. Siapakah gerangan. Bidadari kah? Malu-malu mata intip. Tersirat satu kekaguman. Betapa hati kecilnya trenyuh di perlakukan selembut sutra. Cara meraih tangan dan mendekatkan gelas ke bibir yang nampak kebiruan. Gemetaran.

Teh hangat disruput. bangkitkan semangat baru. Rasa pusing berangsur-angsur turun. Lelaki beranikan sepicing matanya. Aneh sewaktu matanya tak sengaja saling beradu pandang. Percikan halus terkesan semburkan air, hanya di punyai kaum muda. Apakah secepat angin Danar menjatuhkan pilihan? Separuh dari bawah alam sadarnya. Ia mulai di tenggelamkan oleh senyuman.

Perempuan berbaju merah sodorkan pizza. Lagi-lagi seulas senyum dihadiahkan untuknya. Pria mana takkan kelimpungan. Berhadapan sama dara jelita, nampaknya masih single? Itu hanya dugaan Danar yang masih menahan nyeri dibagian kepala.

"Tidak usah berpikir aneh. Anda butuh pertolongan pertama. Sekiranya ini bisa meringankan kondisi badan."

"Makasih...."

"Sama-sama."

Jawaban gadis itu datar. Mungkin saja kurang nyaman jikalau diperhatikan orang sekitar. Seumpama boleh melawan kodrat. Tentunya gadis itu lebih dahulu berikan salam. Menjabat tangan dan minta alamat rumah, kerja di mana? Sudah tentu pertanyaan pribadi, apakah dia masih bujangan? Kerja dimana, punya posisi mapan. Kalau beristri....? Lalu kenapa pendampingnya tidak pernah terlihat keluar masuk kamar pasien. Di mana ibu lelaki itu di rawat.

"Sudah berapa lama di rawat?" tanya gadis itu kalem. "Saya lihat sendirian saja. Pasti kamu terlalu lelah jaga pasien"

"Nggak juga. Saya dengan senang hati."

Perempuan sampai tertegun melihat lelaki yang pernah ketemuan. Tapi dia belum berani menyimpulkan. Apakah perasaan hati seirama dengan harapan.

1
Trisno HS
goods/Drool//Angry/
Afiya Safitri
gaya penulisannya lugas tapi mengandung filosofi kehidupan
Afiya Safitri
mohon up date kak
Afiya Safitri
saya tunggu bab selanjutnya. mohon up date terus ya kak
Afiya Safitri
ok
Afiya Safitri
tetap semangat kak dalam penulisannya. ceritanya makin memikat
Trisno HS
tetap semangat thor dalam menulisnya
Trisno HS
tetap sengat tbour
Trisno hadi Saputro
ceritanya keren
Trisno hadi Saputro
ceritanya keren banget
Trisno Hadisapuro
selamat dan sukses ceritanya. tetap semangat terus 😍
Trisno Hadisapuro
saya tunggu kelanjutan ceritanya. makin seru banget. sayang kalau dilewatkan.
Trisno hadi Saputro
ceritanya makin menarik kak. tetap semangat terus kak.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!