Rindu Hartanti seorang perawat cantik yang dijemput paksa oleh ayah kandungnya untuk menolong anak ayahnya.
Namun tak hanya dipaksa untuk mendonorkan salah satu ginjalnya,Rindu juga dipaksa menikahi lelaki lumpuh tunangan sang adik tiri.Rindu menolak tapi ancaman sang ayah kandung berhasil membuatnya menuruti kemauan sang ayah.
Akankah Rindu bisa melewati ini semua ini?ikuti kisahnya..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hardiantomy Corro, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kecewa.
Satu minggu setelah kejadian dimana tuntutan dicabut,dan pihak pelapor mengajukan syarar,agar Karina tetap bekerja diperusahaan sampai masa kontrak habis,Namun Bara merasa Rindu menjadi pendiam setelah kejadian itu,"Apa karena hormon kehamilan",gumam Bara.
Ayah Suseno dan juga ibu Ratih sudah pulang ke kampung halaman,bersama dengan Asisten Heri dan Rosa,jadi pekerjaan kantor Bara sendiri yang mengerjakannya.
Tanpa permisi tiba-tiba Karina masuk kedalam ruangan Bara.
"Bara,aku membawakan mu hasil masakan ku,seperti waktu dulu kita tunangan",ucap Karina dengan percaya diri.
"Sudah berapa kali aku bilang jangan sembarangan masuk kedalam ruangan ku",hardik Bara saat Karina masuk.
"Aku hanya mengantarkan ini Bara",ucap Karina menunjukan tempat makan.
"Aku tidak butuh,dan silahkan pergi",usir Bara,Karin cemberut menghentakan kaki dan keluar dari ruangan Bara dengan kesal.
Dikediaman Bara.
"Apa ada yang kamu lamunkan?,apa ada yang kamu sembunyikan nak?",tanya Farah,Rindu menatap ibu mertua.
"Apa yang bisa Rindu sembunyikan dari ibun dan ayah mertua",ucap Rindu.
"Kenapa kamu melakukannya kalau itu menyakiti dirimu",ucap Farah sambil duduk disamping Rindu.
"Aku hanya memberi kesempatan agar tuduhan merebut itu hilang bun,dan aku mencoba untuk menyadarkannya",ujar Rindu.
"Kalau Bara khilaf bagaimana?",tanya Farah.
"Rindu mundur bun",lirih Rindu dengan kesedihan.
"Semudah itu?,apa kamu ikhlas bila Bara benar-benar dengan Karin?",tanya Farah.
Rindu menggeleng,"Seandainya Bara kepincut dengan Karin,ibun akan membawa mu pergi dan mencoret Bara dari ahli waris",ucap Farah mencoba menghibur Rindu.
"Ibun,ini juga kan karena Rindu bun",ucap Rindu,Farah menghela nafas.
"Kamu ini nak, kenapa tidak berpikir dulu sebelum bertindak",ucap Farah.
"Aku merasa kasihan pada Karin bun,dia ingin bahagia dan kata dia bahagianya hanya dengan Bara,bukankah memberikan waktu sebulan untuk bahagianya lebih dari cukup",ucap Rindu.
"Tapi resikonya besar nak,,dan belum tentu orang yang kamu kasihani mengerti,kalau dia tamak bisa saja dia menggunakan jalan kotor untuk mendapatkan bahagianya,ingat nak tak semua saudara itu baik,kalian berdua memang bersaudara tapi bukan berarti harus berbagi",ucap Farah menasehati.
"Aku...",Rindu tercekat,bayangan bila Karin dan Bara berduaan saja membuatnya tak bisa makan,apalagi bila keduanya melakukan hal yang tak diingikan,bisa-bisa Rindu tak bisa bernafas.
Farah menghela nafas,"Beritahu Bara tentang ide konyol ini",ucap Farah.
Rindu terdiam larut dalam masalah yang dia ciptakan sendiri,"Coba waktu itu aku tidak bertindak sembrono dan lebih percaya Bara,ini tidak akan terjadi",gumam Rindu.
Karina berpikir apa lagi kiranya agar Bara mau berdekatan dengannya,"Rindu,bisa tidak kamu pergi dulu,"Karina mengirim pesan kepada Rindu.
Rindu membaca pesan dari Karina,benar kata Farah ibu mertuanya,ternyata yang dikasih hati ingin mengambil jantungnya.
"Tidak mau,kesepakatannya kamu hanya mendekati dan meyakinkan mas Bara,tanpa aku meninggalkannya",Balas Rindu.
Karina berdecak,"Aku punya ide",gumam Karina mengirim rekaman percakapan Rindu dan Karina tempo hari kepada Bara.
"Kalau kamu tak mau menjauh biarkan Bara yang menjauhimu",ucap Karina.
"Setelah itu,Ayah dan ibu mertua i'm coming",gumam Karina dengan senyum mengembang.
"Kamu kenapa Karin?,jangan sampai kamu gila gara-gara tidak mendapat cinta pak Bara",ucap Viola.
"Ngaco,aku sedang bahagia",ucap Karina.
"Kenapa?,bahagia karena apa?",kepo Viola.
"Rahasia,kamu tak perlu tahu",ucap Karina meninggalkan Viola.
"Bahagiamu hanya sebentar Karin,tunggu saja",batin Viola menatap kepergian Karina sambil menyeruput kopi nya.
Sedangkan Bara tengah memeriksa berkas-berkas,sebuah pesan masuk ke ponselnya,Bara hanya melirik sekilas kemudian melanjutkan pekerjaannya.
Rindu sangat cemas,bagaimana caranya memberitahu Bara soal ini,Rindu terlalu gegabah.
Ternyata Rindu sendiri yang memberi celah untuk orang ketiga masuk dalam rumah tangganya.
Menyesal?,pasti Rindu menyesal akan kebodohannya,belum lagi bila Bara tahu pasti Bara akan memarahinya,atau bahkan mungkin menceraikannya.
"Apa Bara akan menceraikan ku?",batin Rindu.
"Maafin mama mu yang bodoh ini nak",ucap Rindu mengelus perut yang sudah menonjol.
Bara pulang dengan wajah kusut.
"Mas,sudah pulang",tanya Rindu,mencium punggung tangan Bara.
"Iya,ternyata susah bila tidak ada Asisten Heri,mas harus lembur terus,kapan Asisten Heri akan pulang?",tanya Bara,
"Rindu tidak tau mas,mungkin mereka mau jalan-jalan dulu atau bulan madu",ucap Rindu mengambil tas kerja Bara dan meletakan pada tempatnya.
"Honeymoon",gumam Bara.
"Tolong siapkan baju tidur sayang,mas mau mandi dulu",ucap Bara.
Rindu menuruti perintah Bara,saat Rindu memilih baju tidur untuk suaminya tiba-tiba tangan kekar melingkar dipinggangnya.
"Kaget aku mas",ucap Rindu setelah terjengkit.
"Maaf,apa dia menyusahkan mu",ucap Bara mengelus perut Bara.
"Tidak,dia anak baik",ucap Rindu.
"Sudah tidak mual lagi?,"tanya Bara.
Rindu menggeleng,"Hanya waktu pagi saja",ucap Rindu.
"Anak pintarnya papa",ucap Bara mengelus perut Rindu.
"Sudah mas,geli",ucap Rindu.
Bara memakai pakaiannya dibantu Rindu,"Ada yang ingin aku katakan",ucap Bara dan Rindu bersamaan.
"Mas,duluan saja",ucap Rindu mengalah.
"Bagaimana kalau kita babymoon?",
"Kerjaan mas Bara?",tanya Rindu.
"Kita menunggu Asisten Heri pulang,setelah itu kita pesan tiket",ucap Bara menyusun rencana.
"Sayang mau kemana?",tanya Bara,Rindu hanya menatap Bara.
"Sayang",ucap Bara,karena Rindu melamun.
"Kemana saja,yang penting bersama mas Bara",ucap Rindu.
"Baiklah,berarti mas yang menentukan",ucap Bara,Rindu mengangguk.
"Sekarang apa yang mau sayang katakan?",tanya Bara.
"Hah,Rindu lupa",ucap Rindu sambil tersenyum,Bara merengkuh tubuh istrinya karena gemas.
Pagi hari.
"Bara tunggu",ucap Karina yang sengaja menunggu Bara.
Bara menghela nafas,"Sudah aku katakan,aku tidak mau berurusan dengan mu",ucap Bara.
"Kenapa pesan ku tidak kamu balas",ucap Karina menulikan telinganya.
"Tidak penting",ucap Bara meninggalkan Karina.
Karina tetap mengekor Bara hingga masuk kedalam lift,"Aku katakan pergi jauh dari ku",ucap Bara kepada Karina.
"Aku tidak mau,karena waktu ku sangat sedikit Bara",ujar Karina.
"Aku tidak peduli",ucap Bara acuh.
Kemudian Karina menyetel rekaman percakapan Dia dan Rindu,Bara mengerutkan dahi.
"Waktu ku tinggal dua minggu lagi Bara",ucap Karina,Bara mengeratkan gigi gerahamnya menahan kesal dan kecewa.
"Aku tidak perduli",ucap Bara meninggalkan Karina.
"Tapi istrimu yang memberikan izin",teriak Karina.Karina dapat melihat perubahan wajah Bara.
"Kita tinggal tunggu hasilnya",ucap Karina.
Rindu berinisiatif membawakan bekal makan siang,melihat Bara pulang malam terus Rindu kasihan.
Rindu masuk keruangan Bara sebelumnya mengetuk pintu dahulu,"Kenapa kamu kesini?",tanya Bara dingin.
"Mengantar makanan mas",ucap Rindu merasa seperti didalam frezer.
Bara terdiam,"Mas,ada sesuatu yang ingin Rindu katakan",ucap Rindu,sambil menelan salivanya.
"Kenapa kamu melakukannya?,kamu anggap suami mu ini barang,kamu anggap cinta yang kuberikan kepada mu ini main-main,kamu anggap aku ini lemah sehingga tidak bisa menyelesaikan masalah,"cecar Bara,
"Mas,aku hanya..
"Aku kecewa Rindu,aku kecewa dengan mu",ucap Bara.
"Mas,dengarkan dulu penjelasan ku",ucap Rindu.
"Penjelasan tentang apa?,tentang ini",ucap Bara menyetel rekaman percakapan Rindu dan Karina.
"Aku akan menjelaskannya",ucap Rindu.
"Kamu pergi dulu Rindu",ucap Bara mencoba mengendalikan emosinya.
"Mas,aku ingin menjelaskan nya,itu aku bermaksud hanya...
"Pergi kata ku",bentak Bara dengan emosi.
Rindu kaget,baru kali ini Bara membentaknya,tanpa sepatah kata Rindu pergi dari ruangan Bara,Bara mengusap wajahnya dengan kasar.
Pekerjaan yang menumpuk ditambah dengan masalah apa ini,dan dia baru saja membentak istrinya.
"Sial",gumam Bara,baru sadar apa yang dia lakukan.
mendingan di posesifin kan