Hazel anak yang seharusnya mendapat perhatian kini harus menanggung nasib yang mengerikan. Namun kejadian yang mengejutkan terjadi saat dia berada diambang kehancuran hidupnya. Tiba-tiba semuanya berubah dan banyak orang-orang berpihak padanya. Bahkan sesosok makhluk aneh muncul untuk membantu Hazel. Apakah Hazel berhasil mendapatkan akhir yang bahagia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
(JSP chapter 32) Season 1 selesai
Semua tamu sudah datang. Para murid sudah duduk ditempatnya masing-masing. Guru-guru sudah duduk ditempat yang disediakan dan sudah menyiapkan ijazah yang akan diterima para murid.
Sebenarnya ini bukanlah perpisahan, tapi ini adalah kelulusan. Namun, kedua acara yang seharusnya dipisah ini terpaksa harus digabung menjadi satu hari agar tidak banyak membuang waktu.
Salah seorang guru memulai pembukaannya kemudian diawali oleh sambutan dari kepala sekolah. Sebagai pembukaan, Hazel dan Junior yang lain mempersembahkan salam perpisahan untuk senior. Mulai dari yang memainkan piano dan ada juga yang bernyanyi. Sampai berlanjut hingga selesai.
...----------------...
Semuanya berjalan dengan normal sampai ada seseorang yang mengupload foto di salah satu sosial media dengan deskripsi di foto itu menyatakan bahwa wanita yang ada di foto itu telah merebut kekasihnya. Yang lebih mengejutkan adalah wanita yang ada difoto itu adalah Hazel.
Hazel tahu tentang itu dan dia menatap foto itu sambil mengernyit karena dia tahu itu adalah foto yang diambil ketika dia memainkan piano saat acara kelulusan senior. Dia berpikir bahwa mungkin hal itu dilakukan oleh Elena.
Awalnya Hazel tidak ingin repot untuk menanggapi apa yang dilakukan oleh Elena karena kritikan dari publik tidak mengganggu perusahaan Phillips. Namun entah kenapa semakin lama Elena semakin nekat.
Betapa terkejutnya Hazel ketika dia melihat salah satu postingan di akun sosial media Elena yang mengatakan bahwa Hazel bukanlah anak kandung dari orang tua Philips.
Semuanya semakin dikacaukan oleh beberapa bukti yang menjelaskan bahwa Hazel sebenarnya adalah anak adopsi dari sebuah panti asuhan yang terpencil.
Philips yang mengetahui kejadian ini berusaha untuk meredam postingan Elena, namun semuanya sudah terlambat bukti-bukti itu beredar dengan luas.
"Apa benar..." Hazel mencoba untuk angkat bicara kepada Philips meski bicaranya sedikit terpotong.
Hazel yang awalnya tidak ingin mengakui fakta itu merasa bahwa dia sudah dibohongi selama bertahun-tahun.
"Jadi sebenarnya kau adalah kakak angkatku?"
Kondisinya menjadi semakin kacau ketika Philips tidak bisa berkata-kata dan hanya mengangguk.
"Jadi, kapan aku diadopsi? Mengapa aku tidak mengetahui kebenaran ini?" Philips mengigit bibirnya karena stres dengan situasi saat ini. Dia tidak menyangka bahwa semuanya akan terungkap sekarang.
Philips tampak ragu sejenak, namun ia memutuskan untuk berbicara.
"Sejak kau bayi, kau dibawa orang tuaku. Aku tidak tahu alasan mereka membawamu."
Philips terhenti. Dia hanya berbicara sampai disana. Hazel membuka mulutnya, ingin bertanya lebih jauh namun seseorang menepuk bahunya.
"Berhenti."
Suaranya rendah dan serak namun dalam. Hazel tahu bahwa itu adalah suara Gyuu.
"Bersabarlah. Belum saatnya bagimu untuk mengetahuinya."
Ketika Hazel berbalik, Gyuu sudah menghilang seolah tak ingin melanjutkannya lebih jauh.
"Jadi selama ini kau bukan keluarga ku?" Hazel menitikkan air matanya untuk pertama kalinya ketika dia sudah berusaha menguatkan dirinya sendiri. Ini pertama kalinya emosinya memancar keluar.
"Maafkan aku. Aku juga diancam oleh ibuku."
Philips mendekat. Ini adalah pertama kalinya dalam hidup Hazel diperlakukan dengan lembut. Philips memegang tangan Hazel.
"Aku minta maaf. Sebagai gantinya tolong biarkan aku menjagamu disisiku."
Tatapan matanya sangat tulus. Dia terlihat seperti sedang memohon. Dengan putus asa, Philips berlutut didepan Hazel.
"Aku mencintaimu, Hazel."
Reaksi Hazel tidak seperti apa yang diharapkan Philips. Hazel hanya diam sambil tertunduk. Dia kemudian menarik tangannya perlahan dari genggaman Philips.
"Maaf, biarkan aku sendiri."
Hazel mendongak untuk menatap Philips.
"Kita tidak bisa bersama lagi."
Sejak itu Hazel memilih untuk hidup sendiri dengan uang seadanya. Dia bekerja paruh waktu disebuah kafe. Meski tempat tinggalnya saat ini tidak senyaman dulu, itu masih layak untuk ditinggali.
Hana dan Mike terburu-buru untuk menghampiri Hazel. Berita tentang Hazel bukan anak kandung dari orang tua Philips menyebar cukup luas.
Kabar tentang Elena yang akan dibina oleh badan pendidik sudah menyebar dimedia pemberitaan. Bahkan kini Hazel mendengar kabar bahwa Zen kini memilih untuk pindah sekolah lain.
Hazel bimbang, bingung dan stres. Apakah hasilnya akan seperti ini?
Setidaknya Hazel mempunyai ide untuk menjual lukisannya. Dia kembali melakukan hobi yang dulu sempat terhenti karena desakan dari ibu angkatnya itu.