Sepasang Suami Istri Alan dan Anna yang awal nya Harmonis seketika berubah menjadi tidak harmonis, karena mereka berdua berbeda komitmen, Alan yang sejak awal ingin memiliki anak tapi berbading terbalik dengan Anna yang ingin Fokus dulu di karir, sehingga ini menjadi titik awal kehancuran pernikahan mereka
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Doni arda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32: Simpul yang Semakin Kusut
Pagi yang dingin membawa keheningan yang mencekam di rumah Alan dan Anna. Anna terbangun dengan kepala yang berat. Malam sebelumnya adalah salah satu malam terburuk dalam hidupnya—konfrontasi antara Alan dan Erik di taman masih terukir jelas di ingatannya. Tatapan penuh amarah Alan, keberanian Erik untuk membelanya, dan rasa bersalah yang menghantamnya membuat hati Anna semakin tidak tenang.
Ia duduk di tepi ranjang, menatap ke arah jendela. Matahari mulai naik, tetapi sinarnya terasa jauh. Di bawah, ia mendengar suara Alan sedang menyalakan mesin kopi. Selama beberapa hari terakhir, mereka hampir tidak berbicara satu sama lain kecuali hal-hal kecil seperti “kopi sudah jadi” atau “kunci mobil ada di meja.”
Namun, Anna tahu bahwa pagi ini tidak akan seperti itu. Alan sudah terlalu lama memendam rasa, dan ia yakin ini hanya soal waktu sebelum semua itu meledak kembali.
---
Di dapur, Alan berdiri sambil memegang cangkir kopinya. Ia terlihat tenang, tetapi di dalam, pikirannya seperti badai. Gambar Anna dan Erik di taman terus menghantuinya. Setiap kali ia memejamkan mata, ia bisa melihat tangan Erik menggenggam tangan istrinya, seolah-olah mereka adalah pasangan yang sah.
"Sudah cukup," gumam Alan pada dirinya sendiri.
Saat langkah kaki Anna terdengar mendekat, Alan menoleh. Ia melihat istrinya berdiri di ambang pintu dengan wajah lelah.
“Kita perlu bicara,” kata Alan langsung tanpa basa-basi.
Anna menghela napas panjang. “Aku tahu.”
Mereka duduk di meja makan. Anna menunduk, sementara Alan menatapnya tajam.
“Anna, aku ingin tahu. Apa yang sebenarnya kamu inginkan? Karena aku tidak bisa terus begini. Kalau kamu masih mencintai pria itu, katakan saja. Aku tidak mau hidup dengan seseorang yang setengah hati.”
Kata-kata Alan menusuk Anna seperti pisau. “Alan, ini tidak sesederhana itu...”
“Tidak sesederhana apa? Kamu berselingkuh, Anna. Kamu menghancurkan kepercayaan yang kita bangun selama bertahun-tahun. Dan sekarang kamu duduk di sini, tidak bisa memberikan jawaban yang jelas?”
Air mata mulai mengalir di pipi Anna. “Aku tidak tahu, Alan. Aku benar-benar tidak tahu. Aku merasa kehilangan diriku sendiri dalam pernikahan ini. Aku merasa seperti... seperti aku tidak berarti apa-apa bagimu lagi.”
Alan terdiam. Kata-kata Anna menggema di benaknya. Ia ingin membantah, tetapi ia tahu bahwa ada kebenaran dalam apa yang istrinya katakan.
“Anna, aku mungkin tidak sempurna. Aku tahu aku membuat kesalahan. Tapi aku mencintaimu. Aku selalu mencintaimu.”
---
Percakapan mereka berlanjut selama berjam-jam. Anna mencoba menjelaskan perasaannya, bagaimana ia merasa diabaikan, bagaimana hubungannya dengan Erik dimulai sebagai pelarian dari rasa kesepian. Sementara itu, Alan mencoba mengungkapkan kemarahannya tanpa kehilangan kendali.
“Kamu tahu apa yang paling menyakitkan?” kata Alan dengan suara bergetar. “Aku selalu berpikir bahwa meskipun kita punya masalah, kita akan bisa melewati semuanya bersama. Tapi sekarang, aku merasa seperti aku tidak pernah benar-benar mengenalmu.”
Anna tidak bisa berkata-kata. Ia tahu Alan memiliki hak untuk merasa seperti itu. Tetapi ia juga tahu bahwa ada bagian dari dirinya yang masih mencintai suaminya, meskipun cinta itu sekarang bercampur dengan luka dan kebingungan.
“Alan, aku ingin mencoba memperbaiki semuanya,” kata Anna akhirnya. “Tapi aku butuh waktu. Aku butuh ruang untuk memahami diriku sendiri.”
Alan menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan. “Aku tidak tahu apakah aku bisa memberimu waktu, Anna. Karena setiap detik yang aku habiskan tanpa kepercayaan penuh padamu terasa seperti siksaan.”
---
Sementara itu, Erik tidak tinggal diam. Ia tahu bahwa Anna sedang berada dalam situasi yang sulit, tetapi ia juga tidak mau kehilangan wanita yang telah membuatnya merasa hidup kembali.
Suatu malam, ia mengirim pesan singkat kepada Anna:
“Aku tidak ingin menekanmu, tapi aku ingin kamu tahu bahwa aku di sini untukmu. Selalu.”
Pesan itu membuat Anna semakin bimbang. Di satu sisi, ia merasa Erik adalah tempat yang aman baginya, seseorang yang bisa mendengarkannya tanpa menghakimi. Tapi di sisi lain, ia tahu bahwa mempertahankan hubungan dengan Erik hanya akan membuat segalanya semakin rumit.
---
Beberapa hari kemudian, Alan mulai curiga bahwa Anna masih berhubungan dengan Erik. Ia memutuskan untuk memeriksa ponsel Anna saat istrinya sedang mandi. Ia menemukan pesan dari Erik, dan itu cukup untuk membuat darahnya mendidih.
Ketika Anna keluar dari kamar mandi, Alan berdiri di ruang tamu dengan ponsel di tangannya.
“Siapa Erik ini bagimu, Anna? Jawab aku dengan jujur,” tuntut Alan.
Anna terkejut melihat Alan memegang ponselnya. “Alan, kamu tidak berhak memeriksa ponselku tanpa izin.”
“Tidak berhak?” Alan tertawa sinis. “Aku suamimu, Anna. Dan aku punya hak untuk tahu siapa yang kamu biarkan masuk ke dalam hidupmu.”
Anna mencoba mengambil ponselnya, tetapi Alan menahannya. “Kamu masih berhubungan dengannya, bukan?”
Anna menunduk, tidak bisa menjawab.
“Bagus,” kata Alan dengan nada penuh sarkasme. “Setidaknya aku tahu di mana aku berdiri sekarang.”
---
Setelah pertengkaran itu, Anna merasa bahwa ia tidak bisa terus seperti ini. Ia tahu bahwa ia harus membuat keputusan, baik untuk dirinya sendiri maupun untuk semua orang yang terlibat.
Ia memutuskan untuk bertemu Erik dan berbicara dengannya.
“Erik, aku tidak bisa terus seperti ini,” kata Anna saat mereka bertemu di sebuah kafe. “Aku harus menyelamatkan pernikahanku, atau setidaknya mencoba. Aku tidak bisa melibatkanmu dalam kekacauan ini lagi.”
Erik terlihat terpukul, tetapi ia mengangguk. “Kalau itu yang kamu pikir terbaik, aku akan menghormati keputusanmu. Tapi aku ingin kamu tahu bahwa aku mencintaimu, Anna. Dan aku akan selalu mencintaimu.”
Pertemuan itu meninggalkan luka yang mendalam di hati Anna. Tetapi ia tahu bahwa itu adalah langkah yang harus diambil jika ia ingin menyelamatkan apa yang tersisa dari pernikahannya.
---
Anna pulang ke rumah malam itu dengan hati yang berat. Ia menemukan Alan duduk di ruang tamu, menatap layar televisi yang menyala tanpa suara.
“Alan,” kata Anna pelan.
Alan menoleh, wajahnya penuh dengan kelelahan. “Apa?”
“Aku memutuskan untuk mengakhiri semuanya dengan Erik,” kata Anna dengan suara yang hampir tidak terdengar. “Aku ingin mencoba memperbaiki pernikahan kita.”
Alan tidak segera menjawab. Ia hanya menatap Anna dengan tatapan yang sulit diartikan. Akhirnya, ia berkata, “Kalau begitu, kita mulai dari awal. Tapi aku tidak bisa melakukannya sendiri, Anna. Kita harus melakukannya bersama.”
Anna mengangguk, meskipun hatinya masih penuh dengan keraguan. Ia tahu bahwa jalan menuju pemulihan akan panjang dan sulit, tetapi ia bersedia mencobanya untuk Alan, untuk dirinya sendiri, dan untuk cinta yang mereka pernah miliki.