Taniza dan Tania.
Saudara kembar yang terpisah sejak kecil.
Taniza dan Tania merupakan kembar identik, hanya saja sifat mereka bertolak belakang.
Taniza adalah sosok anak yang lemah lembut, baik hati, tidak pernah menyakiti siapapun, ia gadis yang sangat penurut.
sedangkan Tania , ia gadis yang lebih liar, tidak mau di atur, suka seenaknya,dan lebih suka hidup semaunya..
namun di balik sifat keduanya yang sangat bertolak belakang, mereka sama-sama saling menyayangi, namun takdir berkata lain, mereka mengalami kecelakaan dan membuat nya terpisah,namun sebelum kecelakaan itu terjadi, mereka iseng-iseng bertukar nama, tapi ternyata pertukaran identitas itu terbawa sampai dewasa.
Bismillahirrahmanirrahim....
Yuk ikuti kisahnya....
kawal mereka sampai tuntas...
jangan lupa beri dukungan ya ...
salam sehat semua.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Marina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
Dengan napas yang masih tersengal dan tubuh gemetar, Chana menutup pintu kamar Filio rapat-rapat lalu menguncinya dari dalam. Wajahnya yang biasa dipenuhi kepalsuan kini tampak pucat pasi, matanya liar melirik ke sana-kemari seolah ada bayangan yang mengintai di balik dinding.
Di atas ranjang, Filio yang masih lemas setelah memuntahkan seluruh isi perutnya menatap ibunya dengan kening berkerut. Tenggorokannya masih terasa perih dan pahit...
"Mama kenapa sih? Masuk kamar orang seperti habis dikejar setan!" gerutu Filio serak seraya membenarkan posisi bantal di punggungnya.. hidungnya masih terasa perih karena banyak mengeluarkan cairan dari sana dan mulutnya.
Chana bergegas mendekat, lalu duduk di tepi ranjang dengan gerakan tergesa-gesa. Ia mencengkeram lengan putrinya, menunjukkan pergelangan tangannya sendiri yang memerah bekas dipelintir oleh Tania.
"Filio... dengarkan Mama baik-baik!" bisik Chana dengan suara bergetar dan tatapan penuh teror. "Tania... gadis itu... dia sudah bukan Tania yang dulu lagi!"
Filio menghela napas malas, memutar bola matanya jengkel... tubuhnya yang masih sangat lemas harus mendengarkan gurauan ibunya. "Mama ini bicara apa sih? Tania ya tetap si anak pungut yatim piatu yang penakut itu! Dia cuma lagi beruntung karena Kakek memaksakan pernikahan ini dengan Kak Ameer."
"Tidak, Filio! Kamu tidak mengerti!" potong Chana cepat, suaranya naik satu oktaf sebelum buru-buru ia redam kembali. "Tadi Mama melabrak dia di kamarnya. Mama berniat memberinya pelajaran dan mencengkeram rahangnya seperti biasa. Tapi apa yang terjadi?! Dia... dia malah memelintir tangan Mama sekuat tenaga sampai Mama tersungkur ke lantai! Tenaganya... tatapannya... semuanya dingin dan sangat berbahaya!"
Filio mendengus geli, sama sekali tidak percaya pada kepanikan ibunya. "Halah, Mama pasti melebih-lebihkan. Mana mungkin Tania berani melawan Mama? Selama bertahun-tahun di rumah ini, disentak sedikit saja dia langsung menangis dan menunduk seperti anjing ketakutan. Mama saja yang kaget karena dia sekarang merasa punya bekingan Kak Ameer.... Sudahlah , lebih baik mama kembali ke kamar mama, Perut Filio masih sakit,dan sekarang Filio sangat pusing dengerin omongan Mama"
Bukti Nyata di Meja Makan
Melihat putrinya masih meremehkan situasi genting ini, Chana mengguncang bahu Filio dengan frustrasi.
"Kamu pikir Mama bohong?!" desis Chana dengan mata membelalak lebar. "Kalau dia masih Tania yang penakut dan bodoh, kenapa minumanmu tadi tertukar, hah?!"
Filio terdiam sejenak. Ingatan saat ia memuntahkan isi perutnya di wastafel kembali melintas di kepalanya.
"Mama yang menaruh racun perusak rahim itu di gelas susunya, Filio!" lanjut Chana dengan napas memburu. "Tapi Tania... dengan tenangnya menukar gelas itu dengan gelas teh manismu tepat di depan matamu ! Dia bahkan tahu persis cairan apa yang ada di dalam susu itu dan sengaja membiarkanmu meminumnya sebelum dia membongkarnya!"
Kata-kata Chana mulai menusuk akal sehat Filio. Rasa dingin perlahan merayap di punggung gadis manja itu.
"Dia tahu soal racun itu, Filio..." bisik Chana kian mendekatkan wajahnya dengan raut ngeri. "Bukan cuma itu... Dia tahu kalau kita yang menyuruh orang membiusnya di halte! Dan dia mengancam akan memberikan semua bukti itu ke Ameer dan Papa kalau kita macam-macam lagi!"
DEG....
Filio terpaku. Warna di wajahnya seketika memudar. Cemoohan yang tadinya siap keluar dari bibirnya mendadak tertelan kembali di tenggorokan.
Selama ini, mereka menyiksa dan menindas Taniza tanpa ada perlawanan sedikit pun. Namun membayangkan Tania yang tiba-tiba berani menukar racun, memutar tangan Chana hingga memar, dan tahu seluruh rencana busuk mereka secara rinci... membuat rasa takut yang samar mulai mengetuk pintu hati Filio.
"G-gadis itu... bagaimana bisa dia berubah drastis seperti itu dalam hitungan hari?" cicit Filio dengan suara yang mulai kehilangan keangkuhannya.
Chana menggeleng pelan dengan mata berkilat resah. "Mama tidak tahu... Tapi yang jelas, kita sedang berhadapan dengan musuh yang berbeda. Mulai sekarang, kita harus lebih hati-hati, Filio. Gadis itu... dia bukan lagi mangsa kita, tapi pemburu yang siap menerkam kapan saja."
_____
*
*
*
Pagi yang cerah menyapa Mansion Hasanuddin, namun suasana di ruang makan utama terasa jauh lebih dinamis sekaligus penuh intrik. Aroma harum sup ayam hangat, dan aneka lauk tertata rapi di atas meja panjang.
Tania yang asli turun dengan balutan gamis kasual berwarna abu-abu muda yang dipadukan dengan pashmina senada yang tetap menutupi dadanya...tidak memakai gamis dan Khimar kebesaran seperti biasanya, Wajahnya tampak segar tanpa beban sedikit pun, memancarkan aura ketenangan yang membuat suasana ruang makan seketika terasa berbeda.
Dengan gerakan yang sangat luwes dan terampil, karena terbiasa mandiri di desa, Tania mendekati kursi Kakek Hamzah yang kini terlihat sangat sehat meski sedikit lemah.
"Selamat pagi, Kakek," sapa Tania ramah dengan senyum manis yang tulus.
"Pagi, cucu Kakek yang cantik," sambut Kakek Hamzah dengan tawa renyah, begitu bahagia melihat perubahan aura cucu kesayangannya yang tampak makin ceria dan sehat setiap harinya.
Tania dengan cekatan menyendokkan nasi hangat, menuangkan semangkuk sup ayam bening, dan meletakkan potongan lauk pilihan Kakek Hamzah dengan penuh perhatian. Gerakannya begitu teratur, bersih, dan sigap, layaknya seorang wanita yang sangat terbiasa mengurus orang tua.
Namun, pemandangan berbeda terlihat saat Tania melangkah ke sisi Ameer.
Begitu berdiri di dekat pria tegap yang mengenakan setelan kemeja kerja abu-abu gelap itu, gerak-gerik Tania mendadak kaku. Mengingat obrolan soal tidur terpisah dan tetap jadi kakak-adik, ditambah bayangan sosok Ameer yang kemarin malam menatapnya lekat-lekat, membuat Tania yang asli merasa sangat canggung.
Ia hanya meletakkan piring kosong di depan Ameer dan menuangkan air putih, lalu berniat langsung menarik kursinya sendiri untuk duduk.
Kakek Hamzah yang memperhatikan hal itu seketika berdehem panjang, menghentikan gerakan Tania.
"Ehem... Tania," tegur Kakek Hamzah dengan nada lembut namun penuh arti, menyunggingkan senyum menggoda. "Kamu ini bagaimana? Kakekmu saja dilayani selengkap ini, tapi suamimu sendiri cuma diberi piring kosong?"
Tania tertegun sejenak, kedua pipinya mendadak terasa hangat." Aduh, lupa kalau statusnya sekarang sudah jadi istri orang," batin Tania merutuki kecerobohan kecilnya.
"walaupun kak Ameer menganggapku hanya adik, tapi di mata kakek kita adalah pasangan suami istri yang sah.
"I-iya, Kakek... maaf," sahut Tania sedikit terbata.
Dengan gerakan yang agak ragu, Tania mengambil sendok nasi dan menatap samping wajah Ameer yang sejak tadi memperhatikannya dalam diam.
"Kak... eh, Mas Ameer mau nasi berapa sendok?" tanya Tania dengan suara halus, sedikit canggung saat lidahnya berusaha membiasakan panggilan itu.
Melihat ekspresi salah tingkah dan binar mata Tania yang menggemaskan saat menatapnya dari jarak sedekat ini, sudut bibir Ameer terangkat sangat tipis, sebuah senyum langka yang nyaris tak pernah terlihat di wajah sang pewaris dingin itu.
"Terserah kamu saja, Tania. Apa pun yang kamu ambilkan, akan Mas habiskan," jawab Ameer dengan suara baritonnya yang berat dan tenang, sengaja menekankan kata Mas yang membuat debaran halus di dada Tania kian terasa, juga membuat Drama pasangan suami istri ini terlihat nyata.