Larasati membuka mata dan mendapati dirinya terjebak di dalam sebuah novel — menjadi "istri pertama yang jahat", hamil enam bulan, tepat di detik sang suami, perwira dingin Arya Reksonegoro, mengucap satu kata: cerai.
Ia tahu jalan ceritanya. Di novel itu, tokoh seperti dirinya menggugurkan kandungan, bercerai, lalu menghilang — dan dua tahun kemudian keluarga Reksonegoro direhabilitasi, hidup bahagia bersama "tokoh utama wanita" yang terlahir kembali.
Tapi Laras menolak mengikuti naskah.
Saat keluarga suaminya difitnah, jatuh miskin, dan terusir dari Jakarta ke sebuah desa terpencil di Jawa Tengah, ia justru memeluk erat suaminya, menolak cerai, menolak menyerah. Dengan satu rahasia yang tak dimiliki siapa pun — ia tahu masa depan — Laras perlahan menghangatkan hati sang perwira yang dingin, memenangkan seluruh keluarga besar yang tadinya membencinya, dan satu per satu mementahkan rencana si "tokoh utama" yang terlahir kembali.
Yang tak ia duga: perempuan yang selama ini dianggap anak buangan ini... ternyata menyimpan rahasia asal-usul yang mengguncang seluruh negeri. Ibunya seorang pahlawan yang gugur. Ayah kandungnya — seorang jenderal legendaris yang selama puluhan tahun mencarinya.
Dari menantu yang dihina menjadi permata yang diperebutkan seluruh keluarga; dari istri buangan menjadi putri sang jenderal. Sekali ini, Laras akan menulis ulang takdirnya sendiri.
"Kalau kamu pikir aku akan menyingkir sesuai naskah… kamu salah besar, Mas."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aura Rizki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 32
Bab 32
Jatuh ke Air
Hujan turun menjelang sore, tepat seperti perkiraan Laras.
Ketika reda, Melati datang melalui pintu depan. Ia membawa keranjang sayur dan berdiri di luar pagar, mematuhi aturan baru seolah tidak pernah mengintip dari balik bambu.
“Bu Endang menunggu di warung dekat sekolah,” katanya. “Ada kesalahan kecil pada salinan ijazahmu. Beliau minta diperiksa sebelum tes.”
Laras tidak membuka pagar. “Kenapa beliau tidak mengirim pesan lewat Pak Sutris?”
“Beliau kebetulan melihatku di jalan. Katanya hanya perlu lima menit.”
Ningsih muncul membawa benang pesanan. Melati segera berkata, “Bagus, kamu bisa menemani. Arya tidak perlu khawatir.”
Alasan itu masuk akal, tetapi justru terasa terlalu siap.
Laras hendak menolak. Lalu ia berpikir, jika benar ada masalah berkas dan ia mengabaikannya, tes dapat terganggu. Ia meminta Rukmini memberi tahu Arya, mengambil tanda terima pendaftaran, dan pergi bersama Ningsih.
Rukmini masih menahan pagar. “Tunggu Arya pulang.”
“Warung tutup sebelum magrib,” kata Melati. “Bu Endang harus kembali ke rumah anaknya.”
Ningsih menatap Laras. “Aku bersama kamu dari pintu sampai pulang. Kita tidak lewat saluran.”
Laras mencoba menghubungi nomor sekolah yang tercatat di pengumuman, tetapi tidak ada jawaban setelah jam kerja. Ia hampir memutuskan menunggu besok ketika Melati menunjukkan sebuah amplop berlogo sekolah dari dalam keranjangnya.
“Beliau menitipkan ini juga,” katanya.
Yang terlihat hanya sudut logo. Laras tidak tahu bahwa amplop kosong itu diambil Melati dari tumpukan kertas bekas rumah ayahnya.
Rukmini akhirnya mengizinkan setelah Ningsih berjanji memilih jalan utama. Beliau membungkus payung dan meminta Laras kembali dalam dua puluh menit. Pesan untuk Arya ditulis di meja agar tidak hanya mengandalkan ingatan.
Mereka melakukan hampir semua hal yang benar. Bahaya tetap menemukan celah pada satu kebetulan kecil di jalan.
“Kita lewat jalan utama,” katanya.
“Tentu,” jawab Melati.
Mereka tidak berjalan di tepi saluran. Namun dekat jembatan kecil, seorang anak jatuh dari sepeda karena jalan berlumpur. Ningsih berlari membantu. Lutut anak itu berdarah dan rantai sepedanya lepas.
“Aku antar dia pulang,” kata Ningsih. “Kalian tunggu di sini.”
“Aku ikut,” ujar Laras.
Melati menunjuk warung yang atapnya terlihat di seberang saluran. “Bu Endang sudah menunggu. Kita hanya menyeberang, lalu Ningsih menyusul.”
Laras memandang jembatan. Jalurnya cukup lebar, tetapi tanah setelah ujung jembatan memang licin. Firasat dingin menjalar di tengkuknya.
“Aku menunggu Ningsih.”
Senyum Melati menipis. “Kamu takut padaku?”
“Aku berhati-hati pada jalan.”
“Atau kamu merasa tahu sesuatu tentangku?”
Pertanyaan itu terdengar terlalu tajam. Laras mundur setengah langkah, menjauh dari tepi.
“Kita kembali saja.”
Melati melihat dua petani muncul di tikungan jauh. Kesempatannya akan hilang dalam hitungan detik.
Ia bergerak seolah hendak memberi jalan, lalu telapak tangannya menghantam punggung Laras.
Dunia miring.
Laras mencoba meraih pagar bambu, tetapi jemarinya hanya menyentuh permukaan basah. Kakinya tergelincir. Tubuhnya jatuh ke sisi saluran dan menghantam air dengan suara keras.
Air dingin menutup kepala.
Arus menyeret kain bajunya. Laras melindungi perut dengan kedua lengan dan berusaha menapak, tetapi dasar saluran tidak rata. Paru-parunya terbakar saat ia menelan air.
“Tolong!” teriak Melati. “Bu Laras jatuh!”
Ia menunggu sampai dua petani melihat, lalu turun ke saluran. Dari kejauhan, tindakannya tampak seperti keberanian spontan.
Laras muncul ke permukaan dan menghirup udara bercampur air. Ia merasakan tangan Melati menarik bahunya.
“Pegang aku!” seru Melati.
“Kamu...” Laras batuk keras.
Melati merangkulnya sebelum kata berikutnya keluar. “Tenang, aku menyelamatkanmu.”
Nada itu hanya bisa didengar Laras.
Pakde Karyo tiba dari arah jalan bersama dua warga. Ia berbaring di tepi saluran dan mengulurkan bambu. Salah satu petani menahan kakinya.
“Pegang bambunya, Bu Laras!”
Jari Laras gemetar. Melati mendorong tangannya ke bambu, memastikan semua orang melihat ia membantu.
Mereka menarik Laras ke tepi. Pakde Karyo meminta semua orang memberi ruang, memiringkan tubuhnya saat ia batuk, dan melarangnya berdiri.
Ia memeriksa apakah ada luka terbuka di kepala dan memastikan Laras dapat menjawab nama serta tempat. Seorang warga membawa kain kering. Yang lain ingin menekan perutnya untuk memeriksa bayi, tetapi Ningsih menepis tangan itu.
“Jangan ditekan. Tunggu tenaga kesehatan.”
Mereka melepas alas kaki yang penuh lumpur dan menutup tubuh Laras tanpa membuat kerumunan semakin rapat. Pakde Karyo menghubungi Puskesmas agar petugas bersiap. Mobilnya diparkir menghadap jalan keluar, bukan terjebak di antara motor warga.
Di tengah kekacauan, tindakan-tindakan kecil itu mencegah pertolongan berubah menjadi bahaya baru.
Ningsih kembali berlari setelah mendengar teriakan. Wajahnya kehilangan warna.
“Aku meninggalkanmu sebentar.”
“Bukan salahmu,” Laras berusaha berkata.
Perutnya tiba-tiba mengeras.
Rasa sakit melingkar dari pinggang ke bagian bawah perut. Laras terlipat, kedua tangannya mencengkeram kain basah.
“Sakit,” bisiknya.
Ningsih berteriak meminta kendaraan. Pakde Karyo sudah berlari menuju mobil.
Melati berdiri di samping mereka, juga basah, menerima tatapan kagum warga.
“Untung Dek Melati langsung turun,” kata seorang petani.
“Dia yang berteriak minta tolong.”
Melati menutup mulut seolah shock. “Aku takut sekali. Aku hanya ingin menyelamatkan Bu Laras dan bayinya.”
Laras menatapnya melalui pandangan yang mulai berkunang. Ia tahu persis telapak tangan siapa yang mendorongnya. Namun tak seorang pun melihat detik itu.
Suara langkah cepat terdengar dari jalan.
Arya datang tanpa jaket, napasnya patah. Ia menerobos kerumunan dan jatuh berlutut di samping Laras.
Rukmini menyusul bersama Sekar. Begitu melihat menantunya basah kuyup, lutut beliau hampir lemas. Sekar menopang ibunya dan mengulang bahwa Laras sudah sadar.
“Papa di rumah,” katanya kepada Arya. “Beliau menghubungi Puskesmas dan menjaga dokumen. Mama ikut atau tetap di sini?”
“Mama siapkan pakaian kering dan buku KIA. Susul dengan Jarwo,” jawab Arya. Bahkan dalam panik, ia tidak membiarkan semua orang menumpuk di satu mobil.
“Ras.”
Hanya satu suku kata, tetapi suaranya bergetar hebat.
Ia melepas kemeja luar untuk menyelimuti istrinya, lalu memeriksa apakah Laras sadar dan bernapas. Matanya turun ke tangan yang memegangi perut.
“Berapa lama sakitnya?”
“Baru mulai,” jawab Ningsih. “Perutnya mengeras.”
Arya mengangkat Laras dengan hati-hati, menjaga kepala dan perutnya. Tubuh istrinya dingin, bibirnya pucat.
“Mobil sudah siap!” teriak Pakde Karyo.
Melati maju. “Mas Arya, aku tadi...”
Arya bahkan tidak menoleh. Seluruh dunianya berada dalam pelukan.
Kontraksi berikutnya datang sebelum mereka mencapai mobil. Laras mencengkeram kerah Arya sampai buku jarinya putih.
“Mas, anak kita...”
“Dia bertahan. Kamu juga.”
Arya mengucapkannya seperti perintah kepada takdir, tetapi air di matanya membongkar ketakutan yang tidak dapat ia sembunyikan.
Pintu mobil dibuka. Ningsih naik bersama mereka, sementara Pakde Karyo menyalakan mesin. Warga masih memuji Melati di tepi jalan.
Saat kendaraan melaju menuju Puskesmas, rasa sakit kembali mencengkeram Laras dan seluruh warna hilang dari wajahnya.