Meloudy Tanuwirama, pemilik tato mencolok yang menutupi seluruh lengan kanan hingga pundak, adalah seorang gitaris metal dan kreator konten dengan 100 juta lebih pelanggan. Di balik kesuksesannya di dunia maya, ia berjuang keras menafkahi sekaligus membiayai pengobatan ibunya yang sakit — menjadi satu-satunya tulang punggung keluarga tanpa ayah. Namun penghasilannya belum cukup menutupi biaya yang terus menumpuk.
Sementara itu, Vano S. Viandra — pemilik perusahaan S Group yang berpengaruh di seluruh Benua Asia, berparas tampan luar biasa namun berhati sedingin es — terkejut luar biasa saat menyadari siapa wanita itu sebenarnya.
"Tato itu… Kau Loudy? Gitaris metal yang punya seratus juta lebih pelanggan? Kau?!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arni Arlinawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32 — Penantian yang Tak Sendirian
Koridor rumah sakit malam itu terasa dingin dan sunyi, hanya suara langkah kaki dan suara detak jam dinding yang terdengar jelas. Begitu mereka tiba di depan Ruang Gawat Darurat, sosok Nadine langsung terlihat berdiri di sana — wajahnya basah oleh air mata, matanya bengkak, terus berjalan mondar-mandir dengan tangan yang saling meremas gelisah.
Saat melihat Meloudy, Nadine langsung berlari mendekat, memeluk keponakannya erat seakan takut kehilangan.
"Meloudy… syukurlah kau sampai…" isaknya tertahan di bahu Meloudy.
"Aku tak tahu harus berbuat apa… telepon dari rumah sakit datang begitu saja…"
Meloudy memeluknya balik, tubuhnya masih terasa lemah namun ia berusaha menenangkan sepupunya.
"Kak… Kak Nadine… aku di sini…" suaranya pelan dan serak.
"Ibu… bagaimana keadaan Ibu?"
Nadine melepaskan pelukannya, lalu menoleh ke arah Vano yang berdiri tak jauh dari mereka, dengan tatapan penuh rasa terima kasih sekaligus rasa bersalah.
"Terima kasih sudah mengantarnya, Tuan Vano…" ucapnya lirih.
"Maaf sudah merepotkan Tuan di jam seperti ini."
Vano menggeleng pelan, suaranya tenang dan menenangkan:
"Tidak perlu berterima kasih. Saya hanya memastikan dia sampai dengan selamat. Kalau ada apa-apa… jangan ragu memanggil saya."
Ia menatap Meloudy sejenak, memberikan senyum tipis yang penuh dukungan, lalu mundur perlahan — memberi ruang bagi mereka berdua, namun tetap berdiri di ujung lorong, siap jika sewaktu-waktu dibutuhkan.
Jam dinding di lorong itu berdetak pelan, seakan menertawakan setiap detik yang terasa seperti selamanya. Meloudy duduk di bangku panjang di depan ruang perawatan, kedua tangannya saling meremas erat di pangkuan. Matanya tak lepas dari pintu tertutup itu, berharap setiap saat seseorang akan keluar dan berkata bahwa semuanya baik-baik saja.
Nadine duduk di sebelahnya, sesekali mengusap punggung tangan keponakannya, namun tak ada kata yang terucap. Keduanya tenggelam dalam kecemasan masing-masing.
Di ujung lorong, Vano berdiri diam. Ia tak pergi. Ia tak ingin terlihat mengganggu, namun ia tak tega meninggalkan Meloudy sendirian di tempat yang sepi dan menakutkan seperti ini. Sesekali tatapannya melirik ke arah gadis itu — melihat bahu yang sesekali bergetar, melihat wajah pucat yang berusaha tetap tegar. Hatinya terasa sesak melihatnya menderita seperti itu.
Meloudy menunduk, air mata yang sedari tadi ia tahan akhirnya jatuh perlahan membasahi pipinya.
"Bu… bertahanlah, Bu…" bisiknya lirih, hanya terdengar oleh dirinya sendiri.
"Aku belum sempat membahagiakan Ibu… belum sempat melakukan semuanya… jangan tinggalkan aku sendiri…"
Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri, namun jantungnya berpacu tak menentu. Rasanya waktu berhenti berjalan, dan ketidakpastian itu jauh lebih menakutkan daripada apa pun yang pernah ia hadapi.
Vano berdiri di ujung lorong, tak berani melangkah lebih dekat, namun matanya tak sekalipun beralih dari sosok yang duduk di sana. Saat melihat air mata itu jatuh membasahi pipi pucatnya, tiba-tiba ada rasa yang tajam menusuk dadanya sendiri. Ia tersentak pelan, tangannya tanpa sadar meremas bagian kiri dadanya, napasnya terasa sedikit berat.
Kenapa… kenapa aku merasa sesak begini? batinnya bergetar, menatap gadis itu dengan kebingungan yang mendalam.
Apa yang terjadi padaku? Selama ini aku tak pernah merasa begini melihat orang lain sedih. Tapi melihat dia menangis… rasanya seakan ada bagian dari diriku yang ikut hancur bersamanya.
Ia mengerjap pelan, mencoba menenangkan diri, namun kenyataan itu perlahan menyadarkannya — perasaannya pada Meloudy jauh lebih dalam dari sekadar rasa peduli pada seorang bawahan. Jauh lebih dalam dari yang pernah ia sadari selama ini.
Vano menarik napas panjang, menyingkirkan keraguannya. Ia berjalan perlahan mendekat, langkahnya pelan agar tak mengejutkan siapa pun. Saat berdiri tepat di depan Meloudy, gadis itu mendongak, matanya basah dan bingung.
Tanpa banyak bicara, Vano duduk di bangku kosong di sebelahnya. Ia tidak langsung berbicara, hanya berdiri di sana sebagai penopang yang tenang. Lalu dengan suara yang sangat rendah dan lembut, ia berkata:
"Menangislah. Tidak perlu menahannya di sini. Tidak ada yang melihat."
Meloudy menatapnya, dan seakan izin itu melepaskan semua penahanannya, ia menunduk dan terisak lebih dalam. Vano tidak memeluknya — ia tahu batas di antara mereka. Namun ia meletakkan tangannya di punggung tangan Meloudy yang tergeletak di pangkuan, menutupinya dengan genggaman hangat yang lembut namun tegas.
"Kau tidak sendirian, Meloudy," bisiknya pelan, hanya terdengar oleh mereka berdua.
"Aku di sini. Selama kau butuh."
Meloudy memejamkan matanya, membiarkan kehangatan itu menembus rasa dingin yang menyelimuti hatinya. Di tengah ketakutan terbesarnya, kehadiran pria itu terasa seperti satu-satunya jangkar yang menahannya agar tak hanyut sepenuhnya.
Nadine yang sedari tadi memperhatikan mereka, tiba-tiba berbicara dengan suara rendah namun tegas.
"Bukankah Anda pria di lorong hotel malam itu?"
Vano menoleh sedikit, mengangguk pelan.
"Benar, Kak."
Nadine menarik napas panjang, menatapnya dengan tatapan yang bercampur rasa terima kasih namun juga keberatan.
"Terima kasih sudah menjaga keponakanku malam ini, dan terima kasih juga sudah ikut Meloudy menjenguk Tante Mila dulu. Meloudy menceritakan semuanya tentang kebaikan Anda." Ia menjeda sejenak, lalu menambahkan dengan nada yang lebih tegas.
"Tapi… tetap saja, aku tidak membenarkan tindakan Anda meninggalkan wanita sendirian di kamar hotel malam itu. Itu tidak pantas."
Seketika Meloudy tersentak, matanya membelalak menatap kakak sepupunya. Wajahnya memerah karena malu dan cemas.
"Kak Nadine!" serunya pelan namun mendesak.
"Cukup… Aku mohon…"
Ia menarik lengan sepupunya perlahan, menatapnya dengan pandangan yang memohon agar tidak berbicara lebih jauh. Meloudy sadar betul kata-kata itu sudah keterlaluan, terlebih di saat seperti ini, di saat Vano justru sedang berbuat baik dan menemaninya.
Vano tidak tersinggung sedikit pun. Justru ia tersenyum tipis, senyum yang penuh pengertian dan kerendahan hati. Ia menatap Nadine dengan tatapan yang tenang dan tulus.
"Saya mengerti kekhawatiran Kak Nadine," ucapnya lembut namun tegas.
"Saya tidak meminta dibenarkan. Malah… saya berterima kasih Kakak begitu peduli pada keselamatan dan harga diri Meloudy. Itu hal yang sangat wajar dan benar dilakukan."
Ia menoleh sekilas ke arah Meloudy yang tampak cemas, lalu kembali menatap Nadine.
"Malam itu… saya hanya menyadari batas di antara kami. Saya takut jika saya tinggal lebih lama, saya justru akan melanggar batas yang seharusnya dijaga. Bukan karena saya tidak peduli, justru karena saya menghormati Meloudy. Saya tidak ingin ada orang yang salah paham, apalagi sampai merusak nama baiknya. Jika tindakan saya menimbulkan kesan buruk, saya mohon maaf sebesar-besarnya. Saya, tidak bermaksud seperti itu."
Meloudy menatapnya, hatinya berdebar kencang. Ia terkesan dengan seberapa tenang dan bijaksana Vano menghadapi tuduhan itu, tanpa membela diri berlebihan, tanpa marah sedikit pun.
Nadine terdiam, merasa sedikit malu namun tetap berusaha teguh.
"Baiklah… saya mengerti penjelasan Anda," ucapnya akhirnya.
"Tapi tetap saja… terima kasih sudah jujur."
^^^Bersambung...^^^