Dibuang oleh keluarga sendiri dan bertahan hidup sendirian di kamar kos sempit adalah kenyataan pahit Danu. Fisiknya yang tambun membuatnya menjadi sasaran bullying parah sepanjang SD hingga SMP. Bagi Danu, dia ditakdirkan untuk tidak punya teman dan selalu tak kasatmata.
Namun, hari pertama masuk SMA mendadak jungkir balik.
Satu kelas dibuat geger saat Rio—sosok murid baru yang sangat tampan, karismatik, dan mendadak populer se-sekolah—justru berjalan ke pojokan. Demi menghindari sorotan dan perhatian orang-orang, Rio sengaja memilih untuk duduk di sebelah Danu!
Danu jelas dibuat jantungan dan melongo setengah mati. Kenapa cowok se-populer Rio malah milih duduk bersanding dengan anak yang paling dihindari satu sekolah? Akankah ini jadi awal dari hadirnya "secercah cahaya" di hidup Danu, atau justru membawa masalah baru?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HAMZAHikhsan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32: Kepingan Puzzle
Langkah Rio mendadak terhenti di pelataran parkir kantor polisi. Ia menarik napas panjang, memejamkan mata sejenak, lalu berbalik menatap teman-temannya.
“Hei, tunggu. Kalian berhenti dulu.”
Putri yang sudah bersiap menuju mobil menoleh dengan bingung. “Kenapa, Yo?”
“Kita harus mikir rasional. Nyari Gavin ke seluruh penjuru kota tanpa petunjuk yang jelas sama aja kayak nyari jarum di tumpukan jerami.” Rio mengedarkan pandangan kepada keempat sahabatnya. “Kita harus mulai dari tempat kejadian perkara. Coba periksa CCTV museum. Siapa tahu ada sesuatu yang kita lewatkan.”
Zahra terdiam sesaat sebelum mengangguk. “Benar juga. Gue ikut kata lu.”
“Kalau begitu, ayo balik ke museum,” ujar Reno.
Mereka berlima segera kembali ke mobil. Sepanjang perjalanan, pikiran mereka dipenuhi berbagai kemungkinan. Danu masih berada dalam tahanan, sementara Gavin belum ditemukan. Mereka membutuhkan petunjuk yang bisa membantu membuktikan bahwa penangkapan sahabat mereka bukanlah akhir dari persoalan ini.
Setibanya di museum, suasana di sekitar bangunan bersejarah itu jauh lebih sepi dibandingkan sebelumnya. Sebagian besar murid telah diarahkan oleh pihak sekolah untuk berkumpul di kafetaria setelah insiden penangkapan Danu.
Kelima sahabat itu menyusuri koridor menuju ruang kontrol keamanan. Mereka berharap bisa melihat rekaman yang memperlihatkan kejadian sebelum polisi membawa Danu pergi.
Namun, saat Rio hendak meraih gagang pintu, seorang petugas keamanan muncul dari ujung koridor.
“Hei! Kalian mau apa di sini? Seharusnya kalian berkumpul bersama rombongan sekolah di kafetaria!”
Rio segera mengangkat kedua tangannya, berusaha menunjukkan bahwa mereka tidak berniat membuat masalah.
“Maaf, Pak. Kami cuma mau meminta izin melihat rekaman CCTV sebentar. Teman kami ditangkap polisi tadi, dan kami merasa ada sesuatu yang janggal.”
“Kalau ada masalah, laporkan kepada guru kalian. Ruang ini bukan tempat untuk dimasuki sembarangan.”
“Kami mengerti, Pak. Tapi kami benar-benar khawatir sama teman kami.” Rio menatap petugas itu dengan serius. “Kami nggak minta akses ke semua rekaman. Kami cuma ingin melihat kejadian sebelum polisi datang. Kalau memang nggak ada yang mencurigakan, kami akan langsung pergi.”
Petugas itu masih tampak ragu. Ia memandangi kelima murid di hadapannya, lalu menghela napas panjang.
“Baiklah. Saya akan memeriksa rekamannya bersama kalian. Tapi jangan menyentuh peralatan apa pun tanpa izin. Mengerti?”
“Siap, Pak!” jawab Rio cepat.
Petugas itu membuka pintu dan mempersilakan mereka masuk.
Ruang kontrol dipenuhi monitor yang menampilkan berbagai sudut museum. Reno segera duduk di depan komputer yang diarahkan oleh petugas, sedangkan keempat temannya berdiri di belakangnya.
“Cari rekaman dari lorong tempat Danu ditangkap,” kata Rio.
Reno mengangguk. “Oke. Kita lihat dulu apa yang sebenarnya terjadi.”
Jari-jarinya bergerak di atas papan ketik, mengatur waktu rekaman sesuai perkiraan kedatangan polisi. Beberapa saat kemudian, tayangan dari salah satu kamera muncul di layar.
Mereka semua memperhatikan dengan saksama.
Pada awal rekaman, suasana lorong terlihat biasa saja. Beberapa pengunjung berlalu-lalang sebelum akhirnya area tersebut mulai sepi. Tak lama kemudian, sosok Gavin muncul bersama seorang pria yang tidak mereka kenal.
“Berhenti sebentar,” ujar Zahra.
Reno menjeda rekaman.
“Apa?” tanya Rio.
“Lihat pria yang bersama Gavin itu. Gue nggak ingat pernah melihat dia sebelumnya.”
Reno memperbesar gambar secukupnya. Wajah pria tersebut memang tidak terlihat terlalu jelas, tetapi keberadaannya bersama Gavin cukup menarik perhatian mereka.
“Lanjutkan,” pinta Rio.
Rekaman kembali berjalan. Gavin dan pria itu tampak berbicara singkat. Beberapa saat kemudian, Gavin melirik ke arah lain sebelum bergerak meninggalkan tempat tersebut. Pria yang bersamanya sempat berhenti, lalu berjalan ke arah berbeda.
Tak lama setelah itu, polisi memasuki lorong.
Mereka memperhatikan bagaimana petugas mendekati Danu dan mulai memeriksa barang-barang yang dibawanya. Beberapa menit kemudian, Danu dibawa pergi.
Rio mengepalkan tangannya.
“Jadi, sebelum polisi datang, Gavin sudah ada di sana bersama orang itu.”
“Tapi itu belum membuktikan kalau dia menjebak Danu,” kata Putri, mencoba menahan kesimpulan yang terlalu cepat. “Kita belum tahu apa yang mereka bicarakan atau kenapa Gavin pergi.”
Rio terdiam. Ia tahu Putri benar. Rekaman itu memang menimbulkan kecurigaan, tetapi belum cukup untuk membuktikan seluruh dugaan mereka.
“Bisa kita lihat kamera dari sudut lain?” tanya Reno kepada petugas.
Petugas tersebut mengangguk dan membantu membuka rekaman dari kamera lain. Sayangnya, sudut pandangnya tidak banyak membantu. Sebagian lorong tertutup oleh pilar, sementara jarak kamera membuat gerakan mereka sulit diamati dengan jelas.
Reno mencoba memeriksa beberapa menit sebelum kedatangan polisi, tetapi tak menemukan sesuatu yang bisa dijadikan bukti kuat.
“Yah, cuma segini yang bisa kita dapat,” gumamnya kecewa.
“Setidaknya sekarang kita tahu Gavin sempat berada di sana,” ujar Nadia. “Itu bisa jadi petunjuk awal.”
Petugas keamanan kemudian mengingatkan mereka bahwa mereka tidak boleh menyalin atau menyebarkan rekaman tanpa izin resmi. Setelah berterima kasih, kelima sahabat itu meninggalkan ruang kontrol dengan kepala penuh pertanyaan.
Mereka belum mendapatkan bukti yang cukup untuk membebaskan Danu. Namun, satu hal mulai terasa jelas: keberadaan Gavin di museum pada waktu yang sama bukan sesuatu yang bisa mereka abaikan begitu saja.
Sebelum kembali ke kafetaria, mereka berkumpul di salah satu sudut koridor yang sepi.
“Sekarang kita punya dua hal yang perlu dicari tahu,” kata Rio. “Pertama, siapa pria yang bersama Gavin. Kedua, kenapa Gavin ada di sana sebelum Danu ditangkap.”
“Dan kita nggak boleh langsung menuduh tanpa bukti,” tambah Putri.
“Betul,” sahut Reno. “Kalau kita mau membantu Danu, kita harus menemukan sesuatu yang benar-benar bisa diperiksa polisi.”
Zahra mengangguk, meski wajahnya masih menunjukkan kegelisahan.
“Gue cuma berharap Danu baik-baik aja.”
Rio menatap teman-temannya satu per satu. Ia ingin segera melakukan sesuatu, tetapi kali ini ia berusaha menahan diri agar tidak bertindak gegabah.
“Kita cari tahu pelan-pelan. Untuk sekarang, kita balik ke rombongan dulu. Jangan sampai tindakan kita malah bikin masalah baru.”
Mereka pun kembali ke kafetaria dan bergabung dengan murid-murid lainnya. Tak lama kemudian, Pak Taryo memanggil mereka untuk meminta penjelasan tentang tindakan nekat mereka meninggalkan rombongan.
Omelan panjang pun tak terhindarkan.
Kelima sahabat itu menerima teguran tersebut tanpa banyak membantah. Mereka tahu telah melanggar aturan, tetapi pikiran mereka masih tertuju pada Danu dan petunjuk yang baru saja ditemukan.
Waktu berlalu hingga langit berubah jingga kemerahan.
Sore harinya, bus rombongan kelas sepuluh akhirnya tiba di pelataran parkir SMA Negeri Garuda. Para murid turun satu per satu dengan wajah lelah. Sebagian menunggu jemputan di dekat gerbang, sementara yang lain berjalan menuju tempat kendaraan mereka diparkir.
Kelima sahabat itu pun harus berpisah untuk pulang ke rumah masing-masing.
Nadia mengenakan helm dan melaju dengan motor matic-nya. Reno sudah ditunggu mobil beserta sopir pribadinya. Putri berpamitan lebih dahulu karena arah rumahnya berlawanan.
Kini, hanya tersisa Rio dan Zahra.
Karena rumah mereka searah, keduanya memutuskan berjalan kaki bersama.
Sepanjang perjalanan, tak satu pun dari mereka memulai percakapan. Biasanya, Rio akan melontarkan candaan konyol, sementara Zahra bisa mengoceh panjang lebar tentang hal-hal kecil. Namun, sore itu hanya terdengar langkah kaki dan suara kendaraan yang sesekali melintas.
Pikiran mereka terlalu penuh untuk bercanda.
Danu masih berada dalam tahanan. Gavin belum ditemukan. Pria misterius dalam rekaman CCTV pun belum diketahui identitasnya.
Rio sendiri masih berusaha mengabaikan bayangan masa lalunya yang sempat muncul kembali di kantor polisi. Ia belum siap membicarakannya, bahkan kepada sahabat-sahabatnya sendiri.
Langkah mereka akhirnya terhenti di sebuah persimpangan. Ke kiri menuju blok rumah Zahra, sedangkan ke kanan menuju kawasan rumah Rio.
Zahra menoleh dan memberikan senyum tipis.
“Gue duluan, ya, Yo.”
Rio mengangguk. “Hati-hati, Ra. Nanti malam kita kabarin perkembangan masing-masing di grup.”
“Oke.”
Mereka saling melambaikan tangan sebelum mengambil jalan yang berbeda.
Di bawah langit senja yang mulai meredup, keduanya pulang membawa pertanyaan yang belum terjawab.
Keesokan paginya, koridor SMA Negeri Garuda kembali ramai oleh murid-murid yang berdatangan. Namun, ada pemandangan yang cukup mencolok di antara kerumunan itu.
Rio, Reno, dan Zahra berjalan menuju kelas dengan wajah kusut dan mata lelah. Mereka bertiga menghabiskan sebagian besar malam untuk mencari informasi mengenai Gavin dan pria misterius dalam rekaman CCTV.
Hasilnya belum banyak. Beberapa informasi yang mereka temukan justru tidak saling berkaitan, sedangkan nama Gavin muncul dalam sejumlah sumber yang sulit dipastikan kebenarannya.
Nadia dan Putri yang baru tiba segera menghampiri mereka.
“Ya ampun, kalian bertiga begadang semalaman?” tanya Nadia, menatap mata Rio yang memerah.
“Jangan memaksakan diri sampai begini,” tambah Putri. “Kalau kalian malah sakit, kita justru makin sulit membantu Danu.”
Rio menguap sebelum menjawab, “Gue tahu. Tapi kita nggak bisa diam aja.”
Reno menyandarkan punggung ke dinding.
“Sayangnya, belum ada hasil yang cukup kuat. Informasi tentang Gavin masih simpang siur.”
“Setidaknya kita sudah punya petunjuk dari CCTV,” ujar Zahra. “Sekarang kita tinggal mencari tahu siapa pria itu dan hubungannya dengan Gavin.”
Nadia mengangguk pelan. Ia dan Putri memang belum mengenal Danu selama Rio, Reno, dan Zahra mengenalnya. Namun, mereka mulai memahami mengapa ketiganya begitu bersikeras membantu sahabat mereka.
“Kalau begitu, kita lanjutkan bersama,” kata Nadia. “Tapi jangan sampai kalian bertiga tumbang duluan.”
Mereka tersenyum kecil, lalu melanjutkan perjalanan menuju kelas. Karena Putri berada di kelas berbeda, mereka berpisah di persimpangan koridor dan sepakat melanjutkan komunikasi melalui grup percakapan.
Jam pelajaran pertama baru saja dimulai ketika ponsel mereka bergetar pelan.
Sebuah pesan dari Rio muncul di grup.
[Rio]: Guys, gue nemu sesuatu dari pencarian semalam.
[Putri]: Apa tuh?
[Rio]: Gue coba nyari informasi tentang guci antik yang dicuri Gavin. Ada beberapa artikel lama yang menyebutkan kalau guci itu pernah menjadi bagian dari koleksi bersejarah yang punya hubungan dengan sebuah keluarga pengusaha.
[Zahra]: Terus hubungannya sama Gavin apa?
Rio mengirimkan tangkapan layar artikel tersebut. Di dalamnya terdapat foto guci yang bentuknya mirip dengan benda yang mereka lihat di museum, disertai keterangan singkat mengenai asal-usulnya.
[Rio]: Gue belum bisa memastikan apakah ini guci yang sama. Tapi ada satu bagian yang menarik.
[Nadia]: Bagian mana?
[Rio]: Artikel itu menyebutkan bahwa guci tersebut pernah menjadi bagian dari koleksi yang terkait dengan sebuah dokumen lama. Sayangnya, penjelasannya nggak lengkap. Gue juga belum tahu dokumen itu sekarang ada di mana.
[Reno]: Jadi, kita belum tahu apakah Gavin mengincar gucinya atau sesuatu yang berhubungan dengan sejarahnya.
[Rio]: Nah, itu masalahnya. Bisa jadi guci itu cuma barang antik biasa buat orang lain, tapi punya arti khusus buat Gavin.
[Putri]: Berarti kita masih harus mencari tahu motifnya.
[Zahra]: Dan kita belum boleh menganggap masalah Danu selesai. Bukti dari CCTV juga belum cukup buat membuktikan Gavin menjebaknya.
Rio membaca pesan Zahra, lalu menatap layar ponselnya dengan serius.
Mereka sudah menemukan sesuatu, tetapi belum cukup untuk menyusun gambaran yang utuh. Keberadaan Gavin di museum, pria misterius yang bersamanya, dan sejarah guci antik itu masih berupa potongan-potongan informasi yang belum saling terhubung.
Namun, justru di situlah mereka harus memulai.
[Rio]: Oke. Kita bagi tugas. Gue lanjut mencari informasi tentang guci dan sejarahnya. Reno, coba cari tahu identitas pria di CCTV lewat sumber yang bisa kita akses secara sah. Nadia dan Putri, cari informasi dari artikel atau berita lama. Zahra, bantu gue mencocokkan semua petunjuk yang kita dapat.
[Nadia]: Siap.
[Reno]: Gue usahakan.
[Zahra]: Jangan sampai ada yang sok jadi detektif sendirian lagi, ya. Kita kerjakan bareng-bareng.
Rio tersenyum tipis membaca pesan terakhir itu.
Untuk pertama kalinya sejak Danu ditangkap, mereka memiliki arah yang sedikit lebih jelas. Meski belum bisa memastikan motif Gavin, mereka tahu bahwa ada sesuatu di balik pencurian guci tersebut yang belum terungkap.
Dan mungkin, jika mereka berhasil menyatukan setiap petunjuk, mereka akan menemukan jalan untuk membantu sahabat mereka.
Untuk sekarang, kepingan puzzle itu masih belum utuh.
aku juga penasaran sama karya kamu, Danu...