Satu Atap Bersama Mantan
Aira seorang gadis yang hobi berbelanja menggantungkan hidupnya pada pundi-pundi kekayaan keluarganya terpaksa menerima perjodohan demi menyelamatkan rekening banknya yang terancam diblokir papinya.
Namun di hari pernikahannya niatnya untuk kabur justru malah bertemu mantan pacarnya yang 8 tahun lalu mencampakkannya dengan alasan dingin.
Devan, cinta pertama Aira sekaligus mantan Aira yang sangat ia benci ternyata adalah calon suaminya.
Dua orang yang masih sama-sama sayang, tapi sangat gengsi dalam mengakui perasaannya.
Bagaimana kehidupan rumah tangga mereka kedepannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Skyline Scribe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32 : Tatapan Memburu
Suasana ballroom hotel bintang lima malam itu kian riuh. Denting gelas bercampur alunan musik piano yang mengalun lembut tidak mampu meredakan ketegangan tak kasat mata yang mengepung Devan, Aira, dan Rendy.
Rendy, dengan segala pesona dan rasa percaya diri yang meluap-luap, bener-bener tidak mengalihkan pandangannya dari Aira. Matanya seolah-olah mengunci Aira sebagai satu-satunya objek paling menarik di ruangan itu.
"Jujur ya, Dev," celetuk Rendy sambil menyesap champagne-nya pelan, pandangannya tetap tertuju ke Aira. Nada bicaranya santai, setengah bercanda, tapi sarat akan maksud yang bikin kuping panas. "Gue iri banget sama lu malam ini. Kalau aja lu gak cepet-cepet ngenalin Aira sebagai istri lu... sumpah, detik ini juga gue bakal usahain segalanya buat PDKT sama cewek cantik di sebelah lu ini."
Deg!
Aira yang mendengar pengakuan terang-terangan itu sempat terkejut. Namun, senyuman manis kembali terukir di bibirnya. Aira sengaja menunduk, berpura-pura malu-malu kucing, lalu mendongak menatap Rendy dengan mata berbinar.
"Aduh, Kak Rendy bisa aja deh bercandanya," sahut Aira dengan nada suara yang sengaja dibikin halus banget.
"Gue gak bercanda lho, Ra," balas Rendy terkekeh renyah, melangkah lebih dekat. "Kalau aja waktu bisa diputar balik, mungkin gue yang bakal berdiri di posisi Devan sekarang."
Di samping Aira, cengkeraman tangan Devan di pinggang Aira meremas pelan.
Kesal?
Jelas Devan sangat emosi. Rasanya Devan mau menarik kerah Rendy detik itu juga dan mendaratkan pukulan di wajah pria itu.
Tapi... ini gala bisnis resmi. Belasan wartawan dan jajaran pengusaha senior berada di sekeliling mereka. Devan memaksakan seluruh kontrol dirinya untuk tetap bersikap profesional.
"Becandaan lu agak kelewat batas, Ren," potong Devan. "Istri gue bukan konsumsi buat bahan lelucon."
Rendy menaikkan kedua alisnya santai, mengangkat gelasnya ke udara seolah meledek. "Santai, Dev. Cuma memuji kecantikan istri sahabat sendiri, masa gak boleh? Lagian Aira-nya aja gak keberatan kok, iya kan, Ra?"
"Iya, gak apa-apa kok, Devan," timpal Aira cepat, menepuk pelan dada Devan. "Kak Rendy cuma ramah aja. Lu gak usah sensitif gitu deh, bikin malu aja."
Mendengar Aira yang justru terang-terangan membela Rendy di depannya, napas Devan memburu. Pria itu menatap Aira dengan mata berkilat-kilat penuh kekecewaan dan amarah yang siap meledak.
Beberapa menit kemudian, seorang investor senior berambut uban mendekati Devan untuk mendiskusikan proyek saham yang cukup krusial. Mau tak mau, Devan harus mengalihkan fokusnya sejenak.
"Bentar ya, Pak Yanuar," Devan berdeham, lalu melirik Aira dengan tatapan peringatan. "Ra, berdiri dekat gue. Jangan kemana-mana."
Aira mengangguk pelan sambil tersenyum manis. Tapi begitu Devan membalikkan badan dan mulai tenggelam dalam perbincangan serius dengan investor senior itu... Rendy langsung bergerak cepat memanfaatkan kesempatan emas ini.
Rendy berdiri persis di samping Aira.
"Aira," panggil Rendy lembut. Tangannya merogoh saku dalam jasnya, mengeluarkan sebuah kartu nama. "Ini kartu namaku. Di luar urusan bisnis Devan, kalau Aira butuh teman ngobrol, butuh rekomendasi restoran enak, atau mau jalan-jalan... tolol banget kalau aku gak nawarin diri."
Aira menatap kartu nama itu. Sejujurnya... di dalam hati terkecilnya, Aira mulai merasa risih dengan perlakuan Rendy.
Cara Rendy menatapnya dari ujung kepala sampai ujung kaki, intonasi suaranya yang kelewat manis, dan gestur tubuhnya yang terlalu berani untuk ukuran pria yang baru dikenal bener-bener bikin Aira agak merinding. Rendy kelihatan banget tipe cowok playboy yang terbiasa mendapatkan apa pun yang dia mau.
Aira ingin sekali menolak kartu itu, memutar badannya, dan menjauh dari Rendy.
Tapi... tatapan mata Aira tanpa sengaja menangkap bayangan Devan.
Meski Devan sedang berpura-pura fokus mengobrol dengan investor di seberang sana, Aira bisa melihat dengan sangat jelas kalau tubuh Devan sebenarnya menghadap agak miring. Devan berulang kali melirik kearahnya lewat sudut mata dengan raut mukanya yang makin gelap dan tegang.
Melihat raut Devan yang terbakar cemburu itu, ego Aira yang sempat terluka gara-gara insiden Nadia bersorak puas. Keinginannya buat bikin Devan cemburu dan merasakan posisi yang sama jauh lebih besar dibanding rasa risihnya pada Rendy.
Aira mengulurkan jemarinya, mengambil kartu nama Rendy.
"Wah, makasih banyak ya, Kak Rendy," ucap Aira, menyunggingkan senyuman. Ia memasukkan kartu nama itu ke dalam tasnya. "Pasti... kapan-kapan kalau saya lagi bosan di rumah, saya bakal hubungi Kak Rendy."
Mata Rendy membelalak girang. Pria itu menyunggingkan senyuman lebar penuh kemenangan. "Gue tunggu banget telepon dari lu, Aira. Kapan pun lu mau, phone call dari lu bakal jadi prioritas utama gue."
Sementara itu, di seberang sana...
Devan yang melihat Aira menerima kartu nama Rendy sambil tersenyum semanis itu kehabisan sisa kesabarannya.
Pria itu memotong pembicaraan investor itu. "Maaf banget, Pak Yanuar. Ada urusan mendadak yang harus saya selesaikan sekarang."
karena 8 tahun itu bukan waktu yang sebentar untuk bisa membenci orang
gak sabar liat Devan bucin😍