Di hari kematian putrinya, Arini justru dituduh lalai oleh Bagas dan keluarga mertuanya yang toxic. Sebagai "penebus dosa", ia dipaksa bekerja keras dan dijadikan mesin pencari uang oleh mereka.
Takdir berubah saat Arini bertemu Dikta, seorang mafia kejam yang rela membayar mahal demi mendapatkan ASI eksklusif untuk putra semata wayangnya. Arini pun masuk ke dalam kehidupan Dikta sebagai ibu susuan.
Akankah Arini mampu bertahan di bawah tekanan keluarga Bagas yang terus memanfaatkannya? Dan bagaimana reaksi Dikta—sang mafia berdarah dingin—saat mengetahui wanita yang merawat putranya ternyata sedang dihancurkan oleh suaminya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Suhada Bintan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
Suasana dalam ruang ICU kembali mencekam setelah ancaman Carlos tadi. Dikta berdiri mematung di dekat jendela, mencengkeram ponselnya begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih. Pandangannya langsung beralih pada Arkan, tubuh mungil yang masih terbaring lemah di dalam inkubator dengan selang-selang medis yang menempel.
"Carlos... kau benar-benar mencari maut," desis Dikta dengan suara yang bergetar menahan emosi.
Ia berjalan kembali ke kursi plastiknya. Dikta tidak berani melangkah keluar dari ruangan itu. Baginya, satu detik saja ia meninggalkan Arkan, bahaya besar bisa langsung merenggut nyawa putranya.
"Maafkan Papa, Nak," bisik Dikta lirih sambil mengulurkan jari kelingkingnya. "Papa tidak akan membiarkan siapa pun menyentuhmu."
Pukul sudah menunjukkan 04.00 pagi. Mata Dikta sudah memerah akibat kurang tidur, kepalanya terasa pening, dan perutnya mulai perih karena sejak kemarin siang belum ada sebutir nasi pun yang masuk ke dalam tubuhnya. Namun, rasa lapar dan lelah itu menghilang setiap kali ia menatap layar monitor yang menampilkan grafik detak jantung Arkan.
Tiba-tiba saja dari balik dinding kaca, Dikta menangkap bayangan beberapa siluet pria yang berdiri di koridor luar.
Dengan perlahan ia melepaskan genggaman tangan putranya, lalu berdiri dibalik pintu kaca. Tangan kanannya meraba bagian belakang pinggang, tempat ia biasa menyisipkan senjata—namun kosong.
"Sial, aku lupa," gumam Dikta pada diri sendiri. Ia baru ingat bahwa ia telah membuang seluruh senjatanya sebagai bentuk keseriusan untuk pensiun dari aktivitas malam.
Dikta mengintip melalui celah kaca. Matanya menyipit, mencoba mengenali tiga sosok pria yang berdiri tegap di sana. Ketika salah satu dari mereka berbalik, Dikta tertegun.
"Mereka...? Bagaimana bisa?" gumam Dikta tidak percaya.
Di luar sana, berdiri tiga orang kepercayaannya, Marco, Hendra, dan Billy. Mereka mengenakan pakaian santai. Hendra tampak berdiri dengan posisi siaga, matanya terus menyapu setiap sudut koridor dengan tajam. Billy menyandarkan punggungnya di dinding sambil memegang sebuah kantong plastik besar, sedangkan Marco sedang berbicara lewat earpiece di telinganya dengan suara yang sangat lirih.
Dikta menarik napas dalam-dalam. Rasa bersalah, haru, dan bingung bercampur aduk di dalam dadanya. Ia menggeser pintu ICU dengan perlahan hingga membuat ketiga pria di luar langsung menoleh serentak.
"Pak," sapa Marco.
"Pak Dikta," tambah Billy dengan senyum kecil yang dipaksakan untuk mengurangi ketegangan.
"Apa yang kalian lakukan di sini? Bukankah aku sudah memerintahkan lewat Marco agar kalian membubarkan semua aktivitas dan pulang ke rumah masing-masing? Aku sudah selesai dengan dunia itu, dan kalian semua bebas."
Hendra melangkah maju. "Maafkan kami jika kami melanggar perintah. Tapi bagi kami, kesetiaan tidak bisa dibubarkan hanya dengan selembar kertas atau pesan singkat."
"Hendra benar, Pak," potong Billy. Ia mengangkat kantong plastik yang dibawanya. "Kami tahu Anda tidak akan mau meninggalkan ruangan ini sedikit pun demi Den Arkan. Anda pasti belum makan sejak kemarin. Ini... kami membelikan nasi goreng hangat dan kopi dari warung depan rumah sakit. Anda harus makan, Pak."
Dikta menatap kantong plastik di tangan Billy, lalu beralih menatap wajah ketiga anak buahnya. Tenggorokannya mendadak terasa sangat tercekat.
"Kalian tidak mengerti," ucap Dikta lirih, menggelengkan kepalanya. "Aku tidak bisa bersantai. Carlos baru saja meneleponku. Bajingan itu tahu segalanya. Dia tahu Arkan sedang sakit, dia tahu Arini hilang, dan dia tahu aku sedang sendirian. Tempat ini tidak aman jika dia memutuskan untuk mengirim orang."
Marco mengangguk, ekspresinya sangat tenang. "Kami sudah tahu tentang ancaman Carlos, Pak. Itu sebabnya kami ada di sini. Tetapi malam ini, tidak akan ada setetes darah pun yang tumpah di rumah sakit ini. Kami di sini bukan untuk memicu perang di area medis."
Dikta mengernyitkan dahi. "Apa maksudmu, Marco? Carlos bukan orang yang bisa diajak bernegosiasi. Jika dia tahu aku lengah, dia akan mengirim pasukannya ke sini."
Hendra menimpali sambil tersenyum tipis, "Itu kalau mereka tahu Anda ada di mana, Pak. Sebelum kami naik ke lantai ini, anak-anak di luar sudah bergerak. Kami sudah mengalihkan seluruh radar informan Carlos."
"Mengalihkan radar?" tanya Dikta bingung.
"Benar, Pak," sahut Billy bersemangat. "Hendra sengaja menyebar desas-desus di distrik barat bahwa Anda sedang membawa Den Arkan kabur ke luar kota menggunakan jalur laut. Sementara Marco mengondisikan beberapa mobil sewaan yang mirip dengan kendaraan lama Anda untuk bergerak ke arah pelabuhan. Saat ini, orang-orang Carlos sedang sibuk mengejar bayangan di ujung kota."
Dikta terperangah. Strategi pengecohan yang sangat rapi. "Kalian... merencanakan semua ini tanpa sepengetahuanku?"
"Kami melakukan ini demi keselamatan Den Arkan dan ketenangan Anda, Pak Dikta," ujar Marco dengan diakhiri senyum tipis. "Rumah sakit adalah tempat penyembuhan, bukan medan pembantaian. Anda boleh memecat kami dari bisnis haram itu, dan kami dengan senang hati menerimanya. Billy bahkan sudah bermimpi ingin melamar supir di tempat lain setelah ini. Benar kan, Bil?"
"Eh? Iya, Pak, saya mau jadi supir yang tak terikat dengan dunia darah, " jawab Billy menggaruk tengkuknya sebelum kembali serius. "Tetapi malam ini, status kami bukan lagi anak buah dalam organisasi kriminal Anda. Malam ini, kami adalah keluarga yang sedang menjaga bayinya. Rumah sakit ini aman, Pak. Tidak ada musuh yang akan datang malam ini."
Kata-kata mereka meruntuhkan keangkuhan Dikta. Pria tegap yang biasanya ditakuti di seluruh penjuru kota itu kini harus menundukkan kepala, menyembunyikan matanya yang mulai berkaca-cara.
"Terima kasih... Terima kasih banyak," bisik Dikta, suaranya bergetar hebat.
"Sudahlah, Pak, jangan pasang wajah melankolis begitu. Sangat tidak cocok dengan reputasi 'Serigala Malam'," seloroh Billy mencoba mencairkan suasana. Ia menyodorkan kantong plastik itu lagi. "Ayo diambil, Pak. Mumpung lagi hangat. Kalau Anda sakit, siapa yang akan menjaga Den Arkan saat dia sembuh nanti?"
Dikta tersenyum tipis, "Kalian sendiri sudah makan?"
"Sudah, Pak. Tadi Hendra menghabiskan dua porsi di warung kopi bawah," jawab Marco sambil melirik Hendra.
"Heh, porsi pertama kan tidak kenyang," gerutu Hendra sambil membuang muka karena malu, memicu tawa kecil dari Marco dan Billy.
"Bagaimana perkembangan tentang Arini?" tanya Dikta dengan raut serius.
Raut wajah Marco langsung berubah muram. Ia menghela napas pendek sebelum menjawab, "Tim penyelam dan beberapa anak buah kita masih menyisir aliran sungai bawah, Pak. Kemungkinan.. "
"Artinya ada kemungkinan dia selamat?" kejar Dikta cepat.
Marco, Billy, dan Hendra hanya menunduk. Mereka tak berani untuk menjawabnya mengingat tak menemukan jejak apapun terkait Arini.
"Maaf, Pak. Tapi, arus di sana deras. Kemungkinan untuk Bu Arini selamat sangat sulit. Bahkan dari Tim SAR sendiri sudah memutuskan untuk pencarian," jelas Marco dengan raut wajah yang tidak bersemangat.
Dikta tak mampu berkata. Ketiga pria di depannya ini sudah banyak melakukan sesuatu untuk hidupnya. Ia tak ingin melibatkan mereka semata memuaskan keinginannya yang belum pasti benar.
"Kalian sudah banyak membantuku. Terimakasih untuk semuanya," ucap Dikta menepuk pundak mereka lalu masuk ke dalam ruangannya.