Elazar Rayana. 28 tahun. CEO Oxen Group. Meski sudah memiliki kekasih, orang tua El tidak pernah merestui mereka. Lalu datanglah Marisa Filan yang lebih akrab dipanggil Ica. Gadis 18 tahun yang akan dijodohkan dengan El atas paksaan orang tua El.
Belum lagi fakta bahwa adik El, Gara adalah sahabat Ica yang diam-diam menaruh rasa terhadap Ica semenjak mereka satu SMA.
Bagaimana hati mereka mengatasi lingkaran rumit tersebut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon suci dream, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
31. Perlakukan Manis
Ketika El sampai rumah pada pukul tujuh malam, dahinya berkerut banyak mendengar suara tangisan. Didera cemas, takut terjadi apa-apa terhadap Ica, ia bergegas menuju asal tangis berada.
Ia mendapati Ica di dapur. Berdiri di depan wastafel. Saat didekati gadis itu tengah mencuci jarinya yang berdarah sambil menangis.
"Apa yang terjadi dengan tanganmu?"
"Ta—tadi Ica potong ayam, gak sengaja jari Ica ikut kepotong juga! Darahnya gak berhenti-berhenti, El. Perih."
El membawa telunjuk Ica yang terluka ke mulutnya, mengisapnya pelan. Seketika tangis Ica berubah pendek-pendek dan perlahan surut. Seiring mata bulatnya yang berair menatap heran kelakuan El pada jarinya.
"Apa yang El lakukan?"
"Menyembuhkan lukamu. Cara ini efektif untuk menghentikan luka kecil seperti ini."
Pria itu melakukannya dua kali. Dan ia menanyakan hasilnya, "bagaimana? Sekarang tidak perih lagi?"
Ica menggeleng hingga dua ikatan rambut di kanan kiri kepalanya, bergoyang. "Enggak."
Kemudian, El mengambil kotak di mana ia menyimpan beberapa obat merah, plester luka dan obat ringan lainnya di kamarnya. Ia kembali dengan benda itu dan menyuruh Ica duduk di kursi bar.
Dengan telaten, El membebat jemari lentik itu dengan plester luka.
"El, vampir, ya? Suka isap darah."
"Tidak ada vampir di dunia ini. Vampir cuma mitos, dongeng fantasi." Untung lelahnya tidak mempengaruhi stok pasokan sabarnya, jika tidak mungkin El sudah mengamuk dan membuat Ica tidak bisa berjalan di pagi harinya.
El, kau sudah gila sempat-sempatnya berpikiran ke arah sana. Salahkan asmodeus-nya yang kurang ajar.
"Tidak usah memasak. Kita delivery saja."
"Tapi Ica mau masak. Ica mau buktiin kalau Ica bisa masak enak," rengeknya. Matanya kembali berair.
"Tanganmu nanti terluka lagi. Nangis lagi."
"Kali ini gak, Ica janji akan hati-hati."
"Tidak tetap tidak!" El melepas celemek abu-abu yang melekat di tubuh Ica. Lantas mengangkat tubuh mungil itu tanpa kendala. Menjauhi dapur segera. Usaha Ica memberontak pun sia-sia, El dua kali lebih besar dari tenaga gadis itu.
Di sofalah El meletakkan Ica yang tidak berhenti merengek.
"El jahat! Minggir! Ica mau masak!"
El yang tidak ingin melepaskan Ica, dengan mudah mengurungnya. Dalam posisi membungkuk, ia memangkas jarak hingga menyisakan beberapa senti saja dari wajah Ica.
"Aku tidak suka dilawan, Ica." Kalau El sudah mengumbar aura ditaktornya, maka artinya ia sangat marah dan tidak ada seorang pun yang ia biarkan lolos cuma-cuma.
"Tapi—tapi—tapi—tapi—tapi—tapi ...."
Rentetan 'tapi' tidak sampai selesai. El keburu membungkam mulut Ica dengan tangannya yang besar.
"Turuti mauku atau aku marah."
Tidak ada hal yang mengerikan ketimbang marah El. Ica beringsut. Niat menggigit sirna. Ia menekan punggung kakunya ke kepala sofa. Mengakhiri pemberontakan. Ia menjelma menjadi gadis manis yang menggemaskan.
El menyeringai puas. Lantas melepas Ica. Ia mengeluarkan ponsel dari saku celana dan menghubungi restoran langganan. Menyebutkan tiga box besar pizza varian rasa.
"Duduk manis di sini selama pesanannya datang dan jangan mengubah posisi sampai aku selesai mandi, mengerti?" Begitu ancaman El setelah mengantongi ponselnya lagi.
Dua ikatan di kanan kiri kepala Ica bergoyang lagi saat ia mengangguk kencang.
Sekarang El bisa tersenyum, dan sebelum ia beranjak ia memegangi ubun-ubun gadis itu supaya berhenti mengangguk. El khawatir sendi putar di lehernya terancam patah.
Kira-kira setengah jam El baru keluar dari kamar. Memakai kaos polo dan celana piyama sembari mengeringkan rambut dengan handuk kecil. Dia terlihat segar sekarang. Lelahnya jauh-jauh pergi.
Ia tertawa pelan melihat posisi Ica masih sama saat El meninggalkannya terakhir kali.
"Kau benar-benar takut kepadaku, ya?" Sampai tidak berani mengubah posisi, apa lagi kalau bukan takut.
Punggung itu makin kaku tatkala dikagetkan suara El yang dalam. Bayangkan saja ekspresi seseorang yang baru diteror hantu, nah kasus sama terjadi pada Ica.
Yang benar saja menyamakan El dengan hantu, sungguh pemikiran yang tak senonoh. Dua itu jelas berbeda. El jauh lebih tampan dan tidak relevan dibandingkan.
Bel di luar apartemen memutus pikirannya yang tidak jelas. Ia beranjak untuk menemukan pengantar pesanannya di depan pintu. Setelah mendapatkan uang, pemuda itu pergi.
"Kau bisa berhenti takut dan makanlah."
Apa yang El bawa seketika membuang ketegangan di wajah Ica dan menggantinya dengan senyum cerah. Ia bertepuk tangan tatkala El meletakkannya satu box di pangkuan gadis itu dan sisanya ia letakkan di dapur.
Selama gadis itu makan, El menemaninya dengan laptop di pangkuannya. Tidak seratus persen menaruh fokus ke pekerjaannya, melainkan membaginya separuh untuk menerima suap beberapa potong pizza ke mulutnya dari Ica karena ia yang menyuruh.
"Apa yang kaulakukan seharian ini?" Pria itu bertanya setelah mengunyah potongan pizza mozarella.
"Menata baju-baju Ica. Setelah itu bosan. Karena bosan Ica baca buku di kamar El. Uh, bikin pusing El. Semuanya berbahasa inggris. Ica tidak bisa bahasa Inggris. Terus Ica lari-lari bawa sapu ke seluruh apartemen ini."
Ica saat mengatakan diksi 'seluruh' ia membuat bulatan besar dengan dua tangannya.
El mengalihkan matanya dari layar. Wajahnya menggurat ingin tahu saat menatap Ica. "Untuk apa lari-lari bawa sapu?"
"Ica sedang memburu tikus," katanya sangat menyakinkan.
El tertawa. "Tidak ada tikus di apartemenku, Ica. Sudah ada petugas kebersihan khusus yang memantau kebersihan apartemen ini berkala."
"Begitu, ya? Kalau kecoak."
"Apalagi itu. Tidak ada."
Ica mengubah duduknya buru-buru menghadap El. "El, boleh Ica pelihara kucing?" Mengedip penuh harap.
"Kau suka kucing? Aku tidak. Jadi, kubur keinginanmu itu untuk memelihara kucing."
"Kenapa tidak suka kucing. Kucing lucu, tauk!"
"Kau di sini sudah merepotkan. Apalagi kucing, dia bisa menghancurkan barang-barang. Lagipula kau sudah lucu, untuk apa ada kucing."
El tidak berniat untuk gombal, bukan?
"Tapi, Ica kesepian kalau El tidak ada. Kucing bisa menemani Ica biar Ica gak kesepian lagi."
Untungnya gadis itu tidak peka.
Jika dipikir-pikir, benar juga. El seharian di kantor dan baru punya waktu dengan Ica malam harinya. Tidak mungkin Ica akan betah dengan kesendirian lama-lama. Dengan berat hati, El mengangguk.
"Baiklah, tapi ada satu syarat."
"Asyik!" Ica terlonjak dari duduknya. Sepotong sosis terbang sampai ke papan ketik laptop.
"Hei!" El menyingkirkannya dengan muka masam. Namun tak ada tanda-tanda maaf di paras Ica. Gadis itu terlalu gembira.
El melanjutkan. "Kau harus perhatikan perawatannya hingga kebersihannya. Pastikan ia bersikap baik di rumah ini. Apa kau sanggup?" Sudah seperti bapak-bapak saja dia yang sedang memberi kultum kepada anak nakal.
"Ica berjanji akan merawat kucing dengan baik supaya El tidak marah-marah."
Gadis itu terlihat menyakinkan setiap inci wajahnya. Terutama mata yang berkilat penuh harap. El tidak menjamin gadis itu bisa memegang kata-katanya. Ya, tahulah Ica terlalu bodoh untuk menjadi gadis yang berpikiran dewasa. Tingkahnya masih anak kecil yang suka plin-plan dan tidak memikirkan risiko mendatang.
Namun El pada akhirnya mengangguk. Tidak ingin membuat Ica kecewa.
Ia tidak akan percaya bisa sesantai ini membicarakan hal sangat ringan dan memperdebatkan konversasi tak bermutu. Bahkan, tidak saat ia bersama Kiara dulu. Dia akui tengkuknya tidak tegang dan ia nyaman, dan hanya dengan Ica ia bisa seperti itu.
"Astaga! Kau makan berantakan sekali." El bangkit ke dapur untuk mencari segulung tisu. Kembali duduk. Membersihkan dua telapak tangan Ica dari saus dan keju, bergiliran. Begitu juga dengan mulutnya. Bahkan sampai rahang. Ica cuma tertawa-tawa saja.
Waktu membius. Bibir ranum itu bagai secangkir nektar yang amat seduktif. Membawa lebah jantan seperti El untuk mengisap manisnya.
Tidak terburu-buru dan memperlakukannya dengan lembut adalah cara supaya Ica tidak ketakutan dan tidak membuat gadis itu melawan. El tersenyum di sela kegiatannya, ia berhasil tidak menyakiti Ica dan gadis itu pasrah menerima.
El tidak yakin ia bisa berhenti sekarang. Tidak ketika ia menginginkan lebih.
***