Ketidakberdayaan menghancurkan hidupku, mengubah takdir dan masa depanku.
Dan bahkan ketika ada cinta itu di sampingku, aku memilih menghindar.
Karena dalam cinta itu sendiripun, menyimpan belati yang siap membunuhku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon adiz.ck, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
Deru angin yang berhembus sedikit kencang masih tak menggoyahkan kenyamanan Deon di atas balkon hotel malam itu, ia masih asik menikmati suara deburan ombak yang sesekali menghantam batu karang di tepian pantai. Menatap bayang-bayang hitam daun kelapa yang terus melambai.
Deon meraih cangkir putih di sampingnya, meneguk cappucino yang sudah terasa sangat dingin karena terlalu lama ia abaikan.
DDDRRRRTTTT
Bahkan minuman itu belum sempat Deon telan ketika ponselnya tiba-tiba bergetar. Mata hitamnya langsung melirik ke arah ponselnya, menatap 4 huruf yang terpampang di sana. Raut mukanya seketika menjadi masam. Ia tau jika mamanya itu akan menolak apapun yang di inginkan Deon. Ia segera menghanyutkan seteguk air yang masih tertahan di mulutnya sampai mengalir ke tenggorokan. Lalu dengan sedikit enggan Deon menekan tombol hijau di bagian bawah ponsel kemudian mendekatkan benda pipih itu ke ketinga kanannya tanpa mengucapkan sepatah katapun.
Belum sampai 5 detik Deon langsung menganggakat ponsel itu, menggeser lebih jauh sedikit dari daun telinganya, bahkan dengan jarak setengah meterpun, masih sangat jelas terdengar omelan mamanya di sebrang telfon.
"DEON..... KAMU PERGI KEMANA??? KENAPA TIDAK BILANG? KENAPA KAMU TIDAK BERANGKAT KE KANTOR......bla..... bla.... bla...."
Deon hanya bisa menghela nafasnya kasar, merasa sedikit malas dengan omelan yang harus ia dengar hampir setiap hari.
"Mah..... Aku sudah besar, mau sampai kapan mama mengaturku?" Lalu setelah kata-kata itu, panggilanpun buru-buru Deon akhiri. Ia sudah bisa menebak akhir seperti apa yang bisa terjadi jika Deon masih melanjutkan panggilan itu.
Suasana damai yang semenjak tadi membuat Deon merasa nyaman langsung hilang seketika dengan panggilan dari seseorang yang tak pernah Deon harapkan, dengan malas dia langkahkan kaki meninggalkan balkon dan masuk ke dalam ruangan hotel.
Angin laut yang menerobos masuk saat Deon membuka pintu balkon seketika menerpa wajah Zanna dan membuatnya menggeliat sesaat. Namun hal itu tak membuat Zanna bergeming dari tidurnya.
Deon segera menutup pintu dan menghampiri Zanna, membetulkan selimut yang sedikit tersingkab. Menyingkirkan rambut Zanna yang menutupi sebagian wajahnya, namun entah mengapa ia tak bisa menahan tangannya untuk membelai rambut Zanna yang hitam bergelombang, tanpa ragu Deon menarikan jari-jarinya mengikuti alur gelombang rambut Zanna, membelaikan telapak tangannya dengan lembut, menyentuh daun telinga Zanna dan membuatnya sedikit menggeliat. Deon buru-buru menarik tangannya. Ia tak ingin Zanna terbangun karenanya.
Namun Deon tersenyum, ia teringat jika telinga itu pernah ia sentuh dan kecup sebelumnya. Perlahan Deon mendekatkan bibirnya ke daun telinga Zanna, membisikan sebuah kalimat dengan lembut disana.
Dengan sumringah Deon menidurkan tubuhnya di kasur sebelah Zanna. Deon kembali tersenyum melihat beberapa guling yang di tata rapi di bagian tengah ranjang, lalu tanpa ragu Deon menyingkirkan guling itu dan menggeser tubuhnya lebih dekat ke Zanna.
"Kenapa kamu harus menghindariku? kita bahkan pernah lebih dekat dari ini" Bisik Deon pelan sambil meraih telapak tangan Zanna, meletakkannya tepat di pipinya.
Gairah itu membara, namun Deon buru-buru menyingkirkannya, ia tak ingin menyakiti gadis yang telah membuatnya jatuh cinta.
#####
Suara bising dari beberapa orang yang tertawa dan berlarian di pantai membangunkan Zanna dari mimpi indahnya semalam. Matanya ia kerjapkan beberapa kali. Tanpa ia sadari tangannya menyentuh sesuatu di atas perutnya.
"Hah..... Tangan siapa???" Batin Zanna, lalu segera ia tengok sebelahnya. Bahkan kedua wajah itu sampai bertemu, Zanna begitu kaget begitu tau Deon sudah dengan posesif memeluk tubuhnya.
PLAK......
Tamparan itu ringan namun cukup membuat Deon terbangun dari tidur ternyamannya.
"Aauuuu" Pekik Deon sembari memegang pipi kirinya yang terkena tamparan dari Zanna.
"Apa yang tuan lakukan? Kenapa sampai tidur begitu dekat denganku?" Teriak Zanna dengan lantang.
Deon mendudukan tubuhnya, menghadap Zanna yang sudah berdiri di samping ranjang dengan wajah penuh amarahnya.
"Bukannya kamu yang memintaku untuk memelukmu semalam, kamu bilang kedinginan" ucap Deon santai, tentu saja ia tak ingin kebohongannya terbongkar. Itu hal yang memalukan bukan.
Zanna mengernyitkan dahinya, mencoba mengingat ingat kejadian semalam, namun ia melupakan semuanya.
"Apa benar begitu?" Ucap Zanna sambil tertunduk malu, mungkin ia memang tak sadar meminta hal memalukan kepada Deon semalam.
"Iya......" Deon tersenyum penuh kemenangan.
"Maafkan saya, mungkin saya sudah lancang kepada tuan muda" Zanna begitu polosnya mempercayai kata-kata Deon.
"Bersihkan dirimu!!! Lalu berkemaslah! Kita harus pulang sekarang" Titah Deon sembari bangkit dari ranjangnya.
Deon masih saja tersenyum senang mengingat tidurnya semalam yang terasa begitu nyenyak saat ia bisa mendekap tubuh Zanna. Matanya masih saja mengikuti gerak Zanna yang mulai hilang di balik pintu kamar mandi. Keinginannya untuk bisa terus bersama Zanna kian kuat.
"Zanna...... Bolehkah aku memilikimu?"
#####
Adiz.Ck
jd penasaran siapakah yg menelpon ......Deon kah??????🤔🤔
pikirkan dan sadari itu Deon.......kamu kurang tegas.......,🤔😤🙄
makasih Thor...........semangaaaaat........🙏👍💪🏻😘🥰❤️🌹