Amelia tidak menyangka bahwa ibunya mempunyai banyak hutang. Untuk melunasi hutang-hutangnya, ibunya menjodohkannya dengan lelaki bernama Said Brawijaya. Amel tidak ingin menikahi lelaki pilihan ibunya karena ia sangat membenci laki - laki itu sejak saat sekolah menengah. Laki - laki brengsek yang melecehkannya saat waktu SMA. Amel berusaha mencari jalan agar tidak jadi dijodohkan. Amel mempunyai pacar yang bernama Riko Chandra. Mereka pasangan saling mencintai. Ibu Amel akan merestui hubungan mereka jika Riko mampu membayar hutang-hutangnya yang sangat banyak. Riko yang hanya karyawan biasa tidak punya tabungan sebanyak hutang ibu Amel. Amel terus mencoba memperjuangkan cintanya kepada Riko. Tapi saat itu Riko dilema karena beratnya perjuangan cinta mereka. Akankah Riko pasrah pada cintanya? Akankah Amel menyerah pada hubungan mereka? Apakah akhirnya Amel memilih Said lelaki yang dibencinya atau memperjuangkan cintanya dengan Riko?
Yuk baca novel Ketika Cinta Mengalah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erna Sikumbang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kabar buruk
Amel terbangun dari tidurnya. Entah kenapa perasaanya menjadi tidak enak. Pikirannya lansung tertuju kepada suaminya yang sedang menuju luar kota tadi pagi.
Amel mencoba menghubungi sang suami. Namun ponselnya tidak aktif sama sekali.
"Kemana sih mas Said? pakai nggak aktif segala ponselnya." ucapnya menggerutu.
"Ya Allah moga engkau selalu melindungi suami hamba di manapun berada."
Amel berjalan keluar dari kamarnya menuju kamar sang anak. Dari luar kamar terdengar Dzaky sedang rewel.
Amel membuka pintu kamarnya dan mendapati Dzaky bersama dengan Beby sisternya dan ibu Amel.
"Kenapa Dzaky Bu?" tanya Amel kepada ibunya.
"Nggak tau, sejak tadi Dzaky menangis Mulu, entah apa yang sakit." jawab ibu Amel.
Amel mencoba menggendong anaknya yang berumur satu tahun lebih itu. Bukannya diam, Dzaky malah semakin menangis.
"Hussss diam nak, Dzaky kenapa?" tanya Amel mencoba membujuk anaknya.
Lama Amel menggendong Dzaky dan akhirnya sang anak tertidur. Amel bernafas lega namun pikirannya masih merasa tidak enak.
Kring kring kring
Amel mendengar suara telpon rumah berdering. Dia berjalan menghampiri telpon.
"Hallo selamat siang." sapa Amel.
"Selamat siang Bu, apakah ini rumah pak Said Brawijaya?"
"Benar pak, saya istrinya."
"Kami dari pihak kepolisian mengabarkan bahwa pak Said Brawijaya mengalami insiden kecelakaan di jalan tol KM 602 Purwakarta, hal tersebut menyebabkan korban meninggal Dunia bu"
Amel lansung lemas mendengar berita yang baru ia dengar. Melihat Amel terduduk lemas membuat sang ibu berlari membantu anaknya.
"Mel, kenapa me" tanya ibunya.
"Mas Said kecelakaan Bu." ucapnya sambil menangis.
"Ayo kita berangkat, dimana Said dirawat?" tanya sang mama.
"Tunggu ma, aku hubungi Roni dulu."
Amel segera menghubungi Roni. Namun nomor ponsel sang asisten juga tidak aktif.
"Nomor Roni juga nggak aktif Bu, aku telpon supir dulu Bu." ucap Amel.
"Kenapa sopir Mel, pakai helikopter aja biar cepat sampai di sana."
"Tapi buk, aku nggak ngerti ini gimana."
Amel menelpon sopir pribadinya. Namun sang sopir yang sudah berpengalaman memberi arahan kepada Amel. Setelah 20 menit mereka siap berangkat menuju rumah sakit dengan menggunakan pesawat pribadi karena berada di luar kota.
Amel juga menyesali dirinya yang terlalu manja dengan suaminya. Selama ini dia tidak tau apa-apa. Semua sudah beres oleh suami dan Roni sang asisten.
Amel hanya menangis di sepanjang perjalanan. Dia tidak tau apa jadinya hidupnya tanpa Suaminya.
"Katanya ada yang meninggal dunia, aku nggak bisa hidup tanpa Mas Said Bu."
"Istighfar Mel, ngucap." nasehat ibunya.
Ibunya masih mencoba mencari berita teradate. Berita sudah berseliweran keluar di internet mengenai kecelakaan di jalan tol tersebut.
Ibunya juga membaca adanya kecelakaan beruntun di tol dan yang salah satunya mobil Said sang menantu.
"Kenapa suami kamu tidak menggunakan pesawat? kok lewat darat?" tanya sang ibu.
"Nggak tau Bu, sepertinya karena permintaan mama deh Bu." ucap Amel mencoba mengingat.
Dalam perjalanan kali ini juga ada mama mertua dan papa mertuanya.
Amel sudah sampai di rumah sakit. Di depan rumah sakit sudah banyak wartawan yang berdiri di depan rumah sakit.
Amel lansung menuju administrasi untuk menanyakan dimana suaminya.
"Keluarga Brawijaya ada di kamar jenazah Bu, banyak korban jiwa dalam kecelakaan ini Bu."
Amel tidak bisa menahan tangisnya. Dia lansung berlari menuju kamar jenazah.
Amel juga makin syok ketika melihat kedua mertuanya berbaring tanpa ada denyut nadi lagi.
"Mama, mama bangun ma." ucap Amel menangis.
Begitu juga dengan ibu Amel melihat sahabatnya sudah terdiam kaku. Amel juga berlari ke jenazah papa mertuanya. Sama saja dengan mama mertuanya, papa mertuanya sudah tidak ada lagi.
Amel mencoba membuka kain penutup jenasah satu lagi. Tangisnya semakin jadi karena masih belum sanggup melihat jasad sang suami.
"Mel, kamu harus kuat." ucap ibunya mencoba menguatkan sang anak.
"Mas Said buk." ucapnya mencoba membuka kain yang menutupi.
Namun ia kaget karena itu bukan jenazah suaminya.
"Ini Roni Bu, di mana jenazah mas Said?" tanya Amel.
"Yuk kita tanya suster."
Ibu Amel mencoba kembali bertanya. Amel mendapatkan jawabannya bahwa sang suami koma di IGD.
Perasaan Amel tidak karuan. Di saat cobaan hidup datang langsung bertubi-tubi.
Ibu Amel beserta keluarga besar Said segera membawa jenazah pulang. Sedangkan Amel tetap di rumah sakit menemani sang suami yang sedang kritis.
Taukah kamu apa yang Amel rasakan. Di saat hidupnya bahagia namun kedua mertuanya pergi. Di tambah dengan Roni sang asisten suaminya.
Roni yang bekerja dengan baik, namun juga pergi meninggalkannya. Amel sendiri tidak tau apa yang akan di lakukannya.
Selama ini dia selalu di bakeup oleh suami dan Roni sang asisten. Menurut keterangan polisi mobil yang di kendarai Roni menabrak sebuah mobil didepannya yang berhenti mendadak karena kecelakaan beruntun. Dan mobil tersebut juga ditabrak oleh mobil lain dari belakang. Sehingga menyebabkan sang mertua yang duduk di kursi penumpang belakang meninggal dunia.
Sang suami sudah dipindahkan ke ruang inap. Amel hanya menatap sang suami yang hanya terbaring diam.
"Mas bangun mas." ucap Amel mencoba mengguncang tubuh suaminya.
"Ayo bangun mas, mama dan papa sudah pergi mas." ucap Amel lagi.
Namun sang suami hanya diam tanpa menjawab. Amel merasakan tubuhnya lelah. Dia mencoba memejamkan matanya.
...****************...
"Mel, Mel bangun." terdengar suara sang suami membangunkan Amel.
Amel membuka matanya lalu melihat suaminya yang sedang berdiri dengan gagahnya.
Amel langsung bangkit dari tidurnya. Ia sangat senang melihat suaminya sudah sehat seperti semula.
"Mas sudah sadar?mas udah pulih?" tanya Amel memutar - mutat tubuh suaminya.
Said bingung saat sang istri memeriksa tubuhnya.
"Mana yang sakit mas?" tanya Amel masih memeriksa tubuh sang suami.
"Apanya yang sakit?" tanya Said semakin bingung.
"Mas kamu nggak apa-apa? mama dan papa udah meninggalkan kita, kamu yang sabar ya mas."
Said semakin tidak mengerti dengan ucapan sang istri. Dia memencet hidung sang istrinya dengan kuat.
"Sakit mas."
"Sakit kan? lalu apakah kamu udah sadar? agar bicaramu tidak ngelantur kemana-mana."
"Aku tau mas kamu belum siap menerima semuanya, aku juga bersedih Mas atas kehilangan mama dan papa, tapi ini sudah takdir mas."
"Sayang kamu ini bicara apa sih? kamu mimpi? nanti dengar mama dan papa bisa marah beliau loh."
"Mas yang harus sadar, mama, papa dan Roni udah nggak ada mas."
"Haduww bawa - bawa Roni lagi,mas nggak terima kamu mimpiin Si Roni."
"Aku nggak mimpi mas, mas otaknya lemot karena bangun dari koma nih."
"Hey kamu mendoakan suami kamu koma? aku sejak kapan pula koma?".
Amel semakin bingung dengan jawaban yang diberikan oleh sang suami. Amel melihat ke seluruh ruangan dia berada. Dia kaget saat mengetahui dirinya berada di kamarnya.
"Mas kapan kamu bawa aku pulang? seingat aku tidur di rumah sakit." tanya Amel.
"Sejak kapan rumah kita jadi rumah sakit sayang? udah ayo bangun, jangan ngingau lagi." ucap sang suami lansung menggendong istrinya.
Dia membawa sang istri ke lantai bawah karena sejak tadi mengigau terus.
Saat di meja makan, Amel semakin kaget saat melihat kedua mertuanya ada di sana. Amel juga melihat Reina dan yang lainnya juga berada di meja makan.
"Amel kenapa id? kok di gendong segala?"tanya ibu Amel.
"Buk kemaren kita kerumah sakit, kenapa mama dan papa masih ada?" tanya Amel.
Semua yang ada di meja makan semakin bingung dengan pernyataan Amel.
"Kamu mimpi sayang, malah nggak percaya."
"Aku mimpi ya mas, tapi ini nggak mimpi kan mas?" tanya Amel mencoba mencubit tangannya.
"Sakit, berati ini nggak mimpi."
Amel langsung memeluk suaminya sambil menangis. Ia takut jika suaminya kenapa - Napa.
Amel juga memeluk sang mertua dengan erat. Dia juga tidak bisa membayangkan jika kedua mertuanya yang baik ini meninggalkannya secara tiba-tiba.
Said hanya tersenyum saat melihat sang istri begitu takut kehilangan dirinya. Dia akhirnya sadar bahwa sang istri sangat mencintai dirinya dan keluarganya.
hanya masukan aja Thor...lanjut💪💪
Amel dpt tiket ke surga
Said ternyata baik
Amel harusnya bersyukur sdh baik sama dia
lanjut Thor
gregetan sama Riko
sebaiknya Amel bilang aja sama Said kalau dia diancam Riko